<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758</id><updated>2012-02-08T21:11:26.908-08:00</updated><category term='opini dan motivasi'/><category term='Puisi'/><category term='berita'/><category term='CERPEN'/><category term='info menarik'/><category term='Opini'/><category term='Kata Mutiara'/><category term='tips OS'/><category term='liburan'/><category term='cupu cupu SMU'/><category term='award'/><category term='fakta'/><category term='UT'/><category term='SeDeRhAnA'/><category term='Diary'/><category term='Me Vs Tasya'/><category term='Kumcer Buku Penyengat Aku Akan Kembali'/><category term='ucapan'/><category term='renungan dalam sepotong puisi'/><category term='tips'/><category term='berbagi pengalaman'/><category term='keluargaku'/><category term='Motivasi'/><category term='kisah dan renungan'/><category term='BIB Com'/><category term='tulisan lomba'/><category term='BUKU'/><category term='Info Lomba'/><title type='text'>CATATAN INA</title><subtitle type='html'>TENTANG AKU,OPINI, MOTIVASI DAN INSPIRASI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>167</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-831195944255200169</id><published>2010-12-12T05:16:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T05:17:21.402-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Euforia Pengumpulan Sumbangan (Berkaca dari Kasus Gempa Sumbar 2009)</title><content type='html'>setiap kali ada bencana di seluruh wilayah di Indonesia, selalu saja kita sebagai saudara tergerak untuk membantu. Baik dengan bantuan doa, tenaga maupun melalui sumbangan. sumbangan pun terdiri dari barang dan uang tunai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika bencana terjadi di suatu daerah, yang jelas dan nampak adalah banyaknya berbagai elemen berlomba-lomba mengumpulkan sumbangan.Ada yang membuka pos bantuan ini dan itu.Dari mahasiswa, paguyuban, instansi pemerintah, swasta, LSM dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga dihimbau atau diminta menyumbangkan barang ke posko. Baik berupa sembako, pakaian layak pakai dan barang-barang kebutuhan korban bencana lainnya. Selain itu mereka juga menerima uang yang katanyan nanti akan dibelikan barang-barang untuk dikirimkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;begitu juga pada saat ini ketika bencana wasior, merapi dan mentawai, di kota saya khususnya berbagai elemen masyarakat berlomba-lomba membuka posko. Bahkan seakan telah menjadi euforia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah seorang yang pernah menjadi korban gempa tahun 2009 waktu pulang kampung ke pariaman 2009 lalu, dan melihat langsung proses penggalangan bantuan yang ternyata ribet saat distribusinya, saya menilai jika penggalangan bantuan untuk korban bencana akan lebih baik hanya mengumpulkan uang tunai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya menyarankan hal itu ? ya..ketika saya kembali ke kota domisili saya sekarang pasca gempa 2009, saya terharu melihat antusias berbagai elemen masyarakat mengumpulkan bantuan. Salah satunya adalah kawan-kawan saya yang juga membuka posko. mereka mengumpulkan barang dan uang tunai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu barang yang banyak disumbang warga adalah pakaian layak  pakai. Tapi, layak di sini jauh dari layak pakaian yang diterima. Sehingga harus disortir. Bahkan saya melihat posko bantuan menjadi ajang “membuang” pakaian tak berguna mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masa pengumpulan bantuan sudah berakhir, tibalah saatnya pengiriman  bantuan ke Padang. Teman-teman saya yang punya “lobi” dengan pemerintah daerah, menggabungkan pengiriman barang -barang hasil posko mereka dengan bantuan pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahkan uang tunai yang diterimapun diberikan untuk tambahan barang-barang. Hasilnya ketika berton-ton barang itu diangkut dengan pesawat terbang, yang terjadi adalah rasa was-was karena barang-barang itu tidak muat di pesawat. Sehingga sejumlah barang terpaksa ditinggalkan, karena jika dipaksakan akan mengancam keselamatan penumpang yang ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan itu diserahkan ke pemkab padangpariaman, diterima langsung secara simbolis oleh bupati.Tapi yang terjadi, penyaluran dari pemkab padangpariman ke korban bencana lamban. Karena manajerial mereka terhadap bencana belum maksimal. banyak barang-barang bantuan menumpuk. bermacam alasan dari kekurangan tenaga hingga masalah kekurangan transportasi dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga terjadilah kasus warga yang menjemput paksa sendiri bantuan ke kantor bupati dengan cara-cara mereka yang marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dengan kasus di atas, saya menyarankan kepada berbagai elemen masyarakat yang membuka posko bantuan, akan lebih baik menerima sumbangan dalam bentuk uang tunai. kemudian uang itu nanti diserahkan ke pundi amal yang dibuka oleh media massa dan elektronik khususnya televisi swasta nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk TV swasta nasional sudah terbukti mampu mengelola bantuan pemirsa.karena jelas dan nyata bantuan itu digunakan untuk membangun berbagai sarana dan prasana yang dibutuhkan. Bukti fisik jelas terlihat.selain itu auditnya pun jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf, mengutip kalimat teman saya di facebook, kadang ajang pengiriman bantuan dari suatu pemda ke daerah bencana adalah ajang wisata. Berbondong-bondong datang dengan biaya dari pemerintah daerah. alangkah lebih baiknya uang untuk biaya perjalanan para wisatawan bencana itu juga disumbangkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-831195944255200169?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/831195944255200169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=831195944255200169' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/831195944255200169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/831195944255200169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/12/euforia-pengumpulan-sumbangan-berkaca.html' title='Euforia Pengumpulan Sumbangan (Berkaca dari Kasus Gempa Sumbar 2009)'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-8052540210286114146</id><published>2010-12-12T05:02:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T05:32:52.894-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips OS'/><title type='text'>tips berjualan online</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: 14px; line-height: 20px; "&gt;&lt;p&gt;setelah selama ini aktif menjadi pembeli di toko online teman-teman di facebook, akhirnya sekitar dua bulan lalu saya memulai membuka toko online. barang yang saya jual awalnya hanya teh herbal organik daun jati cina. Itu juga saya dapatkan awalnya dari tetangga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena merasakan khasiatnya saya menawarkan diri untuk membantu memasarkan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Saya memberanikan diri untuk membuka akun facebook toko online. Saya foto teh itu dan saya cantumkan khasiat dan harganya. Saya add teman-teman yang merupakan teman dari akun facebook pribadi saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alhamdulillah respon mereka cukup baik, hari pertama saya berhasil menjual 10 bungkus teh dan dapat keuntungan Rp 5000. Kalau dilihat sepintas memang kecil uang sebesar itu. Tapi, kalau dikalikan 10 bungkus, lumayan juga untuk membeli bedak hehehe…&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak saat itu saya makin rajin menambahkan teman. Saya juga rajin update status dan link foto teh itu. Sehingga teman dan teman saya pun bisa melihatnya. Bahkan tidak hanya teman-teman dari dalam kota yang memesan, tapi juga dari luar kota, seperti Jakarta, Batam, Medan, Pekanbaru dan Padang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika permintaan teh ini sudah cukup tinggi, saya memberanikan diri memesan langsung ke suppliernya di Jawa. Lumayan harga yang saya dapat lebih murah sehingga saya bisa memberi diskon pada reseller. Hingga saat ini Alhamdulillah teh herbal saya sudah bisa memberi rezeki pada orang lain yang menjadi reseller.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada pertanyaan dari sejumlah teman, mengapa saya bisa sukses menjual teh herbal ? ini jawabannya :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Rajinlah menambahkan teman, khususnya yang teman dari teman kita atau mutual friend&lt;/li&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Rajin update status khususnya promosi tentang barang yang kita jual, minimal sekali dalam 1 jam&lt;/li&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Rajin membagikan link berupa foto maupun testimoni tentang produk kita, minimal 1 jam sekali&lt;/li&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Rajinlah mencek komentar dan membalasnya, jadi memang harus rajin online setiap saat. Hal ini bisa diakali dengan online di HP&lt;/li&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Rajinlah mengupdate proses pengiriman barang ke pembeli, seperti nomor resi sehingga calon pembeli lain makin yakin dengan kita&lt;/li&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Berilah penghargaan seperti diskon kepada reseller dan pembeli yang rutin membeli&lt;/li&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Jalinlah komunikasi seperti menanyakan kondisi pembeli setelah mengkonsumsi barang yang kita jual, seperti teh tadi&lt;/li&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Bertanggungjawab terhadap proses pengiriman barang dan ikut mencheck ke kurir seperti melalui telepon, jika dalam waktu yang dijanjikan pembeli belum menerima barang yang ia pesan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Intinya, sebagus dan sebanyak, semurah atau se ekslusif apapun barang yang kita jual, tapi dengan promosi yang hanya sesekali, yakinlah itu akan sulit laku. Hal ini sudah saya lihat pada toko offline teman yang juga berjualan online.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin mereka pikir dengan sekalu update status dan foto, semua teman akan melihatnya. Padahal tidak seperti itu. Karena status di FB akan bergerak terus. Jika kita hanya update pagi, maka teman-teman yang online siang atau sore bakalan tidak akan melihat status atau foto-foto yang kita jual.Kecuali mereka mengintip profile kita.Tapi, saya yakin akan jarang dilakukan orang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ok.bagi yang mau membuka toko online, silahkan ikuti tips di atas atau bagi yang udah punya toko online juga, silahkan beri tips yang lainnya. Semoga bisa sukses juga. Thanks :) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-8052540210286114146?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/8052540210286114146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=8052540210286114146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8052540210286114146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8052540210286114146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/12/tips-berjualan-online.html' title='tips berjualan online'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-5518327301142185712</id><published>2010-12-12T04:58:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T06:27:46.770-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Ternyata Ada Villa di Tengah Hutan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: 14px; line-height: 20px; "&gt;&lt;p&gt;&lt;img class="aligncenter size-medium wp-image-79013" title="1291735724392026660" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2010/12/1291735724392026660_300x200.jpg" alt="1291735724392026660" width="300" height="200" style="border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; display: block; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-color: initial; " /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="wp-caption-text" style="font-size: 11px; line-height: 17px; padding-top: 0px; padding-right: 4px; padding-bottom: 5px; padding-left: 4px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;batu-batu raksasa ribuan tahun&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Subhanallah, itu yang terucap dari mulut saya teman-teman lain ketika memasuki komplek Villa Bukit Tiram, di desa Bintan Bekapur, Bintan Buyu, Kabupaten Bintan, Jumat sore (3/12). Kekaguman itu terlontar karena tidak menyangka, di tengah hutan di kaki Gunung Bintan dan yang lebih mengagetkan di atas bukit batu berdiri villa-villa dengan nuansa alami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Villa-villa yang baru berjumlah 10 unit itu, berdiri di pinggang bukit. Hanya satu villa utama yang berdiri di puncak bukit. Batu-batu besar yang dipastikan berusia ribuan tahun menghiasi setiap sudut komplek villa. Sementara tanaman-tanaman khas hutan menambah kealamiannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemandangan alam di sekeliling bukit itu sangat indah, karena kita bisa melihat Gunung Bintan -gunung satu-satunya di Pulau Bintan- dari dekat. Bisa melihat laut yang mengeliling Pulau Bintan serta melihat kapal dan sejumlah bangunan tinggi di Kota Tanjungpinang, khususnya Kantor Walikota yang berada di Senggarang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2010/12/12917355131467034516_300x200.jpg" alt="12917355131467034516" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung update status di facebook tentang keindahan tempat itu dan sejumlah komentar pun bermunculan. Ternyata memang tempat itu belum diketahui banyak orang bahkan warga di sekitar itu juga masih sedikit yang tahu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya bersama sejumlah teman-teman datang ke tempat itu atas undangan Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan, dalam rangka sarasehan penulis. Ternyata pihak Dispar juga baru tahu ada tempat seindah itu baru baru ini.&lt;/p&gt;&lt;div id="attachment_78867" class="wp-caption alignleft" style="border-top-width: 1px; border-right-width: 1px; border-bottom-width: 1px; border-left-width: 1px; border-top-style: solid; border-right-style: solid; border-bottom-style: solid; border-left-style: solid; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-right-color: rgb(221, 221, 221); border-bottom-color: rgb(221, 221, 221); border-left-color: rgb(221, 221, 221); text-align: center; background-color: rgb(243, 243, 243); padding-top: 4px; margin-top: 10px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 10px; border-top-left-radius: 3px 3px; border-top-right-radius: 3px 3px; border-bottom-right-radius: 3px 3px; border-bottom-left-radius: 3px 3px; float: left; width: 210px; "&gt;&lt;img class="size-full wp-image-78867  " title="12916572121604725488" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2010/12/12916572121604725488.jpg" alt="12916572121604725488" width="200" height="450" style="border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-color: initial; " /&gt;&lt;p class="wp-caption-text" style="font-size: 11px; line-height: 17px; padding-top: 0px; padding-right: 4px; padding-bottom: 5px; padding-left: 4px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;gunung bintan terlihat jelas dr villa&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Ternyata dari hasil ngobrol  saya dengan yang punya villa itu, Pak Norman, villa itu sengaja belum terekspos ke masyarakat karena memang belum saatnya di launching. Karena ia masih ingin sempurna semua villa yang ditargetkan jumlahnya selesai dibangun. Memang pada saat itu sedang ada pembangunan tambahan kamar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Norman yang etnis China ternyata adalah seorang pengusaha besar. Tapi, ia sangat low profile. Pada saat kegiatan itu, ia turun tangan langsung melayani kami, khususnya dalam menyiapkan makanan di meja prasmanan. Ia mengontrol lauk dan kebutuhan lainnya, meski ada karyawannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang lebih membuat saya kagum, ia tampil santai seakan bukan dia yang memiliki villa itu. Baju kaos putih tipis dan celana pendek. Berbeda dengan karyawannya yang mengenakan celana panjang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari hasil ngobrol saya dengan keponakannya, yang membantu dia di sana ( maaf namanya lupa), Norman memiliki pabrik  dan kafe di Kota Batam. Selain itu dalam waktu dekat sebuah restoan seafood juga akan beroperasi tak jauh dari villa itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukit batu itu dan tanah di sekitarnya adalah milik buyut mereka. Villa itu sendiri sebenarnya sudah berdiri sejak 10 tahun lalu secara berangsur-angsur dibangun. Selama ini baru diperuntukan untuk villa keluarga dan tempat acara internal perusahannya.Tapi, ditargetkan tahun depan villa itu akan beroperasi.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-5518327301142185712?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/5518327301142185712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=5518327301142185712' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/5518327301142185712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/5518327301142185712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/12/ternyata-ada-villa-di-tengah-hutan.html' title='Ternyata Ada Villa di Tengah Hutan'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-1946239053777800033</id><published>2010-08-25T09:47:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T10:06:12.837-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mengapa Menghargai Karena Penampilan ?</title><content type='html'>Sebelum bulan puasa lalu saya pergi undangan ke rumah salah seorang sanak saudara yang menikahkan anaknya. Saya pergi sendiri-secara suami saya memang tak suka diajak ke acara seperti itu- siang hari, berharap tamu-tamu sudah tak banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sana,memang tak banyak tamu. Saya tak tahu apakah karena memang siang hari itu belum banyak tamu atau memang undangannya yang tak banyak. Dari parkiran motor saya melihat dua orang penunggu tamu, yang saya kenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum kecil kepada mereka, tapi ternyata sambutan mereka luar biasa. Si ibu A, menyambut saya dengan sapaan manis dan akrab. Bahkan memanggil saya dengan "ibu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Aduh ibu ina kenapa sudah lama tak nampak, makin cantik saja.Masuk arisan perkumpulan lagi yuk," ujarnya berbasa-basi. Hal itu ditimpali kawannya ibu B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit kaget dengan sambutan yang luar bisa itu. Mengapa ? karena selama ini ibu A yang saya kenal dan tahu, tidak ramah dan susah senyum khususnya kepada saya. Tapi sekarang kok bisa berubah dratis begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan dan pamitan pada tuan rumah, saya kembali dicegat oleh dua orang ibu tadi khususnya ibu A. Dia mengajak saya ngobrol dengan alasan sudah lama tak bertemu.&lt;br /&gt;Ya memang, nyaris hampir 3 tahun saya tidak pernah bertemu dia, sejak saya tidak lagi ikut arisan perkumpulan keluarga asal kampung saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kok sekarang dia ramah gitu ? padahal dulu dia tak pernah menyapa saya apalagi mengajak ngobrol. Diajak senyum juga tak mau membalas. Bahkan seakan menganggap saya adalah orang yang tak penting di setiap acara arisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini saya ceritakan pada seorang keluarga. Kesimpulannya sama seperti dalam benak saya. Si A menghargai saya, berubah sikap terhadap saya dan menjadi orang yang ramah pada saya karena status dan kondisi saya sekarang yang sudah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saat saya baru menikah, kondisi saya masih pas-pasan. Pergi arisan saya sederhana. Saya juga tidak mau banyak bicara, karena saya tahu adalah anggota baru dan berusia masih kecil dibandingkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kondisi itu dihargai sebahagian mereka dengan "meremehkan saya". Hal itu jelas terlihat dari perkataan dan sikap. Tapi, sebagai orang muda saya mengalah. Karena, saya tahu hidup di rantau tak bisa sendiri, minimal harus tetap menjaga silaturahmi dengan orang sekampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya memutuskan tak ikut lagi arisan perkumpulan itu. Seiring waktu saya disibukan dengan berbagai aktifitas dan kehidupan saya mulai berubah. Seiring itu juga penampilan saya juga menyesuaikan dengan aktifitas saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi dia itu menilai kamu itu dari penampilan saja. Dia melihat kamu itu sudah selevel mungkin juga lebih di atas mereka, Sehingga berusaha merebut hati kamu," kesimpulan saudara saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tercenung mendengar hal itu. Tapi itu memang sesuai yang saya perkirakan. Mereka hanya menghargai karena penampilan saya, status sosial dan kondisi saya saat ini. Saya berharap saya tidak seperti orang-orang itu. Untuk itu saya tak mau lagi bergabung dengan perkumpulan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak orang lain yang bisa menjadi saudara meski beda suku. Orang yang menghargai kita sebagai manusia, bukan karena melihat status sosial, harta dan kasta.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-1946239053777800033?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/1946239053777800033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=1946239053777800033' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1946239053777800033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1946239053777800033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/08/mengapa-menghargai-karena-penampilan.html' title='Mengapa Menghargai Karena Penampilan ?'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-2783442652901894604</id><published>2010-08-25T09:35:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T10:10:09.784-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tak Seperti Promosinya</title><content type='html'>Tak seperti promosinya. Begitulah komentar kecewa saya ketika membaca sebuah buku yang habis-habisan dipromosikan melalui FB. Dengan promosi yang mengutip sedikit bagian cerita buku, membuat saya penasaran. Tapi ketika dibeli dan dibaca, saya hanya membuka beberapa lembar dan kemudian buku itu harus bersabar dibaca ketika saya tidak lagi punya bahan bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sok, tapi saya kecewa dengan promosi yang berlebihan seperti itu. Sebagai pembeli dan pembaca saya merasa terkecoh. Padahal saya sudah membayangkan isi buku itu luar biasa dan menyenangkan. Karena promosinya begitu gencar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga buku dari dua penulis berbeda yang hanya beberapa lembar saya baca dan kemudian diletakan di lemari.Semoga saya ingat untuk kembali meneruskan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya tahu penulis itu menerbitkan sendiri bukunya alias penerbit indie. Tentu ia harus bekerja keras agar bukunya bisa terjual dan ongkos cetak tertutupi. Tapi, kalau dengan cara seperti itu terkesan hanya mementingkan uang saja. Bukan kepuasan pembaca, apalagi kebutuhan pembaca akan informasi dan hasil dari membaca tidak terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pelajaran bagi saya untuk tidak tergoda membeli buku yang isinya ternyata tidak menarik. Dan saya pun sudah malas mengomentari status dari para penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-2783442652901894604?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/2783442652901894604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=2783442652901894604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2783442652901894604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2783442652901894604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/08/tak-seperti-promosinya.html' title='Tak Seperti Promosinya'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-2486302946548324151</id><published>2010-08-25T09:21:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T09:35:19.592-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Status Facebook</title><content type='html'>Sebagai pengguna aktif facebook setiap hari, bahkan jam dan bahkan menit hehehe...saya sering memperhatikan status-status teman-teman yang jumlah sudah mencapai ribuan. Diantara yang terpantau tentu yang sering update status. Disinilah saya bisa melihat sejumlah sifat dan karakter  seseorang. Ada yang apa adanya, ada yang lebay, ada yang narsis, ada yang lucu, ada yang sok tua, ada yang tak peduli dengan status kawan, ada yang care, ada yang serius, ada yang kurang tahu, pokoknya bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Tapi dari sekian karakter itu, saya mempunyai sejumlah catatan dari status-status tersebut. &lt;br /&gt;1. Ada tokoh yang hanya mementingkan ketokohan dia,membuat status tentang "kehebatan" dia, kegiatan dia. Endingnya tak mau membalas komentar penggemarnya. Tokoh ini juga tak mau membuat status yang ringan dan membuat orang yang membaca tersenyum bahkan tertawa. Akhirnya tokoh ini bagi saya membosankan dan sudah malas saya mengomentari statusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ada tokoh hebat juga yang apa adanya. Selain status-statusnya menunjukan aktifitas dia, seringkali dia membuat status ringan, lucu bahkan membuat yang membaca ikut senang. Dia juga sering membalas komentar penggemarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ada teman yang sering membuat status dengan kalimat yang tak dimengerti. Bukan karena menggunakan bahasa asing, tapi menggunakan kalimat yang berbelit-belit. Endingnya bukan kecerdasan dia yang muncul, tapi sok-sokan dia yang nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ada teman yang sering membuat status tentang kedekatannya dengan Tuhan. Status bernada doa dan kepasrahan. Padahal endingnya dia jauh dari hal itu. Munafikun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ada teman yang membuat status yang membuat orang lain yang tak kenal dia, menganggap dia sesuai dengan status yang dia buat. Seperti status yang seolah-olah dia punya sopir pribadi, punya rumah mewah, pekerjaan mantap dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ada teman yang sering membuat status rasa rindu dan kangen kepada pacar.Tapi dengan kalimat yang membuat banyak orang eneg. saya sudah pernah mendelete orang ini dari daftar teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ada teman yang sering membuat status lucu. Pokoknya setiap kita membaca pasti tertawa, happy dan riang gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ada teman yang sering membuat status tentang derita dia, sehingga seolah-olah berharap belas kasihan dari teman-teman lain. Padahal penderitaan dia tak separah status dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ada teman yang sering membuat status seolah-olah hanya dia yang punya kerjaan. Sok sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ada teman yang suka membuat status sok kritis, menyikapi kebijakan pemerintah, kejadian dsbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ada teman yang suka membuat status menyindir seseorang di FB. &lt;br /&gt;11. Dll....&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-2486302946548324151?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/2486302946548324151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=2486302946548324151' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2486302946548324151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2486302946548324151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/08/status-facebook.html' title='Status Facebook'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7855908855933074989</id><published>2010-08-25T09:05:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T09:21:15.459-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Buka Puasa dan Kue</title><content type='html'>Entah mengapa setiap bulan puasa, pola makan dan kebiasaan saya tetap sama.Tak neko-neko.Kalau buka saya biasanya cuma membuat teh hangat atau teh es, es kelapa muda atau jus buah-buahan. Kemudian dilanjutkan dengan makan nasi.CUKUP. Kalaupun saya membuat makanan pembuka seperti kolak, itu juga cuma sesekali, paling selama puasa ya dua kali.Tak ada selera aneh dan kebiasaan "maruk" membeli kue banyak-banyak dan kemudian mubazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena terakhirlah yang sering saya lihat ketika bulan puasa datang. Sore hari di tepi jalan para penjual kue dan lauk berjejer belasan hingga puluhan. Para pembeli tak kalah sesaknya.Mereka antri dan seakan berebut membeli anekaragam kue. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Ada yang membeli satu kantong kresek kecil bahkan ada yang satu kresek besar. Kalau diperkirakan isinya bisa mencapai 20 - 30 biji kue. Kadang saya ingin bertanya, itu kue mau dimakan sekeluarga atau dijual lagi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu bukan urusan saya. Cuma kadang penasaran saja dan ingin tahu setiap melihat aktifitas di sore hari itu. Saya akui kadang memang ada keinginan mau makanan tertentu. Seperti kemarin itu saya ingin makan lemang tape. Tapi saya cukup membeli dua potong lemang dan satu bungkus tape. Cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian juga pernah ingin serabi. Ya saya beli satu, cukup. Ngapain harus bertanding-tanding dengan pembeli lain,atau karena malu cuma beli sedikit.Bagi saya itu tak penting. Yang penting saya membeli sesuai kebutuhan saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, saya sering dengar komentar sejumlah teman yang mengatakan pengeluaran mereka di bulan puasa memmbengkak dari hari biasanya. Ya ialah, secara menurutkan hawa nafsu, kemudian itu makanan tak habis dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pertanyaan yang masih menggelayut di benak saya setiap bulan puasa adalah, APA SIH PENTINGNYA KUE-KUE ITU UNTUK BERBUKA ? mungkin karena sya buka tipe orang yang suka kue, jadi saya melihat membeli aneka jenis kue itu tidak penting. Kalau memang harus minum yang manis pas berbuka, kan bisa minum teh hangat dan kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pecinta kue mue, mohon maaf ya.Jika tulisan ini membuat anda kurang berkenan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7855908855933074989?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7855908855933074989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7855908855933074989' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7855908855933074989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7855908855933074989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/08/buka-puasa-dan-kue.html' title='Buka Puasa dan Kue'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-3035676511203616464</id><published>2010-08-13T10:50:00.000-07:00</published><updated>2010-08-13T11:19:38.397-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini dan motivasi'/><title type='text'>Tayangan Itu Menyentakku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TGWMR3n-1EI/AAAAAAAAAc4/dSzH-S19noY/s1600/doa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TGWMR3n-1EI/AAAAAAAAAc4/dSzH-S19noY/s320/doa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504960358147609666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pic by : Voa Islam&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa setiap menyaksikan talkshow kick andy di metro tv selalu ada yang berkesan pada saya. Tapi topik kali ini tentang mati suri benar-benar membuat saya merinding dan menangis. Mendengar pengakuan Aslina seorang wanita yang pernah mati suri dan melihat kondisi alam akhirat dan pembalasan yang diterima mereka berbuat dosa, membuat saya terpana. Saya menyadari sejak kecil sudah diajarkan tentang pendidikan agama yang berhubungan dengan hari pembalasan di akhirat.Tapi, ketika mendengarkan pengakuan seseorang yang melihat langsung kondisi di alam akhirat, saya berasa ingin kembali dilahirkan dan menjadi orang yang benar-benar jauh dari dosa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tapi, itu tentu tidak mungkin. Namun, semua belum terlambat, saya masih bisa memperbaiki diri, memperbaiki ibadah, memperbanyak amal kebajikan, sebagai bekal di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kematian dan akhirat, membuat saya bertanya-tanya tentang rahasia Tuhan, kapan saya akan melaluinya. Apalagi Asliana dalam pengakuannya mengatakan sakratul maut itu sangat sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, sanggupkah saya melalui itu dengan tenang dan ikhlas nanti ?&lt;br /&gt;Saya bersyukur bisa mendengarkan kesaksian Asliana. Karena kembali menyadarkan saya tentang kehidupan kedua di akhirat nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tidak yakin dengan hari pembalasan seperti yang diterangkan guru agama, dari  yang saya baca di buku cerita tentang surga dan neraka saat kecil, tapi pengakuan Aslina yang diberi "keberuntungan" oleh Allah untuk melihat alam akhirat, benar-benar membuat saya makin tersentak dan tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian yang bisa kapan dan dimana saja harus siap kita hadapi. Saya juga harus siap. Tapi apa bekal saya ? saya tak bisa menghitung berapa dosa dan amal kebaikan saya. Hanya malaikat di kanan kiri yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, berilah saya selalu kekuatan iman untuk terus mengingat-Mu, menjalankan perintah-Mu, menjauhi larangan-Mu. Bimbinglah saya selalu Ya Allah, Bantulah saya selalu untuk terus memperbaiki diri Ya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, begitu banyak karunia dan rahmat-Mu, tapi belum banyak tanda syukur saya atas segala itu. Jangan putuskan Rahmat-Mu pada saya Ya Allah. Panjangkanlah umur saya agar bisa memperbaiki amalan, memperbanyak kebajikan, memperbanyak pahala sebagai bekal saya menghadap-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, terimakasih Kau telah mengingatkan saya melalui tayangan itu. Terimakasih Ya Allah atas petunjuk dan hidayah-Mu. &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-3035676511203616464?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/3035676511203616464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=3035676511203616464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3035676511203616464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3035676511203616464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/08/hidayah-melalui-tayangan-kick-andy-eps.html' title='Tayangan Itu Menyentakku'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TGWMR3n-1EI/AAAAAAAAAc4/dSzH-S19noY/s72-c/doa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7559261858046116889</id><published>2010-08-06T01:59:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T02:06:07.636-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan dalam sepotong puisi'/><title type='text'>Sore dan Sepi</title><content type='html'>Entah mengapa akhir-akhir ini diriku membenci sore.&lt;br /&gt;Kala sore datang, aku sering merasakan kesunyian dan kesepian&lt;br /&gt;Kadang aku ingin marah kepada sore, mengapa ia datang membawa sunyi dan sepi&lt;br /&gt;Bahkan akhir-akhir ini ia membawa perasaan sedih dan nelangsa&lt;br /&gt;Kadang aku seperti ingin menangis ...&lt;br /&gt;Entah..mengapa semua perasaan itu hadir,aku juga bingung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore...&lt;br /&gt;Padahal itu perputaran waktu yang tidak bisa kuhentikan&lt;br /&gt;Tapi mengapa aku benci...&lt;br /&gt;Mengapa aku risau kala sore datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang salah dengan diriku&lt;br /&gt;Atau memang ada sesuatu yang terjadi di sore hari ini&lt;br /&gt;Yang membuat diriku resah dan gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi..&lt;br /&gt;Apa itu ? &lt;br /&gt;Aggghhh......aku sendiri tak tahu..&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sore...&lt;br /&gt;Maafkan aku..&lt;br /&gt;Aku tak menghargai kehadiranmu&lt;br /&gt;Mungkin karena ketika kamu hadir...aku tak merasakn kebahagiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa..&lt;br /&gt;Karena di rumahku selalu sepi dan sunyi&lt;br /&gt;Sementara di tempat banyak orang lain, sore adalah keramaian&lt;br /&gt;Saat di kala semua anggota keluarga kembali dari urusan masing-masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...akhirnya aku menemukan sendiri jawabannya&lt;br /&gt;Sore....cobalah suatu kali datang membawa bahagia untukku&lt;br /&gt;Biar sepi ini berlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore..&lt;br /&gt;Suatu hari aku ingin tersenyum riang menyambutmu&lt;br /&gt;Aku ingin tak sabar menunggumu&lt;br /&gt;Aku ingin bahagia bersamamu sore&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7559261858046116889?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7559261858046116889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7559261858046116889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7559261858046116889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7559261858046116889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/08/sore-dan-sepi.html' title='Sore dan Sepi'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-6882666491823936505</id><published>2010-08-05T02:55:00.000-07:00</published><updated>2010-08-05T02:56:54.015-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah dan renungan'/><title type='text'>Suatu Hari Bersama Bocah Penjual Koran</title><content type='html'>Bocah kecil itu bertelanjang kaki dan pakaian lusuhnya memeluk setumpuk koran di pangkuannya. Mata itu penuh harap menghampiri saya. "Bu, beli korannya lah," tuturnya pada saya yang baru keluar dari kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum kepadanya. Membalas harapan di mata lugu itu. " Ibu tidak mau beli korannya, ibu hanya mau beri uang saja untuk awak," ujar saya kepadanya, sambil menyerahkan uang.Ia menerima dengan wajah sumringah. Kebahagiaan dia melebihi rasa bahagia saya ketika melihat wajah gembira itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang sejak tadi penasaran dengan kaki telanjang itu,pun bertanya mengapa ia tidak memakai sandal. "Sandal saya sering dicuri kawan bu kalau sedang sholat di surau," keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya tersentak. Ada panas di mata ini namun saya mengeluarkannya. Dalam kondisi dia seperti itu masih juga ada yang tega menjahilinya.Melihat wajah polos bocah itu, saya teringat adik saya di kampung. Adik-adik saya yang masih beruntung tidak harus turun ke jalan untuk membantu orang tua mencari nafkah, meski hidup keluarga di kampung sederhana.Karena saya sebagai kakak masih bisa mencukupi kebutuhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo ikut bu, kita beli sandal," ajak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun naik ke boncengan motor saya. Kami menuju toko yang menjual sandal, sepatu dan tas tak jauh dari kantor saya. Di sana saya memilihkan sandal untuknya. Kemudian saya ingat apakah ia sudah punya sepatu baru dan tas untuk tahun ajaran baru.Ia mengaku belum.saya pun berinisiatif membelikan sepasang sepatu dan tas untuk ia sekolah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binar-binar bahagia di matanya itu yang membuat saya makin sesak. Betapa uang yang tidak terlalu besar saya keluarkan sangat berharga untuknya. Padahal saya sering mengeluarkan uang sebesar itu bahkan lebih kadang hanya untuk makan di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah penjual koran itu mengaku anak pertama dari enam bersaudara. Ibunya hanya buruh cuci dan bapaknya nelayan. Ia harus membantu orang tuanya mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Tiap hari ia harus berjalan kaki menuju tempat ia mengambil koran. Sebuah cerita yang membuat saya hanya bisa menahan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian saya kembali bertemu dengannya. Saya tanya bagaimana sekolahnya. Ternyata jawabannya sangat mengejutkan saya. " Saya tak sekolah lagi bu. Kata mak saya jualan koran saya," ujarnya lugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meminta dia tetap sekolah meski harus tetap jualan koran siang atau sore hari. " Ya juga bu. nanti pulang sekolah saya bisa jualan lagi," ujarnya girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahkan "mengancam" akan mendatangi sekolahnya untuk membuktikan ia benar-benar sudah masuk sekolah lagi nantinya. Bahkan saya bersedia kalau ia membutuhkan sesuatu untuk keperluan sekolah bisa meminta kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari ini saya belum melihat dia lagi. Saya mau memastikan apakah dia sudah benar-benar kembali sekolah meski harus tetap berjualan.Tapi mudah-mudahan dia benar-benar sudah kembali sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang, apa urusan saya mengurus anak orang. Tapi biarlah, apa yang saya lakukan minimal telah berusaha menyelamatkan satu generasi bangsa. Kalau ia tidak sekolah, bagaimana masa depannya nanti. Apakah ia harus sampai tua hidup di jalanan ?&lt;br /&gt;Siapa lagi yang harus peduli dengan bocah-bocah seperti itu ? Kalau kita mampu, mengapa harus menunggu untuk mengulurkan tangan. &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-6882666491823936505?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/6882666491823936505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=6882666491823936505' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/6882666491823936505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/6882666491823936505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/08/suatu-hari-bersama-bocah-penjual-koran.html' title='Suatu Hari Bersama Bocah Penjual Koran'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-435857874623811392</id><published>2010-08-04T21:03:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T21:15:41.146-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Rindu Nan Terbelenggu</title><content type='html'>Sumpah, aku benar benar jatuh cinta.&lt;br /&gt;Apalagi saat dia memanggil diriku dengan panggilan sayangnya.&lt;br /&gt;Dunia terasa hanya milik diriku dan aku melayang ke angkasa saking bahagianya.&lt;br /&gt;Setiap panggilan itu dia ucapkan, luluh jantung ini.&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, apa saja yang dia minta pasti aku kabulkan&lt;br /&gt;Materi bukanlah suatu yang kuperhitungkan, karena kebahagiaan yang kuperoleh dari dia&lt;br /&gt;itu melebihi nilai materi yang sudah kukeluarkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...&lt;br /&gt;Tapi, dia hanya bisa kumiliki sesaat..&lt;br /&gt;Dia datang dan pergi..&lt;br /&gt;Saat dia datang, dia milikku sepenuhnya..&lt;br /&gt;Kuhabiskan hari-hariku bersamanya..&lt;br /&gt;Kuhabiskan hari-hariku menciumnya...&lt;br /&gt;Memeluknya..membelainya dan bercanda dengannya&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Di saat dia pergi&lt;br /&gt;Ada rasa sepi, sedih dan rindu yang menggelora di saat aku ingin dia cepat kembali&lt;br /&gt;Rindu yang mengiris-iris hati&lt;br /&gt;Rindu yang membuai buai dalam mimpi&lt;br /&gt;Rindu itu begitu membelenggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah..&lt;br /&gt;Kadang aku ingin merebut dia &lt;br /&gt;Menjadi milikku sepenuhnya&lt;br /&gt;Tapi..mungkinkah ?&lt;br /&gt;Apakah semudah itu ?&lt;br /&gt;Tidakkk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas..&lt;br /&gt;Haruskah aku selalu bermain dengan perasaan ini ?&lt;br /&gt;Haruskah aku selalu menyimpan rindu ini ?&lt;br /&gt;Haruskah aku begini..tanpa suatu kejelasan ?&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TFo6u99e3pI/AAAAAAAAAcw/cd0P2NY9kbw/s1600/jeje+syk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 304px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TFo6u99e3pI/AAAAAAAAAcw/cd0P2NY9kbw/s320/jeje+syk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501774473367314066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jeje yang bukan milikku seutuhnya&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan...&lt;br /&gt;Aku ingin mendapatkan penggantinya&lt;br /&gt;Aku ingin tempat melampiaskan rasa sayang, rindu dan cinta yang lain&lt;br /&gt;Aku ingin bahagia ini seutuhnya&lt;br /&gt;Aku ingin sesuatu yang menjadi milikku seutuhnya&lt;br /&gt;Tuhan...&lt;br /&gt;dengarlah doaku&lt;br /&gt;kabulkanlah Tuhan&lt;br /&gt;Hanya Engkaulah tempatku mengadu&lt;br /&gt;Jangan Kau biarkan rindu ini membelenggu tak menentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*catatan rindu yang terbelenggu*&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-435857874623811392?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/435857874623811392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=435857874623811392' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/435857874623811392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/435857874623811392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/08/rindu-nan-terbelenggu.html' title='Rindu Nan Terbelenggu'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TFo6u99e3pI/AAAAAAAAAcw/cd0P2NY9kbw/s72-c/jeje+syk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-4783929029520781405</id><published>2010-06-20T09:16:00.000-07:00</published><updated>2010-06-20T09:24:30.350-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulisan lomba'/><title type='text'>Kenangan saat Gempa 30 September 2009 Sumbar Inovasi SNC Telkomsel Beri Kemudahan Tuk Mengabari ke Ribuan Sahabatku di Facebook</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TB5AZkmcamI/AAAAAAAAAco/ZZx0H9MIKHg/s1600/IMG00497.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TB5AZkmcamI/AAAAAAAAAco/ZZx0H9MIKHg/s320/IMG00497.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484892204249672290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rumah orang tua saya yang runtuh di bagian depan dan rengkah di banyak tempat akibat gempa&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 30 September 2009 lalu tidak akan terlupakan bagi saya seumur hidup. Sore itu menjelang senja, gempa mengguncang Sumatera Barat termasuk daerah yang paling kuat Kabupaten Padangpariaman, kampung halaman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya memang berada di Padangpariaman, tepatnya di Sicincin desa saya dalam rangka libur lebaran. Rencananya keesokan harinya tanggal 1 Oktober saya akan kembali ke Tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sore itu gempa terdahsyat yang pernah saya rasakan seumur hidup mengguncang Sumbar. Dalam sekejap rumah-rumah di sekitar rumah saya banyak yang ambruk. Tapi, Alhamdulillah rumah orang tua saya tidak ambruk dan hancur sepenuhnya, meski rengkahan besar terdapat di sana sini siap untuk jatuh jika kembali terkena goncangan. Namun, kondisi seperti itulah yang berbahaya dan kami sekeluarga harus membuat tenda supaya terhindar dari bencana tertimpa tembok itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja cepat berganti malam dalam suasana mencekam di tengah rintik hujan. Listrik padam dan seluruh jaringan telepon maupun seluler mati. Tak bisa memberi kabar kepada keluarga di Tanjungpinang.Saya pun batal kembali ke Tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, listrik menyala dan layanan jaringan Telkomsel di daerah saya pulih setelah mengalami perbaikan. Meski sinyalnya belum pulih sepenuhnya, tapi sudah bisa untuk berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dengan fitur pesan pendek dan telepon, saya memanfaatkan inovasi baru Telkomsel yakni Paket Layanan Facebook dan Chatting atau Paket Social Networking &amp; Chatting (Paket SNC). Dengan paket ini saya bisa menggunakan fitur m.facebook.com.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Saya yang sebelumnya sudah meregistrasi dan menggunakan paket itu untuk online Facebook atau FB, dengan mudah memberi kabar ke ribuan sahabat saya di seluruh Indonesia, serta keluarga dan sahabat di Tanjungpinang pada khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara membuat status terbaru setiap beberapa jam, saya memberi kabar kondisi daerah saya ke pada kawan-kawan dimana saja berada. Seperti tentang lambannya bantuan, kondisi pengungsi, korban, penyakit, serta sejumlah masalah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, status saya di Facebook tersebut mendapatkan banyak perhatian dari kawan-kawan. Dari dukungan semangat untuk sabar dan tabah, dukungan doa dan kata-kata yang membuat saya kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, berbagai status saya tentang perkembangan gempa di FB yang diakses menggunakan kartu Simpati tersebut, telah mengetuk hati sejumlah orang untuk mengirimkan bantuan, ke daerah-daerah yang minim bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih saya ingat dengan jelas saat itu ibu Fillin Yulia, Manager Grapari Tanjungpinang, memberikan bantuan uang untuk siswa di sekolah tempat paman saya mengajar. Karena dalam status saya di FB saya menulis, siswa-siswa yang berada di pelosok itu tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tapi juga pakaian dan alat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Fillin menstransfer dana itu ke rekening paman saya yang menjadi pembina OSIS di sekolah itu. Alhamdulillah uang itu dibelikan untuk keperluan siswa-siswinya. Terimakasih yang tak terhingga untuk kebaikan dan ketulusan ibu Fillin Yulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saudara saya di Bandung yang membaca status saya juga meminta perusahaan tempatnya bekerja mengirimkan bantuan langsung ke daerah kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada kawan yang mengawal bantuan dari kotanya, menyinggahi daerah saya untuk menitipkan sejumlah bantuan untuk korban gempa di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ketika saya kekurangan pulsa untuk memperpanjang paket FB, dengan sukarela sejumlah kawan mengirimkan pulsa Simpati. Karena untuk membeli pulsa waktu itu masih sangat sulit, karena sebahagian besar toko-toko rusak dan belum ada yang berjualan sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, dengan paket SNC dari Telkomsel sangat membantu saya saat gempa. Terimakasih tak terhingga saya ucapkan kepada Telkomsel. Mungkin dengan hanya setiap terus menggunakan produk Telkomsel, sebagai tanda terimakasih saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari inipun, saya tetap setia dengan inovasi paket SNC dari Telkomsel. Saya bisa online kapan saja dan dimana saja cukup melalui ponsel. Sekali lagi terimakasih Telkomsel. Semoga makin maju terus memimpin perkembangan telekomunikasi seluler di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-4783929029520781405?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/4783929029520781405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=4783929029520781405' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/4783929029520781405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/4783929029520781405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/06/kenangan-saat-gempa-30-september-2009.html' title='Kenangan saat Gempa 30 September 2009 Sumbar Inovasi SNC Telkomsel Beri Kemudahan Tuk Mengabari ke Ribuan Sahabatku di Facebook'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/TB5AZkmcamI/AAAAAAAAAco/ZZx0H9MIKHg/s72-c/IMG00497.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-9165656969903582606</id><published>2010-06-20T07:00:00.001-07:00</published><updated>2010-06-20T09:27:38.573-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulisan lomba'/><title type='text'>Mudah Berbagi dengan Telkomsel</title><content type='html'>15 tahun usia Telkomsel pada tahun 2010 ini makin memanjakan para pelanggannya. Berbagai inovasi yang digagas oleh operator seluler terbesar di Indonesia ini, makin membuat pelanggan lama dan pelanggan baru makin jatuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, karena inovasi dari Telkomsel telah memberikan berbagai kemudahan. Seperti inovasi Transfer Pulsa Simpati dan Kartu As. Kemudahan transfer pulsa itu telah memberikan kemudahan berbagi antara pelanggan dengan keluarga, sahabat, karib atau mereka yang hendak dibantu dalam bentuk pulsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebelumnya untuk berbagi pulsa kita harus membeli voucher dan mengirimkan 14 digit nomor di kartu atau juga dengan mengirimkan langsung voucher elektrik ke nomor tujuan, saat ini ada yang lebih mudah yakni dari ponsel kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Jika cara pertama mungkin merepotkan karena permintaan pulsa oleh keluarga, seperti adik, kakak bahkan orang tua dan sahabat, akibat cuaca, kondisi yang tidak tepat serta keuangan yang tidak memadai, tapi dengan transfer pulsa dari ponsel sendiri semua kendala di atas bisa diatasi. Asal di dalam kartu Simpati atau As kita terdapat pulsa yang selalu cukup untuk melakukan transaksi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya kemudahan itu yang saya rasakan selama ini. Sebagai kakak saya sering diminta mengirimkan pulsa oleh dua orang adik di kampung. Biasanya sebelum ada program transfer pulsa, saya harus pergi ke konter penjualan pulsa untuk dikirimkan ke nomor Kartu Simpati adik saya di Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kadang cuaca hujan dan waktu malam hari, membuat saya terhalang mengirimkan pulsa untuk adik. Bahkan kadang di saat saya sedang berada di suatu kegiatan dan tidak bisa segera membeli pulsa ke luar, kondisi itu cukup merepotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sekarang saya yang biasa mengisi kartu Simpati dengan pulsa Rp 100 ribu, tidak perlu lagi harus repot ke konter pulsa. Semuanya bisa dilakukan melalui ponsel saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pengiriman atau transfer pulsa sangat mudah, yakni dengan Ketik : *858*nomor tujuan*nominal transfer# lalu tekan OK/YES&lt;br /&gt;Contohnya saya yang punya kartu Simpati, untuk pengiriman nominal Rp. 10.000 ke nomor adik saya 0813635890XX, ketik *858*0813635890XX*10000# tekan OK/YES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mudah dan cepat untuk mentransfernya. Bahkan biasanya adik saya yang suka tidak sabaran saat meminta pulsa ke saya, sekarang ini tidak lagi cerewet dan terus merengek. Karena pulsa yang dia minta dengan cepat saya transfer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang sahabat yang kehabisan pulsa dalam kondisi darurat, dengan cepat bisa saya transfer pulsa sesaat setelah mereka meminta tolong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inovasi transfer pulsa dari Telkomsel telah mendekatkan jarak, mendekatkan rasa kekeluargaan dan mempererat persahabatan. Terimakasih Telkomsel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-9165656969903582606?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/9165656969903582606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=9165656969903582606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/9165656969903582606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/9165656969903582606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/06/mudah-berbagi-dengan-telkomsel.html' title='Mudah Berbagi dengan Telkomsel'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-3416974093141053770</id><published>2010-05-30T11:17:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T11:34:37.457-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Prasasti Cinta di Beranda Facebook</title><content type='html'>Saya suka menulis status tentang rasa sayang, cinta, rindu, pujian dan berbagai hal -yang pasti baik -terhadap suami tercinta di beranda FB. Tak jarang status mendapatkan komentar dan tanda jempol dari kawan-kawan.Tapi tak jarang juga yang mengejek dengan terangan-terangan, becanda di kolom komentar, bahkan di suatu kesempatan kalau bertemu saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya itu biasa. Tanggapan orang wajar berbeda sesuai isi kepala mereka. Yang jelas itu hak saya menuliskan apa yang saya pikirkan tentang suami saya tercinta atau yang biasa saya tulis Bang Ude di FB. Saking seringnya nama itu tertulis, banyak kawan-kawan yang hafal dan penasaran dengan sosok suami saya yang memang mungkin cuma satu fotonya di FB saya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Berbagai ungkapan ungkapan untuk bang ude sengaja saya tulis bukan untuk sok pamer, memanas-manaskan orang lain atau sebagainya. Tapi, itulah ungkapan hati saya, rasa cinta, sayang, rindu, kagum, lucu dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang mengganggap saya lebai dan memonyongkan bibirnya saat membaca status-status saya itu. Tapi sekali lagi biarlah. Yang jelas, status-status itu adalah prasasti cinta saya pada bang ude. Suami yang mengasihi saya dan begitu juga saya sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti cinta itu biarlah menjadi rekam jejak, bukti ketulusan saya kepada bang ude. Suatu saat nanti itu akan jadi bukti betapa seorang istri mencintai suaminya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Atau ketika saya mungkin lebih dahulu "pergi" ke sang pencipta, semua jejak itu akan menjadi kenangan terindah bagi bang ude , yang akan dia lihatkan kepada anak cucu saya nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti malam ini saya menuliskan status :&lt;span style="font-style:italic;"&gt;aku tahu kmu tak seromantis BJ Habibie,tp yakinlah cintaku setulus Alm Asri Hainun Habibie .ku percaya puisi cintamu hanya tersimpan di hati, tp kau pasti tak menyadari rasa kasihku ini sudah sering terprasasti di dinding FB ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau pada malam minggu kemarin saya menuliskan status :&lt;span style="font-style:italic;"&gt;merindukan masa2 tiap malming kau jemput aku.bunyi khas motormu sbg tanda kdtanganmu.ktika kulihat senyum di bibirmu, degup rindu pun luluh.wangi parfum kesukaanmu segarkan hatiku mlm itu...*kpn terulang lg ya bang ude...? hehehe*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga apa yang saya lakukan bisa menjadi inspirasi untuk para istri-istri lainnya tuk berani dan tidak malu mengungkapkan rasa sayang pada suami. Mengapa harus malu ? suami kita adalah pemimpin kita, yang wajar kita banggakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terserah apa kata orang, yang jelas I Love U Full Bang Ude....Terimalah prasasti cinta ini sebagai hadiah sepanjang masa dari dayangmu tercinta. &lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-3416974093141053770?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/3416974093141053770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=3416974093141053770' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3416974093141053770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3416974093141053770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/05/prasasti-cinta-di-beranda-facebook.html' title='Prasasti Cinta di Beranda Facebook'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-2974469623219306096</id><published>2010-05-30T11:07:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T11:15:32.728-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ternyata sudah 5 tahun</title><content type='html'>Tak terasa sebentar lagi usia pernikahan saya lima tahun pada bulan Juli mendatang.Rasanya baru kemarin saya duduk di pelaminan bersama Bang Ude -nama panggilan sayang tuk suami- tapi ternyata sudah lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, bukan saya ternyata yang menganggap pernikahan kami baru kemarin sore. Sejumlah teman dan kerabat bahkan bilang usia pernikahan kami baru 2-3 tahun hehehe...Entah mengapa mereka berpikiran seperti itu, saya juga tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa karena saya belum memiliki momongan ? atau memang tahun yang berlalu begitu cepat ? Entahlah. Yang jelas memasuki ultah ke 5 pernikahan kami ini, saya harus banyak merenung. Khususnya tentang masalah momongan yang belum mengisi hari-hari kami.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Memikirkan itu memang membuat sedih, tapi harus dipikirkan supaya saya tidak lupa kalau saya harus punya keturunan. Tapi, apa yang harus saya lakukan dengan kondisi saat ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dokter sudah, ke alternatif sudah, baca-baca buku dan artikel sudah. Tanya-tanya kawan juga sudah. Apalagi yang kurang ya ? Kadang memikirkan itu membuat saya stres dan pusing sendiri, tapi sekali lagi saya tidak boleh pura-pura tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahhh....sudahlah, Tuhan pasti punya rencana atas semua ini. Dibalik semua ini pasti ada hikmahnya. Ambil saja positifnya dan suatu saat nanti tentu ada jawabannya. Sabar, tabah, berusaha, berdoa dan tawakal hanya itu hanya perlu dilakukan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman semua mohon doanya ya..&lt;br /&gt;thank&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-2974469623219306096?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/2974469623219306096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=2974469623219306096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2974469623219306096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2974469623219306096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/05/ternyata-sudah-5-tahun.html' title='Ternyata sudah 5 tahun'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-8177239365232883803</id><published>2010-05-30T10:59:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T11:07:15.390-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Siapakah Komentator Anonim Itu</title><content type='html'>Beberapa waktu belakangan ini saya heran dan bingung dengan komentar yang muncul di blog pribadi saya ini. Seorang komentator yang lumayan aktif mengomentari tulisan saya, tidak meninggalkan jejak berupa identitas yang jelas. Baik itu blog pribadi, email atau yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saya sangat penasaran. Apalagi komentnya ditulis dalam bahasa Inggris. Kalau melihat gaya bahasanya dipastikan native speaker alias orang asing atau bukan orang Indonesia yang menggunakan bahasa inggris.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Cuma, mengapa ia aktif mengomentari tulisannya saya ? Memang sih komentnya tidak menyinggung saya, malah memberi support, tapi kok dia sebegitu misteriusnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah mencoba mencarinya, tapi tidak terlacak. Ataukah dari sobat-sobat yang hobi ngeblog bisa memberi informasi tentang cara melacak komentator yang anonim ? Please help me... thank&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-8177239365232883803?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/8177239365232883803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=8177239365232883803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8177239365232883803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8177239365232883803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/05/siapakah-komentator-anonim-itu.html' title='Siapakah Komentator Anonim Itu'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-2302905323423608223</id><published>2010-05-30T10:57:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T10:58:54.053-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Banyak Yang Belum Ditulis</title><content type='html'>Banyak hal-hal yang tidak "sempat" saya tuliskan di blog. Entah mengapa saya kehilangan semangat, malas dan seperti tidak ada minat untuk menuliskannya. Padahal banyak hal yang harus saya tulis. Seperti pengalaman sehari-hari, dalam rumah tangga, organisasi, persahabatan, impian, curhat kawan dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mengapa tangan ini begitu malas ? kadang saya juga marah dengan sikap saya yang seperti itu ? Tapi kok saya juga tidak merubahnya ?&lt;br /&gt; Apa yang terjadi pada saya ? Kejenuhan atau memang tidak ada yang membuat saya bersemangat untuk menuliskan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal waktu ngeblog masih booming, nyaris setiap hari saya selalu mengupdate blog saya. Bahkan dalam satu hari bisa dua kali bahkan lebih. Tapi, mengapa sekarang tidak ? Apakah karena blog sudah tertinggal dari Fb ?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Yang jelas saya masih mencintai blog saya ini. Ini merupakan jejak saya suatu saat nanti yang dibaca oleh anak cucu, kawan-kawan, sahabt, serta siapa saja yang mengenal dan tidak kenal saya. Semoga sejumlah tulisan di dalamnya bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti pengalaman yang tertunda saya tulis pasti akan saya tulis. Meskipun telat, tapi tidak apa-apa daripada tidak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-2302905323423608223?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/2302905323423608223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=2302905323423608223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2302905323423608223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2302905323423608223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/05/banyak-yang-belum-ditulis.html' title='Banyak Yang Belum Ditulis'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-482819896933463021</id><published>2010-05-05T07:05:00.001-07:00</published><updated>2010-05-05T07:51:00.645-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berbagi pengalaman'/><title type='text'>Kekuatan Pikiran Terbukti Lagi : Bertemu dan Tampil Bareng Asma Nadia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S-GDBNPw1KI/AAAAAAAAAcA/y4OJGI0yusU/s1600/DSCF3068.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S-GDBNPw1KI/AAAAAAAAAcA/y4OJGI0yusU/s320/DSCF3068.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467795479363376290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Duduk semeja dan tampil bareng mba asma nadia adalah wujud bukti kekuatan pikiran"&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan pikiran...saya sangat percaya dengan hal itu.Khususnya hal-hal positif dari dari kekuatan pikiran.Beberapa bukti dan mungkin sudah banyak bukti kekuatan pikiran saya yang terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah bukti tentang kekuatan pikiran sudah pernah saya tulis di blog ini.Kali ini saya akan menceritakan bukti kekuatan pikiran yang terbaru.Saya bertemu penulis buku nasional dan best seller Mba Asma Nadia.Bahkan saya tampil sepanggung dengan beliau dalam sebuah acara bedah buku baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah...itu yang saya ucapkan ketika wujud penulis imut dan selalu ceria berdiri di hadapan saya,kami bersalaman dan duduk bersebelahan.Tanpa malu-malu saya mengatakan di depan forum yang berjumlah kurang lebih 500 orang kalau saya sangat senang bertemu beliau.Bahkan saya menyatakan mimpi saya terwujud hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap saya membaca karya penulis-penulis besar,saya selalu berpikir suatu saat saya akan bertemu dan bisa tampil bersama.Ternyata hari ini terwujud dan kekuatan pikiran itu memang benar-benar ada," tutur saya lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba Asma Nadia yang saat itu tampil dengan gaya simpel,enerjik dan santai tersenyum mendengar pengakuan saya.Bahkan ketika saya bilang saya bisa duduk dekat beliau,dengan spontan ia mendekatkan pipinya ke saya....betul-betul seorang wanita yang rendah hati dan menyenangkan.Itu kesan pertama saya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan bisa tampil bareng dengan penulis buku Mak Ingin Naik Haji itu,berkat Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepri.Instansi tersebut mengadakan bedah buku dari penulis nasional dan penulis lokal pada Selasa 4 Mei 2010 di Hotel Bintan Permmata Tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal April lalu Hp saya berdering dengan nomor Mba Dian mantan penyiar RRI Tanjungpinang.Karena tak sempat mengangkat,saya mengirim pesan singkat ke beliau kalau saya sedang menghadiri sebuah acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian beliau menelepon lagi dan mengatakan kalau saya akan diundang menjadi narasumber di acara yang akan diadakan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepri.Ternyata dalam acara itu nantinya Mba Dian akan jadi moderator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun berbicara langsung dengan panitia acara Bu Hafsah dan beliau meminta saya datang ke kantor itu.Tanpa membuang waktu saya pun ke kantor beliau dan menerima penjelasan tentang rencana kegiatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu nanti saya hubungi lagi tuk ambil SK awak jadi narasumber dan undangannya sekaligus.Sekarang baru dipersiapkan," kata wanita yang ramah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S-GFl5RL60I/AAAAAAAAAcI/-1X3esHntuU/s1600/DSCF3127.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S-GFl5RL60I/AAAAAAAAAcI/-1X3esHntuU/s320/DSCF3127.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467798308679052098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rasanya saya mau langsung update status di FB tentang rasa gembira itu.Tapi saya tahan.Bahkan status yang mengarah-arah pun saya tak buat.Entah mengapa ada keraguan kalau nanti saya bisa saja tak jadi untuk jadi narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saya sempat berpikiran "negatif" kalau ada yang tahu saya akan jadi narasumber dalam acara itu,dan orang yang mungkin punya rasa yang tidak baik itu akan mempengaruhi kantor itu.Sehingga saya bisa batal jadi narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya ada pengalaman kawan yang seperti itu.Jegal menjegal akibat rasa syirik.Jadi berita baik itu saya simpan saja dalam hati dan tidak mau saya ceritakan ke siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dua minggu kemudia saya mendapatkan SK bahwa saya sah menjadi narasumber di acara itu,baru saya berani menceritakannya kepada kawan yang saya percayai.Bahkan ketika hari H sudah mendekat dan Bu Hafsah kembali menelpon,saya pun makin merasa mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya,hari H itu pun datang juga dan saya tampil di hadapan perwakilan siswa siswi SLTP,SLTA dan mahasiswa serta para guru pendamping.Dengan cantiknya spanduk bertuliskan Bedah Buku :Asma Nadia " Emak Ingin Naik Haji dan Unizara :Penyengat Aku Akan Kembali bertengger di dinding panggung utama aula hotel mewah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih tak terhingga saya ucapkan kepada Bu Hafsah dan khususnya Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepri,yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk bisa berbagi ilmu meskipun sedikit dan berbagi pengalaman dengan adik-adik tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dari sekian ratus yang hadir nantinya akan jadi penulis semuanya.Minimal menulis di Blog pribadi yaa..&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-482819896933463021?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/482819896933463021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=482819896933463021' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/482819896933463021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/482819896933463021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/05/kekuatan-pikiran-terbukti-lagi-bertemu.html' title='Kekuatan Pikiran Terbukti Lagi : Bertemu dan Tampil Bareng Asma Nadia'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S-GDBNPw1KI/AAAAAAAAAcA/y4OJGI0yusU/s72-c/DSCF3068.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-1777528388481348582</id><published>2010-04-10T23:19:00.000-07:00</published><updated>2010-04-12T20:17:22.580-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cerpen :PULANG</title><content type='html'>Entah sudah yang keberapa kalinya Bang Mahmud mencuri-curi pandang padaku. Setiap aku membalas pandangannya, ia cepat-cepat kembali mengalihkan tatapannya ke acara TV yang sedang kami tonton. Aku gerah melihat tingkah suamiku yang tidak biasanya.&lt;br /&gt;“Papa ada apa sih?” tanyaku&lt;br /&gt;“Tak ada, cuma ingin lihat wajah mama kalau lagi serius nonton aja,” dia tergelak, diikuti oleh Moldi dan Rizki kedua anak kami.&lt;br /&gt;“Alaa…pasti ada maunya ni?” selidikku.&lt;br /&gt;“Suer mama!”&lt;br /&gt;“Dasar, tidak lucu tahu!” aku meninggalkan ruang keluarga dan memilih masuk kamar.&lt;br /&gt;Aku sudah mulai tertidur ketika Bang Mahmud masuk kamar. Ia memelukku yang tidur membelakanginya.&lt;br /&gt;“Merajuk ya?” ia membujukku.&lt;br /&gt;“Udah ah, ngantuk,” aku menepis tangannya.&lt;br /&gt;“Maafin papa lah, tadi papa memang mau bicara. Tapi waktunya tidak pas, karena mama lagi asyik menonton,” ia membela diri.&lt;br /&gt;Aku berbalik, menatap wajah suamiku yang mulai digurati garis ketuaan itu. “Mau bicara? Memang ada apa?” tanyaku penasaran. Ia hanya diam dan itu membuatku kesal.&lt;br /&gt;“Papa ini macam mana sih, dari tadi buat mama kesal terus. Dah lah, mau tidur,” aku kembali membalikan badan.&lt;br /&gt;“Hehehe…mama sayank jangan merajuk gitu lah. Tadi papa kan mikir darimana nak mulai bicaranya,” ia menarik tanganku untuk duduk.&lt;br /&gt;Aku cemberut, kesal. Dari dulu suamiku tidak berubah. Suka menggoda dan mencandaiku yang suka merajuk.&lt;br /&gt;“Maa…mama kangen tak sama kampung kita?” akhirnya ia memulai juga inti pembiacaraan. Aku tak bisa menyembunyikan rasa kaget.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku memilih diam, tidak menjawab. “Lho, kok tidak dijawab. Masih marah ya? Tadi ngotot mau tahu apa yang mau papa bicarakan.” &lt;br /&gt;“Tak,” akhirnya aku bersuara juga.&lt;br /&gt;“Alasannya?”&lt;br /&gt;“Kenapa sih tanya kampung segala?” aku balik bertanya.&lt;br /&gt;“Hmmm…akhir-akhir ini papa rindu sama kampung kita. Papa bahkan ingin balik ke sana,” perkataan suamiku barusan membuatku semakin kaget.&lt;br /&gt;“Apa? Papa ingin balik kampung. Ngapain sih? sudah enak tinggal di kota, punya pekerjaan bagus, malah balik kampung, ke kota kecil. Mama saja tidak mau kembali ke sana,” ketusku.&lt;br /&gt;Kulihat suamiku menarik nafas dan menghembuskannya. Ia membetulkan posisi duduknya. Sepertinya ia betul-betul serius dengan apa yang ia ungkapkan tadi.&lt;br /&gt;“Ma, papa ingin ikut membangun kampung kita, kota kelahiran kita, Ma. Sekarang di sana sudah berubah. Sudah menjadi ibukota provinsi, mulai berkembang. Papa yakin tenaga papa dibutuhkan di sana, diminta atau tidak diminta, papa ingin berbuat kepada daerah,” Bang Mahmud mengeluarkan argumentasinya.&lt;br /&gt;Aku hanya diam. Pikiranku melayang pada kota asal kami Tanjungpinang, sebuah kota di Pulau Bintan. Kota kecil di sebuah tanjung yang berdekatan dengan Singapura. Tapi, dibandingkan dengan Kota Batam yang letaknya berdekatan, kotaku jauh tertinggal dari segi pembangunan. Banyak warganya yang pindah ke Batam bahkan kota lain untuk bekerja dan menetap di sana.&lt;br /&gt;Begitu juga dengan aku. Sejak kecil, aku sudah dibawa pindah oleh orangtuaku ke Pekanbaru. Bahkan rumah kami di Tanjungpinang sudah dijual. Keluarga besarku saat ini semuanya di Pekanbaru. Seingatku, aku hanya tiga kali pulang ke sana dan itupun hanya sebentar.&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Bang Mahmud, yang menikahiku 15 tahun lalu. Ia juga berasal dari sana. Tapi keluarga besarnya masih banyak di sana, kecuali orangtuanya yang menetap di Pekanbaru. Mereka hanya sesekali masih berkunjung ke Tanjungpinang. Mereka juga masih memiliki rumah yang saat ini ditempati oleh salah satu famili kami. Tak mengherankan, ia masih menggunakan bahasa Melayu meski kadang terkontaminasi bahasa Jakarta dan sedikit dialek Padang. Aku pun juga terbawa-bawa mengikuti suamiku, padahal demi pergaulan aku tetap berusaha menggunakan bahasa Jakarta. Namun, karena setiap hari bertemu dengan suamiku, ya dialek Melayu tetap juga ada.&lt;br /&gt;Aku bertemu dengan Bang Mahmud di Universitas Riau. Kami sama-sama aktif di kegiatan kampus. Aku di Fakultas Ekonomi dan dia di Fakultas Pertanian. Lulus kuliah aku langsung dilamar oleh Bang Mahmud. Aku tidak sempat bekerja, karena sebulan menikah langsung hamil. Tapi pendidikan di bidang ekonomi, membantuku menjalani bisnis multilevel marketing sebuah produk kesehatan yang bisa kulakukan sambil mengurus rumah tangga.&lt;br /&gt;Sementara Bang Mahmud diterima bekerja di sebuah perusahaan pertanian. Ia menjadi tenaga ahli di sana. Sambil bekerja Bang Mahmud yang berkemauan keras melanjutkan pendidikan ke jenjang strata dua. Dengan gelar S2 yang diraihnya, Bang Mahmud ditawari bekerja di sebuah lembaga penelitian pemerintah.&lt;br /&gt;Kesibukan Bang Mahmud semakin bertambah ketika ia diangkat menjadi dosen di UNRI. Dua orang buah hati kami tumbuh menjadi anak-anak cerdas dan aku masih sibuk dengan bisnis MLM-ku yang makin berkembang. Saat ini suamiku juga hampir menyelesaikan pendidikan di jenjang S3.&lt;br /&gt;Kehidupan kami betul-betul sempurna. Pekerjaan yang menjamin kehidupan, penghasilan berlimpah, tabungan masa depan yang cukup, rumah yang besar dan sejumlah kendaraan pribadi.&lt;br /&gt;Aku merasa betul-betul bahagia, menjadi seorang istri dan ibu yang bisa membagi waktu antara keluarga dan bisnis. Selama ini nyaris tidak ada masalah dalam kehidupan kami, kecuali sekali-kali memang ada riak-riak kecil dan itu juga disebabkan karena sifatku yang cepat emosi. Sedangkan sifat Bang Mahmud yang suka humor dan suka tertawa bisa menjadi penyeimbangnya.&lt;br /&gt;Tapi sekarang, di tengah kebahagiaan yang sedang kunikmati bersama anak-anak, Bang Mahmud malah mengajak kami untuk pulang ke Tanjungpinang. Membayangkannya saja aku sudah tidak mau. Kembali ke kota kecil yang tidak mempunyai berbagai fasilitas seperti di Pekanbaru. Di sini aku bisa ke mana saja dengan cepat. Atau pergi ke Padang, Medan sampai Jakarta dalam hitungan jam. Sementara di sana, harus memakan waktu lama.&lt;br /&gt;Belum lagi dengan bisnis MLM-ku yang sedang berkembang pesat. Apa jadinya jika aku pindah dan meninggalkan bisnis yang telah memberikan aku keuntungan puluhan juta rupiah ini.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anak-anak kami. Apakah mereka bisa menyesuaikan diri hidup di kota yang dikelilingi lautan itu. Terus bagaimana juga dengan rumah dan harta benda yang kami miliki sekarang.&lt;br /&gt;“Maaa…sudah cukup melamunnya?” Bang Mahmud mengagetkan aku dari lamunan panjang.&lt;br /&gt;“Hmmm…mama bingung, Pa. Tapi sepertinya mama tidak setuju. Anak-anak apalagi,” akhirnya aku memberikan komentar juga. &lt;br /&gt;“Baikah, itu hak mama. Silahkan mama berpikir kembali. Tapi yang jelas dari hati kecil papa begitu kuat untuk kembali ke Tanjungpinang,” balas Bang Mahmud datar, tapi tegas. Itu ciri khasnya jika memang serius.&lt;br /&gt;Malam itu kujalani tidur yang tidak nyaman dan gelisah. Pikiranku melayang-layang meski mataku terpejam. Tapi Bang Mahmud malah tidur nyenyak seakan tanpa beban.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pagi harinya di meja makan aku tidak bergairah. Pembicaraan tadi malam membuatku begitu terganggu. “Mama ada apa sih. wajahnya kok lesu gitu?” tanya Moldy, si sulung yang duduk di bangku kelas tiga SMP.&lt;br /&gt;“Ya, tidak biasanya mama begini. Biasanya udah berkicau, hehehe,” Rizki yang memiliki selera humor seperti papanya menimpali. Bang Mahmud juga ikut tertawa.&lt;br /&gt;“Mama sedang tidak enak badan kali, nanti papa pijit ya,” Bang Mahmud mengerling nakal menggodaku.&lt;br /&gt;“Udah ah, ayo habiskan sarapannya,” aku tidak mengindahkan ocehan mereka tentang sikapku pagi itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Malam ini aku sudah tidak sabar untuk berbicara dengan Bang Mahmud. Tapi, ia belum pulang, karena ada rapat di kantornya. Aku menunggu Bang Mahmud di kamar, kubiarkan anak-anak menonton di ruang keluarga.&lt;br /&gt;Pukul 10 lewat Bang Mahmud pulang, ia masuk kamar dengan wajah letih. “Mama tidur saja, biar papa makan sendiri. Tak usah ditemani,” sergahnya saat aku hendak bangkit dari tempat tidur.&lt;br /&gt;“Biar aja, mama memang ada perlu bicara sama papa,” jawabku dan keluar dari kamar untuk mempersiapkan makan malam Bang Mahmud.&lt;br /&gt;Suamiku datang ke meja makan dengan wajah yang lebih segar setelah mandi. Ia tersenyum kepadaku yang dari tadi tidak sabar menunggunya. “Aduh, papa lapar berat, ni. Udah tak sabar mencicipi masakan mantan pacar tercinta,” ia menjawil daguku.&lt;br /&gt;“Ahhh, papa ini.  Reseh banget!”&lt;br /&gt;“Yee, makin cantik kalau sedang merajuk begitu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama ada apa, sih? Dari pagi hingga malam ini wajahnya cemberut terus?” Bang Mahmud memulai pembicaraan saat kami sudah di tempat tidur.&lt;br /&gt;“Papa sudah tahu jawabannya, kok malah balik tanya,” jawabku ketus.&lt;br /&gt;“Hmm…masalah tadi malam ya?”&lt;br /&gt;“Ya…”&lt;br /&gt;“Mama ingin tahu mengapa papa ingin balik ke Tanjungpinang?” &lt;br /&gt;“Seratus, mama ingin tahu siapa sih yang merasuki papa biar kembali ke kota itu,” balasku cepat.&lt;br /&gt;“Tak ada yang merasuki papa, Ma. Papa ini sudah dewasa. Tidak semudah itu dirasuki oleh macam-macam pendapat orang. Cuma, memang ada yang memberi pandangan kepada papa, tapi yang memutuskan papa sendiri, kok,” Bang Mahmud beralasan panjang lebar.&lt;br /&gt;“Siapa orangnya?”&lt;br /&gt;“Abang sepupu papa, Bang Ude Hamid. Dia guru SMA di sana. Dia yang memberikan pandangan kepada papa, bahwa sudah saatnya papa kembali ke sana ikut membangun kota itu.”&lt;br /&gt;Bang Mahmud bercerita, jika dalam beberapa bulan terakhir dia sering berdiskusi dengan Bang Ude Mahmud lewat sms dan telepon. Dari situlah muncul saran jika sudah saatnya suamiku itu kembali membangun tanah kelahirannya. Orang-orang seperti Bang Mahmud sangat diperlukan, karena sedikit pejabat yang memiliki displin ilmu seperti suamiku.&lt;br /&gt;Menurut Bang Ude Hamid, di sana memang banyak pejabat yang bergelar S2. Tapi sebahagian besar bergelar magister manajemen. Padahal kota itu tidak hanya butuh pejabat bergelar MM, tapi juga pejabat yang memiliki disiplin ilmu di bidang pertanian seperti suamiku.&lt;br /&gt;“Kata Bang Ude Mahmud, kemampuan dalam manajemen saja tidak cukup. Tapi ilmu pertanian seperti papa, juga diperlukan. Apalagi Tanjungpinang sudah mulai dilirik investor bidang pertanian dari luar negeri. Jadi pemikiran papa mungkin diperlukan di sana,” tutur suami panjang lebar.&lt;br /&gt; “Memangnya yang ahli di bidang pertanian hanya papa, masih banyak yang lain kok.” &lt;br /&gt;“Benar, Ma. Banyak orang kampung kita yang sudah jadi orang besar dengan berbagai gelar disiplin ilmu. Tapi mereka lebih betah di kota lain dan jadi pejabat di sana. Padahal daerah asal kita membutuhkan sumber daya manusia seperti mereka itu,” tegasnya.&lt;br /&gt;“Kalau papa balik ke sana, papa juga bisa tetap mengajar, Ma. Sebentar lagi akan berdiri universitas negeri dengan berbagai fakultas, salah satunya pertanian. Kan senang bisa ikut memberikan ilmu kepada generasi muda di kampung sendiri,” tandasnya.&lt;br /&gt;Aku hanya diam mendengarkan ocehan suamiku. Pikiranku tidak fokus dengan berbagai alasannya untuk balik ke Tanjungpinang. Dalam pikiranku hanya ada kegamangan luar biasa jika tinggal di sana. Aku akan kehilangan teman-teman bisnis dan arisan. Aku akan kehilangan waktu week end ke berbagai kota yang bisa dicapai dengan kendaraan pribadi.&lt;br /&gt;“Ya udah, papa tidur dululah, capek,” kata suamiku, karena dari tadi aku tidak merespon pembicarannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Jantungku berdebar kencang ketika dari pengeras suara memberitahukan jika 15 menit lagi, kami akan menaiki pesawat yang akan membawa kami ke Batam. Kulirik Moldy dan Rizki yang bersikap biasa-biasa saja, sementara Bang Mahmud sibuk dari tadi menelpon entah ke mana.&lt;br /&gt;Hari ini, tiga bulan sejak pembicaraanku dengan Bang Mahmud tentang rencana dan keinginannya kembali ke Tanjungpinang. Perdebatan panjang antara kami ternyata membuahkan hasil seperti hari ini, aku akhirnya mengalah meski berbagai syarat aku ajukan ke suamiku. Di antaranya yang paling keras adalah, jika tiga bulan aku tidak betah, aku akan kembali ke Pekanbaru dan Bang Mahmud silahkan memilih antara aku atau tinggal di Tanjungpinang.&lt;br /&gt;“Baik mama, syaratnya papa terima. Tapi yang jelas mama pasti akan betah. Orang lain saja betah hingga anak cucu, apalagi kita yang lahir di sana,” ujarnya, saat aku mengajukan syarat itu.&lt;br /&gt;Moldy dan Rizki yang aku yakin akan menentang keras, ternyata paling antusias bahkan mereka ingin secepatnya ke Tanjungpinang. “Pasti enak tinggal di sana, Ma. Dekat laut dan tiap hari pasti makan seafood. Hmmm…lezaat,” tutur Moldy.&lt;br /&gt;“Ya, katanya mau ke Singapura dan Malaysia juga dekat, Ma. Wah asyik donk, tiap minggu bisa ke luar negeri,” Rizki menimpali.&lt;br /&gt;Bang Mahmud selesai menelpon, ia duduk di sampingku. “Mobil sudah ada yang mengurus, mungkin lusa dikirim pakai kapal barang,” ujarnya.&lt;br /&gt;“Ingat ya, Ma. untuk sementara kita tinggal di rumah orangtua papa dulu di Senggarang. Setelah itu kita baru ambil rumah di komplek, jangan protes ya,” ia terus bicara, sementara aku acuh tidak acuh mendengarnya.&lt;br /&gt;“Terserah, yang penting jangan tinggal di hutan saja,” jawabku, setelah Bang Mahmud protes karena aku hanya diam.&lt;br /&gt;Kepindahan kami ke Tanjungpinang tidak membawa banyak barang, kecuali pakaian, dokumen dan berkas-berkas penting serta keperluan sekolah Moldy dan Rizki.&lt;br /&gt;Rumah di Pekanbaru ditempati oleh adik sepupu Bang Hamid. Mobil yang biasa aku pakai juga dititipkan pada adikku. Begitu juga bisnisku kuberikan kewenangan kepada adikku yang lain untuk mengurusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat yang membawa kami mendarat dengan mulus di Bandara Hang Nadim. Perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Punggur dengan memakai taksi. Setelah itu kami naik ferry ke Tanjungpinang. Di atas kapal, kedua buah hatiku sibuk berfoto dan mengabadikan pemandangan laut yang menurut mereka sangat indah.&lt;br /&gt;“Wuihh..mengapa tak dari dulu kita pindah ke sini ya, Pa. Pemandangannya indah sekali,” tutur Moldy.&lt;br /&gt; Aku tidak ikut pembicaraan mereka. Pikiranku masih melayang-layang tak tentu dan akhirnya membuatku tertidur. Sebuah tepukan di bahu mengejutkan aku dari tidur. “Ma, kita sudah sampai, ayo kemasi tasnya,” ternyata Bang Mahmud yang membangunkan aku.&lt;br /&gt; Kapal yang membawa kami merapat ke dermaga Sri Bintan Pura, Tanjungpinang. Sebagian besar penumpang tak sabar untuk lebih dulu keluar. Tapi aku sengaja keluar paling akhir, padahal Moldy dan Rizki sudah duluan bersama Bang Mahmud.&lt;br /&gt; Dari balik kaca kapal, aku melihat Bang Mahmud berpelukan dengan seorang pria. Kemudian ia juga menyalami seorang wanita dan selanjutnya dua pemuda tanggung. Akhirnya aku keluar dan menuju ke arah mereka.&lt;br /&gt; “Ini dayang saya Bang Ude, lawa kan ?” Bang Mahmud menarik tanganku ke arah mereka.&lt;br /&gt; “Oh ya, ini dia yang Bang Ude Hamid tu…ini Kak Hasnah istri Bang Ude dan dua pemuda ini Bujang adik Kak Hasnah dan Madun anak Bang Ude,” imbuh suamiku sambil memperkenalkan aku satu persatu kepada keluarganya.&lt;br /&gt; Aku menyalami mereka satu persatu. “Ya lawalah, engkau saja lawa, tentu dapat istri yang lawa pulalah,” gurau Bang Ude Mahmud ketika bersalaman dengan aku.&lt;br /&gt; Kami melanjutkan perjalanan ke pintu keluar pelabuhan. Suamiku tampak asyik berbicara dengan keluarganya, sementara aku hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan Kak Hasnah.&lt;br /&gt; “Kita naik taksi saja ke Pelantar Dua, soalnya barang-barang engkau banyak sangat. Susah dibawa pakai motor,” tutur Bang Ude Hamid saat kami sampai di parkir pelabuhan.&lt;br /&gt; Di Pelantar Dua, kami bertemu dengan sejumlah tetangga Bang Ude Hamid di Senggarang. Mereka bertanya tentang siapa kami. Sejenak Bang Ude menjelaskan dan kemudian mereka menyalami kami satu persatu.&lt;br /&gt; Di atas pompong yang membawa kami ke Senggarang, kembali Moldy dan Rizky asyik mengabadikan pemandangan yang ada. Bang Hamid masih tetap asyik bercerita dengan keluarganya dan aku masih memilih tidak banyak bicara.&lt;br /&gt;  “Ada apa ramai-ramai, ada yang pesta kawin hari ini ya?” tanya suamiku ketika melihat sejumlah orang berdiri dekat ujung pelantar. &lt;br /&gt; “Tak lah, mungkin mereka mau menyambut engkau,” jawab Bang Ude Hamid sambil tertawa.&lt;br /&gt; “Ah yang benar lah, macam pejabat pula aku ni.”&lt;br /&gt; “Tengok ajalah nanti,” Kak Hasnah yang menjawab.&lt;br /&gt; Pompong merapat di tangga pelantar. Di atasnya menunggu sejumlah laki-laki dan perempuan. Mereka melambai-lambai kan tangan ke arah kami. “Assallammualaikum, apa kabar orang rantau, akhirnya balik juga ke kampung,” seorang laki-laki setengah baya menyambut Bang Mahmud dan memeluknya.&lt;br /&gt; “Ini kakak kami tu, apa kabar kakak, sehat-sehat kah semua?” kini giliran aku yang kena tanya seorang perempuan.&lt;br /&gt; Aku tersenyum dan menjawab singkat, ”Ya, baik.” &lt;br /&gt;Satu persatu mereka menyalami kami dan berbasa-basi menanyakan kabar. Seperti biasa aku menjawab singkat dan apa adanya.&lt;br /&gt; Bang Ude Hamid memintaku naik motor saja karena rumah kami di darat, jauh dari ujung pelantar. Jadi aku dan Kak Hasnah naik motor dibonceng oleh dua orang pemuda yang belum kukenal.&lt;br /&gt; Sementara Bang Mahmud, Bang Ude Hamid, Moldy, Rizki dan dua orang pemuda tanggung yang aku tidak tahu namanya lebih memilih berjalan kaki. Tak lama kami sampai di ujung pelantar, motor membelok ke kanan sedikit dan sampailah di rumah orangtua suamiku.&lt;br /&gt; Sepertinya rumah itu sengaja baru di cat. Dua orang perempuan menyambutku. “Kakak apa kabar? silahkan masuk,”  mereka menyalamiku dan aku masih menjawab dengan singkat.&lt;br /&gt; “Mereka ini Ida dan Eti, keponakan Bang Mahmud juga,” Kak Hasnah memperkenalkan mereka berdua kepadaku.&lt;br /&gt; Kak Hasnah menyilahkan aku masuk ke kamar di belakang untuk beristirahat. “Kami menyiapkan makanan dulu, kakak istirahat saja,” sarannya&lt;br /&gt; Belum lama aku merebahkan diri di kasur, rombongan Bang Mahmud ternyata baru sampai. Suara riuh itu ternyata berasal dari candaan Bang Mahmud yang makin menjadi-jadi saat bertemu saudara mara dan tetangganya.&lt;br /&gt; Sore itu kami makan dengan aneka masakan laut, ada ikan selar bakar, asam pedas, sotong masak hitam dan cah kangkung serta tak lupa sambal belacan ditambah kerupuk ikan. Moldy dan Rizki seperti orang tidak pernah makan, mereka tanpa malu-malu berebutan mengambil lauk yang sengaja dihidangkan untuk menyambut kami.&lt;br /&gt; Dari sore hingga malam, masih ada kerabat dan tetangga suamiku yang dating. Ada yang langsung pulang dan ada juga yang duduk sebentar bercerita dengan suamiku yang ditemani Bang Ude Hamid.&lt;br /&gt; Sementara Moldy dan Rizki sudah mendapat teman anak bungsu Bang Ude Hamid yang seusia mereka. Ketiganya dan sejumlah anak-anak tetangga langsung pergi jalan ke Kelenteng Senggarang, sebuah bangunan bersejarah di tempat itu.&lt;br /&gt; Sedangkan aku memilih berdiam di kamar, istirahat dan tidur. Tapi sebenarnya aku hanya ingin menghindari kerabat dan tetangga suamiku yang datang. Aku merasa terganggu dengan ocehan dan pertanyaan mereka yang itu-itu juga. “Capek  melayan mereka,” pikirku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Hari ini sudah satu minggu kami di Tanjungpinang. Moldy dan Rizki sudah bersekolah di SMP 4 Tanjungpinang. Tiap hari mereka naik pompong ke Pinang dan kemudian naik transport ke sekolah. Sedangkan suamiku masih sibuk bolak-balik ke Kantor Wali Kota. Katanya ia masih menunggu jabatan sementara yang akan dipegangnya.&lt;br /&gt; “Sementara mungkin papa duduk di bagian staf saja dulu, Ma. Sebentar lagi ada mutasi dan katanya papa akan duduk pada jabatan kepala sub dinas di kantor sumber daya alam,” Bang Mahmud menjelaskan meski aku tidak bertanya&lt;br /&gt; Ia juga bercerita jika ia sudah bertemu dengan tim pembentukan universitas dan suamiku telah masuk dalam daftar calon dosen yang akan mengajar. “Papa juga masuk dalam tim perumus program di fakultas pertanian itu nantinya, Ma. Doakan saja semoga universitas itu segera berdiri,” imbuhnya.&lt;br /&gt; Seperti biasa aku tidak berminat menanggapi pembicaraannya. Aku lebih suka mengutak-utak nomor telepon di ponselku dan mengirim sms ke teman-temanku di Pekanbaru.&lt;br /&gt; “Papa tahu, mama masih belum sepenuhnya ingin tinggal di kota ini. Tapi tolonglah, kalau papa bercerita didengar dan dikomentari,” suamiku protes karena aku acuh dari tadi.&lt;br /&gt; “Ya papa sayang, mudah-mudahan,” jawabku sekenanya dan itu ternyata membuat suamiku tertawa.&lt;br /&gt; “Hehehe...dari tadi donk, kan bertambah besar hati papa mendengarnya.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Sekarang sudah tiga minggu kami di Tanjungpinang. Suamiku sudah menempati jabatannya di Dinas SDA. Moldy dan Rizki juga menikmati perjalanan mereka yang cukup jauh ke sekolah. Kuperhatikan kulit mereka juga makin gelap karena sering tersengat panas.&lt;br /&gt; Sedangkan aku, belum berbuat apa-apa. Hari-hariku habis di dalam rumah. Menonton dan mengutak-atik telepon genggamku. Aku betul-betul suntuk karena tidak ada teman yang sepaham dengan aku. Kak Hasnah sibuk berjualan di sekolah dekat rumahnya. Sementara Ita dan Emi juga kerja di sebuah toko di Pasar Tanjungpinang.&lt;br /&gt; Sementara untuk pergi jalan-jalan sendiri ke Pinang aku belum berani. Lewat jalan laut aku malas sendiri naik pompong dan tak tahu harus ke mana. Kalau naik mobil pribadi yang sudah lama datang aku juga belum berani. Jalan Senggarang menuju ke Pinang sepi, dan berbelok-belok.&lt;br /&gt; Sementara Bang Mahmud dan kedua anakku, lebih suka menghabiskan hari minggu pergi memancing atau ke kebun milik orangtua suamiku. Pokoknya aku makin tidak betah tinggal di Senggarang dan aku ingat janji suamiku untuk tinggal di komplek perumahan di Pinang.&lt;br /&gt; Tapi ternyata Bang Mahmud masih belum mau mencari rumah di Pinang. Ia beralasan masih ingin menikmati nostalgia masa kecil di kampung kelahirannya. “Sabar ya mama sayank, papa puasin dulu tinggal di tanah kelahiran papa,” jawabnya, dan itu membuatku makin kesal.&lt;br /&gt; Siang itu aku sedang asyik menonton TV ketika Kak Hasnah datang. Ia membawa kue. “Kak, ini ada kue lemper, saya yang buat,” ujarnya sambil menyodorkan aku sepiring kecil kue lemper.&lt;br /&gt; “Terima kasih. Kakak tidak berjualan,” tanyaku.&lt;br /&gt; “Kebetulan cepat pulang, tadi guru-gurunya ada acara di Pinang. Jadi anak-anak cepat balik dan saya juga cepat tutup,” jelasnya&lt;br /&gt; Aku hanya mengangguk mendengarnya sambil menikmati kue yang lumayan enak itu.&lt;br /&gt; “Kak…” Kak Hasnah memecahkan keheningan kami.&lt;br /&gt; “Ya, ada apa?”&lt;br /&gt; “Kakak sepertinya tidak suka balik ke sini, ya?” tanya Kak Hasnah hati-hati.&lt;br /&gt; “Hmmm…mungkin.”&lt;br /&gt; “Beginilah kak tinggal di kampung, tapi kalau kakak tinggal di Pinang mungkin agak lain. Mungkin agak mirip di Pekanbaru lah.”&lt;br /&gt; “Ah sama saja.”&lt;br /&gt; “Kalau sama sangat tidak mungkinlah kak, minimal kan ada kesamaannya, sama-sama ramai,” ujar Hasnah tertawa dan aku hanya tersenyum kecut mendengarnya.&lt;br /&gt; “Kakak tak kerja lagi? Saya dengar kakak di Pekanbaru ada bisnis MLM ya? Mengapa tak dikembangkan di sini?” Hasnah makin panjang bertanya.&lt;br /&gt; “Mana bisa lah, Kak. Harga produk itu mahal-mahal. Lagipula susah memulainya di sini,” aku mulai gondok mengingat bisnisku di Pekanbaru yang harus kutinggal.&lt;br /&gt; “Tapi di sini juga ada kak bisnis seperti itu, memang masih baru. Tapi tak salah kan kalau kakak mulai, daripada suntuk di rumah.”&lt;br /&gt; “Lihat dululah,” balasku sekenanya.&lt;br /&gt; Kak Hasnah sepertinya tahu kalau aku mulai kesal. Ia tidak bertanya lagi. Tapi itu hanya berlangsung sepuluh menit. Ia kembali mengeluarkan suara. “Kak, kakak pernah jalan-jalan tak ke sekililing kampung ini,” tanyanya&lt;br /&gt; Aku hanya diam. Sebuah pertanyaan yang tak penting pikirku. Mengapa jalan-jalan keliling kampung, pasti hanya membuat penat.&lt;br /&gt; “Belum ya kak? Coba sekali-kali jalan lah kak, liat kehidupan masyarakat sini,” Kak Hasnah penasaran dengan sikap diamku.&lt;br /&gt; “Memang kehidupan di sini macam apa? Biasa saja kan. Tidak ada yang menarik,” aku betul-betul kesal dengan pertanyaan yang tak penting itu.&lt;br /&gt; “Karena biasa-biasa itulah kakak lihat, mana tahu dengan ilmu ekonomi dan pengalaman berbisnis kakak, bisa mengubah kehidupan di sini,” tuturnya. Itu membuatku tercengang.&lt;br /&gt; “Mengubah, memang apa yang harus saya ubah dengan pengalamam bisnis,” aku penasaran.&lt;br /&gt; “Walau hanya berjualan di sekolah, saya juga pernah ikut seminar MLM. Dari situ saya dapat pengetahuan bagaimana merangsang orang lain untuk bisa meningkatkan kehidupannya.” &lt;br /&gt; “Jadi maksud kakak saya harus bagaimana?” aku makin tak sabar.&lt;br /&gt; “Ya, kakak mungkin bisa memberikan semacam ilmu atau motivasi lah seperti yang diajarkan di seminar bisnis MLM. Karena disini, banyak kaum ibu bergantung dengan suami mereka. Padahal penghasilan suami tidak seberapa. Jadi  mereka perlu diberi ilmu yang membuat mereka bisa membantu menopang ekonomi keluarga. Saya saja berjualan di dekat SD ini, karena terinspirasi dari seminar itu. Kalau dulu macam tidak saja saya berjualan,” tutur Kak Hasnah.&lt;br /&gt; Aku diam, termenung memikirkan perkataan Kak Hasnah barusan. Ada benarnya juga apa yang ia sampaikan. Tanpa harus keliling kampung, di kiri kanan dan depan rumah aku bisa melihat, ibu-ibu menghabiskan waktu dengan mengobrol di kedai jika pekerjaan rumah tangga mereka selesai. Hari-hari yang terbuang percuma, batinku.&lt;br /&gt; “Mungkin kakak nanti bisa ikut saya ke arisan RT dan majelis taklim. Di sana kakak mungkin bisa memberikan motivasi, yang bisa merangsang kaum ibu yang lebih suka duduk di rumah untuk bisa berbuat meski tidak harus ke luar rumah,” tambah Kak Hasnah.&lt;br /&gt; Aku mengangguk-angguk. Ingatanku kembali kepada saat masih di Pekanbaru. Tidak terhitung berapa kali aku mengikuti seminar yang memberikan pengetahuan untuk memotivasi diri, sehingga makin besar keinginan untuk mencapai suskes. Selama ini aku hanya memanfaatkannya untuk diri sendiri dan sekarang mungkin sudah saatnya aku berbagi untuk orang lain.&lt;br /&gt; “Baiklah, saran kakak bagus sangat. Nanti saya cobalah,  mudah-mudahan bisa diterima oleh ibu-ibu di kampung ini,” kataku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Hari ini tepat tiga bulan sejak pembicaraanku dengan Kak Hasnah. Memang ada perubahan dari kehidupan para kaum ibu di sekitar tempat tinggalku. Ada yang mulai berdagang pakaian kredit kecil-kecilan. Ada yang mencoba ikut bisnis MLM, ada yang membuat kerupuk ikan dan makanan kecil, ada yang mulai menanami pekarangan dengan tanaman obat dan bumbu dapur, ada yang membuka usaha salon kecil-kecilan, ada membuka les untuk anak SD di rumah. Pokoknya ibu-ibu yang banyak waktu luang telah berusaha menunjukan hasil untuk membantu ekonomi keluarga. &lt;br /&gt; Awalnya memang agak sulit. Saat aku pertama kali datang dalam acara arisan dan memberikan gambaran tentang kehidupan saat ini dan masa depan yang makin sulit, serta perlu perubahan dari diri sendiri, sebahagian besar dari mereka memprotes. Mereka mengatakan, kehidupan yang mereka jalani bukan keinginan mereka. Tapi karena sudah takdir mereka harus jalani. &lt;br /&gt; “Siapa sih yang tidak ingin hidup enak, punya rumah, mobil dan harta berlimpah. Tapi, bagaimana kami bisa maju, modal tidak ada meski ada keinginan untuk berusaha,” protes sejumlah kaum ibu. &lt;br /&gt; Aku sempat kaget mendengar tanggapan mereka tersebut. Tapi, dengan pengalamanku merintis usaha MLM, aku bisa memberikan gambaran bagaimana kesuksesan bukanlah hal yang gampang diraih. Aku sendiri butuh waktu yang lumayan lama untuk meraih semua itu. Intinya adalah kemauan dan kerja keras untuk maju dan berkembang.&lt;br /&gt; Akhirnya, setelah beberapa kali bertemu dan melihat masalah utama mereka adalah modal awal, aku memberanikan untuk meminjamkan mereka modal guna memulai usaha. Di luar dugaan, suamiku ternyata mendukung. Bahkan ia menyarankan agar pinjaman kepada ibu-ibu tidak dibatasi. &lt;br /&gt; Namun aku menolak, karena aku tidak ingin memanjakan mereka. Mereka harus bisa mengembangkan modal yang kecil menjadi besar. Belasan juta rupiah uang tabunganku menjadi modal yang kupinjamkan kepada belasan ibu-ibu tersebut, tanpa bunga dan batas waktu pengembalian maksimal dua tahun.&lt;br /&gt; Rata-rata mereka diberi pinjaman antara Rp 500 ribu dan paling tinggi dua juta rupiah. Modalku hanya kepercayaan dan kesepakatan yang mereka tandatangani di depan aparat kelurahan dan RT setempat. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Setahun sejak aku kembali ke Tanjungpinang usahaku mulai menunjukan hasil. Ada yang sudah melunasi pinjamannya dan kembali meminjam modal yang lebih besar untuk mengembangkan usaha mereka. &lt;br /&gt; Aku memenuhi permintaan mereka, tapi sekarang prosedurnya bukan lagi secara pribadi. Sejak dua bulan lalu aku bersama Kak Hasnah mengurus pembentukan koperasi serba usaha. Selain memberikan pelayanan simpan pinjam, koperasi itu juga mempunyai usaha toko serba ada yang melayani kebutuhan pokok masyarakat dan menjadi tempat pemasaran produk ibu-ibu tersebut atau penghubung untuk mencari pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari ini, Wali Kota Tanjungpinang meresmikan Koperasi Wanita Mandiri. Kaum ibu yang berhasil kubina tampil dengan produk dan jasa yang mereka berikan. Ada yang menampilkan baju kurung hasil rancangan dan jahitan mereka. Ada yang menampilkan kue kering hasil kreasi sendiri. Ada kerupuk olahan dari ikan yang dicampur bumbu lain, sehingga rasanya makin enak. &lt;br /&gt; Sedangkan yang tidak punya produk, hanya menampilkan foto-foto, seperti foto anak-anak sedang les, ibu-ibu sedang memotong rambut, menjahit baju dan aneka macam produk atau jasa  lainnya. &lt;br /&gt; Usaha yang aku lakukan dengan bantuan Kak Hasnah bersama kaum ibu, ternyata mendapatkan perhatian dari dinas koperasi dan perdagangan. Bahkan mereka memberikan bantuan penguatan modal serta pelatihan kepada anggota koperasi kami. &lt;br /&gt; Aku sangat terharu ketika Wali Kota mengucapkan selamat dan menyatakan penghargaannya atas keberhasilanku membimbing ibu-ibu rumah tangga di Senggarang.&lt;br /&gt; Ada rasa bangga dan haru yang mendalam menerima penghargaan seperti itu. Aku tak menyangka aku bisa menjadi seorang motivator bagi kaumku. Selain itu ada rasa menyesal mengingat sikap angkuh dan sombongku, ketika pertama kali pulang ke kampung kelahiranku ini. &lt;br /&gt; “Mama…minggu depan kita pindah ke Pinang, ya. Papa sudah mendapatkan rumah bagus di sana,” suamiku berbisik, saat acara makan bersama. &lt;br /&gt; “Ah tak mau, di sini saja,” spontan aku menjawab setengah berbisik.&lt;br /&gt; “Hehehe...Nah benar kan, mama pasti betah tinggal di sini,” ia tertawa penuh kemenangan. ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-1777528388481348582?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/1777528388481348582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=1777528388481348582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1777528388481348582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1777528388481348582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/cerpen-pulang.html' title='Cerpen :PULANG'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-6318455726247740531</id><published>2010-04-10T23:17:00.000-07:00</published><updated>2010-04-12T20:21:22.926-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cerpen :PUISI BUNDA</title><content type='html'>Akhir-akhir ini Bunda sering mengurung diri di kamar. Bunda lebih banyak menghabiskan waktunya di sana, dibandingkan duduk di ruang keluarga atau di teras depan. Kebiasaan Bunda itu membuat aku sebagai satu-satunya anak yang masih tinggal dengan Bunda jadi khawatir, jika Bunda tengah menghadapi masalah. &lt;br /&gt;Bagaimana aku tidak khawatir, Bunda selama ini tidak pernah bersikap seperti saat ini. Biasanya selesai Shalat Subuh, Bunda menghabiskan waktu dengan berjalan pagi di sekeliling komplek perumahan tempat kami tinggal.&lt;br /&gt;Setelah itu Bunda akan menyiram bunga dan membersihkan rumput-rumput kecil yang mengganggu keindahan taman bunganya. Seperti kebiasaan ibu rumah tangga lainnya, Bunda juga menyempatkan diri mengobrol di depan warung, sambil menunggu Bu Imas pemilik warung kembali dari pasar membawa belanja kebutuhan dapur. &lt;br /&gt;Kemudian Bunda akan melanjutkan aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga, menyiapkan sarapan pagi untuk kami berdua. Sementara itu aku membantu Bunda merapikan rumah sebelum berangkat kerja. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Biasanya menjelang siang, Bunda akan membantu Mbak Asih menyiapkan masakan untuk makan siang dan malam. Hari-hari Bunda dari siang hingga sore biasanya ditemani oleh pembantu harian di rumah kami itu. Mbak Asih juga yang menemani Bunda ke luar rumah untuk mengikuti sejumlah kegiatan organisasi atau pengajian di lingkungan tempat tinggal kami.&lt;br /&gt;Bunda dari dulu memang hanya seorang ibu rumah tangga. Tapi Bunda suka berorganisasi. Selain ikut organisasi Dharma Wanita di kantor almarhum bapak, dulu Bunda juga ikut sejumlah organisasi wanita lainnya. Tak heran, meski sudah berusia 60 tahun, hingga saat ini Bunda tetap aktif ikut kegiatan organisasi di kantor almarhum Bapak. Bahkan Bunda sudah dianggap sepuh dan dijadikan penasehat pada sejumlah organisasi yang diikutinya.&lt;br /&gt;Kami memang tinggal berdua di rumah sejak Bapak meninggal lima tahun lalu karena usia yang sudah lanjut. Bunda memilih tetap tinggal di rumah peninggalan Bapak. Padahal tiga orang kakakku, Kak Ratna, Kak Ratih dan Bang Rano mengajak Bunda tinggal bergantian bersama mereka. Kata mereka biar Bunda tidak kesepian, karena ada cucu-cucu yang menghibur Bunda. &lt;br /&gt;Tapi Bunda menolak. Kata Bunda ia lebih suka tinggal di rumah yang dibangun Bapak bersama Bunda. Rumah yang penuh kenangan, suka dan duka dilewati Bunda bersama Bapak di rumah itu. Karena itu Bunda tidak ingin meninggalkan rumah kami. Kata Bunda biar kakak-kakakku itu saja yang mengunjungi Bunda.&lt;br /&gt;Sejak ditinggal oleh Bapak, Bunda tidak pernah kelihatan kesepian. Karena memang Bunda sudah cukup disibukkan dengan aktivitasnya di sejumlah organisasi dan pengajian.&lt;br /&gt;Aku sendiri bersyukur karena Bunda masih diberi kesehatan lahir dan batin, sehingga masih bisa beraktifitas. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan, betapa kesepiannya Bunda menghabiskan masa tuanya, tinggal di rumah dan hanya ditemani pembantu.&lt;br /&gt;Karena aku yang masih lajang juga bekerja seharian di kantor dan pulang sore, praktis waktuku hanya ada pada malam hari untuk Bunda, sekedar menemani mengobrol sambil menonton televisi. &lt;br /&gt;Namun sekarang kebiasaan Bunda yang banyak berubah, tentu menjadi beban pikiranku. Aku tidak ingin Bunda memendam masalahnya sendiri, sehingga Bunda jatuh sakit. Kalau sudah begitu pasti aku yang akan disalahkan oleh ketiga kakakku. &lt;br /&gt;Aku pernah dimarahi mereka, saat Bunda jatuh sakit setelah mengetahui aku putus dengan pacarku dua tahun lalu. Padahal hubungan kami sudah serius waktu itu dan sepakat untuk menikah. Tapi dalam perjalanan waktu, aku melihat ketidakjujuran pada Mas Dodi dan memilih putus darinya.&lt;br /&gt;Bunda tentu terkejut, karena selama ini ia berharap aku segera menikah. Sebab aku satu-satunya anak beliau yang masih betah melajang. Padahal usiaku sudah 25 tahun, sudah waktunya menikah. &lt;br /&gt;Ketika itu ketiga kakakku memberikan peringatan kepadaku. Mereka menilai, sikapku sejak dulu selalu mendatangkan masalah. Mereka tidak ingin melihat Bunda sakit. &lt;br /&gt;“Kamu itu dari kecil suka membuat masalah. Tahu aja anak bungsu banyak tingkahnya. Sekarang kamu sudah besar, sudah dewasa, jangan buat beban pikiran Bunda terus. Kasihan Bunda!” Omel Kak Ratna.&lt;br /&gt;Sementara Kak Ratih dan Bang Rano lebih suka menasehatiku dengan omongan yang lebih lembut, namun tetap mengingatkanku untuk tidak membuat masalah yang bisa membebani pikiran Bunda. &lt;br /&gt;Sejak kejadian itu aku mulai mengubah sikap. Kebiasaanku yang dulu suka mengadu sambil menangis ke Bunda sudah aku tinggalkan. Kalaupun aku mau bercerita ketika ada masalah, biasanya aku menyampaikannya dengan cara yang tenang dan seakan masalah itu tidak besar, sehingga Bunda tidak kaget dan jatuh sakit.&lt;br /&gt;Saat ini aku sudah menemukan pengganti Bang Dodi, Mas Tri namanya. Kami pun sudah sepakat untuk menikah. Meski tidak bertunangan, tapi kami berdua menyatakan kepada Bunda akan menikah dalam tahun ini, setelah tugas belajar dari kantor Mas Tri selesai tiga bulan mendatang. &lt;br /&gt;“Udah istirahat, Non? Jangan melamun terus,” Santi rekan kerjaku membuyarkan lamunanku. &lt;br /&gt;“Oh ya, bareng ke kantin ya,” Aku cepat-cepat membereskan berkas-berkas di meja kerja.&lt;br /&gt;“Ada masalah apa sih? Pasti masalah dengan Mas Tri, ya? Atau kaget dipromosikan bos ke jabatan baru?” Santi memberondongku dengan pertanyaan saat kami duduk di kantin. &lt;br /&gt;“Bukan…” aku menggeleng lemah, mengisap air jeruk.&lt;br /&gt;“Terus….masalah apa?”&lt;br /&gt;“Atau mikir bayar kartu kredit! hahaha…” Santi terbahak, namun aku hanya tersenyum kecut.&lt;br /&gt;“Aku mikirkan perubahan sikap Bunda,” akhirnya aku bercerita juga.&lt;br /&gt;“Berubah? Memang ada masalah apa dengan Bundamu?” &lt;br /&gt;“Itulah yang aku pikirkan. Aku sendiri tidak merasa membuat masalah. Makanya aku bingung. Ada apa dengan Bunda?”&lt;br /&gt;“Ada apa denganmu kali,” Santi tergelak&lt;br /&gt;Aku menggambarkan tentang perubahan sikap Bunda yang tidak biasanya. Aku juga mengungkapkan kekhawatiranku, kalau Bunda memendam masalah karena sikap atau masalah aku. Namun aku tidak tahu, karena aku sendiri tidak merasa ada masalah.&lt;br /&gt;“Jangan-jangan Bundamu kesepian kali,” Santi mencoba menganalisa.&lt;br /&gt;“Atau….” Santi mengerlingkan matanya, nakal.&lt;br /&gt;“Ahh…Bunda tidak lagi memikirkan hal itu. Kamu ini ada-ada saja,” aku menepis pikiran nakal Santi. &lt;br /&gt;“Emang kamu pikir aku mau bilang apa. Maksudku jangan-jangan Bundamu ingin kamu cepat-cepat nikah, hehehe…” &lt;br /&gt;“Menyesal aku cerita kamu, bukan bantu mikir malah ngejek aku. Udah ah, masuk yuk,” aku berdiri meninggalkan Santi yang senyum-senyum melihat kekesalanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas motor dalam perjalanan pulang ke rumah, aku masih teringat dengan kata-kata Santi tadi. Jangan-jangan Bunda memang memikirkan tentang aku, tentang hubungan dengan Mas Tri yang sedang mengarah ke pernikahan. &lt;br /&gt;Tapi kami berdua kan sudah berjanji akan menikah jika Mas Tri telah selesai mengikuti pendidikan kenaikan pangkat di kantornya. Jadi apa lagi yang dipikirkan Bunda. &lt;br /&gt;Kalau masalah biaya pernikahan tentu sudah ditanggung oleh Mas Tri dan keluarganya. Kalaupun ada tambahan dari keluarga kami, aku juga mempunyai tabungan. Jadi masalah itu tidak perlu menjadi beban pikiran Bunda. &lt;br /&gt;“Tiiiiiiiiiittttttt!!!! Jalan, Mbak! Melamun aja!” aku tersentak ketika seorang pengemudi mobil berteriak, karena motorku masih diam di urutan paling depan di lampu merah. &lt;br /&gt;Aku hanya nyengir kikuk dan cepat-cepat menjalankan motorku. Namun kejadian barusan tidak membuatku melupakan tentang Bunda. &lt;br /&gt;“Ada apa dengan Bunda, ya. Apa masalah dengan kakak-kakakku yang membuat Bunda sering melamun.” &lt;br /&gt;“Atau Bunda tengah mengalami masalah di luar rumah, cukup berat dan Bunda tidak mau merepotkan kami untuk berbagi masalah itu.”&lt;br /&gt;Berbagai asumsi muncul di pikiranku tentang sikap Bunda. Namun tidak ada asumsi kuat yang bisa aku jadikan alasan. Selama ini Bunda sering menceritakan masalahnya dengan kami, anak-anaknya. &lt;br /&gt;Memang tidak terbuka seluruhnya, namun Bunda selalu meminta pendapat jika ada masalah yang tidak bisa diselesaikannya sendiri. Tapi mengapa sekarang Bunda berubah. Jika ada masalah yang cukup berat, biasanya Bunda sudah mulai memanggil anak-anaknya, sekedar bertukar pikiran dan meminta sumbang saran. &lt;br /&gt;“Sepertinya aku harus cepat-cepat membicarakan masalah ini dengan kakak-kakakku, kalau tidak bisa-bisa aku yang kena getah dituduh penyebab masalah Bunda,” batinku.&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, kulihat Mbak Asih sedang menyiram bunga. “Bunda mana?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Biasa, di kamar,” Mbak Asih menjawab pelan.&lt;br /&gt;“Sudah lama?”&lt;br /&gt;“Sejak ba’da Ashar, belum ke luar kamar sampai sekarang.”&lt;br /&gt;Aku melirik jam tangan, sudah hampir setengah enam. Berarti kurang lebih satu setengah jam Bunda di kamarnya. &lt;br /&gt;Padahal biasanya jam segini, Bunda akan santai di teras depan ditemani secangkir teh. Kadang Bunda menyempatkan diri berbincang sejenak dengan tetangga yang lewat di depan rumah, atau ibu-ibu muda yang jalan-jalan sore  membawa bayi dan balita mereka. &lt;br /&gt;“Mbak, aku tinggal ya, mau mandi dulu.” &lt;br /&gt;Melewati kamar Bunda, aku mencoba untuk mengintip dari lubang kunci. Tapi aku mengurungkan niatku. Sejak kecil kami diajar untuk bersopan santun jika hendak memasuki kamar saudara sendiri, apalagi orang tua. Hal itu pun dilakukan jika memang benar-benar ada keperluan. &lt;br /&gt;“Kamar tidur adalah ruang pribadi setiap anggota keluarga, jadi kalau kalian ada perlu atau mereka sendiri yang memanggil, tolong ketuk pintu kamar sebelum yang punya mengizinkan masuk,” begitu Bunda mengajarkan kami tentang sopan santun meski di dalam keluarga sendiri.&lt;br /&gt;Jadi meski pun keingintahuanku yang cukup besar untuk melihat apa yang Bunda kerjakan di kamarnya, tapi aku tidak berani mengintip apalagi mengetuk kamar dan berpura-pura bertanya. Toh aku merasa tidak punya hal benar-benar perlu disampaikan atau ditanyakan ke Bunda.&lt;br /&gt;Kalau masalah sikap Bunda, aku pikir sekarang bukan waktu yang tepat. Lagi pula aku bisa bertanya jika Bunda sedang santai di ruang keluarga. Kalau malam hari kan cuma aku dan Bunda di rumah, jadi kami leluasa berbicara.&lt;br /&gt;Di dalam kamar mandi, aku masih memikirkan Bunda. Keingintahuanku makin besar dan memuncak. Apalagi kemarin aku sempat bertanya kepada Mbak Asih tentang apa yang dikerjakan Bunda di kamarnya akhir-akhir ini. &lt;br /&gt;“Bunda ngapain aja di kamar? Melamun, menangis atau tidur?” Berondongku pada Mbak Asih yang baru keluar dari kamar Bunda, karena dipanggil Bunda untuk mengantarkan minuman.&lt;br /&gt;“Bunda cuma duduk di depan meja, ada buku dan pena di dekatnya.” &lt;br /&gt;“Tadi waktu Mbak masuk, Bunda pas sedang apa?”&lt;br /&gt;“Seperti sedang melamun, melihat jauh ke luar gitu.” &lt;br /&gt;“Muka Bunda sedih atau sedang memikirkan sesuatu?”&lt;br /&gt;“Dua-duanya, seperti sedang memikirkan sesuatu dan sedih.”&lt;br /&gt;“Hhhmmmm…trus di buku Bunda ada tulisan apa,” aku makin penasaran.&lt;br /&gt;“Aduh Dedek, itu Mbak tidak perhatikan. Mbak langsung keluar.”&lt;br /&gt;Mengingat kembali apa yang disampaikan Mbak Asih, aku semakin merasa harus secepatnya membicarakan masalah ini dengan kakak-kakakku. &lt;br /&gt;Saat makan malam berdua dengan Bunda, aku mencoba menyuri-nyuri pandang pada Bunda. Tapi aku tidak melihat sesuatu yang aneh atau yang disembunyikan Bunda. Air muka Bunda tetap tenang di balik wajahnya yang masih menyisakan kecantikan di masa muda.&lt;br /&gt;“Ada apa Dedek, dari tadi Bunda lihat kamu nyuri-nyuri pandang ke Bunda. Ada masalah ya, sayang?” &lt;br /&gt;Aku terkejut, tapi cepat-cepat menjawab, “Ah tidak ada Bunda. Dedek cuma heran kok wajah Bunda akhir-akhir ini kelihatan pucat,” aku mulai memancing Bunda.&lt;br /&gt;“Masa sih? Oh ya, mungkin susu dan vitamin Bunda udah dua hari habis. Kamu yang Bunda minta tolong beli, masih lupa terus membelikannya,” jawab Bunda sambil bangkit berdiri, dan meninggalkan aku yang bengong.&lt;br /&gt;Aku tersadar dan tak menyangka jawaban Bunda seperti tadi. Memang kewajibanku yang membelikan susu kalsium dan vitamin untuk Bunda. Tapi aku benar-benar lupa, sampai-sampai stok susu dan vitamin Bunda habis aku belum juga membelikan yang baru.&lt;br /&gt;“Maafkan Dedek ya, Bunda. Besok pasti udah dibelikan,” aku mencium Bunda yang duduk menonton TV.&lt;br /&gt;“Ah tak apa-apa, Bunda tahu kami pasti lagi kangen ama Mas Tri, sampai jadi pelupa,” Bunda tertawa membelai rambutku, dan aku hanya mesem-mesem.&lt;br /&gt;Pukul sembilan malam Bunda pamit ke kamar, aku pun masuk kamar. Malam ini aku harus memberitahukan kepada kakak-kakakku tentang pertemuan besok untuk membicarakan sikap Bunda. &lt;br /&gt;“Besok jam 3-an kumpul di rumah Kak Ratna, tak usah banyak tanya dulu, harus datang! Oke,” begitu pesan singkatku pada Kak Ratih dan Bang Rano.&lt;br /&gt;“Besok kami bertiga akan kumpul di rumah kakak jam 3-an, jangan banyak tanya dulu, besok saja aku ceritakan, oke!” pesanku pada Kak Ratna, kakak tertuaku. &lt;br /&gt;Aku bersyukur tidak ada pertanyaan dari mereka bertiga, jadi aku tidak perlu capek menerangkan, toh besok semua akan menjadi lebih jelas. &lt;br /&gt;Besok adalah hari Sabtu, jadi aku pulang kerja lebih awal dan bisa langsung ke rumah Kak Ratna.&lt;br /&gt; “Dasar si manja, dia yang bikin janji dia yang telat datang, huuu!” aku diomelin oleh Kak Ratna, saat baru muncul di pintu pagar. &lt;br /&gt; Saat aku sampai, mereka bertiga sedang duduk mengobrol, sambil mengawasi tiga orang keponakanku yang asyik bermain. &lt;br /&gt; “Maafin donk, biasa macet, hehehe,” jawabku, sambil mencium satu persatu ponakanku yang sedang asyik bermain.&lt;br /&gt; “Udah, cepat ceritakan ada apa sih? Kaya masalah penting saja.”&lt;br /&gt; Aku menceritakan sikap Bunda yang berubah akhir-akhir ini dan aku menceritakan kekhawatiranku jika Bunda sedang dilanda masalah berat. Selain itu aku juga menambahkan kalau aku tidak membuat masalah yang mungkin bias menambah berat beban pikiran Bunda.&lt;br /&gt; “Benar kamu tidak ada membuat masalah? Yang benar aja, awas kalau kamu kamu lagi biangnya,” Kak Ratna yang cerewet langsung merespon saat aku selesai bercerita.&lt;br /&gt; “Sumpah kak!”&lt;br /&gt; “Alaa, bohong kali!” kali ini Kak Ratih yang memberondong.&lt;br /&gt; “Duh kenapa sih pada tidak percaya…” mataku mulai panas menahan tangis.&lt;br /&gt; “Udahlah jangan menuduh gitu, aku yakin kali ini si Dedek pasti jujur. Kayaknya kita harus menanyakan masalah ini ke Bunda, jangan sampai kita terlambat dan menyesal,” Bang Rano menengahi.&lt;br /&gt; Bang Rano mencarikan solusinya. Katanya malam ini Kak Ratna menginap di rumah Bunda. Selama ini di sana perhatikan sikap Bunda dan tak perlu ditanya dulu. Besok agak siangan Bang Rano dan Kak Ratih akan datang menyusul. Mereka berdua juga akan memperhatikan sikap Bunda untuk membuktikan kekhawatiranku.&lt;br /&gt; “Malam harinya baru kita semua bertanya pada Bunda, ada apa dengan Bunda akhir-akhir ini. Oke!”&lt;br /&gt; Sesuai dengan rencana, Kak Ratna datang pada malam hari setelah Magrib. Ia hanya ditemani Loni, anak semata wayangnya. Suaminya, Bang Surya, menjaga rumah. &lt;br /&gt; Bunda tampak senang dengan kedatangan Kak Ratna, apalagi bertemu Loni yang sudah duduk di kelas satu SD itu. Saat makan malam, Bunda lebih sering bertanya pada Loni yang juga antusias menjawab pertanyaan Bunda. &lt;br /&gt; “Wah kita berdua jadi dicuekin nih, kasian deh kita,” Kak Ratna menyelutuk. &lt;br /&gt; “Bunda kan kangen sama cucu Bunda yang cantik ini, lagian mamanya udah hampir dua bulan tidak ke sini sih.”&lt;br /&gt; “Tapi kalau telpon kan sering, Bun,” Kak Ratna membela diri.&lt;br /&gt; Saat menonton TV, Bunda juga lebih asyik menemani Loni memainkan telepon genggam Kak Ratna yang ada kameranya. Bunda kadang bergaya dengan lucunya dan Loni yang mengambil foto tertawa-tawa melihat sikap Bunda.&lt;br /&gt; “Mana sikap Bunda yang berubah? Biasa saja kok,” bisik kakakku.&lt;br /&gt; “Iyalah, Bunda kan sedang melepas kangen sama Loni,” desisku.&lt;br /&gt; Malam itu memang Bunda tidak seperti biasanya. Mungkin Bunda kangen dengan Loni, jadi malam itu Bunda menemani Loni sampai tertidur. Setelah itu baru Bunda masuk kamar. &lt;br /&gt; Keesokan pagi harinya giliran Kak Ratih dan Bang Rano yang datang hampir berbarengan. Keduanya tidak membawa pasangan masing-masing, kecuali anak mereka yang sama-sama masih semata wayang, Randi dan Mona.&lt;br /&gt; “Waduh, mimpi apa Bunda semalam. Hari ini ini anak dan cucu Bunda kumpul semua,” Bunda memeluk kedua anak dan cucunya.&lt;br /&gt; “Kebetulan kali, Bun,” Bang Rano yang menjawab.&lt;br /&gt; Pagi hingga siang kami lebih banyak mengobrol berempat, sementara Bunda lebih asyik menemani ketiga orang cucunya bermain. Bahkan Mbak Asih kadang ikut turun membujuk salah seorang dari ketiga bocah itu jika ada yang mengambek.&lt;br /&gt; “Udahlah Bun, jangan dilayan terus mereka. Bunda istirahat saja,” ujar Kak Ratna.&lt;br /&gt; “Iya Bunda nanti kecapekan. Bunda duduk aja di sini sama kita, masa dari tadi lebih asyik dengan cucu-cucunya,” Kak Ratih menimpali.&lt;br /&gt; “Kalian belum tahu rasanya menjadi nenek. Suatu saat kalian akan mengalami hal yang Bunda alami sekarang,” jawab Bunda.&lt;br /&gt; Kami berempat hanya berpandangan dan tidak membantah kata-kata Bunda. Sepertinya ketiga kakakku sadar kalau mereka memang tidak setiap bulan mengunjungi Bunda, kecuali telepon. Jadi wajar Bunda kangen dengan bocah-bocah yang sedang lucu-lucunya itu.&lt;br /&gt; Usai makan siang, Bunda memilih beristirahat di kamar. Sementara ketiga bocah itu juga lebih dulu tertidur karena kecapekan bermain.&lt;br /&gt; Tidak ada yang kami kerjakan berempat kecuali  bergeletakan di karpet ruang keluarga menonton TV. Bang Rano yang jago tidur ternyata lebih dahulu mendengkur. Tinggal kami bertiga yang saling berebut menukar chanel TV.&lt;br /&gt; Aku begitu menikmati suasana bersama kedua kakak perempuanku. Sangat jarang kami berkumpul dalam suasana yang begitu santai ini. Aku merasa kembali pada masa kecil, kami berempat sering kena omel Bunda bahkan dimarahi oleh Almarhum Bapak, karena sering ribut kecil setiap menonton TV.&lt;br /&gt; Suara ketiga bocah membangunkan kami yang ternyata ikut tertidur. “Maaaaaa…mimiknya manaaa..!!!” suara Randi anak Kak Ratih melengking dekat telingaku.&lt;br /&gt; “Haus papa…mau air es…!!!” giliran Mona anak Bang Rano yang merengek menarik-narik hidung papanya supaya bangun.&lt;br /&gt; Sementara Loni tidak ikutan merengek, cuma ia hanya minta perhatian Kak Ratna yang masih molor. &lt;br /&gt; “Ngomong-ngomong Bunda dari tadi belum keluar kamar,” Kak Ratih mengingatkan kami akan Bunda yang belum juga keluar kami sejak dari siang. Ketika itu ketiga bocah sudah asyik dengan mainannya.&lt;br /&gt; “Iya, ini kan sudah sore. Hampir jam empat, kok Bunda belum keluar kamar ya?”Bang Rano menimpali.&lt;br /&gt; “Nah, inilah keanehan dan perubahan sikap Bunda. Lebih suka di kamar meski udah sore. Biasanya Bunda santai di teras kalau tidak sedang ada kegiatan di luar,” kataku  &lt;br /&gt; “Iya juga, Bunda ngapain sih di kamar, betah betul?” &lt;br /&gt; “Hmmmm…gimana kalau aku coba intip dari lubang kunci,” Bang Roni memberi ide.&lt;br /&gt; “Huss…tidak sopan,” kami bertiga mencegah hampir bersamaan.&lt;br /&gt; “Tapi kita kan harus tahu, ada apa dengan Bunda. Biar saja ini kan demi kebaikan kita semua,’ kakak laki-lakiku satu-satunya itu meninggalkan kami menuju kamar Bunda di bagian depan.&lt;br /&gt; Sekitar 10 menit Bang Roni kembali. Wajahnya menunjukan sedang berpikir keras.&lt;br /&gt; “Bunda sedang apa?” berondong kami berbarengan.&lt;br /&gt; “Hmmm, Bunda sedang duduk di depan meja. Kadang beliau menuliskan sesuatu di buku dan kemudian merenung lama.” &lt;br /&gt; “Hmmm, Bunda sedang menulis apa ya? Apa Bunda sedang mengisi buku harian, curhat gitu?”&lt;br /&gt; “Ah…tidak mungkin. Bunda bukan tipe seperti itu. Dari dulu tidak pernah mengisi buku harian,’ sergah Kak Ratna.&lt;br /&gt; “Jadi Bunda ngapain? Atau, Bunda sedang menulis surat wasiat?” &lt;br /&gt; “Ahhhh, gak mau. Aku masih membutuhkan Bunda!” sergahku.&lt;br /&gt; “Husss, jaga mulut! Memangnya kamu ingin Bunda cepat meninggal?” Bang Rano mendelik pada Kak Ratih.&lt;br /&gt; “Tapi Bunda sedang ngapain? Ayo kita tanya saja!” Kak Ratna berdiri. Namun dicegah di oleh Bang Rano.&lt;br /&gt;“Nanti malam sajaaaa…!” ia menarik tangan Kak Ratna.&lt;br /&gt;Menjelang magrib Bunda keluar kamar untuk mandi dan kemudian masuk lagi. Tak lama Bunda keluar, dengan raut wajah  yang sudah lebih segar. &lt;br /&gt;Saat makan malam, kami berempat berusaha bersikap wajar, meskipun sudah tidak sabar untuk bertanya kepada Bunda. Namun Bang Rano bisa mengendalikan suasana, sehingga pembicaraan hanya yang ringan-ringan saja.&lt;br /&gt;“Bunda sayang….” Bang Rano memulai bicara saat kami sudah berkumpul di ruang keluarga menonton TV.&lt;br /&gt;“Hmmm, ada apa nih? Ada maunya nih kayaknya anak Bunda.” &lt;br /&gt;“Bunda tinggal di rumah Rano saja ya, Bun.”&lt;br /&gt;“Kenapa?” Bunda menatap kami bergantian.&lt;br /&gt;“Iya, soalnya akhir-akhir ini Bunda sepertinya kesepian, sering melamun…”&lt;br /&gt;“Tadi saja Bunda kayanya lebih suka mengurung diri di kamar. Ada apa sih, Bun?” Kak Ratna sudah tidak tahan masuk pada pokok masalah.&lt;br /&gt;“Bunda ada apa sih? Bunda cerita donk sama kita. Kami tak mau Bunda jatuh sakit kalau memendam masalah sendiri,” sekarang giliran Kak Ratih. Aku cuma mengangguk-angguk, mengiyakan. &lt;br /&gt;Bunda menatap kami bergantian dengan penuh keheranan. Sejenak Bunda terdiam dan tampak berfikir. Tak lama sebuah senyum mengembang di bibir Bunda.&lt;br /&gt;“Kalian pasti ingin tahu apa yang sedang Bunda kerjakan di kamar akhir-akhir ini ya?”&lt;br /&gt;“Betul, Bun!” jawab kami hampir berbarengan.&lt;br /&gt;Bunda bangkit berdiri, dengan isyarat Bunda meminta kami tetap diam di kursi. Bunda menuju kamarnya, tak lama Bunda membawa sebuah buku. &lt;br /&gt;“Ini jawabannya,” Bunda memperlihatkan sebuah buku tebal, semacam buku agenda.&lt;br /&gt;Kami hampir berebutan mengambil buku itu. Kak Ratna yang berhasil mengambil lebih dulu. Kami merapat ke dekat dia yang sudah tak sabar untuk membukanya. &lt;br /&gt;“Puisiiiii…..! Bunda menulis puisi?” aku keheranan melihat halaman demi halaman yang berisi puisi.&lt;br /&gt;“Jadi Bunda selama ini Bunda mengurung diri di kamar hanya karena menulis puisi ini?” Kak Ratna yang bersuara.&lt;br /&gt;Bunda tersenyum dan mengambil duduk di tengah-tengah kami. Ia mengambil buku yang ada di tangan Kak Ratna.&lt;br /&gt;Bunda kemudian bercerita kalau belakangan ini beliau memang sedang suka menulis puisi. Semua itu dimulai ketika Bunda melihat begitu banyak persoalan dan masalah di tengah masyarakat bahkan negara ini.&lt;br /&gt;Bunda mengetahui masalah itu dari melihat dan mendengar langsung, atau menyaksikan dari layar TV. Semua itu, kata Bunda, membuat ia jadi sering merenung, sebagai bentuk keprihatinan.&lt;br /&gt;Kata Bunda, bentuk keprihatinan terhadap berbagai masalah di sekitar kita menjadi bahan renungan yang akhirnya tertuang dalam bentuk puisi. &lt;br /&gt;“Yah, Bunda cuma bisa berdialog dengan pena dan buku, hasilnya puisi-puisi ini,” Bunda membuka lembaran-lembaran puisinya.&lt;br /&gt;“Bunda cuma bisa mengungkapkan keprihatinan Bunda dalam puisi. Maunya sih dalam bentuk tulisan seperti opini dan dimuat di surat kabar. Tapi yah, hanya ini sebatas kemampuan Bunda,” &lt;br /&gt;“Bundaaa…..Dedek pikir Bunda ada memendam masalah apa selama ini!” aku memeluk Bunda, mataku berkaca-kaca karena lega ternyata Bunda tidak ada masalah. &lt;br /&gt;“Iyaaa…Bun, kami semua khawatir,” kata ketiga kakakku serempak.&lt;br /&gt;Bunda tersenyum, tapi di matanya kulihat air mata mengenang. Mungkin Bunda terharu karena kami begitu merisaukannya. &lt;br /&gt;“Maafkan Bunda ya kalau telah membuat kalian khawatir. Memang Bunda kalau sedang ada inspirasi tidak bisa ditahan, harus langsung ditulis,” tutur Bunda.&lt;br /&gt;Kami membuka lembar demi lembar halaman puisi Bunda yang ditulis dalam tulisan sambung. Ada puisi tentang sulitnya mendapatkan minyak tanah, ada tentang flu burung, kecelakan kapal, harga beras, sampah dan ada satu puisi tentang bunga.&lt;br /&gt;“Bunda, puisi berjudul bunga ini apa maksudnya?” tanya Kak Ratih, ketika membalik halaman yang berisi puisi tentang Bunga. &lt;br /&gt;“Coba kalian baca, pasti tahu maksud dari puisi Bunda,” jawab Bunda tersenyum dan melirikku.&lt;br /&gt;Kak Ratih membacakan puisi berjudul Bunga itu.&lt;br /&gt;Bunga..&lt;br /&gt;Tanaman yang indah, cantik dan harum&lt;br /&gt;Sejak lama aku begitu mendambakan bunga-bunga itu hadir di tamanku&lt;br /&gt;Akhirnya ketika waktunya tiba, aku mendapatkan bunga-bunga itu&lt;br /&gt;Ada tiga bunga di tamanku&lt;br /&gt;Bunga yang menawan, karena bentuknya yang rupawan&lt;br /&gt;Bunga yang wangi karena warnanya berseri&lt;br /&gt;Bunga yang merekah karena kelopaknya yang indah&lt;br /&gt;Dua bungaku sudah berkembang&lt;br /&gt;Bahkan sudah ada tumbuh bunga-bunga kecil yang makin  menyemarakan tamanku&lt;br /&gt;Membuat hidupku makin indah, dan bahagia&lt;br /&gt;Tapi sayang.&lt;br /&gt;Satu bungaku masih betah untuk belum berkembang&lt;br /&gt;Padahal sudah ada kumbang yang datang&lt;br /&gt;Tapi sepertinya bungaku itu masih bimbang&lt;br /&gt;Oh, bungaku sayang&lt;br /&gt;Apa yang engkau tunggu gerangan?&lt;br /&gt;Cepatlah berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha….ini puisi pasti menyindir si Dedek. Bunda sudah tidak sabar kamu untuk menikah dan punya anak, hahaha…!!!” Kak Ratna tertawa ketika puisi itu selesai dibaca, dan semuanya tertawa.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-6318455726247740531?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/6318455726247740531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=6318455726247740531' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/6318455726247740531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/6318455726247740531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/cerpen-puisi-bunda.html' title='Cerpen :PUISI BUNDA'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-1868062633178025854</id><published>2010-04-10T23:14:00.001-07:00</published><updated>2010-04-12T20:22:16.087-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cerpen :Rumahku, Karirku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8Fru7DU8PI/AAAAAAAAAb4/bIzfg9iClgs/s1600/Snapshot_20091108_21.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8Fru7DU8PI/AAAAAAAAAb4/bIzfg9iClgs/s320/Snapshot_20091108_21.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458762677219553522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama…mama hari ini masuk kerja, ya?” Zahra, anakku satu-satunya menarik-narik ujung blazerku. &lt;br /&gt;“Iya sayank, mama kan kerja setiap tiap hari seperti yang kamu lihat,” aku menjawab pertanyaannya, tanpa menoleh  karena sibuk mengecek berkas-berkas yang harus aku persiapkan dalam rapat nanti. &lt;br /&gt;“Mama…mama tak usah masuk kerja, sama Zahra aja di rumah, main dan jalan-jalan,” kembali ia merengek-rengek dan terus menarik ujung blazerku.&lt;br /&gt;“Tak bisa donk, sayank. Mama harus kerja. Kalau tidak kerja, nanti bagaimana bisa beli susu, vitamin, pakaian, dan mainan kamu. Lagipula kan ada Mbak Numi yang menemani kamu,” aku membalas tanpa mempedulikan ekspresinya.&lt;br /&gt;Setelah mendengar jawabanku, ia melepaskan ujung blazerku. Tak terdengar lagi suaranya. Aku bersyukur karena konsentrasiku tidak terganggu. Tapi itu hanya sementara, karena kemudian ia kembali mengeluarkan suara.&lt;br /&gt;“Kan ada papa yang kerja untuk beli susu, beli vitamin, beli pakaian dan mainan aku. Jadi mama tak usah kerja, kan sudah ada papa yang kerja,” suatu pernyataan yang tak pernah aku duga sebelumnya keluar dari mulut bocah perempuan berusia empat tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku terdiam. Aku menoleh pada anakku yang asyik menghisap botol susunya di kursi. Wajahnya polos dan mata beningnya menatap kepadaku. Aku bangkit dari kursi meja kerjaku dan menuju ke tempat ia duduk.&lt;br /&gt;“Sayank, apa yang kamu katakan betul,” aku meraihnya ke pangkuanku. “Tapi, kamu teramat kecil untuk memahami mengapa mama masih harus bekerja sampai sekarang,” aku membelai lembut rambut ikalnya yang lebat. &lt;br /&gt;Mata indahnya yang seperti mataku itu menatap lurus ke wajahku. “Apa uang papa tidak cukup untuk kita, Ma?” balasnya, polos.&lt;br /&gt;“Aduh, sayank. Udah dulu, ya. Kamu belum waktunya untuk bisa memahami semua ini. Sekarang kamu habiskan susunya, siap-siap mandi dan berangkat ke taman bermain, ya,” kucium kedua pipi gembilnya dan kemudian melanjutkan pekerjaanku.&lt;br /&gt;Suamiku muncul setelah Zahra keluar dari kamar kerjaku. “Wah, tadi kayaknya serius banget bicara dengan Zahra. Ada janji apa sama dia?” tanya suamiku yang sudah rapi dengan seragam kerjanya.&lt;br /&gt;“Ah, tidak ada. Biasa cuma memberikan dia nasehat dan pengertian. Biasalah, agar dia menjadi anak yang baik, manis dan mandiri,” jawabku sedikit berbohong.&lt;br /&gt;Suamiku tidak menanggapi kecuali berkomentar pendek. “Oh itu, kirain buat janji apa dengan dia,” ujarnya sambil berlalu. Dan itu membuatku sedikit tersinggung.&lt;br /&gt;Aku tahu dia sengaja menyindir aku dengan kalimat seperti itu, karena beberapa kali janjiku dengan Zahra batal karena kesibukan kerjaku. Bahkan kadang tak jarang ia mengambek dan tidak mau berbicara dengan aku. &lt;br /&gt;Aku sengaja berbohong. Jika apa yang Zahra katakan tadi aku ceritakan pada suamiku, tentu ia akan berpendapat yang sama. Pada akhirnya aku akan semakin terpojok. Aku tak mau hal itu menjadikan beban pikiranku di pagi yang cerah ini. Pukul 10 nanti, aku ada rapat yang membicarakan tentang langkah pengembangan perusahaan perbankan tempatku bekerja. Di situ, aku sudah punya sejumlah ide yang akan kusampaikan. &lt;br /&gt;Zahra sudah selesai mandi dan berpakaian ketika aku bergabung di meja makan. Ia duduk berhadapan dengan papanya. Aku memilih tempat di sebelahnya. “Ayo, sayank, makan yang banyak biar nanti di taman bermain gak lemas. Ayo anak mama pintar, kan,” sikap itu hanya untuk menguatkan pernyataanku  pada suami bahwa tadi benar-benar menasehati Zahra.&lt;br /&gt;Anakku tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan terus menyuap sarapan ke dalam mulutnya. Usai sarapan, Zahra ikut mobil papanya, karena taman bermainnya satu arah dengan kantor suamiku. Sedangkan aku naik mobilku sendiri menuju kantor.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kata-kata anakku tadi terus terngiang di telinga. Aku berusaha menghilangkannya dengan mendengarkan radio. Tapi itu tidak memberi manfaat. Kumatikan radio dan ganti dengan alunan lagu dari kaset. Hasilnya tetap sama.&lt;br /&gt;“Zahra….zahra, ada-ada saja yang kamu katakan, mama jadi tidak mood nih,” aku menggumam, menyesali kata-kata anakku tadi. &lt;br /&gt;Zahra, anakku yang kulahirkan empat tahun tiga bulan lalu. Bocah cantik, lucu dan menggemaskan, karena sikapnya yang serba ingin tahu. Ia aktif bergerak dan berbicara. Pertanyaan tadi bukan sekali ia tanyakan sejak ia sekolah di taman bermain. Tapi dengan jawaban pamungkas kalau aku bekerja untuk membeli susu, vitamin, pakaian dan mainannya, ia biasanya akan diam. Tapi, tadi pagi lanjutan pertanyaannya membuatku sungguh tersentak. &lt;br /&gt;Apakah papanya yang mengajarkan kalimat itu? Atau karena kecerdasannya yang makin meningkat seiring pertumbuhan usia dan pendidikan yang ia dapat di taman bermain.&lt;br /&gt;Jika dari papanya, tidak mungkin. Karena Mas Jefri suamiku bukan tipe pria seperti itu. Jika ada masalah ia akan mengajak berbicara. Masalah pekerjaanku memang pernah ia bicarakan, tapi aku selalu memberikan argumen yang membuatnya tidak lagi mengungkit. &lt;br /&gt;Kerja bagiku bukanlah suatu aktivitas yang kulakoni hanya sekedar mendapatkan imbalan materi untuk membiayai segala macam kebutuhan hidup. Tapi bagiku, kerja adalah karir, yang harus mengalami peningkatan dan memberikan hasil bukan sekedar gaji tapi juga prestise dan prestasi.&lt;br /&gt;Dari kuliah aku akui adalah orang yang ambisius. Tapi dengan tingkat intelektual yang kumiliki, mendukung sifatku itu. Aku berhasil meraih sarjana manajemen perbankan dalam waktu kurang empat tahun. Lulus kuliah, lamaran kerja kumasukan pada hampir seluruh bank yang ada di kotaku. Ada atau tidak ada lowongan bagiku tidak masalah, yang penting mencoba.&lt;br /&gt;Ternyata dari sekian banyak lamaran yang aku ajukan, ada tiga bank yang memanggilku untuk tes. Sebelum memilih yang mana satu harus aku pilih, aku meneliti lebih jauh tawaran mana yang harus kuterima. Hasilnya, aku memilih bank swasta yang lumayan terkemuka. Karir awalku menjadi kasir.&lt;br /&gt;Dua tahun menjadi kasir, karirku tidak meningkat. Sebagai wanita yang punya sifat ambisius, aku merasa sudah waktunya hengkang dari sana. Karena prinsipku, cita-citaku menjadi yang terbaik dan mencapai jabatan tertinggi tidak akan mendek di sana. &lt;br /&gt;Meski mendapat protes dan larangan dari teman-temanku, aku tetap kukuh. Aku harus keluar dan mencari kerja baru demi karir yang lebih baik. Aku tidak perlu dengan saran dari Mbak Heni yang sudah lima tahun bekerja di bank itu, tapi masih tetap pada jabatan kasir. “Sabar, suatu saat waktu untuk jabatan yang lebih baik itu pasti ada,” hiburnya.&lt;br /&gt;Aku juga tidak peduli dengan bujukan, Reni dan Dewi yang mengatakan hal yang senada. Bagiku, keinginanku adalah hakku dan komitmen mereka bertahan juga adalah hak mereka. Jadi, tidak perlu demi persahabatan aku bertahan. Ini demi karier yang aku cita-citakan, kawan.&lt;br /&gt;Sebenarnya aku masih mencoba untuk bertahan di sana. Tapi suatu hari aku melihat lowongan di koran, jika bank tempat aku bekerja mencari manajer yang berpengalaman. Entah mengapa darah mudaku mendidih. Harusnya mereka yang berkuasa di sana punya pikiran untuk memberikan kesempatan kepada staf yang di bawah dan punya jam terbang, untuk dijadikan manejer, sehingga mereka bisa berkembang dengan karier yang lebih baik.&lt;br /&gt;“Dasar pemilik modal maunya yang terima bersih, tanpa mau memberikan kesempatan bawahannya untuk bisa berkarier lebih baik,” kecamku sebelum memutuskan keluar.&lt;br /&gt;Pengalaman bekerja sebagai kasir dua tahun, memudahkanku untuk melamar kerja baru. Aku diterima kembali pada sebuah bank yang lumayan terkemuka. Tapi, ketika setahun bekerja, aku dipanggil oleh menejer personalia, jika masa kontrakku tidak diperpanjang. &lt;br /&gt;Aku kaget. Karena kenyataan dengan apa yang dijanjikan saat aku awal diterima sangat berbeda. Waktu awal aku diterima memang diberi penjelasan jika pada satu tahun pertama akan dikontrak dan tahun berikutnya tidak lagi, alias menjadi karyawan. Artinya, sistem kontrak yang dimaksud hanya masalah sistem pengajian yang tidak sama dengan yang berstatus karyawan.&lt;br /&gt;Tapi, yang aku dengar waktu itu malah lain. Tanpa banyak protes aku keluar. “Dasar licik, culas, pembohong, bilang saja jika perusahaan tidak mau terbebani dengan banyak kewajiban pada karyawan, jadi membuat sistem kontrak. Dasar penipu,” rutukku, saat keluar dari sana.&lt;br /&gt;Tapi, bukan Wanda namaku jika tidak kembali semangat mencari kerja. Bank tetap menjadi pilihanku, karena prinsipku pekerjaan harus sesuai dengan ilmu dan keahlianku. Jadi, uang bukanlah faktor utama. Karena dengan bekerja di mana saja yang menghandalkan ijazah sarjana seperti banyak dilakukan orang, aku juga bisa. Tapi, yang namanya untuk mencapai karier terbaik harus bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki.&lt;br /&gt;Sebagai anak bungsu, bagiku uang tidak masalah. Orangtuaku cukup mampu membiayaiku jika aku hanya ongkang-ongkang kaki di rumah selepas kuliah. Tapi, komitmen dengan cita-cita dan sukses berkarier itu lah misiku.&lt;br /&gt;Ketika untuk ketiga kalinya aku diterima di bank, dua pertanyaan sudah aku siapkan sebelum memutuskan bekerja di sana. Pertama tentang sistem kontrak dan kedua peluang kenaikan karier bagi staf. &lt;br /&gt;Ternyata di sana juga menggunakan sistem kontrak untuk satu tahun. Tapi, sistem itu hanya sebagai bentuk pengawasan dan penilaian. Sebelum masa satu tahun pun, karyawan yang dinilai tidak baik bisa dikeluarkan. &lt;br /&gt;Aku lega menerima penjelasan itu. Begitu juga dengan pertanyaan kedua tentang peluang karir, ternyata ada. Bahkan sangat terbuka lebar bagi staf untuk ikut promosi jabatan baru dan bersaing dengan pelamar.&lt;br /&gt;Belum cukup satu setengah tahun bekerja disana, aku dipromosikan menjadi asisten menejer. Suatu kesempatan yang tidak aku sia-siakan. Segenap kemampuan dan ide, aku tuangkan dalam rapat. Hasilnya sejumlah pendapatku ternyata bisa diterima. &lt;br /&gt;Setahun pada jabatan itu, aku kembali dipromosikan sebagai manejer pemasaran. Tawaran yang bagus kembali aku terima. Semangatku makin menggebu-gebu untuk  bekerja dan meningkatkan karier.&lt;br /&gt;Saat itulah aku berkenalan dengan Mas Jefri yang bekerja sebagai PNS. Tak lama pacaran kami menikah. Satu tahun kemudian Zahra lahir. Kelahiran anakku tidak menghalangiku untuk terus berkarier. Sebab, sebelum menikah aku sudah menegaskan pada Mas Jefri, aku akan tetap bekerja setelah menikah dan ia menyetujuinya.&lt;br /&gt;Mengurus rumah dan Zahra, aku cukup menyerahkan pada dua orang pembantu. Bagiku yang sudah mapan, membiayai pembantu tidak masalah. Yang penting semua urusan di rumah beres.&lt;br /&gt;Saat Zahra berumur dua tahun, aku mencoba tantangan karier yang lebih tinggi. Ketika pemerintah kota mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), aku mencoba bersaing dengan sejumlah pelamar lain untuk bisa menduduki jabatan direktur.&lt;br /&gt;Dewi fortuna sepertinya masih mengelilingi diriku. Aku  dipilih menjadi salah satu direktur, yakni direktur pemasaran dan pengembangan usaha. Bagiku, untuk sementara, ini adalah puncak karier tertinggi. Sebuah prestasi dan prestise sudah aku dapatkan. Apalagi statusku sebagai wanita dan seorang ibu menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Usiaku yang masih tergolong muda 31 tahun, juga menjadi kebanggaan yang tidak semua orang bisa meraihnya.&lt;br /&gt;Suamiku tidak pernah melarang bekerja, kecuali ia pernah memintaku untuk beralih pekerjaan yang lebih simple dan tidak menguras waktu untuk keluarga, khususnya Zahra. Tapi, alasan yang kukemukan membuatnya tidak mengungkit kembali.&lt;br /&gt;Hari ini, adalah tantangan bagiku untuk menyampaikan ide-ideku di hadapan komisaris tentang rencana pengembangan usaha bank yang baru berjalan satu tahun. Sejumlah programku tentang melibatkan pihak ketiga telah aku siapkan dan aku yakin bisa diterima oleh komisaris. &lt;br /&gt;Bunyi telepon genggam mengejutkan aku dalam lamunan panjang. Ternyata dari tadi aku belum keluar dari mobil yang sudah berada di parkiran kantor. Ternyata yang menelpon Vita, sekretarisku. Ia menanyakan aku yang belum ada di kantor, karena jadwal rapat dipercepat setengah jam dengan alasan direktur utama akan ada agenda lain.&lt;br /&gt;“Oke, saya sudah di parkiran,” jawabku cepat.&lt;br /&gt;Sebelum turun dari mobil, sekilas aku sempat melihat bayangan wajahku di spion. Protes Zahra tadi ternyata sedikit memberi kesan kurang semangat pada wajahku. Vita yang menyambutku di dalam ruang kerjaku, juga heran melihat wajahku. &lt;br /&gt;“Pagi ibu, sepertinya ibu kurang sehat, ya? Wajah ibu kelihatan tidak seperti biasanya,” tanyanya sambil memperhatikan wajahku.&lt;br /&gt;“Pagi juga. Oh tidak apa-apa, cuma agak kecapekan,” jawabku seadanya.&lt;br /&gt;Mengingat jam rapat yang dipercepat, aku meminta Vita segera menyiapkan bahan-bahan rapat di ruang pertemuan. Sepuluh menit sebelum rapat dimulai Vita sudah selesai menyiapkan semua yang diperlukan.&lt;br /&gt;Seperti biasa, aku selalu bersemangat dan menggebu-gebu menyampaikan ide-ideku. Tidak hanya data, tapi aku juga menyampaikan sejumlah contoh fakta tentang pentingnya orang ketiga dalam suatu pengembangan usaha perbankan. Slide-slide gambar berisikan grafik peningkatan pengembangan usaha dan modal bank berkat kerjasama dengan pihak ketiga, juga aku sertakan sebagai bukti ideku bukan sekedar omongan belaka.&lt;br /&gt;Hasilnya, komisaris serta direktur utama secara umum menyatakan setuju dengan ideku tersebut. “Tidak salah kita punya direktur pemasaran seorang wanita, muda, pintar dan enerjik. Dalam waktu dekat siapkan pertemuan dengan pihak ketiga yang mau bergabung biar kita siapkan draf perjanjiannya,” ujar Pak Sugeng, sang direktur utama, disambut tepuk tangan penghargaan kepadaku.&lt;br /&gt;Hatiku begitu bahagia dan bangga. Ternyata tidak sia-sia aku belajar dari buku dan mengambil bahan-bahan di internet. Semua data dan program yang aku ajukan bisa membuat jajaran komisaris dan Dirut setuju.&lt;br /&gt;HP ku yang sejak rapat tadi kusetel pada program diam, tampak berkedip-kedip tanda ada panggilan masuk. Ternyata dari rumah.”Ya halo, ada apa, Num,” tanyaku pada pengasuh Zahra.&lt;br /&gt;“ Zahra panas, Bu,” jawabnya bergetar.&lt;br /&gt;“Sudah kamu kasi obat penurun panas?”&lt;br /&gt;“Sudah bu, tadi panasnya sudah turun dan dia tidur. Tapi sekarang panas lagi,” nada bicaranya jelas menunjukkan  kebingungan.&lt;br /&gt;“Ya sudah, kamu sekarang telepon dokter keluarga. Saya segera pulang. Tak usah khawatir berlebihan. Tenang saja,” aku berusaha menenangkan pembantu yang sejak bayi mengasuh Zahra. Ia sangat menyayangi anakku, sehingga kalau Zahra demam, ia yang paling dulu khawatir.&lt;br /&gt;Untung rapat sudah selesai, aku bisa pulang lebih awal. Aku langsung menuju kamar Zahra yang ternyata sudah ada Dokter Mira yang biasa merawatnya jika demam. “Siang, Dok, anak saya sakit apa?” tanyaku. &lt;br /&gt;“Siang ibu, anak ibu cuma demam biasa. Sepertinya kecapekan dan mungkin kena panas matahari yang cukup lama. Mungkin karena keasyikan bermain di sekolah,” jawabnya, sambil menyerahkan secarik resep kepadaku.&lt;br /&gt;“Oh…terima kasih, Dok,” aku menarik nafas lega.&lt;br /&gt;Dengan obat yang kutebus di apotik, panas badan anakku sudah menurun. Tapi ia tidak mau lepas dari pelukanku. Maunya digendong terus jika sedang tidak tidur. “Kamu turuti saja kemauannya, mana tahu dia bisa sembuh jika kamu yang merawat dia,” hibur suamiku, ketika aku mengeluh penat mengendong anakku yang cukup berat.&lt;br /&gt;Paginya, Zahra sudah membaik. Panas badannya sudah kembali normal. Namun ia masih lesu. “Ma, mama tidak kerja hari ini kan. Mama temani Zahra di rumah saja, ya,” pintanya saat bangun tidur.&lt;br /&gt;Mas Jefri memberi isyarat kepadaku agar menuruti permintaannya. Akhirnya aku menganggukan kepala, “iya, sayank, mama akan menemani Zahra hari ini di rumah. Tapi besok kamu harus masuk sekolah lagi dan mama masuk kerja,” aku mengecup pipi gembilnya.&lt;br /&gt;Ia mengangguk senang dan memelukku erat. Aku memberitahu Vita, jika hari ini aku izin tidak masuk kantor. Lagi pula tidak ada pekerjaan penting yang harus kuselesaikan. Bahan untuk pertemuan dengan pihak ketiga aku serahkan pada Vita mengerjakannya. Setelah selesai aku tinggal mengedit dan mengecek yang perlu ditambah. Masih dua hari lagi waktu yang kumiliki sebelum bertemu mereka.&lt;br /&gt;Hari itu aku menemani Zahra sepenuhnya. Ia seperti tidak mau jauh dariku. Aku pun berusaha untuk tidak menunjukan rasa penat. Karena toh, memang sangat jarang sekali aku ada waktu berdua dengan dia. Hari minggu pun aku kadang masih sibuk dengan urusan di luar kantor, arisan, ke salon atau jalan-jalan ke mall. Semua itu tidak disukai Zahra. Sehingga ia lebih sering aku tinggal dengan pembantu, sementara aku refresing di pusat-pusat belanja menyalurkan hobi belanja.&lt;br /&gt;Entah mengapa anakku tidak seperti anak-anak lainnya yang suka diajak ke mall, bermain di arena bermain. Ia lebih suka diajak ke taman kota atau danau yang terletak di pinggir kota. “Lebih nyaman di sini bermain, Ma. Tidak bising dan ramai seperti di mall,” alasannya setiap kami berkunjung ke dua tempat itu.&lt;br /&gt;Biasanya setelah puas bermain di taman atau pinggir danau, ia akan beristirahat di tikar yang kami gelar. Kemudian akan memintaku bercerita atau membacakan buku komik yang selalu ia bawa.&lt;br /&gt;Malam harinya, Zahra sudah pulih sepenuhnya dan tidak lemas lagi. Namun ia tetap memintaku untuk mengantarnya ke sekolah besok pagi. Aku mengiyakan dan ia tersenyum senang.&lt;br /&gt;Ini bukan pertama kalinya aku mengantar Zahra ke sekolah. Karena beberapa kali ketika merajuk atau setelah demam, ia biasanya meminta aku mengantar sekolah. Aku selalu menyanggupinya. Namun, aku hanya mengantar hingga gerbang. Tapi hari ini, aku menyempatkan diri untuk masuk ke lingkungan sekolah. Ia nampak begitu semangat melakukan gerakan senam, apalagi ketika aku mengacungkan jempol ke arahnya. &lt;br /&gt;Kesempatan itu juga aku gunakan untuk sekedar berbasa-basi dengan sejumlah wanita yang menunggu anak-anak mereka. “Mengantar anak juga ya, Bu?” basa-basiku pada dua orang wanita yang duduk di sebuah bangku.&lt;br /&gt;“Iya, Bu, itu anak saya. Bimo yang gendut,” ia menunjuk pada seorang anak yang bertubuh subur. Aku heran melihat ibunya yang cenderung kurus, tapi anaknya lumayan gemuk.&lt;br /&gt;“Anak ibu yang mana,” wanita berambut pendek di sebelah wanita yang beranak gemuk, balas menanyaiku.&lt;br /&gt;“Itu Zahra, yang ikal rambutnya seperti saya,” aku menunjuk Zahra yang mulai berbaris masuk kelas.&lt;br /&gt;“Oh itu ya…dia anaknya pintar dan lincah ya. Waktu itu dia pernah bertanya kepada saya,” Ibu Bimo yang merespon.&lt;br /&gt;“Bertanya apa, Bu?” balasku cepat ingin tahu&lt;br /&gt;“Katanya Bimo pasti senang punya ibu seperti saya. Dia mau juga seperti Bimo, ditemani mamanya terus setiap sekolah.”&lt;br /&gt;Deg, jantungku langsung tersentak mendengar kata wanita tadi. Benarkah itu yang keluar dari mulut bocah lugu seperti Zahra. Tapi. Mungkin juga, anakku itu memang suka bicara dan serba ingin tahu.&lt;br /&gt;“Maunya sih saya begitu bu, tapi bagaimana lagi ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggal. Jadi sekali-kali saya mengantarnya,” aku berdiplomasi dan cepat-cepat pamit dengan alasan harus cepat ke kantor.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke kantor, pembicaraan singkat dengan dua orang wanita tadi terus menggayuti pikiranku. Wajah Zahra yang cantik, lucu dan menggemaskan hadir di pelupuk mataku. Ku akui anakku memang punya sifat yang jauh berbeda dengan anak-anak seusianya. Kadang ada kata-kata atau kalimat yang harusnya belum terpikirkan oleh anak seusianya ia utarakan. Ia sepertinya lebih dewasa dari umurnya. Aku tak tahu apakah itu karena turunan dari IQ yang kumiliki atau memang lingkungannya yang membentuknya seperti itu.&lt;br /&gt;Pernah ketika kami berlibur di danau, ia bertanya mengapa tidak ada orang yang membangun pondok di tepi-tepi danau. Padahal pengunjung akan senang ada tempat berteduh, daripada harus duduk di atas tikar berlindung di bawah pohon. &lt;br /&gt; ”Coba kalau dekat pinggir danau ini ada rumah-rumahan kecil ya, Ma. Kan kita tidak kepanasan dan kehujanan lagi berteduh di bawah pohon,” tuturnya waktu itu. Aku kaget mendengarnya.&lt;br /&gt;Aku tersenyum mengingat kecerdasan dan sikap lugunya ketika mengungkap hal-hal yang harusnya belum ia pikirkan. Tapi, semua itu harus aku simpan ketika sampai di kantor. Pekerjaan sudah menungguku, persiapan pertemuan dengan pihak ketiga yang akan menanamkan investasi di bank kami.&lt;br /&gt;Semua agenda yang telah kususun berlangsung lancar dan tidak ada kendala berarti. Pertemuan dan pembahasan sistem perjanjian kerjasama tidak ada masalah. Seminggu kemudian akan ada penandatanganan nota kesepahaman antara BPR dengan pihak ketiga. Acaranya sengaja dibuat seformal mungkin, mengundang unsur pemerintahan, DPRD, Muspida, tokoh masyarakat dan wartawan.&lt;br /&gt;Sebagai direktur pemasaran, aku yang diberi tanggungjawab mengatur acara itu. Di bawahku juga ada koordinator yang mengurus dan membawahi sejumlah panitia lainnya. Praktis hari-hariku semakin sibuk, karena bagiku acara penting itu juga adalah bagian dari upaya aktualisasi kemampuanku menangani kegiatan yang memang di luar bidangku sebenarnya. Tapi, bukan Wanda namanya jika tidak mampu melakukan sesuatu. Selalu begitu aku menyakinkan diri untuk tidak ragu dalam melangkah.&lt;br /&gt;Hingga sampailah pada hari gladiresik acara MoU yang akan dilakukan. Aku puas, karena bisa dikatakan sembilan puluh persen acara besok sudah nampak hasilnya. Ada yang bergetar di dalam saku blazerku, yang ternyata HP ku yang kusetel dengan nada getar. &lt;br /&gt;“Ibu, tadi Zahra jatuh, kakinya terkilir,” suara Numi yang biasa khawatir berkebihan terdengar di seberang sana.&lt;br /&gt;“Jatuh…? Kok bisa? Sekarang kamu sudah obati pakai apa kakinya?” aku tak sabar mendengar penjelasan Numi.&lt;br /&gt;‘Tadi di sekolah, dia pikir ibu yang menjemputnya. Ketika melihat mobil di depan sekolah, ia berlari menyambut dan terjatuh.”&lt;br /&gt;“Oh…aduh Zahra….Zahra…Oke saya segera pulang,” aku segera minta izin meninggalkan kantor.&lt;br /&gt;Di dalam kamar anakku ternyata ada guru Zahra yang ikut menungguinya. “Selamat siang,  Ibu. Maaf tadi Zahra jatuh di sekolah, kakinya terkilir,” ia menyalamiku.&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, Bu, saya kira itu biasa. Namanya saja anak-anak, apalagi Zahra yang aktif begini, wajar jika jatuh,” aku berusaha membuat guru itu merasa nyaman dan tidak terlalu merasa bersalah.&lt;br /&gt;Melihat aku datang, Zahra yang tadi berbaring mengulurkan tangannya minta digendong. Aku meraihnya hati-hati ke dalam pangkuanku dan mencium keningnya. “Sayank, tadi kurang hati-hati, ya? Mana yang sakit, nak?”&lt;br /&gt;“Maafin Zahra ya. Zahra sudah membuat mama khawatir. Zahra janji tidak akan merepotkan mama lagi,” ia menatapku penuh penyesalan.&lt;br /&gt;“Tidak, sayank, kamu tidak salah. Ini cuma kecelakaan kecil saja,” aku menghiburnya.&lt;br /&gt;Guru yang sejak tadi diam mengeluarkan suara. “Saya punya kenalan yang biasa mengobati orang terkilir. Biasanya cepat sembuh dengan cara pijat dan urut yang ia lakukan. Apakah boleh saya minta datang ke sini,” ia menawarkan jasa baiknya untuk menenangkan hatiku.&lt;br /&gt;“Oh…terima kasih, Ibu. Silahkan jika memang ada yang bisa urut,” sambutku senang.&lt;br /&gt;Guru itu permisi keluar untuk menelpon. Kudengar ia menjelaskan kecelakaan Zahra dan menyebutkan alamat rumahku. “Paling lama 20 menit lagi bapak itu sampai di sini, Bu. Kebetulan ia sedang tidak ada pasien sekarang. Jadi bisa langsung ke sini,” tuturnya. Aku gembira karena anakku akan bisa cepat diobati.&lt;br /&gt;Ternyata apa yang disampaikan gurunya Zahra benar. Kurang dari 20 menit, tukang urut yang ia ceritakan datang. “Kok cepat sekali, Pak,” aku berbasa-basi sembari menyalaminya.&lt;br /&gt;“Pakai pesawat, Bu. Eh tidak, biasa pakai motor. Hanya kebetulan tadi saya berada di jalan arah rumah ibu, jadi bisa cepat sampai. Oh ya, mana anaknya?” balasnya dan sepertinya tak mau lama-lama berbasi basi.&lt;br /&gt;Aku membawa pria separuh baya itu ke kamar Zahra. Ketika melihat anakku, ia tersenyum dan menanyakan namanya. Seperti biasa jika diajak berkenalan, Zahra selalu menjawab dengan panjang lebar.&lt;br /&gt;“Nama aku Zahra, umurku empat tahun, aku kelas nol kecil. Aku sudah mulai bisa membaca,” jawabnya panjang, dan bapak itu tersenyum.&lt;br /&gt;Sambil mengajak Zahra mengobrol, kulihat tangannya mengurut jari kaki kanan anakku yang terkilir dengan minyak yang ia bawa. Sepertinya ia tidak ingin Zahra terlalu merasa kesakitan saat diurut. Memang benar, kulihat anakku tidak rewel meski kadang ia terlihat mengernyit dan mengaduh.&lt;br /&gt;“Betul-betul anak pintar, pasti cepat naik ke kelas nol besar ini,” bapak itu memuji anakku, ketika Zahra mengaduh kesakitan.&lt;br /&gt;Setelah diurut, Zahra sudah bisa berdiri tegak. Tadinya ia tak bisa berdiri dengan alasan jari kakinya sakit jika menyentuh lantai. Ia juga bisa berjalan dengan pelan.&lt;br /&gt;“Dua kali urut lagi, kamu akan bisa berjalan seperti biasa. Tapi, ingat ya, jangan suka lari-lari, karena…..” sengaja ia menggantung kalimatnya.&lt;br /&gt;“Karena bisa jatuh lagi dan kakinya sakit,” Zahra menjawab cepat dan kami tersenyum melihat polahnya.&lt;br /&gt;Mas Jefri pulang, ia tampak merisaukan kondisi Zahra. “Bagaimana Zahra? sudah dibawa ke rumah sakit trus apa kata dokter?” ia memborong pertanyaan, ketika aku menyambutnya sepulang dari kantor.&lt;br /&gt;“Cuma terkilir sedikit, tadi sudah diurut dan sudah baikan. Zahra sekarang sudah bisa berjalan lagi. Tadi mas kok tak cepat pulang?” &lt;br /&gt;“Syukurlah, tadi mas betul-betul tak bisa meninggalkan kantor ada tamu yang tidak bisa ditinggal,” ia bergegas ke kamar Zahra.&lt;br /&gt;Mas Jefri mencium kening anaknya yang sedang tidur. Ia mengusap lembut kaki Zahra yang terkilir. “Sayank, lain kali jangan suka lari-lari ya. Papa tidak mau melihat kamu sakit seperti ini lagi,” kulihat ia berbisik sambil mencium pipi Zahra.&lt;br /&gt;Aku berlalu meninggalkan Mas Jefri yang masih duduk di samping tempat tidur Zahra. Suamiku sangat berlebihanan menyayangi Zahra. Dari dalam kandungan hingga bayi dan sampai sekarang, aku melihat sikap suamiku pada anaknya tidak berubah, malah makin berlebih.&lt;br /&gt;Aku sedang asyik di depan komputer ketika kudengar Zahra merengek-rengek memanggil aku. Mas Jefri datang menggendongnya dan memberikan Zahra kepadaku.&lt;br /&gt;“Mama kok tinggalkan Zahra di kamar sendirian….” Ia merengek di pangkuanku. Kurasakan badannya agak panas.&lt;br /&gt;“Maafkan mama ya, sayank, tadi mama ada kerjaan yang harus diselesaikan. Badan kamu panas, tak enak badan, ya?” aku meraba-raba kening dan badannya. Mas Jefri juga ikutan merasakan panas badan Zahra.&lt;br /&gt;“Kita panggil dokter aja Ma,” Mas Jefri sudah membuka HP-nya sebelum aku mengiyakan.&lt;br /&gt;Dokter Mira datang tak lama kemudian. Ia memeriksa Zahra. “Mungkin panas badan dia karena efek trauma terjatuh tadi siang, tapi ini biasa kok pada anak. Nanti minum obat penurun panas dan banyak istirahat dan moga besok sudah sehat,” jelasnya.&lt;br /&gt;Setelah makan dan minum obat, Zahra tidur. Panasnya sudah turun. Aku lega, karena bisa menyelesaikan mengedit naskah pidato yang akan kusampaikan besok. Sebagai ketua pelaksana aku harus menyampaikan pidato singkat tentang kegiatan besok. &lt;br /&gt;Malam itu sebelum aku tidur, aku berdoa semoga Zahra besok betul-betul sudah sembuh dan aku bisa tenang mengikuti acara. Namun, apa yang kuharapkan ternyata tidak dikabulkan Tuhan. Panas badan Zahra memang sudah turun, tapi seperti biasa ia masih agak rewel dan minta perhatian dari aku.&lt;br /&gt;“Mama, hari ini tidak kerja kan? Zahra mau main sama mama di rumah,” kalimat yang sangat tidak kuharapkan, ternyata keluar juga dari mulut mungilnya  pagi ini.&lt;br /&gt;Aku menatapnya. Aku berusaha menahan gejolak perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa sedih, kesal, kasihan dan sayang melihat buah hatiku yang meminta perhatian dariku. Hari ini adalah hari yang kutunggu, sebagai hasil kerja kerasku bersama tim untuk mengembangkan usaha bank yang mulai dilirik nasabah untuk menabung dan meminjam modal. &lt;br /&gt;Aku sudah membayangkan, betapa bangga aku ketika melihat acara yang pasti akan berlangsung lancar dan ucapan selamat atas kinerjaku. Tapi, pagi ini saat aku bersiap-siap menghadiri acara yang sangat penting itu, Zahra mengusik perasaanku yang penuh rasa bahagia menjadi kacau.&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab, aku cuma menghela nafas panjang dan duduk. Melihatku diam dan tidak meresponnya, anakku kembali bertanya. “Mama…mama kenapa…mama tidak mau temani Zahra di rumah ya? Mama mau kerja ya…mama marah ya sama Zahra,” ia berusaha duduk di pangkuanku.&lt;br /&gt;Aku bergeming. Dadaku semakin sesak dan nafasku terasa berat. Aku menurunkannya dari pangkuanku dengan kasar dan berlalu masuk kamar kerjaku. &lt;br /&gt;Di belakangku Zahra mengejar dengan langkahnya yang terseret-seret karena kakinya masih sakit dan menangis. Aku tidak peduli. Aku harus bersiap-siap. Pagi ini, aku harus datang lebih awal. Aku ingin mengecek segala sesuatunya. Aku ingin segala sesuatunya berjalan dengan sempurna. &lt;br /&gt;Kudengar suara Mbak Numi membujuknya untuk diam. Tapi tangis anakku malah makin keras. Aku menutup pintu kamar dan bersiap-siap berdandan. &lt;br /&gt;Mas Jefri yang baru selesai mandi, kaget mendengar tangis Zahra yang sangat keras. “Ada apa dengan Zahra, Ma? Kok tangisnya keras betul?” ia berlari keluar kamar dengan pakaian mandinya, tanpa lebih dahulu mendengar jawabanku.&lt;br /&gt;Aku lega, karena biasanya jika sudah dibujuk papanya, Zahra bisa diam dan aku bisa pergi ke kantor dengan tenang. Tapi, ternyata tidak seperti yang kuharapkan. Tangis anakku tidak juga berhenti. Malah, Mas Jefri memintaku untuk membujuk Zahra.&lt;br /&gt;“Mama..tolonglah, ia hanya mau sama mama. Bujuk dulu dia,” Mas Jefri setengah memohon kepadaku yang sedang merias wajah. &lt;br /&gt;Belum sempat aku menolak permohonan suamiku, Numi berteriak histeris dan suara tangis Zahra sudah tak terdengar. “Ibu…bapak! Zahra…..tolong pak bu cepat! Aduh…..Zahra...Zahra!” kudengar jeritan kekhawatirannya yang tidak biasanya.&lt;br /&gt;Spontan aku dan Mas Jefri berlari ke luar kamar menuju ruang tengah. Kulihat Zahra terbaring di lantai, badannya bergetar menahan isak tangis yang tersisa. Tapi, ya Tuhan, matanya mendelik dan tubuhnya terasa keras, tegang dan panas. Aku menjerit tertahan dan Mas Jefri yang tidak mau membuang waktu, segera meraih kunci mobil.&lt;br /&gt;“Ayo Ma cepat gendong, kita ke rumah sakit,” Mas Jefri tak mau membuang waktu berlari ke luar mengambil mobil.&lt;br /&gt;Sebelum aku membawa Zahra ke mobil. Numi menyelipkan sendok kecil ke mulut Zahra. “Mungkin dia step, Bu, pakai sendok ini biar lidahnya tidak tergigit.”&lt;br /&gt;Untung masih pagi, jalanan belum ramai. Mas Jefri bisa membawa mobil tanpa gangguan macet. Lima menit kami sampai di rumah sakit. Zahra langsung didorong perawat ke ruang gawat darurat. Aku menangis di ruang tunggu. Mas Jefri juga tak bisa menyembunyikan kehawatirannya dan ia hanya diam dalam pandangan kosongnya. &lt;br /&gt;Oh Tuhan, aku sangat menyesal. Sikapku yang tidak seperti biasanya pada anakku, telah berakibat fatal baginya. Memang, selama ini aku tidak pernah bersikap sekasar itu pada Zahra. Meski kadang gondok dengan tingkah yang kelewat bawel, aku masih bisa membujuk dan bersikap lembut.&lt;br /&gt;Tapi, tadi aku meski tidak mengeluarkan kata-kata yang kasar. Tapi, sikapku yang tidak mengacuhkannya, tidak mau menyentuhnya hingga ia menangis sambil mengejar aku, telah membuatnya terluka dan menahan perasaan yang dalam. Akibatnya ia kejang-kejang. “Zahra, maafkan mama. Mama janji tidak akan menyakiti kamu lagi,” sesalku dalam tangis.&lt;br /&gt;Setengah jam sudah rasanya Zahra masuk ke dalam ruangan itu, tapi dokter belum juga keluar dan memberitahukan kami kondisi anakku. Aku bolak balik di depan pintu yang tertutup rapat. Air mataku terus meleleh. Sungguh aku sangat mengkhawatirkan Zahra.&lt;br /&gt;Aku tak mau terjadi hal yang buruk pada anakku. Aku tak mau kehilangan Zahra. “Tuhan, tolong anakku. Ampuni aku ya Tuhan. Beri kesempatan aku untuk terus bersama anakku,” bermacam sesal dan doa keluar dari mulutku.&lt;br /&gt;Mas Jefri menuntun aku duduk. Ia memelukku. “Sudah, mama tenang dulu. Kita sama-sama berdoa, anak kita tidak apa-apa,” ia membujukku.&lt;br /&gt;Dalam isakku, wajah Zahra yang lucu dan disenangi setiap orang yang melihatnya hadir di pelupuk mataku. Anakku yang cantik, manis, pintar dan cerdas, selalu menggemaskan siapa saja. Tapi, selama ini aku sebagai ibunya, malah tidak sadar semua karunia Tuhan yang luar biasa itu. Anakku lebih banyak tumbuh bersama Mbak Numi. &lt;br /&gt;Tapi, anakku beda dengan kebanyakan anak-anak lain yang cenderung dekat kepada pengasuhnya. Anakku masih dekat dan selalu meminta perhatian padaku, tapi malah aku yang hanya punya sedikit waktu untuknya dan lebih mementingkan karirku.&lt;br /&gt;“Permisi, maaf ibu dan bapak orang tua anak yang di dalam tadi ya? Dokter meminta bapak dan ibu ke ruangan beliau,” seorang suster menunjuk ke arah pintu di sebelah ruangan Zahra tadi masuk. &lt;br /&gt;“Terima kasih,” kami berdua bergegas masuk ke ruangan yang ia tunjukan. Seorang dokter pria keluar dari pintu, yang ternyata menghubungkan ruangan di mana Zahra dibawa perawat tadi.&lt;br /&gt;Kami menyalaminya dan memperkenalkan diri. “Dok, bagaimana anak saya?” aku tak sabar mengetahui keadaan Zahra.&lt;br /&gt;Aku tidak sabar melihat dokter yang tampak berusaha tenang dan berusaha tetap tersenyum. “Anak ibu sudah baik, kondisinya sudah normal kembali. Ia sekarang tidur dan hanya perlu dirawat beberapa hari,” ia menatap kami berdua. &lt;br /&gt;“Apa penyakit anak saya dan mengapa ia seperti tadi?” sekarang suamiku yang bertanya.&lt;br /&gt;“Harusnya, saya yang bertanya dulu pada bapak dan ibu. Apa yang terjadi sebelum ia seperti itu?” dokter itu balik bertanya. &lt;br /&gt;Aku menceritakan kejadian pagi tadi, air mataku kembali mengalir dan aku menangis di pangkuan Mas Jefri setelah ceritaku berakhir.&lt;br /&gt;Dokter itu mengangguk-angguk. “Saya sudah menduga sebelumnya dan ternyata tidak jauh meleset. Anak ibu dan bapak hanya terserang step yang disebabkan panas tinggi. Ini biasa terjadi pada anak-anak saat demam, tapi kondisi anak ibu dan bapak tadi, sedikit agak berbeda karena masalah psikisnya yang terguncang melihat sikap ibu yang tidak biasa kepadanya,” dokter menjelaskan kondisi Zahra dan aku makin tersedu.&lt;br /&gt;Aku tidak mendengarkan lagi penjelasan dokter, karena aku tidak sabar bertemu anakku. &lt;br /&gt;“Silahkan, ibu dan bapak sudah boleh bertemu dia. Sekarang sudah dibawa ke ruang perawatan,” ia menyalami kami. &lt;br /&gt;Langkahku terasa panjang menuju ruang perawatan anak yang berada di ujung bangunan. Tak sabar aku membuka pintu kamar yang dicat biru muda itu. Zahra sedang tidur dan wajahnya terlihat pucat, lemah. &lt;br /&gt;Dengan hati-hati aku mencium pipinya, tangannya dan membelai-belai rambutnya. Panas badannya sudah normal. Aku berusaha menahan tangis namun air mataku tetap meleleh. &lt;br /&gt;“Sayank, ini mama. Maafkan mama ya. Mama janji tidak akan menyakiti kamu lagi. Mama janji akan menemani kamu di rumah. Mama tidak akan bekerja lagi, mama janji, Sayank,” aku berbisik di telinganya. &lt;br /&gt;Mas Jefri yang berada di sebelahku, mengusap-ngusap bahuku. “Sudah mama, tak usah merasa bersalah terus. Anak kita sudah baikan, sekarang mama istirahat dulu,” ia membujukku duduk di kursi yang ada di kamar itu. &lt;br /&gt;Aku merasa tenang ketika Mas Jefri memberiku air putih dingin. Perasaanku sudah normal dan pikiranku sudah jernih. Saat itulah aku teringat dengan acara di kantor yang mungkin sudah selesai.&lt;br /&gt;Aku ambil HP yang sejak tadi tak kusentuh di dalam tasku. Ada sebuah pesan, dari Vita. “ Ibu, gimana kabar Zahra? Semoga udah baikan ya ibu. Selamat ibu, acara kita sukses, tadi ibu dapat salam dan ucapan selamat dari wali kota, beliau juga ikut mendoakan Zahra semoga cepat sembuh,” ada rasa bahagia dan haru menyelip di dadaku. Meski tidak hadir ternyata aku masih mendapatkan perhatian dan penghargaan. &lt;br /&gt;Memang, sebelum berangkat ke rumah sakit aku masih sempat meminta Mbak Numi menelpon Vita, memberitahukan kondisi Zahra dan aku batal menghadiri acara yang penting itu.&lt;br /&gt;Aku menghela nafas panjang, aku merasa lega dan dadaku terasa lapang. Aku tidak menyesal karena tidak dapat hadir. Karena, dalam hatiku sudah berjanji, sudah cukup waktuku untuk pekerjaan, sekarang waktuku untuk anak dan keluarga.&lt;br /&gt;Zahra sudah keluar dari rumah sakit. Selama itu aku selalu menemaninya. Sebelum memutuskan keluar dan berhenti bekerja aku minta cuti dua minggu. Zahra juga sudah kembali ke sekolah dan aku yang mengantar jemputnya. Waktuku betul-betul kucurahkan untuknya, sebagai penebus waktu yang sangat jarang untuknya selama ini. &lt;br /&gt;Hari ini, satu bulan sejak Zahra masuk rumah sakit, aku sudah betul-betul menjadi ibu rumah tangga tulen. Tak ada penyesalan saat harus melepas karir di bank yang kurintis dengan penuh perjuangan dari bawah. Bagiku saat ini adalah, menjadi ibu rumah tangga adalah karir juga. Menjadi seorang istri dan ibu adalah karir yang berharga juga. Tak akan berguna karir cemerlang di luar rumah, jika di dalam rumah suami dan anak terabaikan, begitu aku mencoba berfilsafat.&lt;br /&gt;Zahra tampak sangat bahagia bersamaku setiap hari. Aku pun sungguh bahagia melihat anakku yang tumbuh dengan sehat dan ceria serta makin pintar. Aku sendiri merasa seperti orang yang lahir kembali, karena hidupku begitu tenang dan mengalir apa adanya, tanpa dikejar-kejar waktu seperti biasanya.&lt;br /&gt;Rutinitas rumah tangga, tidak membuatku jenuh dan bosan. Rasa cinta kepada suami dan anakku membuatku nyaman menjadi seorang ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;Atas saran dari Mas Jefri yang memintaku mengisi waktu senggang, akhirnya aku membuka toko pakaian dan mainan untuk anak-anak di paviliun samping rumah.&lt;br /&gt;Bisnis seperti itu tidak menyita waktu, karena selain berada di rumah, aku juga masih bisa memberikan perhatian penuh pada Zahra. Pengurusan toko aku percayakan pada dua orang karyawan. Meski masih baru, ternyata tokoku lumayan mendapatkan perhatian dari pengunjung.&lt;br /&gt;Sengaja aku meletakan kuda-kudaan mesin di depan toko, sehingga anak-anak yang ikut bersama orang tuanya bisa bermain, selagi ibu mereka memilih pakaian.&lt;br /&gt;Sekarang, aku kembali bersyukur karena mendapatkan karunia dari Tuhan. Aku hamil lagi dan Zahra akan mendapatkan adik, yang selama ini ia idam-idamkan.&lt;br /&gt;“Mama, mama, adiknya nanti perempuan aja ya kayak Zahra. Biar bisa diajak main boneka-bonekaan,” ia mengusap-ngusap perutku yang masih kempes.&lt;br /&gt;“Iya, Sayank, mudah-mudahan, ya. Kamu rajin berdoa saja, semoga dikabulkan,” jawabku membelai rambutnya yang makin panjang dan lebat. &lt;br /&gt;Meski keinginan Zahra mendapatkan adik perempuan tidak kesampaian, ia tetap sangat senang mengetahui adiknya laki-laki. “Tidak apa-apa kok, Ma, adiknya laki-laki, nanti kalau sudah besar kan bisa melindungi Zahra,” ia menghibur dirinya sendiri. Aku terharu melihat kecerdasan yang jauh di atas anak seusianya.&lt;br /&gt;Yang paling senang juga adalah Mas Jefri, karena mendapatkan jagoan, katanya. “Wah kalau begitu papa nanti ada teman untuk main bola, donk,” kami tertawa bersama. Dalam hati aku tidak henti-henti bersyukur, memiliki keluarga yang utuh, bahagia bersama suami dan anak-anakku. ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-1868062633178025854?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/1868062633178025854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=1868062633178025854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1868062633178025854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1868062633178025854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/cerpen-rumahku-karirku.html' title='Cerpen :Rumahku, Karirku'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8Fru7DU8PI/AAAAAAAAAb4/bIzfg9iClgs/s72-c/Snapshot_20091108_21.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-4905761441004908889</id><published>2010-04-10T22:58:00.000-07:00</published><updated>2010-04-12T20:22:55.345-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cerpen :RUMAH WARISAN</title><content type='html'>Salime menutup pintu setelah tiga orang itu pergi menjauhi rumahnya dengan menggunakan mobil sedan merah. Wanita itu menuju kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. &lt;br /&gt;Ia memejamkan mata, mencoba melepaskan semua penat dan berharap bisa tertidur. Namun setelah lima menit, sepuluh menit dan hampir setengah jam, Salime masih belum bisa tertidur. Matanya memang terpejam tapi pikirannya melayang-layang. Ia teringat kembali perbincangan dengan ketiga tamu yang datang tadi. &lt;br /&gt;Tadi, usai Shalat Zuhur, Salime didatangi oleh tiga orang tamu. Dua laki-laki dan satu wanita. Ketiganya berpakaian rapi, layaknya orang kantoran. Wanita muda berkulit bersih itu membawa sebuah tas kerja dan sebuah map di tangan. Sementara pria yang berdasi merah membawa tas koper berwarna hitam. &lt;br /&gt;“Selamat siang, bisa bertemu dengan Ibu Salime?” ujar tamu yang wanita. Sebuah senyum yang terkesan dipaksakan menyungging di bibir tipis bergincu merah menyala. Sementara kedua pria di belakangnya juga menyungingkan senyum tipis.&lt;br /&gt;“Saya sendiri….ada apa ya?” jawab Salime, sambil lebih lebar membuka pintu rumahnya.&lt;br /&gt;“Boleh kami masuk, lebih baik kita berbicara di dalam saja,” balas wanita itu, tanpa menjawab pertanyaan Salime.&lt;br /&gt;“Oh, silahkan. Masuk saja, silahkan duduk,” Salime tanpa ragu menyilahkan ketiganya masuk. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wanita tadi melirik kepada kedua orang rekannya sebelum memulai bicara. “Saya Susan, dua teman saya ini Farid dan Tarno. Kami dari PT Terus Membangun,” tuturnya sambil menjabat tangan Salime. Kedua pria tadi juga mengikuti.&lt;br /&gt;Sebelum Salime bertanya tujuan kedatangan mereka, wanita yang menjadi juru bicara tadi melanjutkan pembicaraan. Katanya, mereka diutus kantor mereka untuk menemui Salime guna menawarkan jual beli tanah dan rumah yang saat ini dihuni oleh Salime. Perusahaan mereka yang bergerak dalam bidang pengembang perumahan, pertokoan dan perkantoran itu, kata Susan, bersedia menawar dengan harga tinggi. &lt;br /&gt;“Kami tahu, tanah dan rumah ini nilainya pasti tinggi. Karena berada di tempat strategis, sebab di sekitar sini pada umumnya sudah berdiri pertokoan dan perkantoran. Jadi kami bersedia menawar dengan harga tinggi. Bagaimana, Ibu?” tutur Susan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.&lt;br /&gt;Dalam hatinya Susan yakin, kalau jurus merayu yang sudah beberapa kali diterapkan itu pasti akan berhasil membujuk Salime. Karena beberapa kali ia berhasil membeli rumah dan tanah tanpa kesulitan dengan cara menawarkan harga tinggi.&lt;br /&gt;Salime mengernyitkan dahinya. Ia bingung karena selama ini ia tidak pernah merasa akan menjual tanah dan rumahnya. Jangankan menjual, berniat pindah dari rumah warisan suaminya itu saja ia tidak pernah.&lt;br /&gt;“Maaf, mungkin ibu salah orang. Saya tidak berniat untuk menjual rumah dan tanah ini. Mungkin Salime yang ibu cari adalah orang lain, bukan saya,” Salime menduga ketiga tamunya itu salah orang.&lt;br /&gt;Ketiga tamunya tadi saling berpandangan. Susan kembali berbicara, “Hmm, tidak. Kami tidak salah orang. Memang mungkin ibu selama ini belum ada rencana menjual tanah dan bangunan ini. Tapi kami ingin membelinya dengan harga tinggi dan ibu bisa membeli rumah yang baru. Atau ibu bisa membeli rumah yang kami bangun. Harganya kami bisa pertimbangkan untuk ibu,” Susan memberi kode pada lelaki yang ada di sampingnya.&lt;br /&gt;Pria berkacamata itu membuka koper hitam yang dari tadi diletakan di atas meja tamu. Ia menghadapkannya ke arah Salime yang kontan terkejut melihat uang kertas pecahan seratus ribu  begitu banyak.&lt;br /&gt;“Uang ini ada lima puluh juta rupiah, kalau ibu setuju ini bisa kami jadikan panjar untuk membeli rumah dan tanah ini. Nanti sisanya kami bayarkan kalau semua proses jual beli sudah selesai. Bagaimana, Ibu?” &lt;br /&gt;Salime tidak menjawab, ia hanya diam. Rasa terkejut masih belum sirna sepenuhnya. Sementara ketiga tamunya saling lirik dan yakin Salime akan menerima tawaran mereka.&lt;br /&gt;“Ibu Salime sedang tidak melamunkan?” pertanyaan Susan kali ini mengejutkan Salime yang masih bengong.&lt;br /&gt;“Ohh…maaf. Saya…saya tidak bisa memutuskannya sekarang. Maaf ya,” Salime tergagap dan menghapus keringat di keningnya.&lt;br /&gt;“Oke ibu, tidak apa-apa. Ibu masih perlu berpikir ulang dulu berapa harga jual tanah dan rumah ini. Yang jelas kami akan membeli dengan harga tinggi,” Susan begitu yakin kalau kebingungan Salime barusan, karena tidak pernah membayangkan akan memiliki uang ratusan juta dalam sekejap. Susan teramat yakin kalau Salime tentu menerima tawarannya.&lt;br /&gt;“Oh…ya, mungkin…oh tidak…hmm…nanti saja,” ucapan yang keluar dari mulut Salime belepotan, tidak jelas.&lt;br /&gt;Tapi oleh Susan hal itu dianggap sebagai sinyal bahwa mereka memiliki peluang besar. “Baik ibu. Mungkin satu minggu dari sekarang kami akan datang lagi. Silahkan ibu berpikir dulu, nanti jika kami datang lagi kami yakin uang ini sudah ada di tangan ibu,” Susan mengumbar tawa dan diikuti oleh kedua temannya.&lt;br /&gt;Salime mengangguk-angguk dan hanya sebuah senyuman kecil mengembang di bibirnya. Susan bangkit diikuti oleh kedua temannya dan berpamitan kepada Salime yang masih duduk.&lt;br /&gt; “Ibu jangan bingung gitu, donk. Mau dikasih uang jangan kaget. Senang donk, Bu, bisa untuk masa depan,” kembali Susan melancarkan jurus mautnya.&lt;br /&gt;“Iya, terima kasih,” Salime mengantarkan ketiga tamunya itu sampai di teras depan. Ia terus menatapnya hingga ketiganya menaiki mobil yang di parkir di tepi jalan besar.&lt;br /&gt;Salime mengembuskan nafas panjang dan membalikan tubuhnya ke arah dinding tempat pinggir ranjangnya menempel. Ia menatap foto mendiang suaminya, Yunus, yang seakan selalu memandang dirinya penuh kasih sayang. Laki-laki berkumis tipis di dalam foto itu telah mendahului menghadap yang kuasa tujuh tahun silam.&lt;br /&gt;Pria yang begitu dicintainya itu yang mewariskan rumah berikut tanah yang kini ditempatinya. Suaminya juga mendapatkan tanah dan rumah itu dari warisan orang tuanya. Bahkan konon rumah ini juga berasal dari kakek suaminya. &lt;br /&gt;Sebelum meninggal dunia, suami Salime pernah berpesan jika rumah dan tanah yang mereka tempati saat ini akan menjadi hak Yahya, anak laki-laki mereka. Salime dikarunia tiga orang anak, anak pertama dan kedua perempuan sementara  yang bungsu laki-laki. Jadi sesuai adat dan kebiasan, rumah dan tanah itu nantinya juga akan diwariskan ke Yahya.&lt;br /&gt;Kedua anak perempuannya, Hesti dan Tina sudah menikah dan dikarunia anak. Keduanya mengikuti suaminya menetap di kota yang sama. Sementara si bungsu, Yahya, masih kuliah dan tinggal bersamanya di rumah yang cukup besar itu.&lt;br /&gt;Rumah yang ditempati Salime berarsitektur tua. Bangunan rumah itu berbentuk panggung namun permanen. Di bagian depan ada teras yang luas dan dipagari tembok teralis. Di atas pagar itu diletakan bermacam-macam jenis bunga dalam pot. Ada dua perangkat kursi dari kayu di sana yang biasa digunakan duduk-duduk atau menerima tamu yang akrab.&lt;br /&gt;Untuk menaikinya, ada tangga di kiri kanan bagian samping dan depan bangunan. Bagian dalam rumah itu luas, memanjang ke belakang. Ruang tamunya hampir sama luasnya dengan teras. &lt;br /&gt;Di dalamnya juga ada kursi tamu dari kayu model lama, namun dilapisi busa yang ditutupi kain bercorak bunga-bunga warna merah tua. Jendela rumah terbuat dari kayu tanpa kaca. Di dinding rumah terdapat sejumlah foto-foto keluarga dari dua generasi keluarga almarhum suaminya.&lt;br /&gt;Empat kamar besar saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah lorong. Dulu semua kamar itu ada penghuninya. Namun sekarang hanya dua kamar yang diisi, kamar yang ditempati Salime dan kamar Yahya. Meski dua kamar yang lain kosong, tapi setiap hari Salime masih membersihkan dan menata tempat tidurnya. Sesekali jika Hesti dan Tina memboyong keluarga mereka berlibur, kamar itu akan kembali terisi.&lt;br /&gt; Di bagian belakang rumah yang dihubungkan dengan lorong tadi, ada ruang terbuka seperti teras depan. Namun ukurannya lebih luas. Tapi ruangan keluarga dan sekaligus ruangan makan ini tidak ditutupi tembok mati seluruhnya. Setengah tembok itu memiliki lobang-lobang angin berbentuk segi enam, sehingga baik orang dari luar maupun yang berada di dalam saling bisa melihat. &lt;br /&gt; Ruangan belakang itu dihubungkan dengan sebuah jembatan yang beratap ke bangunan lain sepanjang lima meter. Jembatan itu di kiri-kanannya dipagari teralis kawat besar.&lt;br /&gt;Bangunan itu adalah dapur dan kamar mandi. Di dekat tempat memasak juga tidak ditembok mati. Ada lubang angin di beberapa sisinya. Dapurnya luas. Kamar mandinya ada dua.&lt;br /&gt;Di sebelah kanan bangunan, berjarak sekitar 15 meter dan sejajar dengan bangunan dapur, ada bangunan yang terdiri dari dua kamar. Bangunan itu difungsikan untuk mushala dan tempat mengaji anak-anak tetangga. &lt;br /&gt;Dulu kedua mertuanya yang mengajar mengaji anak-anak itu. Salime dan suami juga sering membantu mengajar. Semenjak anaknya sudah besar dan sang suami sudah berpulang, Salime sendirian yang mengajar anak-anak itu mengaji. Yahya hanya sesekali membantu. &lt;br /&gt;Mendiang suaminya pernah mengatakan, perancang rumah itu adalah kakeknya. Waktu itu suaminya tidak pernah memberitahukan mengapa rumah itu dibangun seperti itu. “Kamu akan tahu jawabannya setelah tinggal di dalam rumah ini,” ujar suaminya ketika pertama kali memboyong Salime ke rumah itu setelah pernikahan mereka.&lt;br /&gt;Waktu itu kedua orang mertuanya yang sudah lanjut usia masih ada. Suami Salime hanya dua bersaudara dan merupakan anak bungsu. Karena anak laki-laki dan satu-satunya,  jadi suaminya yang berhak atas rumah itu.&lt;br /&gt;Sejak malam pertama tinggal di rumah besar itu, Salime sudah mulai mendapatkan jawabannya. Rumah itu sangat nyaman untuk ditinggali. Bagaimana tidak, rumah itu berdiri di tanah yang sangat luas.&lt;br /&gt;Meski berada di tepi jalan besar, namun suara kendaraan yang lalu lalang tidak mengusik istirahat penghuninya. Rumah itu dibangun jauh di tengah pekarangan yang luas tersebut. Ada sekitar tiga puluh lima meter dari jalan besar. Tanah itu dikelilingi pagar tanaman hidup. Dari jalan besar, ada jalan kecil yang terbuat dari batu kali yang disemen. &lt;br /&gt;Di sekeliling rumah itu ditanami aneka pohon, ada pohon buah-buahan dan pohon pelindung. Di bagian kanan ada kebun kecil yang ditanami bermacam sayuran, dari mulai kacang panjang, ubi kayu, pare, cabe rawit dan tanaman untuk bumbu dapur. &lt;br /&gt;Di bagian sudut belakang ada kandang ayam yang terbuat dari kayu. Kandang itu langsung berlantai tanah dan hanya beratap setengahnya. Sehingga ayam-ayam seperti hidup di alam terbuka. Di sebelah kandang ayam ada kolam yang di dalamnya dipelihara ikan lele.&lt;br /&gt;Salime merasa tinggal bukan di sebuah kota besar, tapi seperti di desa. Seperti di kampung asal orangtuanya tempat ia dibesarkan. Karena meski berada di kota besar ia tidak kehilangan pepohonan, kokok ayam di pagi hari serta desau dedaunan yang menghantarkan angin segar ke dalam rumah&lt;br /&gt;Salime kembali membalikan badannya. Sekarang ia menghadap jendela besar di kamarnya yang langsung menghantar pemandangan ke pekarangan. Matanya masih menerawang seakan menembus nun jauh ke desanya.&lt;br /&gt;Masih jelas diingatannya saat sang mendiang suaminya yang bertugas mengajar di desa, melamar dan mengajak dirinya menikah. Saat itu suaminya mengatakan, setelah menikah mereka akan pindah ke kota, ke tempat asal suaminya. &lt;br /&gt;Tapi waktu itu Salime sempat menolak, ia tidak mau pindah ke kota. Setahu Salime, kota itu gersang, panas, sebab pepohonannya sudah habis ditebang. Bahkan hutan lindung pun dibabat untuk dijadikan pabrik, perumahan dan pertokoan.&lt;br /&gt;Salime tetap ingin di desanya yang asri, yang masih hijau. Salime tidak mau kehilangan kokok si Burik, ayam jantan bapaknya, di setiap subuh. Salime tidak mau kehilangan desau dedaunan di depan rumahnya, yang memberikan kesejukan dan kedamaian penghuninya. &lt;br /&gt;Salime juga tidak mau kehilangan air pancuran yang mengalir jernih di belakang rumahnya. Pokoknya Salime tidak mau ke kota karena ia pasti tidak bisa memakan sayuran segar yang dipetik di kebun. Karena di kota sayuran sudah diberi pengawet dan tidak lagi segar. &lt;br /&gt;Namun mendiang suaminya membujuk dan menyakinkan Salime kalau dia akan tetap memiliki apa yang ia dapatkan di desa selama ini. Kata suaminya pada waktu itu, tidak semua tempat di kota seperti yang dibayangkan Salime. Masih ada tempat yang seperti Salime inginkan.&lt;br /&gt;Bahkan suaminya bersedia berjanji, jika apa yang ia katakan tidak seperti yang Salime lihat nanti di kota, maka mereka akan kembali ke desa. Karena janji suaminya itu Salime bersedia meninggalkan Mak, Bapak, dan adik-adik serta suasana desanya.&lt;br /&gt;Ternyata apa yang dikatakan suaminya benar, Salime tidak menyangka kalau di kota masih ada rumah dengan pekarangan luas yang ditanami bermacam pohon. Ada kebun sayuran, ada kolam ikan dan kandang ayam. &lt;br /&gt;Salime tersenyum mengingat semua itu. Ia kembali membalikan tubuhnya, telentang memandang langit-langit kamar. Salime mencoba kembali memejamkan matanya yang berat, tapi pikirannya tetap melayang-layang.&lt;br /&gt;Waktu kedua mertuanya masih ada, Salime yang menjadi ibu rumah tangga tulen juga membantu membersihkan halaman yang luas. Dedaunan yang gugur dijadikan pupuk kompos untuk menyuburkan sayuran. &lt;br /&gt;Ketika anak-anaknya sudah besar, mereka juga ikut membantu membersihkan sekeliling rumah itu serta merawat tanaman dan ternak. Sementara sang suami hanya bisa membantu pada hari minggu saat libur mengajar. &lt;br /&gt;Suaminya seorang guru sekolah menengah berpangkat rendah. Gaji yang rendah mengharuskan sang suami untuk mengajar di sekolah lain di waktu sore. Salime dan suaminya bertekad bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi, menjadi sarjana. &lt;br /&gt;Untuk menambah biaya sekolah anak, Salime juga membantu suami menabung dari uang hasil kebun, telur ayam dan lele. Salime tidak menjual langsung ke pasar, tapi sudah ada orang yang datang ke rumah untuk membeli.&lt;br /&gt;Semua jerih payahnya menunjukan hasil. Kedua anaknya berhasil menjadi sarjana dan bekerja. Sekarang si bungsu Yahya juga hampir menamatkan kuliah dari hasil uang pensiun ditambah hasil kebun dan ternak.&lt;br /&gt;Kini, sejak suaminya meninggal dan dua anak perempuannya menikah, hanya Salime seorang yang membersihkan pekarangan yang luas itu. Yahya tidak setiap hari membantu, karena ia sibuk dengan kuliah. Bagi Salime hal itu tidak masalah, asal anaknya kuliah sungguh-sungguh dan berhasil menjadi sarjana. &lt;br /&gt;Setiap hari selepas Subuh, Salime mengambil sapu lidi. Menyapu pekarangan dan mengumpulkan dedaunan yang gugur. Dedaunan itu dimasukan ke dalam lubang, sebelum diolah jadi kompos. &lt;br /&gt;Meski melelahkan, karena usianya yang sudah tua, tapi Salime tetap senang melakukan rutinitas itu. Baginya kegiatan menyapu pekarangan setiap pagi itu adalah olahraga yang menyehatkan karena mengeluarkan keringat. &lt;br /&gt;Ketika mentari mulai mengintip di balik rimbunnya dedaunan, Salime sudah selesai menyapu sekeliling rumah dan memberi makan ayam dan lele. Sambil beristirahat di teras depan, Salime menyantap sarapan yang dibeli dari penjaja keliling yang setiap pagi menyinggahi rumahnya.&lt;br /&gt;Ditemani secangkir teh hangat, Salime menghabiskan sarapan sambil memperhatikan kesibukan lalu lalang kendaraan di depan rumahnya. Rutinitas Salime dilanjutkan dengan membersihkan bagian dalam rumah serta mushala kecil.&lt;br /&gt;Mushala itu adalah peninggalan kakek suaminya. Sejak dibangun, mushala itu selalu menjadi tempat shalat seluruh anggota keluarga. Bahkan anak-anak tetangga ikut mengaji di situ. Sekarang anak-anak yang belajar mengaji semakin sedikit. &lt;br /&gt;Setelah merapikan rumah, Salime meneruskan rutinitasnya memasak untuk makan siang dan malam. Biasanya menjelang Zuhur, Salime sudah selesai memasak dan makan siang. Selesai sholat, Salime menghabiskan waktunya untuk istirahat dan tidur siang melepas penat, sampai menjelang Ashar. &lt;br /&gt;Ba’da Ashar anak-anak yang mengaji akan datang dan Salime harus mengajarnya hingga menjelang Magrib. Begitulah hari-hari yang dilalui Salime di rumah warisan penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suara bocah-bocah di luar rumah yang mulai berdatangan untuk mengaji mengejutkan Salime dari lamunan panjangnya. Ia melirik jam dinding, ternyata sudah hampir pukul empat sore.&lt;br /&gt;Salime ingat ia belum Shalat Ashar. Bergegas ia mengambil air wudhu. Di mushalla anak-anak yang diajarnya sudah menunggu, duduk bersila di depan meja kecil tempat meletakan Al Quran. Kini Salime larut dalam dalam keseriusannya mengajarkan bocah-bocah itu mengenal dan merangkaikan huruf-huruf Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  ***&lt;br /&gt;Pagi itu Salime bangun dengan rasa penat dan tidak sesegar biasanya. Tapi kewajiban setiap selesai Sholat Subuh, memaksanya untuk turun dari tempat tidur. Sebelum melangkah ke dapur, ia membuka pintu kamar Yahya. Anak bujangnya itu ternyata masih pulas.&lt;br /&gt;Tadi malam Salime memang tidak menunggu sampai Yahya pulang. Biasanya mereka makan malam berdua, menonton bersama sambil bercerita. Selepas Isya Salime telah menelpon Yahya, ia mengatakan lebih dahulu tidur karena kurang enak badan. Jadi Yahya akan membuka pintu dengan kunci cadangan yang dibawanya sendiri, dan makan malam tanpa ditemani Salime.&lt;br /&gt;Salime merasakan kakinya sedikit pegal dan sakit. Salime yakin encoknya mulai kambuh. Tapi tebaran dedaunan yang menjadi pemandangan setiap hari memaksanya untuk mengayunkan sapu lidi. &lt;br /&gt;Salime menselonjorkan kakinya di atas kursi. Pegal dan penat semakin terasa. Salime mengurut-ngurut kakinya sambil menunggu penjual sarapan datang.&lt;br /&gt;Sejak dua tahun terakhir Salime menderita encok. Rasa pegal dan penat sering ia rasakan dan itu sangat menyiksa jika kambuh. Pernah ia terbaring empat hari. Anak-anaknya meminta Salime tidak perlu menyapu pekarangan selepas Subuh.&lt;br /&gt;“Ibu tidak usah menyapu pekarangan lagi. Udara pagi kan sangat dingin, apalagi di lingkungan rumah kita yang banyak pohon-pohon ini. Itu mungkin yang menyebabkan ibu menderita encok. Pekarangan ini diupahkan pada orang lain saja yang membersihkannya, biar kami yang membayar,” tutur Tina waktu itu. &lt;br /&gt;Tapi Salime tidak mau menuruti permintaan anak-anaknya. Salime merasa jika ia masih sanggup untuk mengerjakan semua rutinitas itu, ia akan tetap melakukannya. Salime merasa lebih bangga melakukannya dengan tangannya sendiri. Semua itu ia lakukan sebagai wujud kecintaannya dan menjalankan pesan sang suami. &lt;br /&gt;“Jadikanlah rumah ini surga bagi kita dan anak-anak kita. Aku yakin kedua tanganmu ini akan bisa membuat rumah ini tempat yang paling menyenangkan bagi aku dan anak-anak kita,” begitu pesan sang suami, saat mertuanya menyatakan rumah itu telah sah menjadi hak suaminya.&lt;br /&gt;Pernah juga kedua anaknya yang sudah menikah itu mengusulkan agar sebahagian tanah itu dijual saja, sehingga Salime tidak terlalu capek mengurusnya. Tapi Salime tidak menanggapi. Ia tidak ingin warisan yang sudah turun temurun berpindah ke orang lain. &lt;br /&gt;Memang suaminya tidak pernah mengatakan larangan bagi Salime jika ingin menjual sebahagian dari tanah warisan itu. Tapi Salime tahu diri, sebagai seorang istri yang mengurus peninggalan suami, hal itu tidak mungkin dilakukannya. &lt;br /&gt;Menjual sebahagian harta benda warisan bagi Salime berarti ikut menjual kenangan yang sudah terangkai 33 tahun sejak ia pertama kali tinggal di sana. Rumah dan pekarangan yang luas itu bagi Salime bagaikan sebuah ruh yang menghidupi raganya.&lt;br /&gt; Pernah juga kedua anak perempuannya itu meminta agar Salime tinggal dengan mereka. Salime di rumah Tina dan Yahya ikut dengan Hesti. Rumah dan pekarangan disewakan pada orang lain. Jika sudah waktunya Yahya menikah, rumah itu diambil kembali. &lt;br /&gt; Tapi Salime tetap tidak mau mengikuti permintaan kedua anaknya itu. Salime tetpa bersikeras tinggal di rumah warisan itu. Salime tidak peduli tetangga-tetangganya yang mengatakan dirinya aneh. Karena tetangga kiri kanan dan seberang jalan sejak tiga tahun lalu sudah pindah ke komplek perumahan yang sedang marak dibangun.&lt;br /&gt; Rumah dan tanah mereka dijual kepada orang lain dan digantikan dengan bangunan bertingkat. Pada umumnya jadi tempat perkantoran dan pertokoan. Praktis di sekitar situ hanya rumah Salime dengan pekarangan yang luas terjepit di antara bangunan bertingkat itu. &lt;br /&gt; Waktu itu tidak ada yang menawarkan Salime untuk menjual rumah dan tanahnya. Mungkin para pembeli itu adalah perorangan yang terbatas keuangan, sehingga mereka berpikir panjang untuk menawar rumah dan tanah Salime yang nilai jualnya pasti sangat mahal. &lt;br /&gt; Namun saat itu Salime tetap bulat hati tidak akan menjual rumah dan tanah miliknya. Meski pun begitu, Salime masih punya toleransi dan tenggang rasa. Dua tahun lalu ada pelebaran jalan. Pagar Salime ikut terkena proyek. &lt;br /&gt; Salime tidak pernah meminta ganti rugi. Baginya demi kepentingan umum ia rela berkorban tanah selebar lima meter. Meski harus kembali menanam tanaman hidup untuk pagar, Salime tetap tidak menyesal merelakan tanahnya terkena imbas pelebaran jalan.&lt;br /&gt; Sekarang Salime hanya punya tetangga yang berada di bagian belakang pekarangannya yang luas. Kira-kira 15 meter ke belakang dari batas pagar tanahnya ada pemukiman kecil warga. Melalui jalan pintas setapak dari belakang pekarangannya itulah Salime biasanya menuju pemukiman itu, untuk arisan atau wirid mingguan. &lt;br /&gt;“Ibu, pagi-pagi sudah melamun. Tumben ada apaan?” suara Mariyam, penjual sarapan, mengejutkan Salime yang sejak tadi menerawang. &lt;br /&gt;“Ehh….Bu Mariyam sudah dari tadi, ya?” &lt;br /&gt;“Tidak, Bu. Baru saja. Ibu mau sarapan apa hari ini?” Mariyam yang hampir sepantaran Salime membuka keranjang yang dibawanya. &lt;br /&gt;Salime mengambil dua bungkus nasi lemak ditambah tahu dan tempe goreng. Sarapan itu untuk berdua dengan Yahya. Setelah menerima uang, Mariyam pergi tanpa lupa mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt; Yahya muncul dari dalam. Ia sudah tampak segar karena baru selesai mandi. Anak muda yang mewarisi wajah mendiang bapak itu duduk di depan ibunya. “Ibu tadi malam kenapa tidur cepat, encoknya kambuh ya?” tanya Yahya sambil membuka bungkus daun berisi nasi lemak. &lt;br /&gt; “Iya sedikit, nanti tolong kamu urut ya?” &lt;br /&gt; Yahya tidak menjawab, hanya memberi tanda isyarat mata, karena mulutnya penuh makanan. &lt;br /&gt; Salime hendak merapikan rumah seperti biasanya, tapi dicegah Yahya. Katanya Salime istirahat saja dan dia yang akan merapikan rumah. &lt;br /&gt; “Ibu istirahat saja, nanti saya urut kaki ibu dan diolesi param.” &lt;br /&gt; “Memang kamu tidak kuliah?”&lt;br /&gt; “Masuk siang.”&lt;br /&gt; Sembari mengurut dan mengolesi bedak param ke kaki Salime, Yahya membujuknya untuk pindah ke rumah salah seorang kakaknya. Yahya juga membujuk rumah dan tanah itu disewakan saja. Bahkan yang membuat Salime kaget, Yahya mendukung penuh jika Salime ingin menjual rumah dan tanah yang akan jatuh ke tangannya itu. &lt;br /&gt; “Kondisi zaman sudah berubah, Bu. Anak-anak muda sekarang lebih suka yang praktis dan simpel. Kalau saya bekerja, menikah dan punya istri yang bekerja juga, tidak mungkin tinggal di rumah seperti rumah kita sekarang,”&lt;br /&gt; Kata Yahya, jika ingin tetap memiliki rumah dengan konsep alami, bisa juga ditemukan pada sejumlah perumahan, tapi dengan luas pekarangan yang tidak seperti rumah Salime saat ini.&lt;br /&gt; Salime tidak berkomentar. Dalam hatinya Salime begitu sedih dan bingung. Mengapa anak-anak sekarang tidak menghargai sejarah. Bagi Salime rumah dan pekarangan yang luas itu menyimpan berjuta sejarah. &lt;br /&gt; Sejarah dari kakek dan nenek suaminya, sejarah orangtua suaminya dan sejarah keluarganya juga. Di rumah itu ketiga anak-anaknya dilahirkan, dibesarkan hingga dewasa.&lt;br /&gt; Begitu banyak suka dan duka yang dilewati bersama di rumah itu. Rumah yang tidak tergantikan dengan nilai rupiah. Salime bahkan berharap, Yahya akan melanjutkan apa yang telah berlaku di keluarga itu selama turun temurun.&lt;br /&gt; Membawa istrinya kelak tinggal di rumah itu. Mengurus tanaman dan ternak serta mengajar anak-anak mengaji. Tapi kondisi zaman sepertinya telah merubah pola pikir generasi sekarang. Mereka lebih memprioritaskan kerja, baik laki-laki dan wanita yang seharusnya mengurus rumah tangga. Sehingga mengurus rumah menjadi urusan pembantu. &lt;br /&gt; “Ibu marah ya? Maaf ya, Bu. Saya tidak memaksa. Tapi semua kan demi kesehatan ibu. Lihat sekarang karena sering kena embun dan dinginnya udara pagi, encok ibu sering kambuh kan,” ucapan Yahya menghentikan lamunan Salime.&lt;br /&gt; “Ya udah…ibu mau istirahat dulu,” Salime tidak mau membahasnya lebih jauh.      &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Azan Zuhur bergema, Salime terbangun dari tidurnya. Tapi saat hendak turun dari ranjang, ia kesulitan. Kakinya terasa berat dan kaku. Salime mencoba sekali lagi, tapi tetap tidak bisa.&lt;br /&gt; Salime memangil Yahya. Anak bujangnya itu datang dan terkejut melihat ibunya meringis menahan sakit. Yahya menelpon klinik yang tidak jauh dari rumah. Tak lama kemudian sebuah mobil datang menjemput. Salime dibawa ke klinik dan Yahya memberitahukan Tina dan Hesti tentang kondisi Salime.&lt;br /&gt; Mereka berdua datang ketika Salime telah selesai diperiksa. Hesti dan Tina menemui dokter. Kata dokter ibu mereka harus lebih banyak istirahat mengingat usia Salime yang sudah hampir 60 tahun.&lt;br /&gt; “Kata dokter ibu harus banyak istirahat, tidak perlu memaksakan diri mengurus rumah dan pekarangan. Kalau mau keluar keringat sekedar saja, jangan masih subuh. Udaranya dingin. Ibu tak perlu memaksakan turun ke pekarangan,” ujar Tina ketika menemui Salime di ruang perawatan. &lt;br /&gt; Salime tidak menjawab, ia hanya mengangguk-angguk dan begantian menatap ketiga anaknya yang mengkhawatirkan dirinya.&lt;br /&gt; “Ibu mau pulang saja, istirahat di rumah,” Salime akhirnya buka mulut, ketika ketiga anaknya selesai  mengutarakan pendapat mereka tentang kesehatan Salime.&lt;br /&gt; Ketiga anaknya tidak berusaha mencegah, karena tahu sifat keras kepala ibu mereka. Demi menjaga perasaan sang ibu yang sudah tua, mereka mengalah dan membawa Salime kembali ke rumah. &lt;br /&gt; Kebetulan akhir pekan, Tina dan Hesti memboyong keluarga mereka ke rumah. Salime terhibur dengan kedatangan anak-anak, menantu dan tiga orang cucunya. &lt;br /&gt; Salime merasa kembali pada masa lalu, rumah yang ramai dengan suara anak-anaknya. Salime membayangkan jika suaminya masih hidup, tentu suasana rumah akan semarak. Sang suami suka bercerita dan bercanda menghibur mereka sekeluarga.&lt;br /&gt; Mengingat semua itu, Salime semakin tidak ingin menghapus semua kenangan indah di rumahnya. Ia merasa semakin mencintai rumah dan tidak ingin meninggalkannya meski sehari saja. &lt;br /&gt; Tapi pemikiran Salime tetap berbeda dengan ketiga anak-anaknya. Mereka tetap menginginkan Salime ikut salah seorang dari mereka. &lt;br /&gt; “Ibu lihat, ada seorang ibu yang tinggal sendirian terluka parah dianiaya perampok yang memasuki rumahnya,” seru Tina sambil menunjuk ke arah televisi yang sedang menayangkan berita kriminal. &lt;br /&gt; “Dia saja tinggal di komplek perumahan, masih bisa kena rampok. Apalagi ibu yang tinggal di rumah sebesar ini. Aduh saya jadi khawatir, ibu ikut saya saja, ya?” kali ini giliran Hesti yang berbicara.&lt;br /&gt; “Musibah itu bisa terjadi di mana saja, di tengah banyak orang pun jika kena mau mendapat musibah akan terjadi. Yang penting selalu berdoa dan minta perlindungan Tuhan,” Salime tidak terpengaruh kekhawatiran anak-anaknya. &lt;br /&gt; Ketiga anak Salime yang menemaninya beristirahat hanya bisa saling pandang dan geleng-geleng kepala melihat sikap ibu mereka yang keras bagai batu. Suara dering telepon mengejutkan mereka yang asyik menyaksikan tayangan televisi.&lt;br /&gt; “Dari Susan, katanya mau berbicara dengan ibu,” Yahya menyerahkan gagang telepon pada Salime.&lt;br /&gt; Ternyata yang menelpon adalah Susan, wanita dari PT Terus Membangun yang tempo hari pernah datang menawarkan jual beli rumah kepada Salime. Sebelum menuturkan keperluannya, wanita itu meminta maaf karena hari minggu yang merupakan hari libur masih tetap melakukan urusan bisnis.&lt;br /&gt; “Maklum, Bu. Orang bisnis tidak tahu hari libur. Maaf ya kalau mengganggu,” terdengar suara yang diselingi tawa kecil diseberang.&lt;br /&gt; “Ia tidak apa-apa. Hmm…ada apa ya? Salime mencoba bertanya,” meski ia sudah meraba maksud wanita di seberang telepon.&lt;br /&gt; Susan mengatakan, ia hanya ingin mengetahui bagaimana perkembangan pemikiran Salime selama beberapa hari ini. Apakah sudah pasti untuk menerima tawarannya guna menjual rumah dan pekarangannya.&lt;br /&gt; “Hmmmm……” Salime diam sejenak dan memandang ketiga anaknya yang sejak tadi memperhatikan pembicaraannya.&lt;br /&gt; “Gimana, Bu?” suara Susan tidak sabar.&lt;br /&gt; “Nanti saja, jika anda sudah datang kembali ke tempat saya. Nanti keputusan akan saya berikan,” jawab Salime akhirnya.&lt;br /&gt; “Terima kasih ibu, semoga keputusan ibu tidak mengecewekan kami.” &lt;br /&gt; “Mudah-mudahan,” balas Salime, yang disambut rasa senang di seberang sana. Susan begitu yakin Salime akan menerima tawarannya.&lt;br /&gt; Yahya mengambil gagang telepon dari Salime. Tapi ia tidak langsung meletakannya ke tempat semula, namun mengungkapkan keingintahuannya yang dari tadi dipendamnya.&lt;br /&gt; “Sepertinya telepon dari perusahaan pengembang perumahan, memangnya ada apa, Bu? ibu ada rencana menjual tanah dan rumah ini?” anya Yahya dengan nada tidak percaya. &lt;br /&gt; Sementara Hesti dan Tina juga memandang tidak percaya ke arah Salime. Beragam pertanyaan juga muncul di benak mereka atas telepon barusan.&lt;br /&gt; Salime tidak menjawab, ia hanya menghembuskan nafasnya dan memperbaiki duduknya.&lt;br /&gt; “Ibu tolonglah cerita pada kami,” Hesti mendesak Salime yang tampak menerawang.&lt;br /&gt; “Baiklah,” akhirnya Salime mau bercerita juga.&lt;br /&gt; Ia menceritakan tentang kedatangan Susan dan dua orang rekannya tempo hari. Salime juga menceritakan tentang panjar yang ditawarkan mereka, dan rencana kedatangan mereka tiga hari mendatang guna mendengarkan kepastian dari Salime.&lt;br /&gt; “Trus…..apa keputusan, Ibu,” Yahya tak sabar &lt;br /&gt; “Ibu belum memberikan keputusan, tapi sepertinya ibu akan tetap dengan tekad ibu selama ini. Ibu tidak akan pernah menjual warisan almarhum bapak kalian,” jawab Salime pelan tapi tegas.&lt;br /&gt; Ketiga anaknya hanya diam mendengarkan jawaban Salime. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing tentang. Suasana hening sejenak. Di luar hanya terdengar suara cucu dan menantu Salime yang bersenda gurau bermain di halaman.&lt;br /&gt; “Ibu…apa tidak sebaiknya ibu mempertimbangkan dan memikirkan kembali tawaran perusahaan tadi,” Yahya memecahkan keheningan. &lt;br /&gt; Yahya menyampaikan sejumlah alasannya, yang beberapa kali pernah Salime dengar dari mulut anak bujangnya itu. Bahkan kali ini ada beberapa alasan yang belum pernah didengar Salime. &lt;br /&gt; “Coba ibu lihat, di depan, samping kiri dan kanan rumah kita ini semuanya ruko, menjadi perkantoran dan tempat usaha. Kota ini makin berkembang, Bu. Bahkan dalam waktu dekat daerah sepanjang jalan raya ini sekitar tempat tinggal kita ini akan ditetapkan dalam kawasan niaga dan jasa pada tata ruang kota ini. Jadi di daerah kita ini tidak ada pemukiman, kecuali pemukiman yang berada jauh dari jalan raya, seperti yang di belakang rumah kita,” Yahya memaparkan panjang lebar.&lt;br /&gt; Yahya juga kembali menyatakan rasa tidak keberatannya jika rumah dan tanah itu dijual Salime. Toh ia juga menyatakan kelak tidak akan menetap di rumah itu dan memilih tinggal di komplek pemukiman.&lt;br /&gt; “Kami terserah ibu dan Yahya, kami tidak mau ikut campur terlalu jauh. Yang kami pikirkan sekali adalah kesehatan ibu, karena itu kami menawarkan ibu tinggal di rumah kami,” Hesti menimpali. &lt;br /&gt; Salime diam, dalam hatinya ia merasa ada benarnya kata anak-anaknya barusan. Tapi jauh di hati kecilnya, ia tidak dapat meninggalkan rumah tanah warisan mendiang suaminya itu. Ada cinta yang begitu besar, seperti besarnya cinta ia kepada bapak dari anak-anaknya itu. &lt;br /&gt; “Baiklah, pendapat kalian akan ibu pertimbangkan. Mungkin sudah saatnya ibu mengalah. Toh, kalian juga yang akan mengurus semua peninggalan di sini,” Salime akhirnya membuka suara. Ada kepasrahan di dalamnya.&lt;br /&gt; “Maaf ibu, bukan maksud kami memaksa ibu. Tapi kondisi saat ini yang mungkin harus meninggalkan rumah ini. Tapi bukan berarti meninggalkan semua kenangan indah selama ini, Bu. Kami dan cucu-cucu ibu, adalah kenangan dan warisan yang berharga juga kan,” Tina yang dari banyak diam akhirnya buka suara.&lt;br /&gt; “Yaa…kalian dan cucu-cucu ibu adalah harta yang sangat berharga bagi ibu saat ini, kalian adalah warisan tak ternilai dari mendiang bapak,” timpal Salime, pelan.&lt;br /&gt; “Ibu akan terima tawaran perusahaan itu,” imbuh Salime.&lt;br /&gt; Ketiga anaknya yang mendengarkan keputusan Salime tidak menunjukan gembira yang berlebihan. Toh, intinya bagi mereka bukan masalah uang, tapi adalah kesehatan ibu mereka dan perhatian yang akan mereka curahkan untuk Salime dalam menghabiskan hari tua.&lt;br /&gt; Salime diantar oleh Tina dan Hesti ke kamar untuk beristirahat. Meski kakinya sudah mulai membaik, tapi kedua anak perempuannya itu tidak mau membiarkan sang ibu berjalan sendirian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ba’da Ashar, Hesti dan Tina bersiap-siap kembali ke rumah mereka masing-masing. Salime memanfaatkan waktu yang ada bersenda gurau dengan tiga orang cucunya di teras.&lt;br /&gt; Salime merasa sangat bahagia melihat ulah dan tingkah laku cucunya. Ia merasakan suasana seperti itulah yang sangat jarang ia dapatkan selama ini. Tapi Salime tidak mau lama hanyut dalam perasaannya, toh tidak lama lagi ia akan bisa setiap hari bersenda gurau dengan mereka. Karena ia akan tinggal bergantian di rumah Hesti dan Tina.&lt;br /&gt; Sebelum meninggalkan rumah Salime, Hesti ternyata sudah menyewa pembantu dari sebuah yayasan penyalur. Pembantu berusia 30 tahun itu akan membantu Salime mengerjakan pekerjaan rumah hingga proses jual beli rumah itu selesai. &lt;br /&gt; “Ibu sementara ditemani oleh Mbak Murni ini ya, nanti kami tunggu kabar dari ibu jika proses jual beli rumah ini sudah selesai,” ujar Hesti, memperkenalkan pembantu yang baru datang itu.&lt;br /&gt; Salime hanya mengangguk-angguk dan tersenyum kecil. Ada kegetiran setiap ia mendengar kata-kata rumah dan tanah akan dijual. Tapi Salime mencoba menepisnya dan mencoba membayangkan suasana baru tinggal di lingkungan rumah kedua anaknya itu.&lt;br /&gt; Hesti dan Tina bersama keluarga masing-masing akhirnya kembali ke rumahnya. Salime mengantarkan rombongan dua keluarga kecil itu hingga mobil yang membawa mereka lenyap di tikungan. &lt;br /&gt;“Besok lusa orang perusahaan itu akan datang, mungkin siang. Kamu bantu ibu ya dalam proses jual belinya. Ibu kurang paham,” tutur Salime pada Yahya, saat mereka tinggal berdua di teras. &lt;br /&gt; “Iya, Bu. Masuk yuk, sudah sore, dingin,” Yahya membantu sang ibu  bangkit dari kursi. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Menjelang kedatangan Susan dari PT Terus Membangun, Salime menghabiskan waktunya dengan membereskan barang-barang yang masih bisa dibawanya ke rumah Hesti dan Tina. &lt;br /&gt; Barang-barang besar seperti lemari, tempat tidur atau kursi akan ia wakafkan pada panti asuhan, dan barang-barang lainnya yang masih dipakai akan ia sumbangkan pada tetangganya atau Mariyam yang menjadi langganannya beli sarapan tiap pagi.&lt;br /&gt; Salime hanya akan membawa barang-barang pribadinya dan sejumlah foto kenangan keluarga. Sebenarnya Salime ingin membawa lebih banyak barang-barangnya, karena begitu banyak kenangan pada setiap barang-barang itu. Ada yang peninggalan nenek dan kakek mendiang suaminya dan mertua.&lt;br /&gt; Tapi, mengingat tidak semua barang-barang itu bisa dibawa ke rumah Hesti dan Tina, Salime memilih barang itu disumbangkan saja. Karena meski tidak memiliki barang itu, yang penting pahalanya akan mengalir terus padanya, begitu Salime menghibur diri. &lt;br /&gt; Malam hari, Salime tidak bisa tidur. Pikirannya masih melayang-layang. Jauh di lubuk hatinya ia begitu berat meninggalkan rumahnya. Tapi kemudian pikiran dan perasaan itu ia tepis dengan rasa senang tinggal bersama anak-anak dan cucunya. &lt;br /&gt; Pukul sembilan pagi telepon berdering dan ternyata adalah Susan yang mengabarkan akan datang selepas Zuhur. Salime kembali mengingatkan Yahya, agar bisa pulang lebih awal untuk membantu proses jual beli. &lt;br /&gt; “Iya, Bu. Hari ini kuliah hanya satu, siang saya sudah di rumah,” ujar Yahya, sebelum meninggalkan rumah menuju kampusnya.&lt;br /&gt; Usai Sholat Zuhur, Salime membuka pintu ruang tamunya lebar-lebar. Ia sudah siap menunggu kedatangan Susan yang akan memproses jual beli rumah dan tanahnya. Ia juga telah menelpon Yahya mengingatkan agar tidak lupa. Anak bujangnya itu mengatakan akan telat, karena ada rapat di kampus yang tidak bisa ditinggalkannya begitu saja.&lt;br /&gt; “Saya mungkin agak telat paling lama setengah jam. Ibu ajak orangnya mengobrol dulu kalau sudah datang,” saran Yahya.&lt;br /&gt; Pukul satu siang, sebuah mobil sedan yang sama saat kedatangan Susan tempo hari masuk ke pekarangan Salime. Klaksonnya terdengar nyaring memberi tanda kepada penghuni rumah kalau ada tamu yang datang. &lt;br /&gt; Ada debar di dada dan rasa gugup yang Salime rasakan ketika mendengar klakson mobil yang semakin mendekat itu. Salime mencoba menenangkan diri dan menganggap hal itu wajar, karena ia sebentar lagi akan melepas benda yang banyak menyimpan kenangan.&lt;br /&gt; Salime membuang nafas beratnya dan mencoba tersenyum ketika mobil itu tepat berdiri di depan teras. Susan yang pertama keluar dan sebuah senyum juga mengembang di bibir.&lt;br /&gt; Kemudian tiga orang pria juga keluar, yang dua adalah lelaki yang tempo hari datang. Keduanya tetap sama, membawa koper. Sementara yang satu, Salime tidak tahu persis. Tapi ia hanya bisa mengira kalau ia adalah orang penting di perusahaan itu, sebab bisa dilihat dari penampilannya.&lt;br /&gt; Mereka menaiki tangga dan satu persatu menyalami Salime. Ternyata benar pria putih dan tinggi itu adalah menejer pemasaran di PT Terus Membangun, bosnya Susan.&lt;br /&gt; “Sudah lama menunggu, Bu? Maaf jika kami agak telat,” tutur Susan ketika mereka sudah duduk di ruang tamu.&lt;br /&gt; “Tidak juga, sepertinya pas dengan waktu yang dijanjikan tadi. Hmm, anak saya yang membantu mengurus jual beli ini masih di kampus, sebentar lagi datang, ditunggu sebentar ya.” jawab Salime.&lt;br /&gt; “Wah kalau begitu jadi donk ibu menjual rumah dan tanah ini. Ternyata dugaan saya tidak meleset,” Susan tertawa senang sambil memegang tangan Salime. Ketiga tamu yang lain juga tertawa.&lt;br /&gt; Sambil menunggu Yahya datang, Murni menyajikan minuman dan kue kecil. Bos Susan yang bernama Robi itu banyak mendominasi pembicaraan. Ia menceritakan tentang ruko dan perumahan yang telah berhasil dibangun dan terjual.&lt;br /&gt; Susan dan dua temannya membenarkan dan kadang ikut menambahkan informasi. Salime hanya mendengarkan dan mengangguk-angguk. Bukannya ia tidak berminat dengan pembicaraan tamu-tamunya itu, tapi Salime merasakan ada rasa aneh dan tidak bisa ia tepis meski sudah konsentrasi mendengarkan obrolan mereka.&lt;br /&gt; Salime permisi ke belakang, ia menuju ruang belakang dan duduk di kursi. Ia mencoba menghembuskan nafas yang terasa berat. Tapi gejolak di dada itu belum hilang, bahkan Salime merasakan makin kuat menyesak dadanya.&lt;br /&gt; Salime memejamkan matanya. Ia mencoba merasakan lebih dalam mengapa hal itu terjadi. Lima menit kemudian Salime membuka matanya, dan ia sudah tahu jawabannya. Kali ini ia rasakan dadanya ringan dan nafasnya tidak sesak lagi.&lt;br /&gt; Salime muncul di ruang tamu, Susan menyambutnya dengan sebuah pertanyaan. “Anak ibu masih lama, ya? Bagaimana kita mulai saja dengan penawaran?”&lt;br /&gt; “Mungkin….tapi….,” Salime menggantung kalimatnya.&lt;br /&gt; “Tapi apa, Bu?” Susan mendesaknya, dan sementara Robi mengerutkan keningnya seperti sudah menangkap gelagat yang kurang baik.&lt;br /&gt; “Hmm…maaf sekali. Saya mohon maaf. Hmm...saya tidak jadi menjual rumah dan tanah ini,” akhirnya Salime bisa juga menyelesaikan kalimatnya.&lt;br /&gt; Keempat orang tamunya seperti tidak percaya mendengarkan ucapan Salime barusan. Mereka saling pandang dan ada kecewa di wajah mereka. Susan yang tampak paling kecewa.&lt;br /&gt; “Hmm…ibu mungkin tidak jadi menjual hari ini, mungkin besok, lusa, minggu depan atau bulan depan? Mungkin ibu merasa perlu menunda waktunya, tidak apa-apa kok, yang penting ibu sudah ada niat menjual,” Susan mencoba meluruskan ucapan Salime tadi.&lt;br /&gt; “Iya, Bu. Mungkin ibu masih perlu berunding lebih matang dengan anak-anak. Silahkan, Bu. Kami beri waktu kok,” kali ini Robi menimpali.&lt;br /&gt; Salime tidak langsung menanggapi. Ia diam beberapa saat. “Saya benar-benar tidak akan menjual rumah dan tanah ini. Saya tidak menunda atau masih perlu waktu berunding dengan anak-anak saya,” akhirnya Salime buka mulut, tapi yang keluar adalah ucapan yang membuat keempat tamu semakin kaget.&lt;br /&gt; “Bu, ada apa? Tolong jelaskan, mungkin kita bisa buat kesepakatan nanti sesuai yang ibu inginkan,” bujuk Susan.&lt;br /&gt; “Tidak cukup waktu dan tidak mudah bagi anda semua memahami alasan saya nanti. Anak-anak saya sendiri juga tidak akan mudah memahaminya. Pokoknya mohon maaf saya tidak jadi menjual rumah ini,” ujar Salime dengan nada tegas tapi begitu tenang ia ucapkan. &lt;br /&gt; Robi mencoba membujuk Salime, tapi ucapannya tertahan karena Salime mengangkat tangannya memberi tanda untuk tidak usah berkomentar lagi. &lt;br /&gt; “Maaf, keputusan saya sudah bulat.” &lt;br /&gt; “Mohon maaf jika anda semua ternyata sudah buang waktu datang ke sini,” Salime bangkit berdiri.&lt;br /&gt; Keempat tamunya tampak kebingungan, mereka tidak menyangka Salime yang tadi begitu menyakinkan akan menjual rumah dan tanahnya berubah pikiran. &lt;br /&gt; “Ok, Bu. Terima kasih,” Robi berdiri, ada kesal dan kecewa di wajahnya. Ia pergi tanpa menyalami Salime.&lt;br /&gt; Susan dan dua orang rekannya juga berdiri, tapi mereka masih sempat menyalami Salime.&lt;br /&gt; Salime tidak mengantar mereka hingga teras, ia hanya berdiri di ruang tamu, melihat dari pintu masuk yang terbuka lebar, hingga mobil itu menghilang cepat di tikungan.&lt;br /&gt; Salime duduk, menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Ia merasakan dadanya begitu lapang. “Aku tidak akan pernah meninggalkan rumah ini hingga akhir hayatku,” bisiknya.***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-4905761441004908889?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/4905761441004908889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=4905761441004908889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/4905761441004908889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/4905761441004908889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/cerpen-rumah-warisan.html' title='Cerpen :RUMAH WARISAN'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-2694075955203131157</id><published>2010-04-10T22:55:00.000-07:00</published><updated>2010-04-12T20:23:20.694-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cerpen : I Miss U Baby</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8Fk3uCTWYI/AAAAAAAAAbw/0QTIWFGzTg8/s1600/Snapshot_20100404_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8Fk3uCTWYI/AAAAAAAAAbw/0QTIWFGzTg8/s320/Snapshot_20100404_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458755131763022210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar apa yang dikatakan banyak orang, kehadiran anak meski masih dalam kandungan  akan membawa kebahagiaan dan suasana yang baru dalam keluarga. Apalagi bagi pasangan yang baru menikah. Hal ini aku alami sendiri, yang mana suamiku yang awalnya jauh banget dari romantis, berubah 180 derajat bahkan terkesan norak saat mengetahui aku dinyatakan hamil. &lt;br /&gt;Aku dan suamiku baru menikah satu tahun. Saat menikah aku berusia 25 tahun. Kata nenekku sedang ranum-ranumnya. Sementara suamiku udah matang dan nyaris gosong, maklum sudah 35 tahun.  &lt;br /&gt;Tapi meskipun beda 10 tahun, aku tidak merasa malu, malah senang karena yakin bisa menyeimbangi suamiku. Seorang psikolog pernah mengatakan, karena banyak beban pikiran, istri jauh cepat lebih tua dari suami. Jadi aku beruntung dong karena aku tidak akan tampak lebih tua dari usiaku sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bulan-bulan pertama, aku masih tidak terlalu mengharapkan kehamilan. Masih ingin berpuas-puas dulu dengan suamiku tercinta. Tapi hingga bulan ke enam aku belum menunjukan tanda-tanda kehamilan. &lt;br /&gt;Padahal dari ibuku, mertuaku, tanteku, tetanggaku dan teman-temanku pada sibuk menanyakan isi perutku. “Gimana perutnya, sudah ada isi?” begitu rata-rata pertanyaan mereka. &lt;br /&gt;Awalnya aku menanggapi ringan saja dengan candaan. Tapi lama kelamaan pertanyaan itu membuatku jenuh dan kadang kesal. “Gak bosan apa nanya terus, aku aja sabar kok malah mereka yang sibuk,” gerutuku suatu hari pada suami. &lt;br /&gt;Seperti biasa suamiku hanya mendegus kecil dan tidak berkomentar. Ia asyik mengisap rokok dan berselonjor menonton TV. Melihat sikap suamiku, aku makin kesal. &lt;br /&gt;“Komentar dong, Bang. Jangan diam terus kaya patung,” sungutku.&lt;br /&gt;“Emang abang mau bilang apa, Dek,” jawaban diplomatis yang biasa aku dengar keluar juga dari mulut suamiku. &lt;br /&gt;“Dasar suami tak romantis, payah!” Aku menggerutu sambil berlalu ke kamar.&lt;br /&gt; Suamiku memang bukan tipe laki-laki romantis, baik dari kata-kata maun sikapnya. Padahal aku mengharapkan ia akan menenangkan hatiku dengan kata-kata romantis sambil membelai-belai rambutku di pangkuannya.&lt;br /&gt;Waktu masih berpacaran aku masih bisa memahami jika Bang Aldo tidak mau menunjukan sikap romantisnya. Selain merasa bukan lagi anak baru gede (ABG), ia juga beralasan masalah norma dan agama.&lt;br /&gt;“Tak usah terlalu romantis, tak usah pakai pegang-pegang segala, belum muhrim,” alasannya ketika aku memeluk pinggangnya saat berjalan-jalan di tepi pantai sore itu.&lt;br /&gt;Waktu itu aku bisa memahami sikapnya dan yakin jika sudah berumah tangga, Bang Aldo akan berubah karena kami sudah sah mendapat predikat suami-istri. Tapi semua romantisme yang kubayangkan saat masih berpacaran ternyata tidak juga kudapatkan saat kami telah menikah.&lt;br /&gt;Standar romantisnya kurasakan biasa-biasa saja. Padahal aku berharap ia akan seperti di dalam sinetron televisi, begitu indah dan menghanyutkan. Praktis, hanya aku yang memulai sikap romantis. Tapi, sikap Bang Aldo yang tidak mengimbangiku, semua itu kadang hanya menjadi kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;“Sayank, tidur yuk. Udah ngantuk nih,” ajakku saat itu kami baru dua minggu menikah.&lt;br /&gt;“Apa dek, sayank?” tanya dia sambil tertawa&lt;br /&gt;“Emangnya tidak boleh dipanggil sayank,” protesku kesal.&lt;br /&gt;“Tak usahlah, abang malu dipanggil seperti itu, yang ying yung kali,” ujarnya tertawa. Aku cemberut mendengarnya. &lt;br /&gt;Aku akui, suamiku memang bukan pria romantis yang sering memberiku kejutan bunga mawar, cokelat atau makan malam yang hanya diterangi cahaya lilin. Tapi dia adalah pria yang lembut. Sifatnya inilah yang membuatku bisa menerima kekurangannya sebagai pria bertipe tidak romantis.&lt;br /&gt;Meski tidak pernah memakai panggilan mesra kepadaku, tapi ia memanggil dengan lembut. Bagiku itu sudah cukup mengobati keinginanku untuk beromantis ria setiap hari sebagai pasangan yang baru menikah.&lt;br /&gt;Selain itu ia juga punya perhatian besar. Meski tidak menunjukan secara langsung, tapi aku menyadari perhatian suamiku sangat besar. Tapi itulah kurangnya, ia tak imbangi dengan sikap romantis.&lt;br /&gt;“Setiap orang pasti ada kelebihan dan kekurangannya, tak ada yang sempurna. Nyatanya meski suamimu tidak romantis, tapi dia lembut dan perhatian kan,” komentar Riza, sahabatku saat aku curhat kepadanya.&lt;br /&gt;“Ia, tapi aku tuh pengen seperti kamu dengan David. Mesra dan romantis, seperti di sinetron,” protesku.&lt;br /&gt;“Tapi kamu juga tidak tahu kan kekurangan dia. Udah deh, kamu bersyukur saja dengan apa yang kamu jalani sekarang. Mana tahu pada momen-momen tertentu dia ternyata bisa jadi romantis,” hibur Riza.&lt;br /&gt;Tapi, suatu hari di bulan ke delapan pernikahan kami, tepat di hari ulang tahunku yang ke 26, aku begitu berharap kejutan romantis dari suamiku. Sayang, itu tak kudapatkan. Maka hari itu aku mengamuk dan menangis sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;“Inikan hari istimewaku, tak mungkin donk suamiku tidak akan romantis,” begitu aku membantin. Aku sebelumnya teramat yakin jika suamiku akan memberikan kejutan romantis pada ulang tahunku.&lt;br /&gt;Dari pagi hingga sore pulang kerja, ia tidak menunjukan sikap akan memberiku kejutan hadiah ulang tahun. Begitu juga malam harinya hingga menjelang tidur. Semula aku berpikir ia akan membawakan kado ulang tahun saat aku sudah tertidur, dan memberi sesuatu yang manis yang tidak akan aku lupakan seumur hidup.&lt;br /&gt;Tapi yang terjadi adalah, ia ikutan tidur tanpa beban. Rasa gondok yang kutahan dari tadi akhirnya kulepaskan dengan tangisan. Suamiku terjaga mendengar tangisku. “Ada apa, Dek?” tanyanya kaget.&lt;br /&gt;“Aku benci!” teriakku dalam tangis&lt;br /&gt;“Stttt…ini tengah malam. Ada apa.. ?” &lt;br /&gt;“Abang jahat, kejam….!!! Hari ini kan ulang tahunku. Masa tidak ada kejutan dan kado. Dasar suami tidak romantis!” aku menangis sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;Suamiku hanya diam. Aku masih larut dalam tangis dan kesal yang begitu memuncak.&lt;br /&gt;“Maafkan abang ya, Dek. Sumpah abang tidak ingat. Maklum sudah mulai tua. Ulang tahun abang sendiri abang tidak ingat. Maafkan abang ya,” ia memelukku dan memberikan kecupan di keningku sambil mengucapkan selamat ulang tahun.&lt;br /&gt;“Selamat ulang tahun adek abang, semoga cepat dapat momongan kita, ya,” ujarnya lembut.&lt;br /&gt;Malam itu aku begitu menikmati kelembutan suamiku. Kubiarkan ia membujukku yang masih terisak kecil. ”Lumayan, daripada ulang tahunku berlalu tanpa kesan,” pikirku geli dalam hati.&lt;br /&gt;“Abang, kenapa sih tidak pernah berusaha untuk romantis dengan adek. Cobalah abang sekali-kali beri adek kejutan, pokoknya yang membuat adek tersanjung,” protesku ketika perasaanku sudah normal.&lt;br /&gt;Suamiku menatapku dan ia tersenyum. Manis dan aku begitu menyukai senyum di balik kumis tipisnya itu. “Sumpah Dek, abang ini tipe orang pemalu, tidak pandai romantis-romantisan. Tapi bukan berarti abang tidak sayang dengan adek. Rasa sayang kan tidak harus dengan ucapan mesra atau sikap romantis, tapi adalah perhatian dan tanggungjawab abang sebagai suami,” tuturnya lugu, dan itu membuatku tersenyum.&lt;br /&gt;“Adek tahu, abang itu orangnya baik dan lembut. Tapi, please deh, sekali-kali gitu lho buat adek tersanjung dengan kejutan,” balasku.&lt;br /&gt;“Ya deh, kalau abang ingat,” jawabnya sambil membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Tinggal aku yang terbengong-bengong melihatnya langsung tertidur hanya dalam beberapa menit.&lt;br /&gt;Sejak saat itu, suamiku sedikit berubah dan itu kadarnya tidak banyak alias bisa dikatakan hanya seujung kuku. Misalnya jika aku panggil sayank, ia tidak protes. Begitu juga kalau sedang menonton aku membaringkan kepala di pahanya, ia akan membiarkannya meski beberapa menit kemudian akan memindahkan kepalaku ke bantal dengan alasan pahanya penat.&lt;br /&gt;Begitu  juga jika kami santai di luar, dia juga akan membiarkan tanganku melingkar di pinggangnya dan sekali-kali aku menyandarkan kepala ke bahunya. Tapi itu juga hanya sebentar. “Kasihan anak-anak remaja, Dek. Ntar mereka melihat kita jadi niru juga, kan tidak baik,” alasannya. Aku hanya bisa mendengus kesal.&lt;br /&gt;Sekarang sudah memasuki masa setahun perkawinan kami. Bulan depan berarti adalah ulang tahun pertama perkawinan kami. Aku tidak mau berharap muluk-muluk akan mendapatkan kejutan dari suamiku. Daripada kesal, lebih baik tak berharap, begitu aku berprinsip.&lt;br /&gt;Pagi itu aku merasa lemas. Badanku tidak enak. Ada rasa mual yang semula tidak pernah aku rasakan. “Jangan-jangan aku hamil,” begitu aku membatin.&lt;br /&gt;Tapi mengingat penyakit maag yang aku derita, harapan itu lenyap. Karena beberapa kali aku juga pernah mengalami hal serupa dan ternyata hanya penyakit maagku kambuh.&lt;br /&gt;Namun, aku masih penasaran. Karena sudah dua minggu aku telat datang bulan. Kucoba menguji air seniku dengan alat tes kehamilan yang tersedia banyak di lemariku. Ternyata  hasilnya negatif dan kembali aku harus kecewa.&lt;br /&gt;Saat hendak keluar dari kamar mandi, aku merasakan kembali rasa mual dan aku muntah. Badanku terasa sangat lemas ketika isi perutku terkuras habis. Suamiku yang bersiap berangkat kerja mengajak ke dokter.&lt;br /&gt;“Ada apa, Dek? Maagnya kambuh atau…” ia tersenyum penuh arti kepadaku.&lt;br /&gt;“Tak tahu, Bang. Tadi baru dites hasilnya negatif,” jawabanku mengubah senyum suamiku jadi raut muka kecewa.&lt;br /&gt;Tapi ia tetap memaksaku ke dokter. “Abang akan minta ijin ke kantor dan sekalian abang minta ijinkan adek. Kita ke dokter saja yang penting ada diobati dulu,” paksanya.&lt;br /&gt;Akhirnya aku mengalah karena badanku semakin lemas. Dokter yang memeriksaku tersenyum usai memeriksa rahimku. Aku penasaran dan sudah tak sabar ingin tahu. “Dok, bagaimana, Apa saya hamil?” kejarku, tak sabar.&lt;br /&gt;“Sabar ibu, nanti saja saya sampaikan biar sekalian suami ibu mendengarkannya,” jawabnya dan menuju ke meja kerja.&lt;br /&gt;Di depan meja dokter, kulihat wajah suamiku yang penuh harap. Ia memberi isyarat kepadaku tentang hasil pemeriksaan tadi. Aku hanya mengangkat bahu, karena memamg aku belum tahu apa hasilnya.&lt;br /&gt;“Duduk dulu ibu, sebentar ya,” dokter paruh baya itu seperti mengerti keingintahuan kami.&lt;br /&gt;“Hmmm…dari hasil pemeriksaan saya tadi…” ia diam sejenak sambil menulis sesuatu.&lt;br /&gt;Aku makin penasaran dan begitu juga suamiku. “Apa hasilnya, Dok,” suamiku tak sabar.&lt;br /&gt;“Dari hasil pemeriksaan saya, ibu positif hamil lima minggu. Selamat ya,” ujarnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya.&lt;br /&gt;Aku menyambut uluran tanganku dengan perasaan yang sangat bahagia. “Terima kasih, Dok. Alhamdulillah saya sangat bahagia,” ujarku sambil menggenggam erat tangan dokter itu.&lt;br /&gt;Dokter itu juga menyalami suamiku. “Selamat, Anda sudah menjadi ayah,” ungkapnya.&lt;br /&gt;“Eh…ia..oh..terima kasih, Dok,” jawab suamiku, gugup.&lt;br /&gt;“Ada apa, Pak. Nervous, ya? Biasa itu, Pak. Banyak pria yang baru menjadi ayah mengalami hal seperti ini,” kata sang dokter.&lt;br /&gt;“Benar saya akan menjadi ayah ya, Dok?” suamiku bertanya seperti tidak percaya. &lt;br /&gt;Dokter itu mengangguk mantap sambil menyerahkan hasil USG yang tadi aku lakukan.&lt;br /&gt;“Oh yes. Aku sangat bahagia hari ini. I miss U baby, muach muach,” suamiku mencium perutku dan itu membuatku sangat kaget.&lt;br /&gt;“Bang..bang…hei udahan, jangan berlebihan,” aku menolak kepalanya yang masih di perutku. Kulihat dokter hanya tertawa dan geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt; “Adek, I love U, kita akan jadi orang tua sayangku,” ujar suamiku dan mencium kedua pipiku. Sumpah, aku betul-betul tidak percaya dengan apa yang kulihat. Suamiku berubah romantis bahkan bisa dikatakan norak.&lt;br /&gt; “Ia abang, adek juga senang. Tapi udah dulu, malu sama dokternya.” Kulihat dokter hanya geleng-geleng kepala dan pura-pura sibuk menulis.&lt;br /&gt; Sejak hari itu, suamiku berubah 180 derajat. Ia juga ikutan memanggilku sayank. Bahkan setiap menonton TV, ia meletakan kepalaku di pahanya. Membelai-belai rambutku, yang tak jarang justru membuatku tertidur. &lt;br /&gt; Ketika mengantarku ke tempat tidur ia juga mengucapkan selamat tidur. Begitu juga saat bangun pagi. Ia sudah menungguku dengan senyumnya yang manis dan mengucapkan selamat pagi. Kadang ia membawakan sepiring nasi goreng dan segelas susu untukku. &lt;br /&gt; “Makan yang banyak ya, Sayank. Minum susunya, biar bayi kita sehat dan pintar,” ujarnya, tak lupa membelai-belai perutku yang masih kempis.&lt;br /&gt; Aku hanya mengangguk, tersanjung dan kadang bingung melihat sikapnya yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suatu malam saat tengah tertidur, suamiku membangunkan aku. Dengan mata yang masih berat, aku mencoba untuk membuka kelopak mata lebar-lebar. Sebuah sinar kecil menyilaukan mataku yang belum normal terbuka. Aku mengucek-ngucek mata dan akhirnya sempurna terbuka dan bisa melihat dengan jelas.&lt;br /&gt; Oh, perasaanku campur aduk, antara tidak percaya, senang dan terharu. Suamiku duduk membawa sebuah kue dengan lilin angka satu di atasnya. “Selamat ulang tahun perkawinan kita ya, Sayank. Moga kita langgeng sampai kakek nenek ya dan punya anak-anak yang saleh, pintar dan berhasil,” ujarnya sambil mencium pipiku.&lt;br /&gt; “Amin! Ya bang, mudah-mudahan,” aku tak bisa lagi membendung air mataku.&lt;br /&gt; Ternyata apa yang kuimpikan untuk mendapatkan kejutan yang manis dan romantis dari suamiku selama ini terwujud. Meski tidak pada hari ulang tahunku, tapi tetap berarti bagiku.&lt;br /&gt; “Udah jangan menangis, harusnya kan bahagia, Sayank. Oh ya ini ada hadiah untuk adek,” ia menghapus air mataku sambil menyerahkan sebuah kado. &lt;br /&gt; “Oh abang, terima kasih,” aku mencium pipinya sebagai tanda terima kasih.&lt;br /&gt; Perlahan kubuka tutup kotak kado itu. Ternyata sebuah baju tidur berwarna merah marun ditambah sebuah lingerie. Tipis dan sangat seksi. “Gimana, suka kan, Sayank? tanyanya melihatku yang masih melongo memegang kedua benda yang dulu ia tak suka aku pakai itu. &lt;br /&gt; “Suka, Bang. Tapi…kok tumben abang kasi hadiah ini, dulu kan abang tidak suka melihat adek pakai baju seksi seperti ini, meski hanya di kamar?” tanyaku.&lt;br /&gt; “Itu dulu, Sayank. Sekarang kan lain. Apalagi di dalam perut adek ada anak kita. Abang mau melihat adek seksi selama mengandungnya. Kata orang wanita hamil itu makin cantik dan seksi,” ia mengerlingku dengan mata nakal sambil mengusap-usap pipi.&lt;br /&gt; “Tuhan terima kasih atas karuniamu, kehamilanku membawa perubahan sifat suamiku,” bisikku dalam hati.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuk, ananda yang kurindu segera bersemayam di rahimku&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-2694075955203131157?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/2694075955203131157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=2694075955203131157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2694075955203131157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2694075955203131157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/i-miss-u-baby.html' title='Cerpen : I Miss U Baby'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8Fk3uCTWYI/AAAAAAAAAbw/0QTIWFGzTg8/s72-c/Snapshot_20100404_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7986884513327128223</id><published>2010-04-10T22:51:00.000-07:00</published><updated>2010-04-12T20:23:51.412-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cerpen :DENDAM</title><content type='html'>Tini kembali tertawa ketika aku menegaskan bahwa apa yang kukatakan barusan bukanlah sekedar bercanda. Tapi dia tetap tertawa, “Lo itu sedang tidak ada masalah kejiwaan kan?”  ini pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya.&lt;br /&gt;Aku mengganggukan kepala mantap. Kali ini tawa sahabatku itu mulai pudar dari bibir tipisnya. Air mukanya berubah, keningnya berkerut dan matanya disipitkan. Begitulah cirri-cirinya bila ia sedang tidak percaya terhadap apa yang dilihat atau di dengar.&lt;br /&gt;“Sumpah?” tanyanya setelah beberapa lama menatapku dengan gaya khasnya.&lt;br /&gt;“Ya,” jawabku singkat dan tegas.&lt;br /&gt;Tini bangkit dari duduk dan membiarkan majalah yang dari tadi dibolak-baliknya tergeletak di atas kursi. Ia menuju jendela, membelakangiku. Sesaat kemudian ia berbalik dengan membawa raut muka yang masih menunjukan rasa penasaran dan tidak percaya.&lt;br /&gt;“Sumpah gue tidak percaya dengan apa yang lo ceritakan dan rencanakan barusan. Gue juga tidak yakin kalau lo, teman gue, seorang Santi yang selama ini di mata gue dan teman-teman lain adalah yang terbaik di antara kita, ternyata mempunyai masalah kejiwaan seberat ini,” Tini berapi-api mengungkapkan perasaannya.&lt;br /&gt;“Aneh? Lo kok menganggap gue punya masalah kejiwaan? Memangnya gue dari tadi menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah jiwa,” aku bangkit mendekatinya yang bersandar di dinding. Ucapannya membuatku tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tini cuma menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum sinis dan kembali duduk di tempat semula.&lt;br /&gt; Aku juga ikut duduk dan menatap Tini yang pura-pura sibuk membaca majalah. “Please deh, apa alasan lo mengatakan gue punya masalah kejiwaan? Harus ada alasan donk,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt; Kulihat Tini menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Ia menatapku sesaat sebelum berbicara. “Mau tau alasannya?” ia membuatku makin tidak sabar.&lt;br /&gt; Aku tidak menjawab, hanya memberikan isyarat mata jika aku ingin segera mendengarkan alasannya.&lt;br /&gt; “Seorang wanita yang selama ini gue kenal berbudi pekerti baik, ramah, riang, cerdas, berbakat, menarik dan bisa meraih apa yang ia inginkan alias nyaris sempurna, ternyata punya dendam yang selama ini ia simpan jauh di lubuk hatinya. Sekarang ia ingin membalaskan dendamnya itu untuk membuat orang-orang yang pernah menyakitinya, menyesal dengan apa yang telah dilakukan mereka dan kemudian bersujud meminta maaf. Tak peduli apakah itu teman kecilnya, gurunya dan tetangganya sendiri. Apa itu bukan sakit jiwa?” Tini menghembuskan nafasnya, setelah kalimat yang begitu panjang ia ucapkan seakan tanpa jeda.&lt;br /&gt; Aku membalas tatapan Tini dengan sebuah sunggingan senyum kecil. Aku merasa alasannya tidak tepat. Karena dia tidak tahu semua ceritaku, sebab hanya sebahagian kecil yang kuceritakan kepadanya. &lt;br /&gt; “Terserah lo mengatakan gue sakit jiwa, tapi yang kukatakan tadi adalah program yang sudah kurencanakan sejak lama. Sejak gue meninggalkan kotaku, merantau ke kota besar ini untuk mencapai cita-citaku. Kalau lo mengatakan gue sakit jiwa, berarti selama ini lo telah berteman dengan orang sakit jiwa dan minimal lo juga sudah terimbas,” tuturku tanpa beban. Aku sudah siap menghadapi ledakan emosi Tini.&lt;br /&gt; Tapi di luar dugaanku, Tini tidak meledak seperti biasa saat ia tersinggung. Ia menatapku. Kali ini air mukanya jauh lebih tenang dari tadi. “Please San, ceritakan lebih detail, ada apa dengan kamu sebelum datang ke kota ini?” tanyanya lembut  sambil memegang bahuku.&lt;br /&gt; Tini menatapku penuh perasaan. Sepertinya ia mulai memahami masalahku. Aku masih menundukan wajah dan ada yang mengalir hangat di kedua sudut mataku. Aku berusaha menahannya, tapi malah sebaliknya air itu makin deras mengalir dan aku tergugu di bahu Tini.&lt;br /&gt; Kubiarkan tangisku pecah di bahu Tini. Ia dengan lembut membelai-belai punggungku. “Menangislah jika itu bisa meringankan bebanmu,” bisiknya.&lt;br /&gt; Puas dengan tangisku, aku melepaskan pelukan di bahu Tini. Ia memberiku tisu dan membantu membersihkan mukaku. “Lo udah lega?” tanyanya sambil menyodorkan gelas berisi air putih.&lt;br /&gt; “Lumayan,” aku menghabiskan segela air putih yang ia sodorkan. &lt;br /&gt; “Jika lo belum siap cerita sekarang, besok atau lain kali aja. Tenangin dulu pikiran lo,” Tini menggenggam tangan kananku.&lt;br /&gt; Aku menggeleng, “Gue akan cerita sekarang.”&lt;br /&gt;Aku memulai cerita dari masa kecilku saat masih duduk di bangku SD. Bapak dan Ibuku petani penggarap yang mendapatkan hasil setelah panen padi atau hasil kebun. Hidupku dengan dua adikku betul-betul prihatin. Tapi untungnya aku ditakdirkan memiliki otak lumayan cemerlang, sehingga prestasiku di sekolah bisa mengobati rasa minder dengan teman-teman yang kehidupan orangtuanya jauh lebih baik dari aku.&lt;br /&gt;Suatu hari, kalau tidak salah, aku duduk di bangku kelas empat. Ada tugas prakarya untuk mendapatkan nilai ujian keterampilan. Oleh wali kelasku yang bernama Narti, kami dibebaskan membawa prakarya dalam bentuk apa pun ke sekolah minggu depan.&lt;br /&gt;Aku yang tidak memiliki bakat membuat keterampilan cukup baik hanya membuat bunga dari bahan kertas tisu. Hasilnya menurutku waktu itu, cukup lumayan. Pada hari penyerahan prakarya itu aku sedikit minder karena ternyata prakarya teman-temanku banyak yang jauh lebih bagus.&lt;br /&gt;Bagi yang merasa punya hasil prakarya bagus, tak sabar mereka menyerahkan ke Ibu Narti. Mereka berdesakan di depan meja guru agar bisa melihat langsung nilainya yang langsung diberikan.&lt;br /&gt;Aku pun ikut berdesakan di antara kerumunan teman-temanku itu. Ketika salah seorang temanku mendapatkan pujian karena bunganya bagus, aku pun ikut memuji. “Wah bungamu bagus, warnanya indah. Siapa yang mengajari?” tanyaku memuji.&lt;br /&gt;“Ibuku,” ia tersenyum senang.&lt;br /&gt;“Enak ya punya ibu yang bisa membantu,” balasku.&lt;br /&gt;“Memangnya ibunya seperti ibumu yang pemalas dan tidak bisa apa-apa,” ucapan itu berasal dari mulut guru yang sangat kuhormati.&lt;br /&gt;Aku kaget mendengar perkataan yang sangat pedas. Meskipun hanya sepenggal kalimat namun begitu menyakitkan dan menyinggung perasaanku itu. Kubiarkan bungaku di atas meja dan menuju bangku. Salah seorang temanku mendekati dan menghiburku. “Tak usah dipikirkan, mungkin ibu guru hanya bercanda,” ia berusaha menghiburku.&lt;br /&gt;Tapi aku tidak peduli, hatiku begitu sakit. Mengapa seorang guru yang selama ini kuhormati ternyata mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di hadapan anak muridnya. Ia menghina ibuku yang setiap hari mengeluarkan keringat untuk menyekolahkan aku. Memang ibuku tidak sempat membantuku mengajari prakarya, karena setiap malam ia kecapekan setelah seharian bekerja di sawah dan ladang.&lt;br /&gt;Tapi ketidakberdayaanku sebagai seorang murid tidak mampu membuatku mempertanyakannya. Aku hanya memendam rasa sakit hatiku. Pengalaman itu adalah dendam pertama yang harus kubalaskan suatu saat nanti, begitu aku mencamkannya dalam hatiku.&lt;br /&gt;Dendam kedua yang kucamkan di dalam hati dan harus kubalaskan adalah saat duduk di kelas enam SD. Saat itu wali kelas kami yang menanyakan apa cita-cita kamu nanti. Beraneka ragam jawaban dari teman-temanku, ada yang mengatakan ingin menjadi dokter, insinyur, guru, perawat, dosen, penyanyi, pegawai negeri, pengusaha, manajer dan lainnya.&lt;br /&gt;Ketika giliranku tiba, dengan lantang aku menjawab aku bercita-cita menjadi reporter atau wartawati. Jawabanku disambut ejekan dari sejumlah teman-temanku yang mengatakan cita-citaku berlebihan. Di antara mereka ada satu temanku, cewek, yang melontarkan ejekannya dengan kata-kata sinis.&lt;br /&gt;“Apa? Mau jadi reporter? Bagaimana tuh mencapai cita-cita yang begitu tinggi. Ukur kemampuan dulu donk, hahaha,” ia tertawa. Aku hanya diam dan di dalam hati aku mencamkan dendamku yang kedua. Suatu saat ia akan menyesali perkataannya.&lt;br /&gt;Entah mengapa, ketika duduk di bangku kelas tiga SMP aku kembali sekelas dengan teman sekelasku di SD dulu. Mala begitu nama cewek itu. Ternyata ia masih seperti dulu, sombong dan angkuh karena tahu dirinya cantik dan termasuk cewek yang diincar cowok-cowok di sekolah.&lt;br /&gt;Suatu hari, waktu seperti berputar mundur dan peristiwa tiga tahun silam terulang kembali. Waktu itu guru bimbingan konseling menanyai kami tentang cita-cita. Pas giliranku dan belum sempat aku menjawab, Mala duluan mengatakan kalau aku bercita-cita menjadi reporter.&lt;br /&gt;“Dia ingin jadi reporter, Bu! Seperti yang di dalam televisi. Mimpi kali, Bu!” ia tertawa diikuti teman satu genk-nya.&lt;br /&gt;“Betul, Bu, saya ingin jadi reporter. Tidak salah kan,” aku berani menantang Mala. Bahkan aku merasa menang karena guru kami mengatakan cita-citaku itu bagus dan jarang dipikirkan anak seusiaku.&lt;br /&gt;Sejak saat itu Mala makin tidak suka denganku. Ia seperti ingin selalu mematahkan semangatku. Tapi aku tidak peduli, toh aku yang akan mengejar cita-cita dan tidak merepotkan dia. Namun begitu dalam hatiku, kupelihara dendam itu. Aku ingin menunjukan, suatu saat aku bisa mencapai apa yang kucita-citakan.&lt;br /&gt;Lulus SMP aku memilih masuk SMA. Mala aku dengar memilih masuk SMK Ekonomi. Aku merasa lega karena tidak ada lagi orang yang jahat padaku. Masa-masa SMA kujalani dengan standar, tidak terlalu indah karena kondisi ekonomi orangtuaku yang menyebabkan aku tidak bisa bergaya dan hura-hura seperti teman-teman.&lt;br /&gt;Lulus SMA aku memilih mengambil kursus singkat tentang jurnalistik, karena aku tahu diri kedua orangtuaku tidak mampu membiayai kuliah di fakultas komunikasi seperti yang kurencanakan.&lt;br /&gt;Ternyata dengan modal kursus singkat dan ditambah bakat alami, akhirnya aku bisa mencapai cita-citaku menjadi wartawati. Tulisan pertamaku dimuat di sebuah koran mingguan. Saat itu rasanya hanya aku orang yang paling bahagia di dunia. Sejak saat itu aku semakin terpacu untuk menulis.&lt;br /&gt;Keberuntungan seperti masih di tanganku, ketika sebuah koran baru, terbit di kotaku. Aku diterima sebagai wartawati. Banyak orang yang tidak menyangka, termasuk orangtuaku. Di saat teman-temanku masih sibuk kuliah dan menghabiskan uang orangtua, aku sudah mampu memberi orangtuaku uang. Bagiku, itu suatu kebanggaan yang luar biasa.&lt;br /&gt;Tapi, keberhasilanku ternyata tidak diakui oleh sejumlah orang, termasuk seorang tetanggaku, yang mengatakan kalau aku hanyalah seorang loper koran. Katanya ia pernah melihatku mengantarkan koran ke sebuah kios koran. Aku akui, sebagai seorang wartawati pemula dan loyal kepada perusahaan, aku ikut membantu pemasaran hingga ke desa-desa, apalagi di sekitar kampungku.&lt;br /&gt;Sikap iri tetanggaku membuat aku kembali mencamkan dalam hatiku, suatu saat aku akan menunjukan siapa aku. Dendam ketiga kutanamkan di dasar hatiku.&lt;br /&gt;Bertekad untuk merubah karier yang lebih baik, aku pindah ke kota lain yang jauh lebih besar. Sambil bekerja di sebuah koran harian, aku juga rutin mengirimkan tulisan pada majalah dan koran nasional. Hal itu kugunakan untuk menambah tabungan supaya bisa kuliah.&lt;br /&gt;Setahun hidup di perantauan, aku bisa kuliah dan mendapatkan beasiswa. Dendam untuk membuktikan siapa aku di kampung, menjadikan aku gila kerja. Tak jarang aku membantu kawan dalam suatu kegiatan dan hasilnya lumayan untuk ditabung.&lt;br /&gt;Kuliah di Fakultas Komunikasi aku selesaikan dalam waktu kurang dari empat tahun. Gelar sarjana komunikasi aku peroleh. Kedua orangtuaku datang saat wisuda. Mereka begitu bangga menyaksikan aku yang memakai toga.&lt;br /&gt;Dengan gelar sarjana, aku bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik. Sejak satu tahun lalu aku dipercaya menjadi redaktur pelaksana di sebuah majalah wanita. Gajiku lumayan dan sejumlah fasilitas aku nikmati. Selain itu urusan cinta dan karierku berjalan mulus. Hendi, teman seprofesi tapi lain kantor telah menjadi keksaihku sejak tiga tahun lalu. Dia kerja di stasiun televisi swasta. &lt;br /&gt;Selain itu aku juga aktif dalam kegiatan sosial bersama sejumlah ibu-ibu pejabat dan pengusaha wanita. Kedekatanku dengan mereka menjadikan aku makin dikenal. Tak mengherankan, banyak teman-temanku mengatakan aku sukses dalam karier, cinta, dan pergaulan.&lt;br /&gt;Andai saja mereka tahu, kegilaanku mencapai kesempurnaan itu hanya untuk membalaskan dendam kepada orang-orang yang pernah melukai perasaanku, tentu mereka akan kaget. Inilah yang dialami Tini saat aku memulai membuka misi dari masa laluku itu.&lt;br /&gt;“Sekarang gue sudah mapan, punya karier bagus, tabungan, rumah, mobil pribadi, dan kekasihku yang ganteng dan akan menikahiku. Sudah waktunya bagiku untuk memamerkan semua keberhasilanku pada orang-orang yang dulu pernah menyakitiku,” suaraku bergetar, ketika semua pengalaman masa lalu itu sirna seiring dengan berakhirnya ceritaku pada Tini.&lt;br /&gt;Tini tidak merespon, ia hanya diam dan seperti kebingungan. “Kok diam, lo tidak percaya dengan cerita gue tadi?” aku mengguncang bahunya.&lt;br /&gt;Tini menggeleng dan ia tersenyum meski tampak dipaksakan. “Sumpah, gue tidak menyangka lo punya pengalaman berliku. Susah payah juga lo mencapai apa yang telah lo raih sekarang. Tapi gue juga bingung, mengapa lo segitu ngototnya untuk melampiaskan dendam masa lalu lo. Padahal dari cerita dari mulut ke mulut, keberhasilan lo di kota ini setidaknya sudah terdengar oleh mereka kan. Kampong lo itu kan kecil, apa saja bisa diketahui orang, apalagi lagi kisah sukses lo,” Tini bicara panjang lebar.&lt;br /&gt;“Benar, mereka memang sudah tahu dari cerita orangtua, keluarga dan kerabatku yang pernah mengunjungiku ke kota ini. Tapi, gue ingin melihat langsung bagaimana rasa malu dan menyesal tergambar di wajah mereka ketika bertemu dengan gue. Gue ingin mereka mengingat tentang sikap kasar dan jahatnya pada gue dulu,” balasku cepat.&lt;br /&gt;Tini mengangkat bahunya, ia sepertinya kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan aku. “Terserah lo, silahkan lo lakukan jika itu membuat jiwamu tenang dan puas. Tapi gue hanya kasih saran, lebih baik tidak lo lakukan, tidak baik menyimpan dendam apalagi membalaskannya,” akhirnya ia kembali berkata setelah sekian lama menatapku dengan gaya khasnya.&lt;br /&gt;“Gue tidak peduli !!!”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saat pesawat hendak take off, aku masih sempat menghubungi Tini. Ia membalasnya singkat, “Oke, selamat menjalankan misimu, tapi lebih baik tidak.” Kalimat terakhir itu yang membuatku gondok.&lt;br /&gt;Selama penerbangan, skenario pembalasan dendam kembali kuingat-ingat. Menbayangkan apa yang akan terjadi, membuatku tersenyum-seyum. Pria tua yang duduk di sebelahku kebingungan ketika melihat aku dari tadi senyum-senyum sendiri. Tapi ia tidak bertanya, dan aku pun tidak peduli.&lt;br /&gt;Kedatanganku ke kampung halaman disambut gembira oleh keluargaku. Enam tahun aku belum pernah pulang, kecuali mereka yang aku biayai datang ke kota tempat aku bekerja. &lt;br /&gt;“Aku hanya kangen  melihat suasana kampung dan bertemu keluarga, handai taulan serta teman-teman lama,” alasanku pada keluargaku yang heran tiba-tiba aku pulang. Padahal, sering mereka meminta aku pulang, tapi aku tidak mau. Bagiku, jika aku belum bisa memamerkan keberhasilanku, aku tidak akan pulang. Kini semua itu sudah aku raih dan saatnya untuk menunjukan siapa aku.&lt;br /&gt;Misi pembalasan dendam tidak kuceritakan pada keluargaku. Untuk mencari informasi tentang Ibu Narti dan Mala cukup aku lakukan dengan pura-pura bertanya tentang kabar mereka pada keluargaku. Sedangkan tetanggaku yang dulu mengatakan bahwa aku hanya seorang loper dan bukan wartawati sudah malu duluan. Hal itu terjadi saat taksi bandara yang membawaku ke rumah sengaja aku minta memutar sehingga melewati depan rumahnya.&lt;br /&gt;Sengaja kaca taksi aku buka dan ketika di depan rumahnya aku minta sopir perlahan membawa mobil. Kebetulan ia sedang duduk di teras rumah. Ketika melihat aku ada mimik terkejut di wajahnya, apalagi mendengar aku yang pura-pura sedang menelpon dengan suara yang sengaja aku keraskan. “Bener gue udah nyampe di kampung. Ga ada penyambutan khusus, kita kan hanya loper koran hahaha. Bukan gue yang bilang tapi orang-orang sirik donk hahaha!” Saat itu kulihat ia langsung masuk rumah dan menutup pintu. Aku pun tertawa lepas, puas.&lt;br /&gt;Ternyata mantan guru, ibu Narti sudah lama pensiun. Dia masih tinggal di rumah lamanya. Kata teman-teman kecilku yang masih ada di kampung, ia sudah sakit-sakitan. &lt;br /&gt;Sedangkan Mala, berdasarkan informasi adik sepupuku yang duduk di bangku SMP, kini bekerja sebagai pegawai koperasi sekolah tempat aku belajar dulu. Aku mencibir ketika mendengar informasi itu. Ternyata gadis cantik dan sombong itu hanya  pegawai honor di koperasi yang menjual jajanan dan alat tulis. Kasihan deh, Lo.&lt;br /&gt;Untuk mendukung misiku, tentu perlu penampilan yang lebih. Dari pakaian dan perhiasan yang kukenakan, orang-orang tidak ragu lagi akan kesuksesanku di rantau. Tapi, untuk sarana transportasi aku tidak mungkin memakai kendaraan umum. Meski ada motor di rumah, aku lebih memilih menyewa mobil dan kukendarai sendiri.&lt;br /&gt;Misi pertama adalah Ibu Narti. Sengaja mobil kujalankan perlahan dan pura-pura berhenti untuk menelpon seseorang dan turun dari mobil. Ternyata mobil yang berhenti di depan rumahnya memancing mantan guru yang pernah menyakiti perasaanku itu keluar. Ia memperhatikanku yang terus pura-pura menelpon.&lt;br /&gt;“Maaf, Bu. Betul ini rumah Ibu Narti,” akhirnya aku mulai menjalankan misiku.&lt;br /&gt;“Iya, saya sendiri. Anak siapa?” sahutnya.&lt;br /&gt;Aku sengaja tidak menjawab. Kubiarkan ia mengamati wajahku dan mencari sesuatu di wajahku yang bisa mengingatkannya akan seseorang. Ternyata benar, tahi lalat di dekat telingaku mengingatkan dia akan seseorang.&lt;br /&gt;“Kamu dulu bekas murid saya ya? Kamu si…Aduh saya lupa nama kamu. Tapi kamu adalah murid saya dulu kan?” ternyata ingatannya masih segar, dan ini membantu mempercepat pembalasan dendamku.&lt;br /&gt;“Benar, saya dulu murid ibu. Santi nama saya. Anak seorang petani yang bodoh dan tidak bisa membuat prakarya bunga. Sekarang sang ibu bodoh itu sedang bangga-bangganya, karena aku sudah menjadi orang sukses dan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan !” tuturku pedas dan menatap tajam pada wajah yang keriput itu.&lt;br /&gt;Tampak rasa kaget yang begitu hebat di wajah mantan guruku itu dan kemudian berubah menjadi mimik sedih. Tapi aku tidak peduli, karena ada kepuasan yang begitu hebat aku rasakan ketika melihat wajahnya seperti itu.&lt;br /&gt;“Ingat bu, bocah kecil yang pernah ibu permalukan sekarang bisa berbalik menyakiti ibu!” aku mengeluarkan kata-kata itu sambil berbalik dan masuk ke dalam mobil.&lt;br /&gt;Sebelum meninggalkan mantan guruku yang masih berdiri di teras rumahnya, aku sempat melihat seseorang datang dari dalam rumah dan bertanya tentang apa yang baru saja terjadi. Mungkin kata-kata terakhir yang kukeluarkan dengan nada keras terdengar hingga sampai ke dalam rumah. Tapi semua itu membuatku tertawa lepas, selepas-lepasnya. Satu lagi dendamku baru terbalaskan.&lt;br /&gt;Dari rumah mantan guruku yang sekarang pasti menyesali sikapnya dulu terhadapku, aku menuju gedung SMP di mana aku pernah bersekolah. Tujuanku adalah koperasinya, menemui cewek cantik dan sombong yang sekarang hanya menjadi pelayan itu.&lt;br /&gt;Kubiarkan kaca mata hitam bertengger di hidungku. Aku memasuki ruangan koperasi yang masih seperti aku masih sekolah di sana. Pintunya terbuka dan kulihat di ujung ruangan, seorang wanita seusiaku sedang menunduk asyik menulis. Sekilas aku yakin dia adalah Mala.&lt;br /&gt;Tapi aku pura-pura tidak melihat. Dengan gaya cuek aku melihat-lihat lemari kaca yang memajang aneka alat tulis. Dari sudut mata kulihat Mala bangkit dan menuju ke arahku. Tapi, aku kembali acuh dan seolah-olah tidak tahu akan kehadirannya di sisiku.&lt;br /&gt;“Kamu…Kamu Santi kan? Kamu teman sekelasku dulu kan?” Mala memegang tanganku, ketika aku sengaja menyelipkan kacamata itu sebagai pengganti bando di atas kepalaku.&lt;br /&gt;“Hmmm…Siapa ya?” aku sengaja pura-pura tidak kenal dengannya.&lt;br /&gt;“Kamu lupa ya? Aku Mala teman kamu di SD dan di SMP dulu. Kamu katanya sudah sukses ya, hebat kamu ya aku tidak menyangka kamu bisa sesukses ini?” ia memburuku dengan pertanyaan.&lt;br /&gt;“Hmmm…Oh ya. Kamu Mala yang dulu pernah mengejek aku bahwa aku tidak akan mungkin meraih cita-citaku menjadi wartawati. Sekarang kok malah kamu mengatakan aku hebat?” aku mulai menjalankan misiku.&lt;br /&gt;Mala kaget dengan perkataanku barusan. Ia menunduk dan ada raut wajah menyesal di wajahnya yang putih kusam. Aku sangat senang melihat sikap salah tingkahnya itu.&lt;br /&gt;“Kok kamu kerja di sini? Orang secantik kamu kan enaknya jadi sekretaris di kantoran. Sayang cantik-cantik hanya jaga koperasi, kasihan deh kamu,” aku tidak peduli dengan wajahnya yang makin merah dan ada air mata menggenang di sudut matanya.&lt;br /&gt;Aku keluar dengan senyum lebar dan dada yang kurasakan makin longgar. Sekilas aku menolehkan kepala ke belakang dan kulihat Mala mengusap air matanya. Sambil menuju mobil aku tertawa lepas dan tak kupedulikan lirikan sejumlah guru yang melintas di dekatku.&lt;br /&gt;Sambil mengemudikan mobil aku masih tertawa-tawa. Dendamku sudah terlampiaskan sesuai rencanaku. Orang-orang yang pernah menyakitiku dulu kaget dan shock mendengar kata-kata pedasku. Setiap mengingat wajah penyesalan mereka, tawaku makin keras.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku seperti kehabisan tenaga untuk tertawa lepas, ketika kurasakan ada jarum yang runcing menusuk kulitku. Aku berusaha untuk terus tertawa menikmati kemenanganku, tapi aku tak sanggup. Di depan ada wanita berbaju putih, ia memegang bahuku dan tersenyum. Sementara di sebelahnya ibuku menangis.&lt;br /&gt;“Dia sudah mulai tenang dan akan tertidur, nanti kita akan memeriksanya lebih intensif. Ibu sabar saja,” sayup-sayup aku mendengar kata wanita yang di dadanya tertulis Rumah Sakit Jiwa Waras.***tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7986884513327128223?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7986884513327128223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7986884513327128223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7986884513327128223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7986884513327128223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/dendam.html' title='Cerpen :DENDAM'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-2323716066805675467</id><published>2010-04-10T22:32:00.000-07:00</published><updated>2010-04-12T20:25:04.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cerpen :Penyengat Aku Akan Kembali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8FhVFp3RDI/AAAAAAAAAbo/rUaxTbQ1qy0/s1600/kaver+penyengat.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 245px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8FhVFp3RDI/AAAAAAAAAbo/rUaxTbQ1qy0/s320/kaver+penyengat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458751238272664626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruling kapal yang memasuki Pelabuhan Sri Bintan Pura membangunkan aku dari tidur. Perlahan kubuka mata yang masih berat. Karena terlalu letih aku jadi tertidur di atas kapal ferry yang membawaku dari Pelabuhan Punggur, Batam ke Tanjungpinang. &lt;br /&gt;Sebagian besar penumpang sudah berkemas-kemas dan berjejal antri agar bisa secepatnya keluar kapal. Tapi aku masih memilih duduk, memandang keluar jendela mengamati sebuah pulau kecil yang persis berada di depan pelabuhan. &lt;br /&gt;Pulau Penyengat sepertinya masih seperti dulu, dengan rumah-rumah masyarakat di sepanjang garis pantainya. Pompong-pompong nelayan yang hilir mudik membawa masyarakat dari pulau itu ke Tanjungpinang dan sebaliknya, juga masih seperti dulu. Mesjid Sultan Riau dengan warna hijau dan kuning masih kokoh berdiri menunjukan kharismanya.&lt;br /&gt;Ketika melihat semua itu, kutarik nafas dalam-dalam. Ada rasa rindu dan gejolak yang tak kumengerti menyelinap dalam dadaku,. Beberapa waktu terakhir aku selalu gelisah dan teringat dengan Kota Gurindam, khususnya Pulau Penyengat. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun sejak aku meninggalkan kota kecil itu memang belum sekali pun aku kembali, meskipun sekedar untuk singgah. Padahal aku pernah menetap lama di sini. Lima tahun bukanlah waktu yang pendek. Banyak kenangan yang terangkai di kota yang nyaman ini.&lt;br /&gt;Namun karena panggilan kerja di tempat lain aku harus meninggalkan kota perantauanku yang pertama. Meninggalkan teman-temanku yang sudah kuanggap sebagai saudara kandung; tetangga di sekitar tempat tinggal yang sudah kuanggap sebagai handai taulan. Tapi sejak beberapa minggu terakhir, tiba-tiba aku kembali teringat dengan kota ini. Hati dijalari rasa rindu untuk mengunjungi Mesjid Sultan Riau dan shalat di sana. &lt;br /&gt;Dulu aku sering datang ke mesjid itu untuk sholat wajib dan sunat. Ada kenyamanan lain yang kurasakan ketika melaksanakan sholat di sana. Kegelisahan dan masalah yang menghimpit seakan berkurang setiapku memanjatkan doa di sana.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apakah itu karena aku ikut terpengaruh dengan kepercayaan masyarakat selama ini, bahwa mesjid itu punya “kelebihan” karena sejarah yang dimilikinya. Tapi yang jelas aku merasakan kesejukan hati setiap memasukinya.&lt;br /&gt;Pertama kali datang mengunjungi mesjid itu memang atas saran dari temanku Nani. Dia menceritakan kalau Penyegat adalah pulau yang indah dan banyak peninggalan sejarah Melayu dan Islam, sehingga kalau datang ke pulau itu dengan niat yang baik apalagi sholat di mesjid yang ada di sana, akan memberikan kebaikan kepada kita. Bahkan konon doa-doa kita akan makbul.&lt;br /&gt; “Kalau awak tak percaya, coba saja datang kat sana. Macam mana pula sudah lebih satu tahun di Tanjungpinang belum pernah datang ke sana. Itu artinya awak belum sampai di Tanah Melayu ini. Coba saja, kalau perlu  awak berdoa minta cepat dapat jodoh, mudah-mudahan terkabul,” ungkap si mungil itu berapi-api dengan logat Melayunya.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum menanggapi ceritanya, karena aku percaya yang namanya sholat dan doa yang makbul tidak ditentukan di mana kita melakukannya, namun juga ditentukan oleh usaha dan ikhtiar kita.  &lt;br /&gt;Aku baru mengunjungi pulau itu beberapa minggu setelah Nani bercerita tentang pulau itu. Cerita Nani mulai kurasakan kebenarannya ketika berada dalam pompong yang membawaku ke pulau yang berjarak sekitar 15 menit dari Kota Gurindam itu.&lt;br /&gt;Angin laut yang sepoi-sepoi, memberikan perasaan tenang dan nyaman. Hilir mudik pompong pengangkut penumpang dan pencari ikan memberikan kesan yang mendalam bagiku.&lt;br /&gt;Ketika menjejakan kakiku di pelabuhan kecil di sana, kurasakan kedamaian sebuah pulau kecil yang berbeda dengan suasana di tempat lain. Sapaan sejumlah masyarakat yang kutemui di sepanjang pelantar memberikan arti tersendiri bagiku.&lt;br /&gt;“Mungkin inilah kelebihan dari mesjid ini,” aku membatin ketika melangkahkan kakiku masuk dan merasakan sesuatu yang lain mengalir dalam dadaku. &lt;br /&gt;Masalah yang menghimpitku selama ini tumpah bersama dengan air mata mengalir di antara doa yang kupanjatkan. “Ya Allah aku pasrahkan semuanya kepada-Mu, berikanlah jodoh kepadaku yang bisa membimbingku dunia dan akhirat. Amin,” kututup doa dengan air mata yang membasahi mukenaku. &lt;br /&gt;   ***&lt;br /&gt;Sapaan dari awak kapal membuatku tersentak dari lamunan,” Tak turun, Kak? Semua penumpang sudah turun,” ujarnya, sambil menunjuk ke deretan kursi yang telah kosong. &lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum kecil dan bergegas mengambil koper kecil yang berada di sebelahku. Tak kupedulikan pandangan sejumlah awak kapal yang tampak heran melihat mataku yang digenangi air mata. &lt;br /&gt;Langkahku pelan menyusuri dermaga pelabuhan dan mataku tak lepas menatap ke sekelilingnya. Tampaknya kota ini sudah banyak berubah bahkan tampak lebih cantik. Jalan raya di Tepi Laut sudah dibuat dua jalur, sehingga menambah kenyamanan bagi pengendara dan masyarakat yang menggunakannya. Jalan pinggir pantai itu merupakan salah satu tempat favorit bagi masyarakat untuk bersantai khususnya sore hari dan minggu pagi. &lt;br /&gt;Pemimpinnya yang seorang wanita ternyata cocok dengan kota ini. Karena ketelatenan seorang wanita menjadikan Tanjungpinang sebagai kota yang bagaikan sebuah rumah yang setiap hari mendapatkan perhatian seorang ibu rumah tangga yang bijak.&lt;br /&gt;Kualihkan pandanganku ke atas panorama di bukit di sebelah kanan pelabuhan, dengan bunga-bunga berbagai warna di antara tulisan nama kota Tanjungpinang yang dapat dilihat dari jarak sekian puluh meter dari laut. &lt;br /&gt;Mendekati pintu keluar pelabuhan masih tampak suasana seperti tiga tahun ketika aku meninggalkan kota ini. Tukang ojek, supir taksi dan para guide yang menunggu penumpang keluar dari pelabuhan untuk mendapatkan jasa mereka.&lt;br /&gt;Tawaran mereka kusambut dengan gelengan kepala, karena aku lebih suka berjalan menuju hotel yang berada tidak jauh di depan pintu masuk pelabuhan tersebut. Kutelusuri jalan menuju ke arah luar pelabuhan sambil memperhatikan sejumlah bangunan yang saat aku tinggalkan kota ini belum ada.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kubiarkan diriku hanyut dengan suasana pompong yang membawaku ke Pulau Penyegat. Kunikmati percakapan masyarakat yang berdialek Melayu. Dulu aku juga menggunakan bahasa itu dalam percakapan sehari-hari. Aku bangga menggunakan karenanya bahasa itu seakan sudah menjadi bahasa keduaku setelah Bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;Padahal sebagian besar anak-anak kelahiran kota ini malah lebih suka menggunakan bahasa Jakarta dalam percakapan sehari-hari, sementara Bahasa Melayu sendiri yang merupakan akar dari bahasa nasional seakan hanya digunakan para orang tua. &lt;br /&gt;Pompong merapat ke pelabuhan kecil yang sudah berganti dari pelabuhan kayu menjadi beton. Namun suasana pulau kecil yang berpenduduk beberapa ratus jiwa itu masih asri, nyaman dan religius, mempertahankan bagian dari Kota Tanjungpinang yang berbudaya dan agamis.&lt;br /&gt;Tak sabar aku menuju Mesjid Sultan Riau yang terawat itu. Aku tak tahu apakah ini karena terdorong gejolak yang kurasakan selama beberapa waktu terakhir. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kembali air mataku membasahi mukenaku ketika kupasrahkan diri memanjatkan doa ada Illahi. “Ya Allah di usiaku yang makin matang aku tetap mengharapkan rahmat-Mu memberikan aku seorang pendamping, yang bisa membimbingku dunia dan akhirat. Semua kuserahkan pada kebesaran-Mu, karena selama ini aku telah cukup berusaha. Namun kegagalan selalu menimpaku, tapi ku sadar Engkau sedang menguji imanku dan aku yakin suatu saat Engkau mempercayakan seorang laki-laki sebagai imamku. Amin.”&lt;br /&gt;Beban yang menghimpitku selama tiga tahun sibuk bekerja di Jakarta seakan hilang ketika akhir doa itu. Aku tidak mengerti apakah ini jawaban dari kegelisahanku dan rasa yang selama ini seakan terus memanggilku untuk kembali datang ke Penyegat. &lt;br /&gt;Di usiaku yang 32 tahun aku masih sendiri, padahal teman-teman seangkatanku sudah menikah dan punya anak. Dulu saat aku masih menetap di kota ini, usiaku masih 25 tahun. Kekhawatiran belum mendapatkan jodoh tidak terlalu mengganggu. Namun bukan berarti aku tidak berusaha untuk mendapatkannya. &lt;br /&gt;Namun entah kenapa, aku selalu gagal dalam menjalin hubungan dengan laki-laki. Berbagai penghalang selalu menghadangku dalam melanjutkan hubungan dengan sejumlah laki-laki. Dari yang beda adat, agama hingga masalah pertentangan dalam keluarga.&lt;br /&gt;Karenanya ketika aku sedang dilanda masalah apalagi dalam berhubungan dengan seorang pria, aku selalu datang ke pulau itu dan bersujud serta berdoa di Mesjid Penyengat. Karena aku merasakan kenyamanan setiap berada di sana dan masalah yang aku hadapi seakan hilang bersama air wudhu yang mengalir membasahi tubuhku. Setelah itu aku kembali optimis untuk terus berusaha dan berikhtiar.&lt;br /&gt;Ketika menetap di Jakarta dan usiaku yang memasuki kepala tiga, aku masih optimis untuk bisa mendapatkan jodoh. Namun sepertinya aku masih diuji dengan berbagai tantangan. Akhirnya aku masih sendiri hingga saat ini. Sampai suatu ketika aku mengalami kejenuhan dan frustasi yang membuat diri ini malas berkenalan dengan laki-laki. &lt;br /&gt;Toh hanya mubazir dan membuatku capek dan tanpa hasil. Begitu aku berkesimpulan dengan semua pengalaman yang aku alami selama. Hampir dua tahun aku menutup diri terhadap laki-laki yang ingin kenal dekat dengan aku, sampai suatu ketika aku teringat dengan Kota Tanjungpinang dan Mesjid Penyengat&lt;br /&gt;“ Kamu coba aja datang ke kota itu lagi, sholat lagi di mesjid itu dan banyak beristighfar di sana. Mungkin bisa kembali membangkitkan semangat kamu, karena selama ini kamu kan sudah merasakan apa yang tidak kamu dapatkan sebelumnya. Mudah-mudahan kamu bisa bangkit lagi setelah itu, kamu bisa menjadi Mirna yang dulu, yang optimis,” nasehat Ranti, ketika aku menuturkan tentang kegelisahan dan rasa rinduku pada pulau itu. &lt;br /&gt;Akhirnya dengan meminta cuti dua minggu, aku menetapkan hati untuk mengunjungi Tanjungpinang, sebuah kota di Pulau Bintan. Tekadku hanya satu, aku ingin membangkitkan kembali semangatku bersama kedamaian dan kesejukan hati ketika berdiam melaksanakan ibadah dalam mesjid itu. Aku juga berharap apa yang dinginkan Ranti bisa terkabul, menjadi pribadi  yang tegar dan optimis.&lt;br /&gt;“Assallammualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh, bile awak datang?” sebuah suara berdialek Melayu mengejutkan heningku usai berdoa.&lt;br /&gt;Kujawab salam itu. Seorang laki-laki mengambil duduk bersimpuh di hadapanku. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya, yang kusambut dengan penuh ragu. Aku cepat-cepat kembali menarik tanganku. &lt;br /&gt;“ Awak sepertinya sudah lupe dengan saye, tapi saye tidak lupe dengan awak. Wajah awak masih seperti dulu, tak berubah-ubah sangat. Mungkin wajah saye yang sudah tue sangat sampai awak lupe,” ujar pria hitam manis itu, dengan senyum di bibirnya.&lt;br /&gt;Kucoba mengingat wajah pria berkumis yang mengenakan kaca mata minus di depanku ini. Tapi aku gagal menemukan gambaran siapa pria yang duduk di hadapanku. &lt;br /&gt;“Saya Usman, pegawai di Kantor Wali Kota. Dulu awak pernah kenal, tapi tak dekat. Tapi saye tahu siape awak karena awak sering datang berurusan ke kantor saye kan. Tapi awak cuma bertemu dengan bos saye, saya anak buah ini apalah,” tuturnya dengan terus tersenyum.&lt;br /&gt;Aku merasa tersinggung dengan ucapannya itu, tapi cepat-cepat aku tepis karena aku tahu dia hanya bercanda untuk mencairkan suasana yang kaku. &lt;br /&gt;“Oh maafkan saye, karena saye baru ingat, mungkin karena sudah lama saye jadi lupa. Oh ya saye baru satu hari datang untuk berlibur dan melihat-lihat kota ini lagi,” aku menjawab pertanyaan dia yang belum sempat terjawab tadi. &lt;br /&gt;Percakapanku dengan Usman terus berlanjut sampai ke pompong yang membawa kami ke Tanjungpinang. Aku mulai bisa mengingat, dia lelaki yang dulu pernah kukenal tapi tak terlalu akrab.  Dia adalah staf di sebuah kantor pemerintahan. Pekerjaanku sebagai tenaga konsultan membuatku harus sering bolak-balik ke kantornya yang memegang urusan perencanaan pembangunan.&lt;br /&gt;Aku baru sadar kalau dia yang sering mencandaiku setiap aku datang dan kadang harus menunggu atasannya yang sedang menerima tamu atau berada di luar. “Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Ya dengan membaca majalah ini,” ujarnya, sambil menyodorkan sebuah majalah kehadapanku. &lt;br /&gt;Kala itu aku cukup lama menunggu atasannya yang ternyata ada urusan yang mendadak. Mungkin karena kasihan melihat aku bosan dan jengkel, Usman menyodorkan sebuah majalah. Tapi aku malah mengacuhkannya dan lebih memilih mengutak-atik ponselku.&lt;br /&gt;“Maaf kalau saye salah cakap, dulu awak itu tampak sombong sangat. Padahal saye dari dulu ingin kenal dekat dengan awak, tapi awak sepertinya tidak mau berkawan dengan anak buah seperti saye. Padahal, meski anak buah, saye juga punya kelebihan,” katanya sambil tergelak.&lt;br /&gt;Meski tersinggung dengan ucapan itu, aku coba merenung kata-katanya itu. Rasanya selama ini aku tidak seperti yang ia katakan. Tapi mungkin itu hanya penilaianku saja, toh yang menilai diri kita kan orang lain. &lt;br /&gt; Melihat aku terdiam Usman mencoba meminta maaf kembali, “Maafkanlah saye kalau salah cakap, saye orangnya memang begini adanya. Kalau terasa tak boleh dipendam karena bisa menjadi dendam.” Ia beralasan.&lt;br /&gt;“Tak apa-apa, mungkin ada benarnya, maafkan saya kalau dulu sikap saya agak menjaga jarak dengan orang-orang yang tidak begitu saya kenal,” balasku. &lt;br /&gt; “Makanya, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, kalo tak cinta mana bisa bersama, itukan kata pepatah lama,” ia kembali tertawa, dan aku pun ikut tersenyum meski rasa getir kurasakan tiba-tiba menyelinap di dada.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pertemuan yang tidak sengaja di Mesjid Penyengat berlanjut dengan hubungan melalui pesan pendek di ponsel. Usman ternyata suka bercanda dan berkata apa adanya. Ada-ada saja pesan yang dikirimkannya, dan itu kadang membuatku tersenyum, bahkan tertawa. &lt;br /&gt;Pesan-pesan Usman mewarnai hari-hariku selama lebih seminggu berada di kota ini. Meski tidak pernah bertemu lagi sejak di Penyengat, ia seakan terus mendampingku di kala aku sendiri. Apalagi  teman-teman lamaku tidak bisa mendampingi. Aku maklum mereka sibuk dengan pekerjaan dan urusan keluarganya masing-masing.&lt;br /&gt;Tapi aku tidak terlalu menanggapi pesan yang kadang menjurus ke arah percakapan yang serius tersebut, karena aku tahu dia suka bercanda. Seperti ketika dia mengatakan dalam sebuah pesannya, “Bukannya abang tidak sayang sehingga tidak bisa menemani awak, tapi abang sibuk mencari sesuap nasi untuk kita berdua.”&lt;br /&gt;Pesan itu ia kirim ketika aku mengeluh tidak satu pun teman lamaku yang bisa kuajak berjalan-jalan. Aku membalas pesan itu dengan nada biasa, “Sesuap apa sesuap…?” Hanya itu dan tidak membuka peluang untuknya untuk melanjutkan ke arah yang lebih serius.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu kenapa setiap dia mencoba membuka percakapan ke arah yang serius, aku malah menghentikannya. Kalau dikatakan aku masih menutup diri, mana mungkin aku mau berkenalan dan membalas pesan dari Usman. &lt;br /&gt;Saat aku frustasi, jangankan membalas pesan, memberikan nomor teleponku pada laki-laki yang baru aku kenal pun aku tidak sudi. Bahkan berjabatan tangan sekedar untuk saling mengetahui nama, aku tidak mau. Sampai kadang Ranti memaki-maki aku karena malu dengan teman pria yang hendak dikenalkan dengan aku.&lt;br /&gt; Sampai ketika masa cutiku tinggal dua hari lagi dan aku harus bersiap-siap kembali ke Jakarta. Sebuah pesan dalam berbentuk pantun dari Usman pagi itu membuat aku tercenung. &lt;br /&gt;“Kalau ada sumur di ladang boleh kite menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang bolehlah saye bertemu dengan awak lagi. Semoga awak masih sudi karena saye akan masih setia menanti,” &lt;br /&gt;Aku coba merenungi semua yang telah aku lalui selama kembali ke kota ini. Aku kembali mencoba menjernihkan niatku untuk datang ke kota ini. Ya, aku ingin kembali menjadi diriku yang tegar dan optimis. &lt;br /&gt;Sekarang aku merasa sudah kembali seperti dulu, optimis menatap masa depan lagi untuk menemukan seorang laki-laki yang akan mendampingku. Tapi,….kenapa aku masih menjaga jarak dengan Usman yang tampak menaruh perhatian dan perasaan dengan aku. Kalau aku sudah kembali optimis, kenapa aku harus begini?&lt;br /&gt;“Astaghfirullah aladzim. Ya Allah ampunilah hambamu yang tidak bersyukur ini,” aku beristigfar ketika aku menyadari kesombonganku. &lt;br /&gt;Seharusnya aku bisa menerima Usman sebagai kawan dekat, tidak hanya sekedar teman bercanda. Dan aku seharusnya tak menghindar ketika ia mengajak bicara serius. Kalau aku masih menghindar, berarti aku masih seperti dulu, yang tidak mau berusaha. &lt;br /&gt;Kujawab pesan Usman dengan pantun,”Tidak perlu ke ladang mencari sumur untuk mandi, tidak perlu menunggu umur panjang untuk bertemu lagi, karena saye sudi bertemu hari ini.”&lt;br /&gt;Kutepati janjiku bertemu dengan Usman sore itu di sebuah “akau” yang menghadap ke pantai. Di sana kami bertukar cerita tentang diri masing-masing. Ternyata Usman tiga tahun lebih tua dari aku dan saat ini sudah menjabat sebagai kepala bagian di kantornya. &lt;br /&gt;Kesendiriannya hingga saat ini karena selain sibuk dengan melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar master juga pekerjaan kantornya yang menumpuk. Dan satu lagi, dia mempunyai tanggungjawab untuk mengantar adik-adiknya menyelesaikan sekolah. Saat ini di posisinya yang sudah nyaman dan usianya yang juga sudah matang, Usman berniat untuk mencari jodoh sebagai pendamping hidup.&lt;br /&gt; “Mungkin selama ini Tuhan belum memberikan jodoh kepada saye, tapi sekarang saye sepertinya sudah menemukannya dan mudah-mudahan ini betul-betul kiriman Tuhan yang kembali datang dari jauh,” ungkapnya  serius tapi masih dengan gaya bercanda. &lt;br /&gt;Aku hanya tersipu mendengarnya. Dan aku pun menceritakan tentang diriku yang beberapakali gagal dalam menjalin hubungan dengan sejumlah laki-laki, sampai aku frustasi dan rasa rindu kepada Tanjungpinang yang membawaku kembali ke kota ini. &lt;br /&gt;“Sekarang awak semakin yakin kan kalau Pulau Penyengat itu dan mesjidnya itu ada kelebihan? Orang yang pernah datang ke sana biasanya akan balik lagi ke sana. Kalau tidak kenapa pejabat yang datang ke kota ini selalu menyempatkan shalat di sana. Awak sendiri kan sering datang dan berdoa di sana, sekarang awak sudah merasakannya sendiri buktinya sudah bertemu dengan saye,” ujarnya, dengan senyum yang masih menggantung di bibir. Aku merasakan ada getar halus setiap melihat senyum itu.. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kucium tangan Usman dengan air mata yang tak dapat kubendung ketika selesai Shalat Maghrib di Mesjid Penyengat. Hari itu merupakan pertama dan terakhir kali aku shalat berjamaah dengan Usman. Besok aku harus kembali ke Jakarta. &lt;br /&gt;“Sejak malam ini abang akan menjadi Imam untuk adek, kembalilah ke Jakarta dan baliklah segera untuk abang dan kite akan menikah membina keluarga sakinah, mawadaah dan warahmah. Insya Allah,” bisiknya.&lt;br /&gt;Kupandangi langit senja yang memerah dan kubiarkan sapuan angin laut yang mulai menusuk dingin sum-sumku. Di atas Pompong yang membawaku kembali ke Tanjungpinang, kubiarkan kokoh tangan Usman memeluk tubuhku, memberikan kehangatan di tengah dinginnya malam. Perlahan kuberbisik, “Penyengat aku pasti kembali.” ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2004, tuk suamiku yang tercinta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-2323716066805675467?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/2323716066805675467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=2323716066805675467' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2323716066805675467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2323716066805675467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/penyengat-aku-akan-kembali.html' title='Cerpen :Penyengat Aku Akan Kembali'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S8FhVFp3RDI/AAAAAAAAAbo/rUaxTbQ1qy0/s72-c/kaver+penyengat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7877832684243147027</id><published>2010-04-10T22:23:00.001-07:00</published><updated>2010-04-12T20:25:38.852-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Cerpen :One</title><content type='html'>Tit tit tit…! Kuraih HP ku yang sejak tadi tergeletak di atas kasur. “One ada kabar yang menggembirakan sekali. Tapi nanti saja ya diceritakan soalnya waktunya kurang tepat. Selamat penasaran, hehehe…” begitu isi pesan singkat yang ternyata dari One, kakak sulung perempuanku.&lt;br /&gt;“Huu, basi pakai janji segala. Untuk apa memberi tahu kalau tak jelas,” aku mengomel dan melanjutkan membaca. &lt;br /&gt;Usai Magrib nada tanda pesan masuk kembali berbunyi. Aku malas-malasan membukanya. Palingan One yang kembali membuat aku penasaran, batinku. &lt;br /&gt;“Penasaran dari tadi ingin tahu ya kabar apa? Jangan cemberut begitu, Manis. Ini benar-benar kabar gembira. One dilamar…!” Memang benar dugaanku pesan itu dari One, tapi isinya masih membuatku penasaran. &lt;br /&gt;“Jangan cerita kalau hanya sepenggal, tidak menarik, tauuuu..!!” omelku dalam balasan.&lt;br /&gt;Ketika kembali menerima balasan dari One, ia tertawa terbahak-bahak mengetahui aku jengkel. One bercerita kalau ia dilamar oleh pria yang beberapa bulan ini dekat dengannya. Menurut One, lamaran itu memang masih sebatas antara mereka berdua, nanti resminya tentu antara keluarga kami dan pria itu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kata One pria yang masih dirahasiakan namanya itu berusia matang di atas tiga puluhan. Orangnya baik, punya pekerjaan tetap, keluarganya juga baik. Dan yang jelas, kata One berusaha menyakinkanku, pria itu ganteng. Pokoknya One merasa sangat beruntung bisa dilamar oleh pria itu. &lt;br /&gt;One juga mengatakan, impiannya untuk mempunyai suami seperti yang ia idam-idamkan selama ini akan terwujud. One juga bilang kalau status sosial calon suaminya ini nanti tentu akan membuat mata orang kampung yang sebelumnya meremehkan keluarga kami akan terbuka dan malu hati. &lt;br /&gt;“Siapa yang menyangka, kalau anak petani ini bisa dilamar pria seperti calon suamiku. Udah ganteng, baik, mapan dan dari keluarga yang baik-baik. One merasa paling bahagia di dunia saat ini,” ungkapnya dalam pesannya yang entah keberapa. &lt;br /&gt;Pesan dari One baru berhenti setelah ia mengatakan kalau tangannya pegal dan berjanji besok akan bercerita lagi. Aku kembali membuka pesan-pesan One tadi. One tampaknya sangat gembira, seperti tercermin dari kalimat-kalimatnya.&lt;br /&gt;One, kakak pertama dari kami yang lima bersaudara. One panggilan pengganti kakak dalam kebiasaan orang Padang. Nama aslinya Marni. One berusia enam tahun lebih tua dariku yang anak ketiga. Meski terpaut jauh, kami cukup dekat karena sejak kecil aku sudah terbiasa diasuh One. &lt;br /&gt;Waktu kecil aku sering kesal pada One, karena ia adalah pribadi yang tegas terhadap adik-adiknya dan bahkan terkesan keras kepala. Seperti kalau sudah waktunya aku harus mandi, ia cukup mengatakannya sekali tapi dengan nada tegas. Di telingaku yang masih kecil itu seperti sebuah komando yang memang tidak bisa ditawar.&lt;br /&gt;Kalau aku tidak menurut, One biasanya tidak akan mengacuhkan aku. Saat aku meminta diajarkan PR Matematika, One tidak peduli. Bahkan meski aku merengek sampai menangis, ia tak perduli. Meski Mak meminta sekalipun, One tidak peduli. &lt;br /&gt;“Itu makanya kalau disuruh mandi ya mandi, jangan membantah. Sekarang minta tolong merengek-rengek dan menangis. Dari kecil harus disiplin dan patuh sama aturan…!” omelnya tegas.&lt;br /&gt;Itu terjadi saat aku duduk di bangku kelas enam SD. One saat itu sudah duduk di bangku SMA. One mendidikku dan adik-adik melebihi sikap Ayah dan Mak. &lt;br /&gt;Meskipun terkesan egois, One sangat menyayangi adik-adiknya yang masih kecil. Dua orang adik kami, Rara dan Dede yang masih balita begitu dekat dengan One. Tapi kepada keduanya One tidak setegas seperti kepada aku. Kadang aku iri melihat perhatian dan kasih sayang One yang berlebihan kepada adik-adikku itu. &lt;br /&gt;Kadang kedisiplinan One membuat ia sering bertentangan dengan Mak. Kalau waktunya belajar, One tidak mau diganggu, bahkan oleh Mak atau Ayah sekali pun. Pernah suatu hari Mak meminta One menemani beliau ke rumah kerabat. Tapi One menolak dengan alasan sedang belajar dan menyuruh aku yang menemani Mak.&lt;br /&gt;Bukan sekali dua One menolak seperti itu, karena jika ia sedang mengerjakan sesuatu yang menurutnya lebih penting, ia tidak akan segan-segan menolak dan disertai alasan yang memang masuk di akal. &lt;br /&gt;Sikap One itu tak jarang membuat Mak marah, bahkan saking marahnya Mak mengatakan kalau belajar One tidak ada gunanya. Toh, anak petani hanya akan tetap menjadi seorang petani.&lt;br /&gt; “Tidak usah mimpi, banyak sarjana yang menganggur, apalagi kamu kan hanya disekolahkan hingga tamat SMA, tidak akan jadi apa-apa…!” omel Mak.&lt;br /&gt;Tapi One bergeming meski Mak sering mengatakan hal itu berulang-ulang. One masih tetap rajin belajar dan menjadi langganan juara kelas. Apalagi saat duduk di kelas tiga SMA, One semakin rajin belajar dan ikut tambahan sore hari di sekolah. Waktu One yang banyak dihabiskan untuk sekolah membuat Mak sering mengomeli One. Pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan One  menjadi pekerjaan Mak. &lt;br /&gt;Sering aku melihat Mak mengomel dan marah-marah. Tapi One tetap dengan pribadinya. Ia hanya diam dan tidak berkata sepatah pun kalau Mak mengomel atau marah-marah. Diam, tapi bukan berarti One tak mengeluh. Itu baru aku ketahui saat tanpa sengaja aku menemukan buku hariannya. &lt;br /&gt;Di dalam buku itu One menuliskan rasa sedihnya karena tidak mendapat dukungan penuh dari Mak untuk mencapai cita-citanya. One merasa heran dengan sikap Mak yang malah tidak bangga dengan dirinya yang rajin belajar dan berprestasi. &lt;br /&gt;One juga menuturkan tentang cita-cita. One ingin berhasil meraih impiannya, yakni sekedar mempunyai pekerjaan tetap sebagai orang kantoran dan punya gaji. Itu nanti bisa membantu Mak dan Ayah serta menyekolahkan aku dan adik-adik hingga perguruan tinggi. &lt;br /&gt;Meskipun sedih dan bingung dengan sikap Mak, tapi One tetap punya pikiran baik terhadap Mak. Menurut One, Mak mungkin kecewa dengan adik-adiknya yang bersekolah lebih tinggi daripadanya, ternyata akhirnya tidak punya pekerjaan bagus, malah jadi ibu rumah tangga atau bertani seperti dirinya yang juga mengikuti pekerjaan kakek dan nenek. &lt;br /&gt;“Mungkin Mak takut jika aku akan seperti dirinya dan adik-adiknya, sudah capek-capek dan menghabiskan uang untuk sekolah, tapi akhirnya hanya jadi ibu rumah tangga atau tidak bekerja. Aku bisa memahami kekhawatiran Mak. Tapi Mak, percayalah anakmu ini akan berusaha keras mencapai cita-cita,” begitu penuturan One dalam buku hariannya.&lt;br /&gt;Selain itu, One menilai Mak juga mungkin tidak percaya jika One akan mampu mencapai cita-citanya. Karenanya keluarga kami dari orang tak punya, tidak mampu untuk sekolah hingga perguruan tinggi dan bergelar sarjana sebagai modal mencari kerja. Sementara orang yang kaya saja banyak anak-anak mereka yang menganggur, meski bergelar sarjana. Kalau pun dapat kerja pasti karena sogok sana sini sehingga bisa jadi pegawai. &lt;br /&gt;Saat lulus SMA, One berniat mengambil kursus keterampilan komputer dan Bahasa Inggris. Tapi Mak dengan keras menolak. Menurut Mak, hanya akan buang-buang uang dan waktu. Mak lebih suka One menikah, sehingga beban Mak berkurang. &lt;br /&gt;Tapi, One tetaplah One yang keras hati dan optimis dalam sikap diamnya. Kepada Mak dan Ayah, One mengatakan, ia akan tetap mengambil pendidikan kursus singkat itu sebagai bekal dirinya mencari kerja. One berjanji tidak akan merepotkan Ayah dan Mak, karena ia masih punya tabungan dari sisa beasiswa pendidikan yang ia tabung selama ini. &lt;br /&gt;One membuktikan ucapannya. Meski tiap hari harus bolak-balik ke kota untuk belajar, One tidak pernah mengeluh. One tetap bisa membantu Mak mengerjakan pekerjaan rumah, meski Mak masih tetap sering mengomel. &lt;br /&gt;Belum cukup setahun kursus, One mendapatkan pekerjaan. Gaji pertama diberikannya kepada Mak. Mak senang sekali. Aku dan adik-adik juga demikian, karena One membelikan kami makanan dan perlengkapan sekolah. &lt;br /&gt;Keberhasilan One mendapatkan kerja saat masih belajar kursus tentu membanggakan Mak dan Ayah. Selain itu tetangga kiri dan kanan juga banyak yang bertanya, mengapa begitu mudah dan cepat One dapat kerja. Padahal banyak anak tetangga yang sarjana tapi susah dapat kerja.&lt;br /&gt;Mak menanyakan pertanyaan orang-orang itu kepada One. “Harus rajin cari peluang dan melihat kesempatan kerja. Jangan memilih pekerjaan. Yang penting halal. Kunci utamanya, punya kemampuan dan  keterampilan. Untuk apa sarjana kalau ternyata tidak bisa apa-apa,” jawab One. &lt;br /&gt;One bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan. Kata One, ia bertugas di bagian administrasi. “Pokoknya orang kantoran, kamu nanti kalau sudah besar pasti mengerti,” begitu One menjawab, setiap kali aku ingin tahu tentang apa saja yang ia kerjakan. &lt;br /&gt;Setahun One bekerja, tiba-tiba One mengatakan kalau ia akan pindah ke Batam. Tentu kabar itu mengejutkan kami, apalagi Mak dan Ayah. Kata One perusahaan tempatnya bekerja akan bergabung dengan perusahan lain yang ada di Batam. Dengan alasan daripada tidak bekerja, One memilih ikut bergabung di kantor yang ada di pulau yang berdekatan dengan Singapura itu. &lt;br /&gt;Mak sungguh menentang. Kata Mak, kita tidak punya keluarga di sana. Siapa yang akan mengawasi One dan siapa yang akan tahu kalau sesuatu terjadi sama One. One mengatakan kalau segala ketakutan Mak terlalu berlebihan. Menurut One, kapan bisa maju kalau masih berpikiran picik. &lt;br /&gt;“Kalau aku masih tinggal di kampung ini, kapan bisa berkembang. Kalau masih takut dengan tantangan kapan bisa berhasil. Tantangan itu harus dihadapi bukan dihindari,” begitu One menyakinkan Mak dan Ayah. &lt;br /&gt;Meskipun punya keinginan kuat untuk terus bekerja dan harus jauh dari keluarga, aku tahu One sedih. Karena ia harus meninggalkan adik-adiknya, apalagi Dede dan Rara yang begitu dekat dengannya. &lt;br /&gt;Pernah kulihat One menangis diam-diam sambil memeluk Dede dan Rara yang tidur dengannya. Tapi keesokan harinya One kembali seperti dulu, gadis yang optimis dan keras hati. &lt;br /&gt;Akhirnya hari keberangkatan One ke Batam datang juga. Mak dan Ayah meski mengizinkan tapi tetap menyimpan galaunya karena melepas anak gadis ke rantau. Begitu juga aku, karena tidak ada lagi kakakku yang selalu kuandalkan mengerjakan pekerjaan rumah. Namun di balik itu, aku senang karena tidak ada lagi kakak yang tegas dan disiplin mendidik aku. &lt;br /&gt;Dua hari sampai di Batam, One memberi kabar kalau ia sudah bekerja di kantor yang pernah ia ceritakan saat masih di kampung. Tapi, kata One, ia tidak bekerja di dalam kantor, namun di lapangan sebagai tenaga pemasaran. One mengakui memang tidak seenak saat masih bekerja di kampung. Tapi dasar sudah sifat One, ia tetap menyatakan senang dengan pekerjaannya saat itu. &lt;br /&gt;One masih tetap seperti di kampung. Ia tetap mengirimkan gajinya untuk Mak dan adik-adik. Selain itu One juga sering mengirimkan barang-barang untuk kami. Bahkan pada sebuah suratnya, One mengaku pekerjaannya sebagai marketing ternyata lebih enak, karena dapat komisi jika produk yang ditawarkan terjual. &lt;br /&gt;Enam bulan di Batam, Mak dapat kabar tidak baik. Kata orang kampong, One ke Batam bukan bekerja, tapi kawin lari dengan pacarnya. Mak tentu gusar karena kabar tidak sedap itu. &lt;br /&gt;Mak menghubungi One dan meminta jawaban jujur. Kembali kakakku dengan tegas mengatakan itu adalah kabar burung dari orang-orang yang syirik karena keberhasilannya. &lt;br /&gt;“Mak percaya orang atau anak Mak sendiri. Kalau Mak percaya orang lain silahkan, asal mereka yang bantu Mak tiap bulan menggantikan aku,” begitu kata One di telepon. &lt;br /&gt;Aku yang sudah duduk di bangku SMP waktu itu, juga menyakinkan Mak kalau kabar itu hanya isu dari orang-orang yang memang banyak iri hati dengan One. Akhirnya Mak bisa menerima dan tidak lagi memikirkan kabar itu. &lt;br /&gt;Memang saat masih di kampung, One pernah pacaran dengan teman kerjanya, namun putus saat One lebih memilih kerja ke Batam. One pernah beberapa kali membawa pria itu ke rumah.&lt;br /&gt; “Kalau punya teman dekat laki-laki harus dikenalkan pada orang tua, jangan sembunyi-sembunyi kalau memang mau serius,” begitu alasan One, ketika aku protes karena belum ada ikatan apa-apa sudah dibawa ke rumah. &lt;br /&gt;One juga pernah ke rumah pacarnya itu. Kata One hal itu ia lakukan karena serius dengan pacarnya dan kalau bisa sampai menikah. “Kodrat wanita dan pria itu dewasa itu adalah menikah, kenapa harus malu dan sembunyi-sembunyi jika memang ada niat untuk menikah,” tandas One. &lt;br /&gt;Pada lebaran pertama semenjak kerja di Batam, One pulang kampung menaiki kapal terbang. Kepulangan One ini juga mendapat bisik-bisik dari orang-orang kampung yang iri. Kata mereka One tidak bekerja melainkan jadi simpanan orang Singapura. Karena menurut mereka tidak mungkin setahun bekerja One sudah bisa pulang dengan pesawat, apalagi juga membawa barang-barang untuk kami dan memberi Mak uang untuk merehab rumah.&lt;br /&gt;Meski pun terganggu, One tidak marah. Ia menilai wajar saja ada orang yang tidak suka dengan keberhasilannya. Aku akui One memang termasuk berhasil. Ia membelikan kami barang-barang, baju dan makanan. Bahkan One juga membelikan aku telepon genggam. “Biar irit dan Mak tidak menelpon di wartel lagi. Aku juga mudah menghubungi keluarga di kampung, lagi pula murah bisa pakai sms,” alasan One.&lt;br /&gt;One kelihatan lebih cantik dan gemuk dibandingkan saat masih di kampung. Kata One, ia harus menjaga penampilan, karena ia harus berhadapan dengan banyak orang. “Bagaimana orang bisa tertarik dengan produk yang kita tawarkan, sementara kesan pertama mereka melihat kita sudah tidak sreg,” alasan One tentang penampilannya yang lebih jauh berbeda. &lt;br /&gt;Begitulah, setiap lebaran One pulang kampung dengan segala kejutan untuk kami sekeluarga. Begitu juga isu-isu miring terus terdengar setiap One pulang kampung. Tapi bagi kami sekeluarga isu  hanya angin lalu saja. &lt;br /&gt;Tak terasa One sudah empat tahun di Batam. Bahkan One sudah menduduki jabatan yang bagus di kantornya. Sejak satu setengah tahun lalu, One tidak lagi bekerja di lapangan, tapi sudah duduk di dalam kantor. Katanya One menjabat sebagai supervisor dan yang jelas gaji One semakin besar. &lt;br /&gt;Meski senang dengan peningkatan karir One, tapi Mak risau karena usia One yang telah 24 tahun dan sudah patut menikah. One belum pernah mengatakan keinginan untuk itu. “Bagaimana mau menikah, kalau calonnya saja belum ada. Nanti kalau ada pasti One bawa pulang kampung,” tulis One dalam pesan singkatnya, saat aku memberitahu Mak merisaukannya. &lt;br /&gt;Kata One, ia ingin mencari suami yang usianya matang, punya pekerjaan tetap dan yang penting bisa menjamin kehidupannya kelak. Karena kata One, setelah menikah jika memang tidak diizinkan suami bekerja, One juga senang tinggal di rumah mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak. &lt;br /&gt;“Untuk apa One masih kerja kalau suami dan anak-anak One nanti terlantar tidak ada yang urus. One tidak mau anak-anak One besar dengan pembantu. Makanya One harus mencari suami yang bisa mencukupi kebutuhan dan menjamin kehidupan anak-anak One kelak,” begitu ia menjawab pesanku yang protes, karena One mengatakan hendak berhenti kerja setelah menikah. &lt;br /&gt;Mak dan keluarga besar makin risau karena One seperti tenang-tenang saja. Usia 24 tahun bukan lagi usia yang muda tapi sudah krisis untuk menikah. Dulu kata Mak, umur 15 tahun sudah banyak wanita yang menikah. Mak saja, yang menikah di usia 20 tahun, dulu sering kena ejek dari orang kampung karena dianggap tidak laku. &lt;br /&gt;“Mudah-mudahan kabar gembira dari One ini tidak lagi membuat Mak, Ayah dan keluarga besar lain risau. One akan menikah,” aku menarik selimut dan memutuskan menyampaikan kabar gembira itu besok saja pada Mak dan Ayah. &lt;br /&gt;Usai Sholat Subuh aku kembali menerima pesan-pesan dari One. Isinya tidak lain menceritakan kebahagiannya karena sudah menemukan calon pendamping hidup yang sesuai dengan apa yang ia impikan selama ini. &lt;br /&gt;Aku dulu yang sempat meragukan One bisa mendapatkan calon suami seperti yang ia impikan, salut juga aku dengan apa yang berhasil dicapai oleh kakakku itu. One ternyata bisa membuktikan kata-katanya. Ternyata One-ku tidak berubah dari dulu, seorang kakak yang tegas, optimis dan berkemauan keras mencapai apa yang ia cita-citakan. &lt;br /&gt;Kabar gembira itu aku sampaikan pada Mak dan Ayah. Keduanya begitu senang karena berita gembira yang sejak lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bahkan karena tidak sabar, Mak menelepon One untuk mendengar langsung kabar itu.&lt;br /&gt; Sebulan setelah kabar bahagia itu, One memberi kabar kalau keluarga calon suaminya akan datang untuk melamar secara resmi. “Mak dan Ayah tolong percaya dengan pilihan aku, karena semua baik buruknya kehidupan aku yang akan menghadapi,” tegas One pada Mak dan Ayah tentang pilihannya itu. &lt;br /&gt;Dua minggu setelah One memberi kabar, keluarga calon suami One datang dan tentunya sekalian dengan calon abang iparku. Mak memeluk bahagia One ketika rombongan kecil sampai di rumah. Sementara aku senyum-senyum melihat calon abang iparku yang tampak malu-malu bertemu dengan calon mertua.&lt;br /&gt;Rombongan keluarga calon suami One yang datang adalah bapak, abang, adik dan dua orang kerabat perempuan mereka. Acara lamaran tidak terlalu resmi. Adat kami yang berbeda, sehingga dipilih jalan tengah, berupa penyerahan cincin sebagai tanda One sudah dilamar oleh Bang Yusri, nama calon abang iparku itu. &lt;br /&gt;Keluarga Bang Yusri asli Jawa, tapi sudah lama menetap di Batam. Bang Yusri berperawakan sedang, berkulit kuning dan berwajah memang lumayan ganteng. Calon abang iparku itu PNS di sebuah kantor pemerintahan. &lt;br /&gt;Dalam acara lamaran itu, juga diputuskan kalau pernikahan One akan dilakukan tiga bulan setelah acara itu, atau pas liburan panjang sekolah. Hari dan tanggal pernikahan akan ditentukan oleh keluarga kami. Yang jelas keluarga calon suami One menyerahkan sepenuhnya acara pesta pada kami di kampung. &lt;br /&gt;“Nanti kamu sekalian ikut aku ke Batam, cari kerja di sana. Biar nanti bisa gantikan One bantu Mak dan Ayah sekolah adik-adik. Kalau kamu mau kuliah sambil kerja juga bisa, yang penting kerja dulu,” kata One, saat itu kami mengobrol berdua di kamar.&lt;br /&gt;Saat itu aku tidak membantah, karena saat One menikah nanti aku sudah lulus SMA. Selain itu, One beralasan, jika nanti aku bekerja tentu akan punya gaji yang bisa digunakan untuk biaya kuliah dan membantu Mak dan Ayah. &lt;br /&gt;“Kamu kan tidak bayar kos dan makan, semua kan aku yang nanggung. Kamu itu enak punya kakak yang bisa ditumpangi di rantau, tidak seperti aku yang merantau harus mengeluarkan duit semua,” kata-kata One membuat aku tidak ragu lagi untuk ikut dengannya nanti ke Batam setelah ia menikah.&lt;br /&gt;Kedatangan dan lamaran calon suami One tentu juga tersiar di kampung kami yang kecil. Ada orang-orang yang senang mendengar kabar bahagia itu, tapi yang iri hati masih tetap seperti dulu, menghembuskan kabar tidak sedap. &lt;br /&gt;Ada yang mengatakan One merebut suami orang. Penyebab berhembusnya kabar itu hanya karena umur Bang Yusri yang memang sudah pantas punya istri dan anak. Bahkan ada juga mengatakan kalau One itu sebenarnya sudah nikah diam-diam di Batam dan saat ini sedang hamil muda. Sebab tubuh One kelihatan lebih kurus dari biasanya. Biasanya orang hamil muda yang seperti itu. &lt;br /&gt;Tapi karena sudah kenyang dengan berbagai fitnah itu, One tidak pernah menghiraukannya. Apalagi One yang memang tidak pernah menanggapi isu-isu itu. “Biarkanlah mereka kenyang dengan dosa yang mereka buat sendiri,” sergah One pada Mak yang agak terpengaruh dengan isu itu.&lt;br /&gt;Dua hari di kampong, One kembali ke Batam bersama rombongan keluarga calon suaminya. Meski agak sedih karena belum puas bertemu dengan anak dan calon menantu, tapi Mak bisa juga tersenyum bahagia ketika mengantar rombongan itu di bandara. Mak tidak perlu risau lagi memikirkan One yang selama ini hidup sendiri di rantau, sebab sudah ada calon suami dan keluarga besarnya di Batam. &lt;br /&gt;Sebulan menjelang hari H pernikahan yang jatuh pada minggu pertama Bulan Juli, One semakin sibuk menghubungi kami. Selain mengirimkan uang untuk persiapan pesta pernikahannya, One juga sibuk meminta tolong tentang hal-hal yang harus dipersiapkan oleh kami di kampung. &lt;br /&gt;Dari hal-hal yang kecil hingga yang besar dipantau One. Kemarin ia memintaku pergi menemani Mak ke toko perabot memilih perlengkapan tidur kamar pengantinnya kelak.&lt;br /&gt; “Kamu kan anak muda, pasti seleramu hampir sama dengan aku. Pilih yang modern dan tak norak,” pinta One dalam sms-nya. &lt;br /&gt;One juga meminta aku yang memilihkan warna kelambu kamarnya. Kata One ia mau warna yang lembut, kalau bisa warna biru muda, hijau muda atau kuning muda. Sementara warna pelaminan ia minta warna baju pengantin dan pelaminan yang paling trendy dan baru. &lt;br /&gt;“Kalau bisa baju pengantin dan pelaminan dari Mak Andam, aku pertama kali yang memakainya. Aku tak mau sudah ada orang lain di kampung yang duluan memakainya,” ocehnya di telepon. &lt;br /&gt;Masalah undangan One juga mempercayakan padaku. One ingin undangan pernikahannya simpel dan tidak norak.&lt;br /&gt; “Pokoknya pilih yang simpel dan manis. Aku yakin kamu pasti tahu seleraku.” &lt;br /&gt;“Organ tunggalnya pilih penyanyinya yang sopan, jangan buat malu pada tamu dan keluarga besar suamiku!”&lt;br /&gt;“Tolong kamu cek undanganya sudah selesai dicetak apa belum!”&lt;br /&gt;Meski kadang kesal dengan seabrek permintaanya, aku tetap memenuhi permintaan One. Karena toh kapan lagi aku bisa membantu dan menyenangkan dia. Selama ini dari kecil hingga besar, aku selalu merepotkan One. &lt;br /&gt;Dua minggu menjelang hari H pernikahannya One pulang lebih dahulu. Kata One, Bang Yusri dan keluarganya akan datang empat hari menjelang hari H. One sendiri memilih pulang lebih awal untuk mengecek segala persiapan yang telah kami lakukan. &lt;br /&gt;“Ini baru adikku, bisa diandalkan. Thanks ya, tapi lain waktu saja imbalannya,” goda One, saat ia merasa puas melihat perlengkapan kamar pengantinnya yang cocok dengan keinginannya. &lt;br /&gt;Kembali seperti saat kepulangannya dulu, One selalu diterpa gosip oleh orang-orang kampung yang iri dengan perubahan keluarga kami sejak One merantau ke Batam. Kali ini kepulangan One yang lebih awal dalam keadaan lebih kurus, justru malah dibuat isu oleh warga kampung. &lt;br /&gt;Kata mereka One baru saja menggugurkan kandungannya, jadi badan One kurus dan lemah. Tapi ada juga yang mengatakan One sedang hamil, karena wajahnya lesu layaknya orang sedang hamil dua bulan. &lt;br /&gt;“Biar sajalah, yang penting One tidak seperti yang mereka sangka. Kamu tidak usah melayani mereka. Biar saja mereka menanggung dosa,” hibur One, ketika aku pulang dari warung sambil mengomel, karena mendengar bisik-bisik yang tidak baik tentang One.&lt;br /&gt;Kenapa aku tidak kesal. Orang-orang itu seperti tidak pernah ikhlas melihat perubahan ekonomi dan sosial keluarga kami. Dulu kami memang hidup pas-pasan. Untuk makan Mak kadang mengutang beras di pasar. Rumah kami juga tidak sebagus seperti sekarang. Aku dan adik-adik juga punya pakaian yang bagus. &lt;br /&gt;Semua itu karena One. One yang membiayai kami. One yang membelikan kami semua barang-barang yang tidak pernah kami miliki dulu. Tapi mengapa orang-orang itu selalu tidak suka dengan kami. Apa orang yang dulu tidak mampu seperti kami tidak berhak juga menikmati hidup yang lebih layak. Apa kami tidak punya hak untuk bisa sedikit hidup lebih senang. Mengapa mereka tidak ikut senang kalau ada tetangga yang senang. &lt;br /&gt;One memang sedikit lebih kurus daripada saat ia pulang dua bulan lalu. Kata One ia memang kecapekan karena mengejar target menyelesaikan laporan sebelum meminta cuti. &lt;br /&gt;“Biasalah orang yang mau jadi pengantin memang begitu, banyak pikiran. Apalagi ditambah tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu nanti pasti merasakan hal yang sama seperti aku,” jawab One, ketika aku menanyakan tubuhnya yang tampak kurus dan lemah. &lt;br /&gt;Meski percaya dengan One, tapi suatu hari keyakinanku terhadapnya goyah juga. Saat itu One yang sedang membereskan kamar, tiba-tiba terlihat memegang perutnya dan tampak meringis seperti menahan sakit. &lt;br /&gt;Aku yang berdiri di depan pintu segera mendekatinya. Tapi One mengatakan dirinya tidak apa-apa. Ia hanya memintaku mengambilkan air putih. Setelah minum sebutir obat yang ia ambil dari laci, One mengatakan mau istirahat. &lt;br /&gt;Sejak melihat kejadian itu, rasa curiga dan ragu terhadap One hinggap di kepalaku. Mungkinkah One memang seperti yang dikatakan orang-orang kampung. Ciri-ciri One memang seperti yang disangkakan orang. Kalau hamil muda sering pening atau jika usai menggugurkan kandungan kata orang akan sering pening dan ngilu di perut.&lt;br /&gt;Kecurigaan terhadap One kusimpan sendiri. Aku tak mau mengusik kebahagian One dengan berbagai macam pertanyaan kepadanya. Toh, kalau ia memang hamil kan ada suaminya. Lagi pula tidak hanya One yang mengalami kecelakaan saat hendak menikah. Di kampung ini tidak bisa dihitung dengan jari gadis yang MBA (married by accident) atau nikah karena “kecelakaan”. Apalagi di negeri ini, dari anak orang kaya, anak ustadz, anak guru agama, anak pegawai, anak pejabat dan selebritis juga ada yang hamil sebelum menikah. Bahkan ada yang hamil tapi tidak ada suaminya yang bertanggungjawab. &lt;br /&gt;Sikapku terhadap One masih seperti biasa. Aku juga tidak pernah menolak permintaan One untuk menemaninya membeli sejumlah keperluan untuk persiapan pesta pernikahannya. &lt;br /&gt;Tapi, tiga hari kemudian rasa curiga terhadap One kembali muncul. Bahkan kali ini aku betul-betul yakin One memang sedang bermasalah. Tiba-tiba saja One yang sedang menyapu rumah jatuh pingsan. &lt;br /&gt;Mak histeris melihat One pingsan dan tampak pucat. Tak lama One siuman. Mak sedikit tenang. Tapi One kembali mengatakan ia hanya kecapekan. Meski kepercayaanku pada One semakin berkurang, tapi aku masih menghibur Mak dengan alasan One terlalu capek &lt;br /&gt;Alasan aku bisa diterima Mak, karena memang One tidak pernah mau diam di rumah. Ia masih seperti dulu tidak suka berdiam diri. One lebih suka turun tangan mengerjakan suatu pekerjaan daripada harus menunggu orang lain. &lt;br /&gt;Tapi alasanku tidak begitu saja diterima oleh sejumlah keluarga besar  dan apalagi tetangga yang iri. Pingsannya One mereka anggap suatu pembenaran terhadap kecurigaan mereka selama ini. Kalau tidak sedang hamil muda, One pasti baru saja menggugurkan kandungannya. &lt;br /&gt;Aku membujuk Mak untuk tidak mendengarkan semua yang dituduhkan orang-orang itu. Aku meminta Mak lebih fokus pada persiapan pernikahan yang sudah tinggal seminggu lagi. Aku menghibur Mak dengan sejumlah fakta yang aku berikan, bahwa yang bermasalah saat hendak nikah bukan hanya One seorang. Kalau kecurigaan itu memang benar, banyak juga anak gadis yang mengalaminya. &lt;br /&gt;Empat hari menjelang pernikahannya, saat rumah kami mulai ramai oleh keluarga besar dan tetangga yang datang untuk memasak rendang dan kue, kembali One pingsan.&lt;br /&gt;Kali ini One pingsan cukup lama dan Mak kembali histeris melihat One yang tidak kunjung siuman. Salah seorang paman kami yang pandai mengobati orang dengan cara tradisional mencoba menyadarkan One dengan semburan air putih. &lt;br /&gt;Kejadian itu tentu semakin membuat kecurigaan tetangga dan orang-orang yang selama ini iri semakin besar. Bisik-bisik mereka bagaikan dengung lebah di telingaku. Sampai akhirnya karena tidak tahan aku menangis sambil membentak mereka. &lt;br /&gt;“Kalian senang melihat kakakku begini. Kalau dia memang seperti kalian sangkakan, toh dia punya calon suami dan mau menikah. Lagipula bukan dia saja yang seperti ini, adik kalian, saudara kalian, anak kalian pasti ada yang mengalaminya kan! Atau kalian sendiri dulu pernah mengalaminya kan!” aku histeris memaki mereka yang sepertinya merasa menang melihat penderitaan dan malu keluarga kami. &lt;br /&gt;Meski ada yang tidak senang pada keluarga kami, ternyata masih ada yang baik dan kasihan melihat Mak yang terus menangis melihat One yang pucat dan menahan sakit. Mereka menghibur Mak dan menenangkan aku yang masih terus meracau meski orang-orang itu telah bubar. Sementara Ayah memilih berdiam diri di kamarnya.&lt;br /&gt;Saat keadaan sudah mulai tenang, One yang sejak siuman belum mengeluarkan suara meminta kami membawanya ke rumah sakit.&lt;br /&gt; “Tolong bawa aku ke rumah sakit saja. Tolong beri tahu Bang Yusri,” pintanya nyaris tak terdengar. &lt;br /&gt;Aku menghubungi Bang Yusri yang sedang dalam perjalanan ke rumah kami dengan rombongan keluarga besarnya. Aku hanya mengatakan One hanya demam biasa dan harus dibawa ke rumah sakit biar cepat sembuh. Bang Yusri yang menerima teleponku seperti tidak percaya dan meminta aku menceritakan semuanya. Namun aku tetap mengatakan One baik-baik saja. &lt;br /&gt;Di rumah sakit aku melihat Mak, Ayah dan sejumlah kerabat kami menunggu di depan ruang gawat darurat. Semuanya diam dan tampak gelisah. Aku yang baru datang juga ikut diam. Pada seorang perawat yang hendak masuk ke ruangan tertutup rapat itu, aku sempat bertanya. Katanya, One masih dalam pemeriksaan intesif dokter. &lt;br /&gt;Aku memilih duduk menjauh dari rombongan keluarga kami itu. Perasaanku campur aduk. Rasa kesal, benci, kasihan dan sayang pada One memenuhi rongga dadaku yang kurasakan sesak. &lt;br /&gt;Aku kesal karena mengapa One yang kubangga-banggakan selama ini ternyata menyimpan kebohongan yang akhirnya terungkap juga. Bahkan sangat memalukan saat hendak menjelang pernikahannya. &lt;br /&gt;Aku benci mengapa orang-orang seperti mensyukuri penderitaan One, penderitaan Mak dan keluarga besar yang menanggung malu. Aku kasihan melihat One yang harusnya mengecap kebahagiaan pada hari pernikahannya yang mungkin hanya sekali sumur hidup, tapi ternoda dengan masalah yang ia hadapi. &lt;br /&gt;Tapi aku tetap sayang One-ku. Kakakku yang selama ini telah banyak membantu kami, membahagiakan kami dan mengangkat status sosial keluarga kami, sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang biasa meremehkan orang yang tidak mampu. &lt;br /&gt;Pintu ruang gawat darurat terbuka, seorang dokter keluar diiringi dua orang perawat. Ia menanyakan Mak dan Ayah. Dokter itu diam sejenak sebelum mengajak Mak dan Ayah ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat kami duduk menunggu. &lt;br /&gt;Aku mengikutinya di belakang dan ikut masuk ke ruangan dokter itu. “Saya adiknya, Dok,” aku memperkenalkan diri sebelum dokter itu bertanya.&lt;br /&gt;Dokter itu tidak menjawab, hanya mengangguk. “Hmm…anak bapak dan ibu sakit. Sakitnya biasa yang dialami banyak orang. Tapi...sakit anak bapak dan ibu sudah cukup serius.” Dokter itu menatap Mak dan Ayah, kemudian mengambil kertas dan menulisnya.&lt;br /&gt;“Anak saya sakit apa, Dok?” Mak dan Ayah bertanya berbarengan, tidak sabar.&lt;br /&gt;“Anak Ibu dan Bapak sakit maag, tapi sudah serius atau kronis. Lambungnya dipenuhi luka bahkan sudah tipis,” dokter menerangkan penyakit One.&lt;br /&gt;“Kebanyakan orang yang seperti dia tidak mampu bertahan. Tapi anak ini seperti punya suatu kekuatan untuk bertahan.” &lt;br /&gt;Aku menarik nafas lega, ternyata One bukan seperti yang kami semua perkirakan. Di balik kelegaanku, ada rasa perih mendengar tentang penyakit One.&lt;br /&gt;Begitu juga Mak dan Ayah, meski tampak sedikit lega. Namun kemurungan tampak di wajah mereka. &lt;br /&gt;Aku permisi ke luar ruangan dan membiarkan Mak dan Ayah yang melanjutkan pembicaraan dengan dokter.&lt;br /&gt;Aku menceritakan apa yang kudengar dari dokter tentang penyakit One kepada keluargaku yang masih menunggu di dekat ruangan tadi. Kelegaan tampak di wajah mereka, namun kemudian berganti dengan mendung seperti di wajahku. &lt;br /&gt;Pintu ruangan itu kembali terbuka, tampak One dengan mata terpejam dan wajah pucat berbaring di atas tempat tidur yang didorong oleh dua orang perawat. Aku mengikutinya ke ruang perawatan. &lt;br /&gt;Aku duduk di samping tempat tidur One. Kuletakan tanganku di atas tangannya yang lemah dan dingin. Air mataku menetes melihat kakakku yang begitu malang. Kakakku yang seharusnya bahagia menunggu hari pernikahannya malah terbaring sakit. &lt;br /&gt;Aku tidak menyangka ternyata selama ini One memendam penyakitnya. Memang saat masih di kampung, One pernah sakit maag. Meski disiplin, One memang punya kebiasaan jelek, menunda makan jika pekerjaannya belum selesai.&lt;br /&gt;Tapi, aku tidak menyangka kalau penyakit One sudah begitu parah. Lambung One yang sudah tipis itu dipenuhi luka. Aku teringat tentang bapak temanku yang meninggal karena lambungnya bocor akibat maag. Namun, pikiran buruk itu aku tepis. Aku yakin One akan sembuh, karena aku tahu One punya semangat hidup yang kuat seperti yang dikatakan dokter tadi. &lt;br /&gt;Pintu ruang perawatan terbuka. Bang Yusri bersama Ayah, Ibu dan dua kakak serta adiknya datang. Kekhawatiran tampak di wajah mereka. Aku menyalami mereka dan memberikan tempat duduk untuk Bang Yusri.&lt;br /&gt;“Pasti penyakit maagnya kambuh. Waktu di Batam dia memang pernah dua kali masuk rumah sakit,” Bang Yusri menatapku. Aku mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;Bang Yusri menceritakan kalau One termasuk gila kerja, sehingga sering mengabaikan makan. Kata Bang Yusri, One tergantung dengan obat-obatan agar penyakitnya itu tidak kambuh. &lt;br /&gt;“Mungkin One terlalu sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya, Bang. One tidak suka merepotkan orang, dia lebih suka mengerjakan sendiri. Jadi mungkin dia sering lupa makan obat. Kami sendiri baru tahu kalau penyakit One sudah separah ini,” aku beralasan tentang kambuhnya sakit One itu. Namun aku tidak menceritakan diagnosa dokter tadi. Aku tidak mau membuat mereka semakin cemas. Biarlah mereka tahu sendiri.&lt;br /&gt;Tak lama Mak dan Ayah datang dan menyalami keluarga calon besannya. Aku memutuskan keluar ruangan dan pulang ke rumah. &lt;br /&gt;Malam itu di rumah diadakan rapat antara keluarga kami dan keluarga Bang Yusri. Sementara One dijaga oleh tante dan sepupuku. Keputusan rapat itu, pernikahan One dan Bang Yusri akan tetap dilangsungkan pada hari Jumat, tiga hari lagi. &lt;br /&gt;Jika One sudah sembuh pada hari H, One akan menjadi pengantin seperti layaknya pengantin yang menikah. Namun jika One belum sembuh atau masih lemah, pernikahan juga akan terus berlangsung, tapi prosesi akad nikah dilangsungkan di ruangan rumah sakit tempat ia dirawat secara sederhana. &lt;br /&gt;Bila pesta pernikahannya tidak akan berlangsung sesuai yang rencana, organ tunggal penghibur tamu akan dibatalkan. Namun tamu-tamu yang sudah terlanjur diundang akan tetap dilayani.&lt;br /&gt;Semenjak One masuk rumah sakit, Bang Yusri setiap hari menungguinya. Bahkan waktunya dihabiskan menemani One di rumah sakit. Aku yang juga setiap hari mengantarkan bekal dan pakaian ganti One dan Bang Yusri, tak jarang melihat calon abang iparku itu mengaji di samping One.&lt;br /&gt;Melihat kesabaran dan kesetiaan Bang Yusri menunggui One, ada rasa bahagia dan sedih memenuhi dadaku. Bang Yusri ternyata begitu baik, penyabar, penyayang dan setia seperti yang diceritakan One dulu. &lt;br /&gt;Tapi, mengapa kebahagiaan yang akan direguk sedikit lagi ternoda oleh sakit One? Padahal One sejak lama mengimpikan masa-masa indah yang akan dijelangnya itu. Selama ini One selalu banyak mengabaikan kebahagiannya untuk kami. One rela menghabiskan waktunya untuk bekerja ketimbang berpacaran. Sehingga wajar One telat mendapatkan jodohnya. &lt;br /&gt;“Ya Allah, sembuhkanlah segera kakak hamba. Berikanlah ia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan bersama orang yang dicintainya. Kakak hamba telah banyak berkorban untuk kami. Kakak hamba begitu baik ya Allah, tolong berikan dia kesembuhan,” doaku setiap usai shalat.&lt;br /&gt;Pada malam sebelum hari H pernikahannya, kami mendapat kabar kalau kesehatan One makin menurun. Padahal kemarin One tampak sudah mulai membaik. Kami semua segera ke rumah sakit.&lt;br /&gt;Di ruang perawatan tampak Bang Yusri dengan wajah kusut. Air muka kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya. Kami semua mengelilingi tempat tidur One. One tersenyum kepada kami, namun yang tampak hanya tarikan bibir di mulutnya yang kering. &lt;br /&gt;One sepertinya ingin menunjukan kepada kami kalau ia masih kuat dan akan sembuh. Tapi aku melihat One begitu memaksakan diri untuk terus tersenyum hanya untuk menyenangkan hati kami.&lt;br /&gt;Mak menggenggam tangan One. Mak tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Air matanya menetes. One berusaha menghapusnya, namun tangannya kembali jatuh ke atas tempat tidur.&lt;br /&gt;“Maafkan Marni, Mak. Marni merepotkan Mak.  &lt;br /&gt;Harusnya Mak bahagia menyiapkan hari pernikahan Marni. Tapi Marni sakit, Mak. Maafkan Marni telah membuat Mak susah,” suara One begitu lemah. Air mata Mak semakin deras mengalir.&lt;br /&gt;Mak tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mencium kening One, sambil terus menangis. Bang Yusri bersandar di tembok. Begitu juga Ayah dan Ibu Bang Yusri yang tampak begitu galau melihat keadaan One.&lt;br /&gt;One menatapku. Ia kembali mencoba tersenyum, tapi tidak sempurna. Aku mendekatinya. Memegang tangannya dan membalas senyumnya, namun panas kurasakan di mataku menahan tangis.&lt;br /&gt;“Yusna, kamu sudah besar, sudah dewasa. Kamu sudah bisa gantikan One membantu Mak dan Ayah. One percaya padamu...” One berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar.&lt;br /&gt;Aku mengangguk, air mataku sudah tak bisa aku bendung. One juga mencoba menghapusnya, namun tangannya tidak mampu diangkat.&lt;br /&gt;Kepada calon mertuanya One juga meminta maaf, begitu juga kepada keluarga kami yang lain yang ada di ruangan itu.&lt;br /&gt;One menatap Bang Yusri. Mata One mengisyaratkan meminta calon suaminya itu mendekat. One meminta aku dan Bang Yusri menggenggam tanggannya. &lt;br /&gt;“Bang…tolong tepati janji abang. Terima kasih, Bang. Adek sangat menyayangi abang,” ujar One menatap Bang Yusri penuh cinta. Kali ini air mata mengenangi matanya yang sayu.&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti maksud One. Aku hanya diam. Bang Yusri mengangguk dan mencium kening One.&lt;br /&gt;One menatap kami satu persatu yang mengelilinginya. Saat menatap aku, One berhenti lama. Matanya seakan berbicara mengatakan sesuatu kepadaku. Namun aku tidak dapat meraba maksudnya. &lt;br /&gt;One menutup matanya dan senyum menghias bibirnya. Aku mengira One kecapekan setelah berbicara banyak dan tidur. Namun ternyata One menutup mata untuk selama-lamanya. Aku mengetahuinya setelah Mak histeris dan pingsan. &lt;br /&gt; Lafaz Innalillahi wainnalillahi rajiun keluar dari mulut semua orang. Ketika itu aku melihat sebuah tarikan nafas terakhir One dan senyum itu tetap tidak hilang. &lt;br /&gt;Bang Yusri memeluk One, aku terduduk menangis histeris. Tangis kami semua pecah menyaksikan One telah kembali kepada-Nya. Tuhan ternyata lebih menyayangi One dibandingkan kami. Tuhan sepertinya tidak mau One berlama-lama menanggung sakit.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di hadapan jenazah One yang terbujur kaku ditutupi kain panjang, aku dan Bang Yusri bersimpuh. Hari ini, tepatnya di hari H pernikahan yang harus dilakukan One dan Bang Yusri, aku yang menggantikannya.&lt;br /&gt;Ternyata maksud One kepada Bang Yusri untuk menepati janjinya adalah agar Bang Yusri menikahi aku jika One meninggal dunia. Karena cinta dan kesetiaan Bang Yusri kepada One, ia mau menikahiku. &lt;br /&gt;Tapi bagiku awalnya sangat berat, saat hal itu diungkapkan Bang Yusri kepada keluarga kami. Aku nyaris pingsan mendengarnya. Karena tidak pernah terbayang di kepalaku akan menikah secepat ini. Aku yang baru lulus SMA harus menikah dengan pria yang begitu dewasa seperti Bang Yusri.&lt;br /&gt;Tapi, akhirnya aku luluh juga. Semua itu karena rasa sayangku kepada One. Aku harus memenuhi janji kepada One untuk membantu Mak dan Ayah. Aku rela menggantikan posisi One membahagiakan Bang Yusri. Aku rela mengorbankan masa remajaku yang masih tersisa demi kakakku yang telah banyak berkorban untukku. Aku ikhlas demi kelapangan kakakku di alam kubur.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk adik-adikku, semoga menjadi manusia yang berhasil dan mandiri.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;ONE&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7877832684243147027?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7877832684243147027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7877832684243147027' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7877832684243147027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7877832684243147027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/one.html' title='Cerpen :One'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7232257860131300777</id><published>2010-04-10T22:23:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T22:24:35.780-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kumcer Buku Penyengat Aku Akan Kembali'/><title type='text'></title><content type='html'>Tit tit tit…! Kuraih HP ku yang sejak tadi tergeletak di atas kasur. “One ada kabar yang menggembirakan sekali. Tapi nanti saja ya diceritakan soalnya waktunya kurang tepat. Selamat penasaran, hehehe…” begitu isi pesan singkat yang ternyata dari One, kakak sulung perempuanku.&lt;br /&gt;“Huu, basi pakai janji segala. Untuk apa memberi tahu kalau tak jelas,” aku mengomel dan melanjutkan membaca. &lt;br /&gt;Usai Magrib nada tanda pesan masuk kembali berbunyi. Aku malas-malasan membukanya. Palingan One yang kembali membuat aku penasaran, batinku. &lt;br /&gt;“Penasaran dari tadi ingin tahu ya kabar apa? Jangan cemberut begitu, Manis. Ini benar-benar kabar gembira. One dilamar…!” Memang benar dugaanku pesan itu dari One, tapi isinya masih membuatku penasaran. &lt;br /&gt;“Jangan cerita kalau hanya sepenggal, tidak menarik, tauuuu..!!” omelku dalam balasan.&lt;br /&gt;Ketika kembali menerima balasan dari One, ia tertawa terbahak-bahak mengetahui aku jengkel. One bercerita kalau ia dilamar oleh pria yang beberapa bulan ini dekat dengannya. Menurut One, lamaran itu memang masih sebatas antara mereka berdua, nanti resminya tentu antara keluarga kami dan pria itu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kata One pria yang masih dirahasiakan namanya itu berusia matang di atas tiga puluhan. Orangnya baik, punya pekerjaan tetap, keluarganya juga baik. Dan yang jelas, kata One berusaha menyakinkanku, pria itu ganteng. Pokoknya One merasa sangat beruntung bisa dilamar oleh pria itu. &lt;br /&gt;One juga mengatakan, impiannya untuk mempunyai suami seperti yang ia idam-idamkan selama ini akan terwujud. One juga bilang kalau status sosial calon suaminya ini nanti tentu akan membuat mata orang kampung yang sebelumnya meremehkan keluarga kami akan terbuka dan malu hati. &lt;br /&gt;“Siapa yang menyangka, kalau anak petani ini bisa dilamar pria seperti calon suamiku. Udah ganteng, baik, mapan dan dari keluarga yang baik-baik. One merasa paling bahagia di dunia saat ini,” ungkapnya dalam pesannya yang entah keberapa. &lt;br /&gt;Pesan dari One baru berhenti setelah ia mengatakan kalau tangannya pegal dan berjanji besok akan bercerita lagi. Aku kembali membuka pesan-pesan One tadi. One tampaknya sangat gembira, seperti tercermin dari kalimat-kalimatnya.&lt;br /&gt;One, kakak pertama dari kami yang lima bersaudara. One panggilan pengganti kakak dalam kebiasaan orang Padang. Nama aslinya Marni. One berusia enam tahun lebih tua dariku yang anak ketiga. Meski terpaut jauh, kami cukup dekat karena sejak kecil aku sudah terbiasa diasuh One. &lt;br /&gt;Waktu kecil aku sering kesal pada One, karena ia adalah pribadi yang tegas terhadap adik-adiknya dan bahkan terkesan keras kepala. Seperti kalau sudah waktunya aku harus mandi, ia cukup mengatakannya sekali tapi dengan nada tegas. Di telingaku yang masih kecil itu seperti sebuah komando yang memang tidak bisa ditawar.&lt;br /&gt;Kalau aku tidak menurut, One biasanya tidak akan mengacuhkan aku. Saat aku meminta diajarkan PR Matematika, One tidak peduli. Bahkan meski aku merengek sampai menangis, ia tak perduli. Meski Mak meminta sekalipun, One tidak peduli. &lt;br /&gt;“Itu makanya kalau disuruh mandi ya mandi, jangan membantah. Sekarang minta tolong merengek-rengek dan menangis. Dari kecil harus disiplin dan patuh sama aturan…!” omelnya tegas.&lt;br /&gt;Itu terjadi saat aku duduk di bangku kelas enam SD. One saat itu sudah duduk di bangku SMA. One mendidikku dan adik-adik melebihi sikap Ayah dan Mak. &lt;br /&gt;Meskipun terkesan egois, One sangat menyayangi adik-adiknya yang masih kecil. Dua orang adik kami, Rara dan Dede yang masih balita begitu dekat dengan One. Tapi kepada keduanya One tidak setegas seperti kepada aku. Kadang aku iri melihat perhatian dan kasih sayang One yang berlebihan kepada adik-adikku itu. &lt;br /&gt;Kadang kedisiplinan One membuat ia sering bertentangan dengan Mak. Kalau waktunya belajar, One tidak mau diganggu, bahkan oleh Mak atau Ayah sekali pun. Pernah suatu hari Mak meminta One menemani beliau ke rumah kerabat. Tapi One menolak dengan alasan sedang belajar dan menyuruh aku yang menemani Mak.&lt;br /&gt;Bukan sekali dua One menolak seperti itu, karena jika ia sedang mengerjakan sesuatu yang menurutnya lebih penting, ia tidak akan segan-segan menolak dan disertai alasan yang memang masuk di akal. &lt;br /&gt;Sikap One itu tak jarang membuat Mak marah, bahkan saking marahnya Mak mengatakan kalau belajar One tidak ada gunanya. Toh, anak petani hanya akan tetap menjadi seorang petani.&lt;br /&gt; “Tidak usah mimpi, banyak sarjana yang menganggur, apalagi kamu kan hanya disekolahkan hingga tamat SMA, tidak akan jadi apa-apa…!” omel Mak.&lt;br /&gt;Tapi One bergeming meski Mak sering mengatakan hal itu berulang-ulang. One masih tetap rajin belajar dan menjadi langganan juara kelas. Apalagi saat duduk di kelas tiga SMA, One semakin rajin belajar dan ikut tambahan sore hari di sekolah. Waktu One yang banyak dihabiskan untuk sekolah membuat Mak sering mengomeli One. Pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan One  menjadi pekerjaan Mak. &lt;br /&gt;Sering aku melihat Mak mengomel dan marah-marah. Tapi One tetap dengan pribadinya. Ia hanya diam dan tidak berkata sepatah pun kalau Mak mengomel atau marah-marah. Diam, tapi bukan berarti One tak mengeluh. Itu baru aku ketahui saat tanpa sengaja aku menemukan buku hariannya. &lt;br /&gt;Di dalam buku itu One menuliskan rasa sedihnya karena tidak mendapat dukungan penuh dari Mak untuk mencapai cita-citanya. One merasa heran dengan sikap Mak yang malah tidak bangga dengan dirinya yang rajin belajar dan berprestasi. &lt;br /&gt;One juga menuturkan tentang cita-cita. One ingin berhasil meraih impiannya, yakni sekedar mempunyai pekerjaan tetap sebagai orang kantoran dan punya gaji. Itu nanti bisa membantu Mak dan Ayah serta menyekolahkan aku dan adik-adik hingga perguruan tinggi. &lt;br /&gt;Meskipun sedih dan bingung dengan sikap Mak, tapi One tetap punya pikiran baik terhadap Mak. Menurut One, Mak mungkin kecewa dengan adik-adiknya yang bersekolah lebih tinggi daripadanya, ternyata akhirnya tidak punya pekerjaan bagus, malah jadi ibu rumah tangga atau bertani seperti dirinya yang juga mengikuti pekerjaan kakek dan nenek. &lt;br /&gt;“Mungkin Mak takut jika aku akan seperti dirinya dan adik-adiknya, sudah capek-capek dan menghabiskan uang untuk sekolah, tapi akhirnya hanya jadi ibu rumah tangga atau tidak bekerja. Aku bisa memahami kekhawatiran Mak. Tapi Mak, percayalah anakmu ini akan berusaha keras mencapai cita-cita,” begitu penuturan One dalam buku hariannya.&lt;br /&gt;Selain itu, One menilai Mak juga mungkin tidak percaya jika One akan mampu mencapai cita-citanya. Karenanya keluarga kami dari orang tak punya, tidak mampu untuk sekolah hingga perguruan tinggi dan bergelar sarjana sebagai modal mencari kerja. Sementara orang yang kaya saja banyak anak-anak mereka yang menganggur, meski bergelar sarjana. Kalau pun dapat kerja pasti karena sogok sana sini sehingga bisa jadi pegawai. &lt;br /&gt;Saat lulus SMA, One berniat mengambil kursus keterampilan komputer dan Bahasa Inggris. Tapi Mak dengan keras menolak. Menurut Mak, hanya akan buang-buang uang dan waktu. Mak lebih suka One menikah, sehingga beban Mak berkurang. &lt;br /&gt;Tapi, One tetaplah One yang keras hati dan optimis dalam sikap diamnya. Kepada Mak dan Ayah, One mengatakan, ia akan tetap mengambil pendidikan kursus singkat itu sebagai bekal dirinya mencari kerja. One berjanji tidak akan merepotkan Ayah dan Mak, karena ia masih punya tabungan dari sisa beasiswa pendidikan yang ia tabung selama ini. &lt;br /&gt;One membuktikan ucapannya. Meski tiap hari harus bolak-balik ke kota untuk belajar, One tidak pernah mengeluh. One tetap bisa membantu Mak mengerjakan pekerjaan rumah, meski Mak masih tetap sering mengomel. &lt;br /&gt;Belum cukup setahun kursus, One mendapatkan pekerjaan. Gaji pertama diberikannya kepada Mak. Mak senang sekali. Aku dan adik-adik juga demikian, karena One membelikan kami makanan dan perlengkapan sekolah. &lt;br /&gt;Keberhasilan One mendapatkan kerja saat masih belajar kursus tentu membanggakan Mak dan Ayah. Selain itu tetangga kiri dan kanan juga banyak yang bertanya, mengapa begitu mudah dan cepat One dapat kerja. Padahal banyak anak tetangga yang sarjana tapi susah dapat kerja.&lt;br /&gt;Mak menanyakan pertanyaan orang-orang itu kepada One. “Harus rajin cari peluang dan melihat kesempatan kerja. Jangan memilih pekerjaan. Yang penting halal. Kunci utamanya, punya kemampuan dan  keterampilan. Untuk apa sarjana kalau ternyata tidak bisa apa-apa,” jawab One. &lt;br /&gt;One bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan. Kata One, ia bertugas di bagian administrasi. “Pokoknya orang kantoran, kamu nanti kalau sudah besar pasti mengerti,” begitu One menjawab, setiap kali aku ingin tahu tentang apa saja yang ia kerjakan. &lt;br /&gt;Setahun One bekerja, tiba-tiba One mengatakan kalau ia akan pindah ke Batam. Tentu kabar itu mengejutkan kami, apalagi Mak dan Ayah. Kata One perusahaan tempatnya bekerja akan bergabung dengan perusahan lain yang ada di Batam. Dengan alasan daripada tidak bekerja, One memilih ikut bergabung di kantor yang ada di pulau yang berdekatan dengan Singapura itu. &lt;br /&gt;Mak sungguh menentang. Kata Mak, kita tidak punya keluarga di sana. Siapa yang akan mengawasi One dan siapa yang akan tahu kalau sesuatu terjadi sama One. One mengatakan kalau segala ketakutan Mak terlalu berlebihan. Menurut One, kapan bisa maju kalau masih berpikiran picik. &lt;br /&gt;“Kalau aku masih tinggal di kampung ini, kapan bisa berkembang. Kalau masih takut dengan tantangan kapan bisa berhasil. Tantangan itu harus dihadapi bukan dihindari,” begitu One menyakinkan Mak dan Ayah. &lt;br /&gt;Meskipun punya keinginan kuat untuk terus bekerja dan harus jauh dari keluarga, aku tahu One sedih. Karena ia harus meninggalkan adik-adiknya, apalagi Dede dan Rara yang begitu dekat dengannya. &lt;br /&gt;Pernah kulihat One menangis diam-diam sambil memeluk Dede dan Rara yang tidur dengannya. Tapi keesokan harinya One kembali seperti dulu, gadis yang optimis dan keras hati. &lt;br /&gt;Akhirnya hari keberangkatan One ke Batam datang juga. Mak dan Ayah meski mengizinkan tapi tetap menyimpan galaunya karena melepas anak gadis ke rantau. Begitu juga aku, karena tidak ada lagi kakakku yang selalu kuandalkan mengerjakan pekerjaan rumah. Namun di balik itu, aku senang karena tidak ada lagi kakak yang tegas dan disiplin mendidik aku. &lt;br /&gt;Dua hari sampai di Batam, One memberi kabar kalau ia sudah bekerja di kantor yang pernah ia ceritakan saat masih di kampung. Tapi, kata One, ia tidak bekerja di dalam kantor, namun di lapangan sebagai tenaga pemasaran. One mengakui memang tidak seenak saat masih bekerja di kampung. Tapi dasar sudah sifat One, ia tetap menyatakan senang dengan pekerjaannya saat itu. &lt;br /&gt;One masih tetap seperti di kampung. Ia tetap mengirimkan gajinya untuk Mak dan adik-adik. Selain itu One juga sering mengirimkan barang-barang untuk kami. Bahkan pada sebuah suratnya, One mengaku pekerjaannya sebagai marketing ternyata lebih enak, karena dapat komisi jika produk yang ditawarkan terjual. &lt;br /&gt;Enam bulan di Batam, Mak dapat kabar tidak baik. Kata orang kampong, One ke Batam bukan bekerja, tapi kawin lari dengan pacarnya. Mak tentu gusar karena kabar tidak sedap itu. &lt;br /&gt;Mak menghubungi One dan meminta jawaban jujur. Kembali kakakku dengan tegas mengatakan itu adalah kabar burung dari orang-orang yang syirik karena keberhasilannya. &lt;br /&gt;“Mak percaya orang atau anak Mak sendiri. Kalau Mak percaya orang lain silahkan, asal mereka yang bantu Mak tiap bulan menggantikan aku,” begitu kata One di telepon. &lt;br /&gt;Aku yang sudah duduk di bangku SMP waktu itu, juga menyakinkan Mak kalau kabar itu hanya isu dari orang-orang yang memang banyak iri hati dengan One. Akhirnya Mak bisa menerima dan tidak lagi memikirkan kabar itu. &lt;br /&gt;Memang saat masih di kampung, One pernah pacaran dengan teman kerjanya, namun putus saat One lebih memilih kerja ke Batam. One pernah beberapa kali membawa pria itu ke rumah.&lt;br /&gt; “Kalau punya teman dekat laki-laki harus dikenalkan pada orang tua, jangan sembunyi-sembunyi kalau memang mau serius,” begitu alasan One, ketika aku protes karena belum ada ikatan apa-apa sudah dibawa ke rumah. &lt;br /&gt;One juga pernah ke rumah pacarnya itu. Kata One hal itu ia lakukan karena serius dengan pacarnya dan kalau bisa sampai menikah. “Kodrat wanita dan pria itu dewasa itu adalah menikah, kenapa harus malu dan sembunyi-sembunyi jika memang ada niat untuk menikah,” tandas One. &lt;br /&gt;Pada lebaran pertama semenjak kerja di Batam, One pulang kampung menaiki kapal terbang. Kepulangan One ini juga mendapat bisik-bisik dari orang-orang kampung yang iri. Kata mereka One tidak bekerja melainkan jadi simpanan orang Singapura. Karena menurut mereka tidak mungkin setahun bekerja One sudah bisa pulang dengan pesawat, apalagi juga membawa barang-barang untuk kami dan memberi Mak uang untuk merehab rumah.&lt;br /&gt;Meski pun terganggu, One tidak marah. Ia menilai wajar saja ada orang yang tidak suka dengan keberhasilannya. Aku akui One memang termasuk berhasil. Ia membelikan kami barang-barang, baju dan makanan. Bahkan One juga membelikan aku telepon genggam. “Biar irit dan Mak tidak menelpon di wartel lagi. Aku juga mudah menghubungi keluarga di kampung, lagi pula murah bisa pakai sms,” alasan One.&lt;br /&gt;One kelihatan lebih cantik dan gemuk dibandingkan saat masih di kampung. Kata One, ia harus menjaga penampilan, karena ia harus berhadapan dengan banyak orang. “Bagaimana orang bisa tertarik dengan produk yang kita tawarkan, sementara kesan pertama mereka melihat kita sudah tidak sreg,” alasan One tentang penampilannya yang lebih jauh berbeda. &lt;br /&gt;Begitulah, setiap lebaran One pulang kampung dengan segala kejutan untuk kami sekeluarga. Begitu juga isu-isu miring terus terdengar setiap One pulang kampung. Tapi bagi kami sekeluarga isu  hanya angin lalu saja. &lt;br /&gt;Tak terasa One sudah empat tahun di Batam. Bahkan One sudah menduduki jabatan yang bagus di kantornya. Sejak satu setengah tahun lalu, One tidak lagi bekerja di lapangan, tapi sudah duduk di dalam kantor. Katanya One menjabat sebagai supervisor dan yang jelas gaji One semakin besar. &lt;br /&gt;Meski senang dengan peningkatan karir One, tapi Mak risau karena usia One yang telah 24 tahun dan sudah patut menikah. One belum pernah mengatakan keinginan untuk itu. “Bagaimana mau menikah, kalau calonnya saja belum ada. Nanti kalau ada pasti One bawa pulang kampung,” tulis One dalam pesan singkatnya, saat aku memberitahu Mak merisaukannya. &lt;br /&gt;Kata One, ia ingin mencari suami yang usianya matang, punya pekerjaan tetap dan yang penting bisa menjamin kehidupannya kelak. Karena kata One, setelah menikah jika memang tidak diizinkan suami bekerja, One juga senang tinggal di rumah mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak. &lt;br /&gt;“Untuk apa One masih kerja kalau suami dan anak-anak One nanti terlantar tidak ada yang urus. One tidak mau anak-anak One besar dengan pembantu. Makanya One harus mencari suami yang bisa mencukupi kebutuhan dan menjamin kehidupan anak-anak One kelak,” begitu ia menjawab pesanku yang protes, karena One mengatakan hendak berhenti kerja setelah menikah. &lt;br /&gt;Mak dan keluarga besar makin risau karena One seperti tenang-tenang saja. Usia 24 tahun bukan lagi usia yang muda tapi sudah krisis untuk menikah. Dulu kata Mak, umur 15 tahun sudah banyak wanita yang menikah. Mak saja, yang menikah di usia 20 tahun, dulu sering kena ejek dari orang kampung karena dianggap tidak laku. &lt;br /&gt;“Mudah-mudahan kabar gembira dari One ini tidak lagi membuat Mak, Ayah dan keluarga besar lain risau. One akan menikah,” aku menarik selimut dan memutuskan menyampaikan kabar gembira itu besok saja pada Mak dan Ayah. &lt;br /&gt;Usai Sholat Subuh aku kembali menerima pesan-pesan dari One. Isinya tidak lain menceritakan kebahagiannya karena sudah menemukan calon pendamping hidup yang sesuai dengan apa yang ia impikan selama ini. &lt;br /&gt;Aku dulu yang sempat meragukan One bisa mendapatkan calon suami seperti yang ia impikan, salut juga aku dengan apa yang berhasil dicapai oleh kakakku itu. One ternyata bisa membuktikan kata-katanya. Ternyata One-ku tidak berubah dari dulu, seorang kakak yang tegas, optimis dan berkemauan keras mencapai apa yang ia cita-citakan. &lt;br /&gt;Kabar gembira itu aku sampaikan pada Mak dan Ayah. Keduanya begitu senang karena berita gembira yang sejak lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bahkan karena tidak sabar, Mak menelepon One untuk mendengar langsung kabar itu.&lt;br /&gt; Sebulan setelah kabar bahagia itu, One memberi kabar kalau keluarga calon suaminya akan datang untuk melamar secara resmi. “Mak dan Ayah tolong percaya dengan pilihan aku, karena semua baik buruknya kehidupan aku yang akan menghadapi,” tegas One pada Mak dan Ayah tentang pilihannya itu. &lt;br /&gt;Dua minggu setelah One memberi kabar, keluarga calon suami One datang dan tentunya sekalian dengan calon abang iparku. Mak memeluk bahagia One ketika rombongan kecil sampai di rumah. Sementara aku senyum-senyum melihat calon abang iparku yang tampak malu-malu bertemu dengan calon mertua.&lt;br /&gt;Rombongan keluarga calon suami One yang datang adalah bapak, abang, adik dan dua orang kerabat perempuan mereka. Acara lamaran tidak terlalu resmi. Adat kami yang berbeda, sehingga dipilih jalan tengah, berupa penyerahan cincin sebagai tanda One sudah dilamar oleh Bang Yusri, nama calon abang iparku itu. &lt;br /&gt;Keluarga Bang Yusri asli Jawa, tapi sudah lama menetap di Batam. Bang Yusri berperawakan sedang, berkulit kuning dan berwajah memang lumayan ganteng. Calon abang iparku itu PNS di sebuah kantor pemerintahan. &lt;br /&gt;Dalam acara lamaran itu, juga diputuskan kalau pernikahan One akan dilakukan tiga bulan setelah acara itu, atau pas liburan panjang sekolah. Hari dan tanggal pernikahan akan ditentukan oleh keluarga kami. Yang jelas keluarga calon suami One menyerahkan sepenuhnya acara pesta pada kami di kampung. &lt;br /&gt;“Nanti kamu sekalian ikut aku ke Batam, cari kerja di sana. Biar nanti bisa gantikan One bantu Mak dan Ayah sekolah adik-adik. Kalau kamu mau kuliah sambil kerja juga bisa, yang penting kerja dulu,” kata One, saat itu kami mengobrol berdua di kamar.&lt;br /&gt;Saat itu aku tidak membantah, karena saat One menikah nanti aku sudah lulus SMA. Selain itu, One beralasan, jika nanti aku bekerja tentu akan punya gaji yang bisa digunakan untuk biaya kuliah dan membantu Mak dan Ayah. &lt;br /&gt;“Kamu kan tidak bayar kos dan makan, semua kan aku yang nanggung. Kamu itu enak punya kakak yang bisa ditumpangi di rantau, tidak seperti aku yang merantau harus mengeluarkan duit semua,” kata-kata One membuat aku tidak ragu lagi untuk ikut dengannya nanti ke Batam setelah ia menikah.&lt;br /&gt;Kedatangan dan lamaran calon suami One tentu juga tersiar di kampung kami yang kecil. Ada orang-orang yang senang mendengar kabar bahagia itu, tapi yang iri hati masih tetap seperti dulu, menghembuskan kabar tidak sedap. &lt;br /&gt;Ada yang mengatakan One merebut suami orang. Penyebab berhembusnya kabar itu hanya karena umur Bang Yusri yang memang sudah pantas punya istri dan anak. Bahkan ada juga mengatakan kalau One itu sebenarnya sudah nikah diam-diam di Batam dan saat ini sedang hamil muda. Sebab tubuh One kelihatan lebih kurus dari biasanya. Biasanya orang hamil muda yang seperti itu. &lt;br /&gt;Tapi karena sudah kenyang dengan berbagai fitnah itu, One tidak pernah menghiraukannya. Apalagi One yang memang tidak pernah menanggapi isu-isu itu. “Biarkanlah mereka kenyang dengan dosa yang mereka buat sendiri,” sergah One pada Mak yang agak terpengaruh dengan isu itu.&lt;br /&gt;Dua hari di kampong, One kembali ke Batam bersama rombongan keluarga calon suaminya. Meski agak sedih karena belum puas bertemu dengan anak dan calon menantu, tapi Mak bisa juga tersenyum bahagia ketika mengantar rombongan itu di bandara. Mak tidak perlu risau lagi memikirkan One yang selama ini hidup sendiri di rantau, sebab sudah ada calon suami dan keluarga besarnya di Batam. &lt;br /&gt;Sebulan menjelang hari H pernikahan yang jatuh pada minggu pertama Bulan Juli, One semakin sibuk menghubungi kami. Selain mengirimkan uang untuk persiapan pesta pernikahannya, One juga sibuk meminta tolong tentang hal-hal yang harus dipersiapkan oleh kami di kampung. &lt;br /&gt;Dari hal-hal yang kecil hingga yang besar dipantau One. Kemarin ia memintaku pergi menemani Mak ke toko perabot memilih perlengkapan tidur kamar pengantinnya kelak.&lt;br /&gt; “Kamu kan anak muda, pasti seleramu hampir sama dengan aku. Pilih yang modern dan tak norak,” pinta One dalam sms-nya. &lt;br /&gt;One juga meminta aku yang memilihkan warna kelambu kamarnya. Kata One ia mau warna yang lembut, kalau bisa warna biru muda, hijau muda atau kuning muda. Sementara warna pelaminan ia minta warna baju pengantin dan pelaminan yang paling trendy dan baru. &lt;br /&gt;“Kalau bisa baju pengantin dan pelaminan dari Mak Andam, aku pertama kali yang memakainya. Aku tak mau sudah ada orang lain di kampung yang duluan memakainya,” ocehnya di telepon. &lt;br /&gt;Masalah undangan One juga mempercayakan padaku. One ingin undangan pernikahannya simpel dan tidak norak.&lt;br /&gt; “Pokoknya pilih yang simpel dan manis. Aku yakin kamu pasti tahu seleraku.” &lt;br /&gt;“Organ tunggalnya pilih penyanyinya yang sopan, jangan buat malu pada tamu dan keluarga besar suamiku!”&lt;br /&gt;“Tolong kamu cek undanganya sudah selesai dicetak apa belum!”&lt;br /&gt;Meski kadang kesal dengan seabrek permintaanya, aku tetap memenuhi permintaan One. Karena toh kapan lagi aku bisa membantu dan menyenangkan dia. Selama ini dari kecil hingga besar, aku selalu merepotkan One. &lt;br /&gt;Dua minggu menjelang hari H pernikahannya One pulang lebih dahulu. Kata One, Bang Yusri dan keluarganya akan datang empat hari menjelang hari H. One sendiri memilih pulang lebih awal untuk mengecek segala persiapan yang telah kami lakukan. &lt;br /&gt;“Ini baru adikku, bisa diandalkan. Thanks ya, tapi lain waktu saja imbalannya,” goda One, saat ia merasa puas melihat perlengkapan kamar pengantinnya yang cocok dengan keinginannya. &lt;br /&gt;Kembali seperti saat kepulangannya dulu, One selalu diterpa gosip oleh orang-orang kampung yang iri dengan perubahan keluarga kami sejak One merantau ke Batam. Kali ini kepulangan One yang lebih awal dalam keadaan lebih kurus, justru malah dibuat isu oleh warga kampung. &lt;br /&gt;Kata mereka One baru saja menggugurkan kandungannya, jadi badan One kurus dan lemah. Tapi ada juga yang mengatakan One sedang hamil, karena wajahnya lesu layaknya orang sedang hamil dua bulan. &lt;br /&gt;“Biar sajalah, yang penting One tidak seperti yang mereka sangka. Kamu tidak usah melayani mereka. Biar saja mereka menanggung dosa,” hibur One, ketika aku pulang dari warung sambil mengomel, karena mendengar bisik-bisik yang tidak baik tentang One.&lt;br /&gt;Kenapa aku tidak kesal. Orang-orang itu seperti tidak pernah ikhlas melihat perubahan ekonomi dan sosial keluarga kami. Dulu kami memang hidup pas-pasan. Untuk makan Mak kadang mengutang beras di pasar. Rumah kami juga tidak sebagus seperti sekarang. Aku dan adik-adik juga punya pakaian yang bagus. &lt;br /&gt;Semua itu karena One. One yang membiayai kami. One yang membelikan kami semua barang-barang yang tidak pernah kami miliki dulu. Tapi mengapa orang-orang itu selalu tidak suka dengan kami. Apa orang yang dulu tidak mampu seperti kami tidak berhak juga menikmati hidup yang lebih layak. Apa kami tidak punya hak untuk bisa sedikit hidup lebih senang. Mengapa mereka tidak ikut senang kalau ada tetangga yang senang. &lt;br /&gt;One memang sedikit lebih kurus daripada saat ia pulang dua bulan lalu. Kata One ia memang kecapekan karena mengejar target menyelesaikan laporan sebelum meminta cuti. &lt;br /&gt;“Biasalah orang yang mau jadi pengantin memang begitu, banyak pikiran. Apalagi ditambah tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu nanti pasti merasakan hal yang sama seperti aku,” jawab One, ketika aku menanyakan tubuhnya yang tampak kurus dan lemah. &lt;br /&gt;Meski percaya dengan One, tapi suatu hari keyakinanku terhadapnya goyah juga. Saat itu One yang sedang membereskan kamar, tiba-tiba terlihat memegang perutnya dan tampak meringis seperti menahan sakit. &lt;br /&gt;Aku yang berdiri di depan pintu segera mendekatinya. Tapi One mengatakan dirinya tidak apa-apa. Ia hanya memintaku mengambilkan air putih. Setelah minum sebutir obat yang ia ambil dari laci, One mengatakan mau istirahat. &lt;br /&gt;Sejak melihat kejadian itu, rasa curiga dan ragu terhadap One hinggap di kepalaku. Mungkinkah One memang seperti yang dikatakan orang-orang kampung. Ciri-ciri One memang seperti yang disangkakan orang. Kalau hamil muda sering pening atau jika usai menggugurkan kandungan kata orang akan sering pening dan ngilu di perut.&lt;br /&gt;Kecurigaan terhadap One kusimpan sendiri. Aku tak mau mengusik kebahagian One dengan berbagai macam pertanyaan kepadanya. Toh, kalau ia memang hamil kan ada suaminya. Lagi pula tidak hanya One yang mengalami kecelakaan saat hendak menikah. Di kampung ini tidak bisa dihitung dengan jari gadis yang MBA (married by accident) atau nikah karena “kecelakaan”. Apalagi di negeri ini, dari anak orang kaya, anak ustadz, anak guru agama, anak pegawai, anak pejabat dan selebritis juga ada yang hamil sebelum menikah. Bahkan ada yang hamil tapi tidak ada suaminya yang bertanggungjawab. &lt;br /&gt;Sikapku terhadap One masih seperti biasa. Aku juga tidak pernah menolak permintaan One untuk menemaninya membeli sejumlah keperluan untuk persiapan pesta pernikahannya. &lt;br /&gt;Tapi, tiga hari kemudian rasa curiga terhadap One kembali muncul. Bahkan kali ini aku betul-betul yakin One memang sedang bermasalah. Tiba-tiba saja One yang sedang menyapu rumah jatuh pingsan. &lt;br /&gt;Mak histeris melihat One pingsan dan tampak pucat. Tak lama One siuman. Mak sedikit tenang. Tapi One kembali mengatakan ia hanya kecapekan. Meski kepercayaanku pada One semakin berkurang, tapi aku masih menghibur Mak dengan alasan One terlalu capek &lt;br /&gt;Alasan aku bisa diterima Mak, karena memang One tidak pernah mau diam di rumah. Ia masih seperti dulu tidak suka berdiam diri. One lebih suka turun tangan mengerjakan suatu pekerjaan daripada harus menunggu orang lain. &lt;br /&gt;Tapi alasanku tidak begitu saja diterima oleh sejumlah keluarga besar  dan apalagi tetangga yang iri. Pingsannya One mereka anggap suatu pembenaran terhadap kecurigaan mereka selama ini. Kalau tidak sedang hamil muda, One pasti baru saja menggugurkan kandungannya. &lt;br /&gt;Aku membujuk Mak untuk tidak mendengarkan semua yang dituduhkan orang-orang itu. Aku meminta Mak lebih fokus pada persiapan pernikahan yang sudah tinggal seminggu lagi. Aku menghibur Mak dengan sejumlah fakta yang aku berikan, bahwa yang bermasalah saat hendak nikah bukan hanya One seorang. Kalau kecurigaan itu memang benar, banyak juga anak gadis yang mengalaminya. &lt;br /&gt;Empat hari menjelang pernikahannya, saat rumah kami mulai ramai oleh keluarga besar dan tetangga yang datang untuk memasak rendang dan kue, kembali One pingsan.&lt;br /&gt;Kali ini One pingsan cukup lama dan Mak kembali histeris melihat One yang tidak kunjung siuman. Salah seorang paman kami yang pandai mengobati orang dengan cara tradisional mencoba menyadarkan One dengan semburan air putih. &lt;br /&gt;Kejadian itu tentu semakin membuat kecurigaan tetangga dan orang-orang yang selama ini iri semakin besar. Bisik-bisik mereka bagaikan dengung lebah di telingaku. Sampai akhirnya karena tidak tahan aku menangis sambil membentak mereka. &lt;br /&gt;“Kalian senang melihat kakakku begini. Kalau dia memang seperti kalian sangkakan, toh dia punya calon suami dan mau menikah. Lagipula bukan dia saja yang seperti ini, adik kalian, saudara kalian, anak kalian pasti ada yang mengalaminya kan! Atau kalian sendiri dulu pernah mengalaminya kan!” aku histeris memaki mereka yang sepertinya merasa menang melihat penderitaan dan malu keluarga kami. &lt;br /&gt;Meski ada yang tidak senang pada keluarga kami, ternyata masih ada yang baik dan kasihan melihat Mak yang terus menangis melihat One yang pucat dan menahan sakit. Mereka menghibur Mak dan menenangkan aku yang masih terus meracau meski orang-orang itu telah bubar. Sementara Ayah memilih berdiam diri di kamarnya.&lt;br /&gt;Saat keadaan sudah mulai tenang, One yang sejak siuman belum mengeluarkan suara meminta kami membawanya ke rumah sakit.&lt;br /&gt; “Tolong bawa aku ke rumah sakit saja. Tolong beri tahu Bang Yusri,” pintanya nyaris tak terdengar. &lt;br /&gt;Aku menghubungi Bang Yusri yang sedang dalam perjalanan ke rumah kami dengan rombongan keluarga besarnya. Aku hanya mengatakan One hanya demam biasa dan harus dibawa ke rumah sakit biar cepat sembuh. Bang Yusri yang menerima teleponku seperti tidak percaya dan meminta aku menceritakan semuanya. Namun aku tetap mengatakan One baik-baik saja. &lt;br /&gt;Di rumah sakit aku melihat Mak, Ayah dan sejumlah kerabat kami menunggu di depan ruang gawat darurat. Semuanya diam dan tampak gelisah. Aku yang baru datang juga ikut diam. Pada seorang perawat yang hendak masuk ke ruangan tertutup rapat itu, aku sempat bertanya. Katanya, One masih dalam pemeriksaan intesif dokter. &lt;br /&gt;Aku memilih duduk menjauh dari rombongan keluarga kami itu. Perasaanku campur aduk. Rasa kesal, benci, kasihan dan sayang pada One memenuhi rongga dadaku yang kurasakan sesak. &lt;br /&gt;Aku kesal karena mengapa One yang kubangga-banggakan selama ini ternyata menyimpan kebohongan yang akhirnya terungkap juga. Bahkan sangat memalukan saat hendak menjelang pernikahannya. &lt;br /&gt;Aku benci mengapa orang-orang seperti mensyukuri penderitaan One, penderitaan Mak dan keluarga besar yang menanggung malu. Aku kasihan melihat One yang harusnya mengecap kebahagiaan pada hari pernikahannya yang mungkin hanya sekali sumur hidup, tapi ternoda dengan masalah yang ia hadapi. &lt;br /&gt;Tapi aku tetap sayang One-ku. Kakakku yang selama ini telah banyak membantu kami, membahagiakan kami dan mengangkat status sosial keluarga kami, sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang biasa meremehkan orang yang tidak mampu. &lt;br /&gt;Pintu ruang gawat darurat terbuka, seorang dokter keluar diiringi dua orang perawat. Ia menanyakan Mak dan Ayah. Dokter itu diam sejenak sebelum mengajak Mak dan Ayah ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat kami duduk menunggu. &lt;br /&gt;Aku mengikutinya di belakang dan ikut masuk ke ruangan dokter itu. “Saya adiknya, Dok,” aku memperkenalkan diri sebelum dokter itu bertanya.&lt;br /&gt;Dokter itu tidak menjawab, hanya mengangguk. “Hmm…anak bapak dan ibu sakit. Sakitnya biasa yang dialami banyak orang. Tapi...sakit anak bapak dan ibu sudah cukup serius.” Dokter itu menatap Mak dan Ayah, kemudian mengambil kertas dan menulisnya.&lt;br /&gt;“Anak saya sakit apa, Dok?” Mak dan Ayah bertanya berbarengan, tidak sabar.&lt;br /&gt;“Anak Ibu dan Bapak sakit maag, tapi sudah serius atau kronis. Lambungnya dipenuhi luka bahkan sudah tipis,” dokter menerangkan penyakit One.&lt;br /&gt;“Kebanyakan orang yang seperti dia tidak mampu bertahan. Tapi anak ini seperti punya suatu kekuatan untuk bertahan.” &lt;br /&gt;Aku menarik nafas lega, ternyata One bukan seperti yang kami semua perkirakan. Di balik kelegaanku, ada rasa perih mendengar tentang penyakit One.&lt;br /&gt;Begitu juga Mak dan Ayah, meski tampak sedikit lega. Namun kemurungan tampak di wajah mereka. &lt;br /&gt;Aku permisi ke luar ruangan dan membiarkan Mak dan Ayah yang melanjutkan pembicaraan dengan dokter.&lt;br /&gt;Aku menceritakan apa yang kudengar dari dokter tentang penyakit One kepada keluargaku yang masih menunggu di dekat ruangan tadi. Kelegaan tampak di wajah mereka, namun kemudian berganti dengan mendung seperti di wajahku. &lt;br /&gt;Pintu ruangan itu kembali terbuka, tampak One dengan mata terpejam dan wajah pucat berbaring di atas tempat tidur yang didorong oleh dua orang perawat. Aku mengikutinya ke ruang perawatan. &lt;br /&gt;Aku duduk di samping tempat tidur One. Kuletakan tanganku di atas tangannya yang lemah dan dingin. Air mataku menetes melihat kakakku yang begitu malang. Kakakku yang seharusnya bahagia menunggu hari pernikahannya malah terbaring sakit. &lt;br /&gt;Aku tidak menyangka ternyata selama ini One memendam penyakitnya. Memang saat masih di kampung, One pernah sakit maag. Meski disiplin, One memang punya kebiasaan jelek, menunda makan jika pekerjaannya belum selesai.&lt;br /&gt;Tapi, aku tidak menyangka kalau penyakit One sudah begitu parah. Lambung One yang sudah tipis itu dipenuhi luka. Aku teringat tentang bapak temanku yang meninggal karena lambungnya bocor akibat maag. Namun, pikiran buruk itu aku tepis. Aku yakin One akan sembuh, karena aku tahu One punya semangat hidup yang kuat seperti yang dikatakan dokter tadi. &lt;br /&gt;Pintu ruang perawatan terbuka. Bang Yusri bersama Ayah, Ibu dan dua kakak serta adiknya datang. Kekhawatiran tampak di wajah mereka. Aku menyalami mereka dan memberikan tempat duduk untuk Bang Yusri.&lt;br /&gt;“Pasti penyakit maagnya kambuh. Waktu di Batam dia memang pernah dua kali masuk rumah sakit,” Bang Yusri menatapku. Aku mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;Bang Yusri menceritakan kalau One termasuk gila kerja, sehingga sering mengabaikan makan. Kata Bang Yusri, One tergantung dengan obat-obatan agar penyakitnya itu tidak kambuh. &lt;br /&gt;“Mungkin One terlalu sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya, Bang. One tidak suka merepotkan orang, dia lebih suka mengerjakan sendiri. Jadi mungkin dia sering lupa makan obat. Kami sendiri baru tahu kalau penyakit One sudah separah ini,” aku beralasan tentang kambuhnya sakit One itu. Namun aku tidak menceritakan diagnosa dokter tadi. Aku tidak mau membuat mereka semakin cemas. Biarlah mereka tahu sendiri.&lt;br /&gt;Tak lama Mak dan Ayah datang dan menyalami keluarga calon besannya. Aku memutuskan keluar ruangan dan pulang ke rumah. &lt;br /&gt;Malam itu di rumah diadakan rapat antara keluarga kami dan keluarga Bang Yusri. Sementara One dijaga oleh tante dan sepupuku. Keputusan rapat itu, pernikahan One dan Bang Yusri akan tetap dilangsungkan pada hari Jumat, tiga hari lagi. &lt;br /&gt;Jika One sudah sembuh pada hari H, One akan menjadi pengantin seperti layaknya pengantin yang menikah. Namun jika One belum sembuh atau masih lemah, pernikahan juga akan terus berlangsung, tapi prosesi akad nikah dilangsungkan di ruangan rumah sakit tempat ia dirawat secara sederhana. &lt;br /&gt;Bila pesta pernikahannya tidak akan berlangsung sesuai yang rencana, organ tunggal penghibur tamu akan dibatalkan. Namun tamu-tamu yang sudah terlanjur diundang akan tetap dilayani.&lt;br /&gt;Semenjak One masuk rumah sakit, Bang Yusri setiap hari menungguinya. Bahkan waktunya dihabiskan menemani One di rumah sakit. Aku yang juga setiap hari mengantarkan bekal dan pakaian ganti One dan Bang Yusri, tak jarang melihat calon abang iparku itu mengaji di samping One.&lt;br /&gt;Melihat kesabaran dan kesetiaan Bang Yusri menunggui One, ada rasa bahagia dan sedih memenuhi dadaku. Bang Yusri ternyata begitu baik, penyabar, penyayang dan setia seperti yang diceritakan One dulu. &lt;br /&gt;Tapi, mengapa kebahagiaan yang akan direguk sedikit lagi ternoda oleh sakit One? Padahal One sejak lama mengimpikan masa-masa indah yang akan dijelangnya itu. Selama ini One selalu banyak mengabaikan kebahagiannya untuk kami. One rela menghabiskan waktunya untuk bekerja ketimbang berpacaran. Sehingga wajar One telat mendapatkan jodohnya. &lt;br /&gt;“Ya Allah, sembuhkanlah segera kakak hamba. Berikanlah ia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan bersama orang yang dicintainya. Kakak hamba telah banyak berkorban untuk kami. Kakak hamba begitu baik ya Allah, tolong berikan dia kesembuhan,” doaku setiap usai shalat.&lt;br /&gt;Pada malam sebelum hari H pernikahannya, kami mendapat kabar kalau kesehatan One makin menurun. Padahal kemarin One tampak sudah mulai membaik. Kami semua segera ke rumah sakit.&lt;br /&gt;Di ruang perawatan tampak Bang Yusri dengan wajah kusut. Air muka kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya. Kami semua mengelilingi tempat tidur One. One tersenyum kepada kami, namun yang tampak hanya tarikan bibir di mulutnya yang kering. &lt;br /&gt;One sepertinya ingin menunjukan kepada kami kalau ia masih kuat dan akan sembuh. Tapi aku melihat One begitu memaksakan diri untuk terus tersenyum hanya untuk menyenangkan hati kami.&lt;br /&gt;Mak menggenggam tangan One. Mak tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Air matanya menetes. One berusaha menghapusnya, namun tangannya kembali jatuh ke atas tempat tidur.&lt;br /&gt;“Maafkan Marni, Mak. Marni merepotkan Mak.  &lt;br /&gt;Harusnya Mak bahagia menyiapkan hari pernikahan Marni. Tapi Marni sakit, Mak. Maafkan Marni telah membuat Mak susah,” suara One begitu lemah. Air mata Mak semakin deras mengalir.&lt;br /&gt;Mak tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mencium kening One, sambil terus menangis. Bang Yusri bersandar di tembok. Begitu juga Ayah dan Ibu Bang Yusri yang tampak begitu galau melihat keadaan One.&lt;br /&gt;One menatapku. Ia kembali mencoba tersenyum, tapi tidak sempurna. Aku mendekatinya. Memegang tangannya dan membalas senyumnya, namun panas kurasakan di mataku menahan tangis.&lt;br /&gt;“Yusna, kamu sudah besar, sudah dewasa. Kamu sudah bisa gantikan One membantu Mak dan Ayah. One percaya padamu...” One berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar.&lt;br /&gt;Aku mengangguk, air mataku sudah tak bisa aku bendung. One juga mencoba menghapusnya, namun tangannya tidak mampu diangkat.&lt;br /&gt;Kepada calon mertuanya One juga meminta maaf, begitu juga kepada keluarga kami yang lain yang ada di ruangan itu.&lt;br /&gt;One menatap Bang Yusri. Mata One mengisyaratkan meminta calon suaminya itu mendekat. One meminta aku dan Bang Yusri menggenggam tanggannya. &lt;br /&gt;“Bang…tolong tepati janji abang. Terima kasih, Bang. Adek sangat menyayangi abang,” ujar One menatap Bang Yusri penuh cinta. Kali ini air mata mengenangi matanya yang sayu.&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti maksud One. Aku hanya diam. Bang Yusri mengangguk dan mencium kening One.&lt;br /&gt;One menatap kami satu persatu yang mengelilinginya. Saat menatap aku, One berhenti lama. Matanya seakan berbicara mengatakan sesuatu kepadaku. Namun aku tidak dapat meraba maksudnya. &lt;br /&gt;One menutup matanya dan senyum menghias bibirnya. Aku mengira One kecapekan setelah berbicara banyak dan tidur. Namun ternyata One menutup mata untuk selama-lamanya. Aku mengetahuinya setelah Mak histeris dan pingsan. &lt;br /&gt; Lafaz Innalillahi wainnalillahi rajiun keluar dari mulut semua orang. Ketika itu aku melihat sebuah tarikan nafas terakhir One dan senyum itu tetap tidak hilang. &lt;br /&gt;Bang Yusri memeluk One, aku terduduk menangis histeris. Tangis kami semua pecah menyaksikan One telah kembali kepada-Nya. Tuhan ternyata lebih menyayangi One dibandingkan kami. Tuhan sepertinya tidak mau One berlama-lama menanggung sakit.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di hadapan jenazah One yang terbujur kaku ditutupi kain panjang, aku dan Bang Yusri bersimpuh. Hari ini, tepatnya di hari H pernikahan yang harus dilakukan One dan Bang Yusri, aku yang menggantikannya.&lt;br /&gt;Ternyata maksud One kepada Bang Yusri untuk menepati janjinya adalah agar Bang Yusri menikahi aku jika One meninggal dunia. Karena cinta dan kesetiaan Bang Yusri kepada One, ia mau menikahiku. &lt;br /&gt;Tapi bagiku awalnya sangat berat, saat hal itu diungkapkan Bang Yusri kepada keluarga kami. Aku nyaris pingsan mendengarnya. Karena tidak pernah terbayang di kepalaku akan menikah secepat ini. Aku yang baru lulus SMA harus menikah dengan pria yang begitu dewasa seperti Bang Yusri.&lt;br /&gt;Tapi, akhirnya aku luluh juga. Semua itu karena rasa sayangku kepada One. Aku harus memenuhi janji kepada One untuk membantu Mak dan Ayah. Aku rela menggantikan posisi One membahagiakan Bang Yusri. Aku rela mengorbankan masa remajaku yang masih tersisa demi kakakku yang telah banyak berkorban untukku. Aku ikhlas demi kelapangan kakakku di alam kubur.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk adik-adikku, semoga menjadi manusia yang berhasil dan mandiri.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;ONE&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7232257860131300777?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7232257860131300777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7232257860131300777' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7232257860131300777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7232257860131300777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/tit-tit-tit-kuraih-hp-ku-yang-sejak.html' title=''/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-9219086371022151614</id><published>2010-04-05T03:21:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T03:24:12.580-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ga Benar FB itu Ga Bermanfaat ! *Catatan Dari sebuah persahabatan di FB*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S7m6PY3Wh_I/AAAAAAAAAbg/FQQfxsI9ifE/s1600/kikie.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S7m6PY3Wh_I/AAAAAAAAAbg/FQQfxsI9ifE/s320/kikie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456597197071484914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada sebuah kasus karena penyalahgunaan FB.Seseorang yang tidak pernah menggunakan FB bahkan mengucapkannya saja salah, mengatakan agar kami mengurangi aktifitas nge FB.Dalam hati saya cuma berkata,yang kamu tahu cuma jeleknya saja sementara tidak pernah melakukan langsung,jadi tidak merasakan manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya daripada mudarat,saya lebih merasakan manfaat FB.Salah satunya menemukan kawan-kawan lama,bernostalgia,bisa dapat kawan baru dan menyambung silaturahmi,bisa mengeluarkan pendapat asal sesuai norma kesopanan dan tidak menyebut nama seseorang,bisa beli barang bagus dengan harga murah,bisa dapat info terbaru dari seluruh Indonesia dan dunia,serta masih banyak manfaat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untunglah saya tidak terlalu menanggapi ucapan yang sok tahu itu.Dari FB saya menemukan sahabat-sahabat saya yang "hilang".Dari jaman TK,SD,SMP,SMA hingga kerja,sahabat-sahabat yang sempat terputus komunikasi,satu persatu ditemukan dan silaturahmi terjalin kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu saya juga dapat sahabat-sahabat baru.Yang meski hanya kenal muka di FB dan tak pernah ketemu,tapi kami seakan sudah kenal lama dan baik.Bahkan baru-baru ini saya dikunjungi oleh sahabat FB kiekie cantik dan umminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang sekali mendapat kunjungan itu.Karena saya tidak menyangka,dari pertemanan di FB,ibu dan anak ini rela meluangkan waktu dan biaya untuk bertemu saya,sekedar untuk bercerita,bercanda dan ketawa-ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penghargaan yang tidak terhingga dan rasanya mungkin jarang saya terima.Dari sebuah persahabatan kami bisa menjadi saudara dan keluarga.Tentu banyak sodara dan keluarga akan banyak juga manfaatnya.Minimal punya orang yang menjadi tempat bicara dari hati ke hati,menangis dan tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya saya sendiri merasakan kebahagiaan ketika bertemu ummi dan khususnya kikie.Bocah tiga tahun nan cerdas dan menyenangkan.Kebahagiaan yang sulit dinilai dengan uang.Kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan ketika menatap wajah cantiknya,mendengar suara merdunya membacakan ayat-ayat pendek dan bisa mencium pipi mulusnya.Yang penting saya juga sangat bahagia ketika dipanggil Bunda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terserah orang lain menilai berlebihan,karena yang saya rasakan berasal dari hati yang tulus dan keterbukaan.Semoga persahabatan ini langgeng selamanya.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-9219086371022151614?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/9219086371022151614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=9219086371022151614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/9219086371022151614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/9219086371022151614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/ga-benar-fb-itu-ga-bermanfaat-catatan.html' title='Ga Benar FB itu Ga Bermanfaat ! *Catatan Dari sebuah persahabatan di FB*'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S7m6PY3Wh_I/AAAAAAAAAbg/FQQfxsI9ifE/s72-c/kikie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-3450473052126518382</id><published>2010-04-02T08:56:00.001-07:00</published><updated>2010-04-02T09:01:17.425-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cupu cupu SMU'/><title type='text'>Empek Empek Terbang</title><content type='html'>Sibuk-sibuk berita soal ujian nasional,saya ingat pengalaman waktu mau &lt;br /&gt;ujian EBTANAS 11 tahun lalu waktu masih duduk di bangku SMU.Persiapan &lt;br /&gt;ujian identik dengan belajar,ya jelaslah ga mungkin identik luluran,medicure,pedicure hehehe...emangnya mau persiapan nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan gank memilih belajar kelompok.Maksudnya kita belajar bersama,membahas soal-soal latihan bersama dan nyontek bersama...ehhhh yang ini ga boleh meski ngarep.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar bersama juga identik dengan tidur bersama,mandi bersama,makan bersama,ketawa bersama dan sedih bersama serta ngutang bersama ....Lho kok semuanya bersama  Ya ialah,karena kami tinggal di sebuah rumah khusus yang memang diperuntukan belajar bersama.Yang cowok boleh ikutan belajar,tapi tak boleh ikutan numpang tidur....No Way...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatkan ? belajar bersama saja disediakan rumah khusus oleh guru...ga ding,emangnya asrama pelajar.Rumah itu adalah milik seorang teman kami yang bersana Reni.Kami memanggilnya Mama Iren.Karena meski orangnya secara fisik ga keibuan,tapi sifatnya ngemong banget...dan kita menjadi anak di rumahnya hehehe..*luv u mami iren*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Iren waktu itu cuma tinggal berdua dengan pamannya.Ibunya udah meninggal dan kakaknya merantau dan tinggal di Jakarta.So,rumah Mama Iren paling cocok untuk belajar,karena tidak banyak penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pembaca mengira kok begitu mudahnya kami bisa belajar bersama di &lt;br /&gt;rumah kawan,tak ada ortu yang mengawasi.Hmm..jangan berpikiran begitu...penuh perjuangan untuk menyakinkan orang tua kalau kami mengungsi jauh-jauh dari rumah adalah untuk meraih nilai terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya itu yang saya rasakan.Susahnya menyakinkan mak saya supaya kasi izin bisa belajar bersama di rumah Mama Iren yang terletak berkilo-kilo meter dari rumah.Yah terpaksa pake kata berkilo-kilo meter..soalnya saya selalu lupa ngukur berapa tepatnya jarak rumah saya ke rumah Mama Iren hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,niat baik tentu hasilnya baik meski ada kenakalan juga saat belajar hehehe....Namun tetap saja kami semua lulus dengan nilai yang memuaskan dan hasil nyata sekarang kami tetap  menjadi orang.Ya ialah emangnya bisa &lt;br /&gt;berubah menjadi patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho kok nakal ? karena waktu belajar kami juga nyelipin dengan bikin acara masak-masak dan jalan-jalan hahaha...Salah satu acaranya masaknya adalah nyobain bikin empek-empek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kami cuma dengar tentang empek-empek makanan khas dari palembang.Tapi dasar gank yang sok tahu dan selalu pengin nyoba.Kami pun mikir resepnya,ada yang bilang ini resepnya terbuat dari beras pulut,gula merah dan santan....lah ini resep bubur ketan hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang resep tepung terigu,gula,telor,mentega...yach itu kan resep bikin kue bolu xixixiAkhirnya dengan resep hasil khayalan kami,diputuskan iuran beli bahan &lt;br /&gt;empek-empek.Tepung terigu,tepung kanji,telor,bumbu dapur,minyak goreng,gula merah dll.Yang tukang adonan seperti biasa mami iren yang jago masak dibantu kita-kita semua.Hasilnya jadilah adonan yang siap digoreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak pun dipanaskan .Sambil nunggu minyak panas,empek-empek itu bulat-bulatkan oleh para cewek.Sedangkan yang cowok menghibur kami sambil main gitar di ruang tamu.&lt;br /&gt;Yup inilah waktunya,minyak pun dah berasap.Satu persatu bulatan empek-empek versi kami dicemplungin ke dalam kuali.Sedetik,dua detik dan satu menit empek-empek bola adem ayem saja dalam minyak panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian,satu persatu tiba-tiba empek empek itu meletus,meloncat dari kuali dan jatuh ke lantai.Diantara kaget kami juga tertawa terbahak-bahak melihat fenomena aneh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu empek-empek yang berserakan di lantai kami masukan lagi ke dalam kuali.Padahal lantainya kan udah keinjak-injak kaki kami.Tapi kan prinsipnya "belum lima menit" xixixixi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus supaya tidak loncat,kuali kami tutup pakai tutupnya panci.Tapi,pas kira-kira udah matang dan tutup panci diangkat,itu empek-empek bola kembali meloncat-loncat bagaikan menari india...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kami sibuk mengumpulkannya dari lantai yang lagi-lagi penuh dengan si kuman nakal.Para cowok yang nungguin di ruang tamu pengin tahu mengapa dari tadi kami heboh di ruangan tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekapun masuk ke dalam ruangan tengah dan ikutan tertawa melihat aksi kami kejar-kejaran dengan si empek-empek nakal.Akhirnya dengan penuh perjuangan,tuntas sudah semua adonan empek-empek digoreng meski harus berkeringat sebesar biji durian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dengan resep hasil rekayasa,empek-empek bola nakal kami ternyata enak juga.Namun masih kurang kuahnya.Bumbu untuk kuah udah disiapkan.Cabe rawit,bawang merah,bawang putih,tomat muda dan gula merah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gula merah yang udah diiris tipis dipanaskan bersama air.Terus dimasukan dengan semua bumbu yang udah diiris-iris.Sambil menunggu mendidih,tiba-tiba salah satu teman saya,liza mencoba mengaduk-aduk gula merah yang masih belum lumer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang terjadi,tiba-tiba kualinya oleng dan menumpahkan isinya nyaris setengah.Oh noooo.....! kami menjerit histeris membayangkan gagal menikmati empek-empek dengan kuahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,kami tak kehilangan akal.Cepat-cepat semua bumbu yang tumpah diambil dan dimasukin lagi ke dalam kuali tanpa dicuci hhhiiiiiiiiiiiii...Bahkan saya sempat memungut cabe rawit yang berada dekat tumpukan sandal woooowwww......Kuahnya yang tumpah kami ganti dengan air dan untung stok gula merah banyak,jadi masih bisa ditambah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para cowok yang masih asyik di ruang tamu tak tahu kejadian ini.Karena kami pura-pura tak ada masalah.Entah mengapa,saat menikmati empek-empek bersama-sama,seolah-olah kejadian tadi tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena lapar atau memang doyan,sebaskom empek-empek ludes.Alhamdulillah besoknya tak ada yang dirawat di rumah sakit karena diare hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau membayangkan sekarang,saya hanya bisa tersenyum-senyum sendiri.Sumpah ga mual...malah pengin nyoba lagi hehehehe...***End&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-3450473052126518382?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/3450473052126518382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=3450473052126518382' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3450473052126518382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3450473052126518382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/04/empek-empek-terbang.html' title='Empek Empek Terbang'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-4452241649952341218</id><published>2010-03-19T10:14:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T10:26:14.946-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cupu cupu SMU'/><title type='text'>Cara Praktis "Ngusir" Guru</title><content type='html'>Opss...jangan berpikir negatif dulu membaca judul di atas.Kalau kalian berpikiran saya adalah siswi yang bandel,kurang asin dan sejenisnya, itu kesalah an tidak terlalu fatal hehehe...ya meski agak bandel yang jelas saya pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelasnya lagi saya adalah siswa yang kreatif *narsis mode on*,karena dengan cara berpikir saya yang lain dari siswi lain,saya bisa membuat guru fisika menjauh dari meja saya dengan hanya satu rayuan maut....upsss...salah.satu kalimat pamungkas.Mau tahu...yuk maree dibaca dengan penuh seksama dan dalam tempo yang sesingkatnya....*lebay*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini ketika saya duduk di kelas satu SMU.Waktu itu saya berada di kelas 1.3,yang mana merupakan kelas unggulan alias kelas bagi anak-anak pintar macam saya *sumpah ga maksud menyombongkan diri*&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya masuk ke dalam kisah inti,lebih baik saya ceritakan dulu tentang pelajaran fisika yang tidak nempel di hati saya. Jadi,sejak mengenal pelajaran yang banyak rumusnya itu,tepatnya mulai kelas satu SMP saya tidak menyukai pelajaran fisika,entah mengapa saya juga tidak tahu persis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,saat ini setelah saya lepas dari pelajaran yang bikin kepala saya nyut-nyutan itu,saya menyimpulkan kalau semua itu disebabkan oleh cara mengajar gurunya yang kurang kreatif dan sang guru yang terlalu serius.*Maafkan daku pak dan bu guru,ini kritik membangun*.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kelas satu,saya diajar oleh guru yang perempuan.Orangnya hitam manis,kecil,imut dan lumayan enak dipandang dari jauh.Namun,sang guru jarang tersenyum dan hanya membebani kami dengan dasar-dasar fisika yang menurut saya pribadi tidak menarik.*Maaf ya mbahnya fisika*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semester dua terjadi pergantian guru.Saya berharap guru yang mengajar bisa membuat saya mencintai fisika.Tapi ternyata do'a saya belum dikabulkan Tuhan hik hik...Kali ini gurunya adalah pria dengan wajah serius dan juga jauh dari yang namanya menarik bibir ke samping alias senyum.Bahkan kata-katanya kadang nyelekit.*Untung zaman itu belum ada FB,kalau ada status saya mungkin udah macam-macam hehehe...ga bercanda kok...takuuut kena somasi*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan parahnya lagi,dia bukan guru bidang studi fisika alias guru yang diperbantukan karena sekolah kami kekurangan guru.Duh,bertambahnya penderitaan saya kalau melihat daftar pelajaran fisika tiap dua kali seminggu.Jadilah pelajaran yang nyangkut hanya beberapa persen saja,namun anehnya nilai saya tetap tinggi hihihihi...hebatkan...?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas dua guru fisika lumayan menarik hati.Seorang ibu yang keibuan,air mukanya menyejukan dan cara mengajarnya yang lumayan membuat saya mulai menyukai fisika.Tapi,sayang beribu sayang kau sudah ada yang memiliki....ooopppss...itu kan lirik lagu....maksudnya si ibu guru hanya mengajar satu semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semester dua siapa yang mengajar ya ? oh ya...ibu berwajah imut dan dia adalah ibu dari teman SD saya dulu.Lumayan enak juga cara ngajarnya dan saya pun mulai mencintai pelajaran fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di kelas tiga SMP...hmmmm...siapa ya guru fisikanya dan gimana ciri-cirinya...? sumpah deh saya lupa....yang jelas fisika tetap pelajaran paling belakang yang saya suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,waktu melanjutkan ke SMU saya sudah bertekat harus bisa sepenuhnya mencintai fisika seperti saya suka dengan pelajaran lain.Tapi,sejarah seperti berulang,guru fisika adalah bapak-bapak yang terlalu serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi di SMU pelajaran fisika sudah mulai mendalam.Entah mengapa saya seperti kembali ke masa duduk di kelas satu SMP.Tak ada yang nyangkut di otak rumus-rumus yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,disinilah awal kisah bagaimana saya mengusir guru fisika yang juga wali kelas saya itu.Suatu hari beliau menerangkan tentang bejana berhubungan diikuti rumus-rumus yang hanya singgah satu detik di kepala saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa,setelah memberikan contoh soal dan penyelesaian,beliau memberikan soal latihan yang hampir serupa dengan latihan sebelumnya.Usai memberikan latihan,pak guru kami itu sibuk mondar mandir di sekitar kelas mengawasi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan...ia pun berhenti di depan meja saya yang terletak di deretan depan.Sumpah,saya merasa tidak nyaman.Bukan karena ada bau-bau aneh...tapi karena saya merasa mata si bapak mengawasi gerak gerik tangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sumpah,saya tidak mengerti dengan soal yang diberikan.Kalaupun ada coret moret angka-angka di keras buram saya,itu hanya akal-akalan saya saja hihihihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik,dua detik,tiga detik....satu menit,dua menit,tiga menit......lima menit duh saya merasa tertangkap basah tidak mengerti dengan apa yang baru dijelaskan beliau.Padahal tadi waktu beliau menjelaskan,saya yang antusias menyambung kalimat-kalimatnya."Bejana berhubu......" kata beliau&lt;br /&gt;saya jawab" ngaaaaaannnnnn," dengan kencangnya untuk menyamarkan ketidakmengertian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak saya yang encerpun berpikir bagaimana cara agar si bapak bisa berpindah tempat dan saya bebas melamun hihihihi...Dan keluarlah sebuah ide brilliant.Tapi untuk mengeluarkan jurus itu saya harus menarik nafas berulang kali dan mengeluarkannya pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya mencoba mengatur kalimat yang cocok dan nada suara yang elegan xixixi...dan akhirnya sebuah kalimat meluncur dari bibir imut saya."Pak..tolong donk pindah tempat berdirinya,saya grogi nih dilihatin terus dari tadi," ujar saya dengan gaya manja penuh kerisauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrr........serentak kelas heboh dengan kalimat pamungkas saya itu.Saya pun hanya mesem-mesem dengan pipi merah dadu,sok malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah,kalau tak mau dilihatin," jawab si bapak ketus sambil berpindah tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horeeee....saya memekik kegirangan dalam hati.Sementara komentar-komentar miring masih terdengar atas keberanian saya,plus biru-biru di tangan saya karena dicubit teman sebelah.*yang terakhir sumpah deh ga benar*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;End...hingga kelas tiga dan ketiga saya duduk di kelas IPA pun,pelajaran fisika tetap merupakan pelajaran yang membuat otak saya panas dingin.Tapi anehnya di raport selalu tinggi.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekali lagi hebat kan ? tapi tunggu...kayanya ada satu angka enam di rapot saya.Duh itu angka sangat mengganggu keindahan raport-raport saya yang dihiasi angka-angka delapan,sembilan dan sepuluh...*yang terakhir 100 persen bohong*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa dapat enam ? ini kisahnya.&lt;br /&gt;Waktu kelas dua SMU guru fisika saya adalah sama,serupa dan mirip serta sejenisnya dengan guru fisika waktu kelas satu SMP.Kemiripan sifat dan cara mereka mengajar membuat saya mengeluarkan sebuah kesimpulan "guru fisika adalah guru yang serius,mahal senyum dan keningnya berkerut".Sebuah analisis anak umur bau kencur waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena fisika hanya sekian persen mengisi relung hati saya.Jadi setiap pelajaran fisika saya selalu resah dan gelisah.Apalagi kalau pelajaran itu berada sebelum jam istirahat pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah trik yang saya dan kawan-kawan lakukan adalah permisi ke luar kelas dan lama-lama di luar hehehehe....kalau bisa lima menit sebelum bel berbunyi kita satu persatu udah mulai minta izin.Berbagai alasan,ada yang ke kamar mandi,ada yang mau beli pena,ada yang mau batuk,ada yang mau kentut diluar hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya tidak mau ikut-ikutan dengan kebiasaan jelek kawan-kawan itu.Soalnya pamor saya kan sedang naik *sumpah ga bohong*.Waktu itu kelas 1 alias mau naik ke kelas dua saya kan juara umum ke tiga untuk satu sekolahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm...tau kan saya jadi pusat perhatian dan harus menjaga citra sebagai juara umum.Terus banyak yang ngefans dan pengin niru gaya belajar saya.*Suerrr....ga bohong*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,karena pelajaran fisika yang membuat perut saya keroncongan akhirnya saya meniru gaya dan trik sejumlah teman-teman  itu.Lima menit sebelum bel tanda istirahat,saya sudah ngeloyor pergi ke luar kelas dengan alasan ke kamar mandi.Padahal saya duduk di kantin makan ketupat atau mie rebus..ajiiiipp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali,dua kali dan tiga kali lancar dan aman terkendali.Tapi,suatu hari ketika sang guru fisika izin meninggalkan kelas  karena ada keperluan ke ruang guru,itulah biangnya saya dapat nilai enam di raport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bapak guru meninggalkan kami dengan soal latihan yang harus diselesaikan.Seperti biasa,mereka yang jagoan nyelip sebelum jam istirahat sudah mulai keluar satu persatu.Padahal jam istirahat masih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tak mau ketinggalan. Latihan yang diberikan sang guru saya tinggalkan.Aroma sate yang dikipas Bang Son di luar halaman sekolah sudah menusuk-nusuk hidung saya dan membuat cacing di perut berjoget kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan beberapa teman saya pun meninggalkan kelas dan melenggang kangkung ke luar halaman sekolah yang pagarnya memang tak pernah di kunci. Dasar perut lapar,kami pun tak sadar kalau tempat mangkal sate itu bisa dipantau dari ruangan majelis guru.Dan....guru fisika itu melihat kami yang asyik makan sate sambil ketawa ketiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu berikutnya,sang guru menyatakan kekesalannya dan memberi sinyal jika ada ganjaran bagi siswa yang tidak disiplin.Tapi dengan pede dalan hati saya merasa saya tidak akan kena ganjaran.Memang ganjaran fisik dan disiplin tidak ada.Tapi pas penerimaan raport,sebuah angka enam merusak pemandangan nilai saya.Hwaaaaaaaaaa................******end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-4452241649952341218?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/4452241649952341218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=4452241649952341218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/4452241649952341218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/4452241649952341218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/03/cara-praktis-ngusir-guru.html' title='Cara Praktis &quot;Ngusir&quot; Guru'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-5910739195021842826</id><published>2010-03-19T09:54:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T09:55:43.722-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cupu cupu SMU'/><title type='text'>Rok Bau Pesing</title><content type='html'>Waktu duduk di SMU saya paling menyukai pelajaran olahraga.Bukan apa-apa karena pelajaran itu yang paling santai.Tak harus buka buku yang jelas harus buka baju......haaaaaa....!!!!maksudnya buka baju seragam dan ganti kostum olahraga xixixixi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau pelajaran olahraganya di pagi hari,jadi dari rumah kebiasaan saya dan teman-teman sudah mengenakan baju olahraga.Sedangkan seragam abu-abu dilipat pake bungkusan koran dan dikantongin pake tas bekas beli pakaian di toko ternama.Sekalian bilang kalau mak saya kemarin baru beli baju baru lhooo....hohoho..kok larinya ke sono.Ya ialah..sebuah kebiasaan mereka yang ngaku anak gedongan,padahal bisa saja itu tas dipungut dari bak sampah tetangga sebelah. *duh kok syirik geeneee*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop.....*garing bangets*ya kembali cerita tentang pelajaran olahraga.Dari rumah yang berjarak kurang lebih satu kilometer,saya biasanya sudah olahraga duluan,yakni jalan cepat.Itu saya lakukan setiap hari berangkat ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saya sering mengkhayal kalau suatu hari nanti saya akan terpilih menjadi atlit PON mewakili kecamatan saya ke tingkat kabupaten.Mau tahu mengapa saya memilih olahraga jalan cepat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ini bukan pilihan saya,tetap harus dipilih karena setiap hari saya selalu berangkat dengan terburu-buru ke sekolah.Jam 7.20 menit saya berjalan terbirit-birit dan jauh dari teknik jalan cepat.Artinya saya suka telat datang ke sekolah hehehehe..sorry ya pembaca semua tertipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seperti hari-hari biasanya saya selalu berangkat ke sekolah dalam waktu yang sempit.Tapi mohon jangan mencap saya adalah siswi pintar yang tidak disiplin.Semua itu karena saya harus mengerjakan pekerjaan rumah yang wajib setiap hari yakni mencuci pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum sebagai anak pertama saya harus membantu ibu mengurus rumah.So,mencuci pakaian dengan tangan adalah pekerjaan utama saya di pagi hari. Anggota keluarga yang berjumlah delapan orang dan tiga orang adik-adik yang masih kecil,harus membuat saya repot di pagi hari.Sumpah cerita ini tidak bohong...saya berani dikutuk menjadi presiden,orang kaya dan secantik luna maya kalau saya bohong.Suerrrrr...*serius mode on*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kembali ke masalah pagi yang terbirit-birit.Waktu yang sempit saya diperlonggar dengan pelajaran olahraga pagi itu.Mengenakan pakaian olahraga lebih simpel dari seragam abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyambar baju dan rok abu-abu yang tergantung di belakang pintu.Di lipat seadanya dan masuk ke dalam tas.Setengah berlari saya ke luar rumah dan kembali melakukan aktifitas olahraga jalan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran olahraga hari itu hanya berupa teori dan praktek bermain basket.Dan,satu lagi yang saya sukai dari pelajaran adalah kita bisa ngobrol ketika melihat kawan-kawan praktek,tapi tetap kena marah guru kalau ketahuan hehehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pelajaran olahraga dilanjutkan dengan pelajaran berikutnya di dalam kelas.Tentu saja kami harus berganti baju seragam abu-abu.Kami siswi cewek biasanya malas ngantri di wc.Bukan karena malu saling melihat keunikan masing-masing.Tapi wc sekolah saya seperti kebanyakan wc pada umumnya di Indonesia hik hik hik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi biasanya kami mengganti seragam abu-abu di kelas.Pintu kelas ditutup dan mulailah cewek-cewek bau kencur mengganti seragam olahraga.Ada yang dengan polos berdiri di depan kelas *sumpah ga benar*,ada yang ke sudut belakang dan ada yang menyuruk di bawah meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya masuk kategori yang suka menyuruk dekat kolong meja hehehe...ya ialah,sayang kan body guitar saya diintipin teman-teman cowok yang tidak bertanggungjawab xixixixi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya menukar kaos olahraga dengan kemeja putih yang dilakukan sembunyi-bunyi.Sedangkan menukar celana olahraga dengan rok mudah.Pasang roknya dan celana di tarik ke bawah.Jadi tak perlu pakai acara sembunyi-sembunyian di bawah meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya membuka lipatan rok saya mencium bau aneh.Kok seperti bau pesing.Tapi itu saya abaikan karena saya kira mungkin bau bersumber dari aneka jenis bau keringat kami yang baru siap berolahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,seorang teman yang duduk di depan saya kok seperti kucing mencium bau ikan asin.Hidungnya kembang kempis dan mulutnya maju ke depan.&lt;br /&gt;Hmm....saya pun mencium gelagat yang tidak beres,daaaaaannnnn......... ternyata memang benar sumber bau itu dari rok abu-abu sayaaaaaaaaa...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hueeeekkkk.....! saya sampai muntah darah *bohong banget*baunya apek khas pesing.Lho kok saya tidak tahu dan menciumnya saat melipat tadi pagi ? Ya ialah,orang terburu-buru kan otaknya mandeg dan hidungnya pun telmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus sumber pesing itu dari mana ? Ohhhh nooo....!!!! saya baru ingat kejadian memilukan eh memalukan kemarinnya.Saya punya sifat jelek suka menahan kencing.Itu penyebabnya karena wc sekolah seperti kebanyakan wc di Indonesia pada umumnya.Jadi saya malas ke kamar mandi dan lebih memilih menahan kencing.Aneh kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah yang saya lakukan.Tapi kadang-kadang saya harus mengalah juga kalau sudah kebelet berat,namun ya harus menahan nafas 2 menit...hhhhhhhh...&lt;br /&gt;Kemarin itu saya merasakan ingin pipis.Namun karena sebentar lagi jam pulang sekolah jadi saya menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menahan kencing,saya komat kamit berdoa supaya tidak kebablasan.Pelajaran dari guru matematika pun tak masuk di otak saya.Akhirnya bel berbunyi dan saya buru-buru mengemasi buku dan berlari mendahului guru ke luar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang mengajar pun tak terima dan mengejar saya karena melihat kekurangajaran saya mendahului beliau.Terjadilah aksi kejar-kejaran macam di fillm india.Saya sembunyi di balik tiang dan guru berkaca mata dan tinggi semekot itu bernyanyi dan berjoget ala amithabacan.*Hueekk...jangan muntah membaca kelebaian ini*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya saya mau terbang saja supaya bisa cepat sampai ke rumah.Tapi apa daya sayap saya masih di pesan hehehe....jadi saya harus jalan cepat dan kalau perlu setengah berlari.Mau naik mobil,yah tak ada angkutan ke sekolah saya.Mau naik ojek juga tak ada yang lewat.Jadilah saya berjalan dengan air mancur yang siap muncrat hik hik hik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya..rileks dulu jangan keduluan pengin pipis juga membacanya.Tentang angkutan yang tidak ada ke sekolah saya,karena sekolah itu berada agak di dalam dan tidak ada rute angkutan umum.Siswa dan guru biasanya berjalan sekitar 200 meter dari jalan raya untuk mencapai sekolah.Sedangkan rumah saya berlawanan arah dengan jalan raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin dekat ke rumah,si pipis makin tak bisa ditahan.Dan ketika atap rumah dari jauh nampak si pipis pun berontak dan mulai membasahi CD *maaf ya*.Oh nooooooooo.....!! tapi celingak celinguk sana sini,tak ada orang lewat dan saya pun berlari ke dalam rumah dengan rembesan si pipis di kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk kamar mandi tanpa buka sepatu dan masih menyandang tas,saya pun menuntaskan hajat yang tertunda tadi.Hhrrrr....segerrrr dan saya pun melenggang ke kamar dan mengganti semua pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesibukan saya setelah makan siang,yakni beres-beres rumah,pergi kursus dan belajar di malam hari,rok yang terkena rembesan pesing itu terlupakan.Ia nyangkut dengan tenang di belakang pintu.Ketika saya terburu-buru berangkat paginya,rok itupun tetap dibawa hahahahaha.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke situasi saya yang kebingungan dengan rok bau pesing.Saya celinguk sana sini melihat teman-teman lain yang sudah rapi.Ada yang pakai bedak,ada yang sisir-sisiran dan ada yang semprot-semprotan cologne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak encer saya pun melahirkan ide,saya akan menuntaskan bau pesing itu dengan semprotan cologne milik kawan saya.Tapi,dasar kawan pelit dia menolak memberikannya dengan alasan tinggal sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minta ke yang lain aja....ah ga usah,sekali ditolak telah membuat hati saya terluka...hik hik hik.Otak saya pun kembali berpikir keras bagaimana saya bisa memakai rok itu tanpa ada kehebohan dengan baunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ting...! saya kan bisa membeli cologne di warung belakang sekolah yang juga menjual berbagai kebutuhan mendadak siswa.Tanpa berpikir panjang saya lari ke belakang dan ternyata colognenya tidak ada......haaaaa....!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pokoknya apa saja yang wangi deh bang," teriak saya setengah histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Jhon pemilik warung bertubuh tambun itu kebingungan melihat saya yang memelototi isi etalasenya dengan gelisah.Dannn...itu tisu basah wangi merek pixi.Alhamdulillah,usai memberikan duit saya berlari mencari wc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wc yang biasanya saya jauhi,kini tak saya pedulikan,yang penting saya bisa menempelkan wangi tisu basah ke rok abu-abu.Usap sana sini dan setelah memastikan semuanya wangi,saya pun mengganti celana olahraga dengan rok yang sudah wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menuju kelas saya tersenyum-senyum geli sendiri.Saya tak bisa membayangkan kalau seisi kelas mengetahui kejadian tadi dan pamor saya sebagai siswi pintar yang berwibawa akan turun hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya cerita lucu dan memalukan itu hanya saya yang tahu sebelum terungkap di dalam buku ini.Bagi teman-teman sekelas saya yang membaca tulisan ini,coba deh ingat-ingat kejadian saat di kelas 2.3 tahun 1997/1999 silam.Yang jelas tidak akan pernah ingat,soalnya kisah ini saya simpan rapi hingga terbuka di cerita ini xixixixixixi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-5910739195021842826?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/5910739195021842826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=5910739195021842826' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/5910739195021842826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/5910739195021842826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/03/rok-bau-pesing.html' title='Rok Bau Pesing'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-4818048260255524656</id><published>2010-03-08T04:42:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T04:53:17.827-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Saya adalah Saya</title><content type='html'>Di dalam lingkungan masyarakat,kantor dan organisasi sering kita temukan seorang wanita yang sudah menikah dipanggil dengan nama suaminya.Bahkan tak jarang nama asli wanita itu hilang entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wanita yang mempunyai suami yang berpangkat,jabatan dan penghasilan tinggi,mungkin itu adalah kebanggaan tersendiri.Tapi,tidakkah mereka sadar bahwa memakai nama suami dan bahkan menghilangkan nama asli sendiri,adalah sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ? ini faktanya, &lt;br /&gt;Suami kita adalah pribadi yang lain dari kita.Manusia berbeda dari kita,karena kita lahir dan orang tua berbeda.Kita hanya disatukan oleh sebuah pernikahan.Namun,pemikiran kita,tindak tanduk bahkan kepribadian kita tidak akan pernah menyatu bahkan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,jika kalau kita dengan bangganya memakai nama suami hanya karena dia punya pangkat,apakah kita mampu mengimbangi kemampuan dia ? Suami kita adalah orang yang cerdas,disiplin,jujur,penuh wibawa misalnya.sementara kita sendiri dalam pergaulan berbanding terbalik dengan sikap suami kita atau minimal tidak punya sifat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,ketika seseorang menyebut nama anda dengan nama suami,yang dibayangkan oleh mereka adalah suami anda yang hebat.sementara anda jauh berbeda,jadi yang akan dampaknya adalah suami anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho,suami baik,bagus,pintar dan jujur,kok dia seperti itu," begitu sebuah pertanyaan yang saya dengar,ketika membandingkan seorang wanita yang memakai nama suami namun kelakuannya jauh dengan sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri yang sangat mencintai suami.saya merasa tak perlu memakai namanya di belakang nama saya atau bahkan mengubah nama saya menjadi nama suami.Karena bagi saya,saya adalah saya,yang berpikir,bertindak dan berbicara sesuai kemampuan intelektual saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SO..jadilah diri sendiri.....namun tetap menghormati suami dengan perilaku kita yang baik dalam kehidupan sehari-hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-4818048260255524656?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/4818048260255524656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=4818048260255524656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/4818048260255524656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/4818048260255524656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/03/saya-adalah-saya.html' title='Saya adalah Saya'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-1087467781396215820</id><published>2010-03-08T04:28:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T04:42:38.152-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Dari Sebuah Pergaulan</title><content type='html'>Semakin banyak bergaul,semakin saya mengenal berbagai karakter kawan,rekan dan kenalan.Ada yang apa adanya,polos,jujur,baik,bisa dipercaya.Tapi ada juga yang plintat plintut,suka menghasut,tukang fitnah,tak konsisten dan pembohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dengan sifat-sifat buruk mereka itu hanya merugikan mereka,bagi saya tidak masalah,namun kadang sifat mereka itu merugikan kita.Bahkan mengkambinghitamkan kita.Rasanya muak,jenuh dan ingin menjauh dengan lingkaran itu.Tapi kembali saya sadar,banyak hikmah yang bisa dipetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;saya pernah kena fitnah akibat keplintat plintutan seseorang.saya dikambinghitamkan.Di belakang dia bilang A,di depan saya dia mengatakan B dan mengakui kesalahannya.Secara tidak sadar dia sudah mengakui di depan orang banyak,kalau dia manusia plintat plintut dan tidak konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,saya tidak mau membalas dan membuka kedoknya.Biarlah orang lain melihat fakta yang ada dan bisa menilai sendiri.Dalam diam mereka saya yakin sudah bisa menilai sendiri,meski tidak berani mengungkapkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga pernah korban hasutan karena ketidakpuasan seseorang pada saya.Teganya dia menghasut dan mempengaruhi semua orang.Namun,yang namanya kebenaran akan terungkap dan yang tersisa adalah rasa malu dia ketika fakta dibeberkan di depan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...inilah kehidupan.Semua yang kita alami adalah proses pendewasaan pemikiran dan cara kita bersikap.Saya bersyukur ketika saya dihadapkan dengan manusia-manusia seperti itu,saya masih bisa menahan emosi,menunjukan kwalitas emosi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau menjatuhkan air mata seseorang di depan orang banyak,meski itu bisa saya lakukan.Karena jika saya nekat,malah yang akan jelek citranya adalah saya.Lebih baik mengalah dan menunggu Tuhan yang memberikan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah,semua menjadi kenyataan.Air muka seseorang yang pernah menjelek-jelekan saya dijatuhkan orang lain di depan orang banyak.Merah padam bagai udang wajahnya.Saya mau tertawa,tapi saya masih punya hati dan perasaan sehingga hanya menahan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman itu menghasilkan sebuah kata bijak dari saya "hadapailah kezaliman itu dengan sabar,karena nanti Tuhan yang akan membalas orang yang menzalimi kita,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-1087467781396215820?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/1087467781396215820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=1087467781396215820' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1087467781396215820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1087467781396215820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/03/dari-sebuah-pergaulan.html' title='Dari Sebuah Pergaulan'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-732876571752576647</id><published>2010-01-30T05:42:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T06:07:53.228-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ternyata Hanya Besar Nama dan Tak Seindah Kubayangkan</title><content type='html'>Ternyata hanya besar nama dan tak seindah kubayangkan.Begitu kesimpulan yang saya dapat ketika mendengarkan curhat teman itu tentang kondisi kantornya.Hmm...bagaimana tidak saya menyimpulan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perusahaannya yang besar itu hanya besar nama.Tapi tak ada niat untuk membesarkan alias meningkatkan kesejahteraan karyawan.Gaji memang di atas UMK plus bonus,tapi itu terbilang pas-pasan untuk mereka yang sudah berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mencari tambahan di luar penghasilan tetap tidak bisa.Sementara tenaga dan pikiran diforsir bagaimana untuk menghasilkan materi berlimpah bagi perusahaan.Oh nooo....saya nyaris tidak percaya mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi,ini adalah informasi AI,langsung dari sumbernya.Bahkan ketika saya mencoba tidak percaya,kawan itu mengatakan wajar karena semua orang akan tidak percaya dengan apa yang ia katakan.Karena dari luar terlihat hebat dan bagus.Nyatanya di dalam,ia diperlakukan seperti sapi perah dan tidak bisa berbuat banyak demi masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak habis pikir ketika ia menyebutkan nominal angka gaji bersihnya sebulan di luar bonus yang tidak seberapa.Hmm...hanya beda tipis dengan penghasilan saya,dengan ritme kerja yang santai.Dalam seminggu kerja cuma 2 hari,tapi penghasilan sebulan lumayan hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika ia menyatakan akan mundur,saya lebih terkejut.Tidakkah sayang dengan nama besar yang sudah menaunginya ? jawaban kawan itu "kalau saya hanya memeras tenaga dan pikiran untuk membesarkan pundi-pundi orang,untuk apa."? katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...alasan yang logis setelah saya renungkan.Sebagai manusia yang telah berkeluarga,wajar dia memikirkan masa depan yang lebih baik."Untuk apa bangga dengan nama besar,tapi yang di dalamnya tidak ada apa-apanya," keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...merenungkan kembali curhat teman itu saya merasa beruntung.Setidaknya apa yang saya jalani saat ini tidak perlu menguras energi banyak,alias sebanding dengan apa yang saya dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,bersabarlah..pikirkanlah baik-baik sebelum menyesal.Setidaknya untuk hidup masa bisa di dalam kandang besar itu meski tidak bisa memiliki sesuatu dengan lebih.&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-732876571752576647?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/732876571752576647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=732876571752576647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/732876571752576647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/732876571752576647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/01/ternyata-hanya-besar-nama-dan-tak.html' title='Ternyata Hanya Besar Nama dan Tak Seindah Kubayangkan'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-1650132923085077029</id><published>2010-01-30T05:31:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T05:56:26.244-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan dalam sepotong puisi'/><title type='text'>salahkan aku ?</title><content type='html'>Salahkah aku &lt;br /&gt;Jika ingin mengingatkan dia&lt;br /&gt;Jika mencoba membuka mata dan hatinya tentang arti hidup sebagai wanita&lt;br /&gt;Jika mencoba menyelami apa yang sebenarnya mengganjal di hatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkan aku&lt;br /&gt;Jika kadang aku heran dengan sikapnya&lt;br /&gt;Jika penasaran cara dia memandang masa depan&lt;br /&gt;Jika ingin tahu apa sebenarnya yang ia inginkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkan aku &lt;br /&gt;Jika ku ingin mencoba memulai bicara&lt;br /&gt;Jika ku ingin bicara enpat mata&lt;br /&gt;Jika ku ingin dia terbuka apa adanya&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi..&lt;br /&gt;Ah...nanti dia menyalahkan aku&lt;br /&gt;Menganggap diriku ingin ikut campur saja&lt;br /&gt;Ah...&lt;br /&gt;Udahlah...&lt;br /&gt;Daripada kena salah..biarlah&lt;br /&gt;Masa depanmu adalah apa yang kamu perbuat hari ini&lt;br /&gt;Cuek,santai,jutek...itulah juga gambaran masa depanmu nanti..&lt;br /&gt;Biarlah pengalaman hidupku bagaimana meraih sukses kubagi dengan orang yang mau mendengarkan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-1650132923085077029?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/1650132923085077029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=1650132923085077029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1650132923085077029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1650132923085077029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/01/salahkan-aku.html' title='salahkan aku ?'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-3897017577819513638</id><published>2010-01-03T06:56:00.001-08:00</published><updated>2010-01-03T07:24:32.141-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini dan motivasi'/><title type='text'>Turunkan standar dan jodohpun datang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0C2STXrI_I/AAAAAAAAAbA/xW2czNA2_2Y/s1600-h/Fat-Woman.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 307px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0C2STXrI_I/AAAAAAAAAbA/xW2czNA2_2Y/s320/Fat-Woman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422534376907547634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan sebelum tahun 2009 berakhir,sahabat saya melepas masa lajangnya.Saya sangat bersyukur karena akhirnya ia menikah di usia yang sudah memasuki kepala tiga.Selama ini bisa dibilang,saya orang yang paling cerewet mengingatkan dia untuk menikah.&lt;br /&gt;Bukan saya sok mencampuri urusan pribadi sahabat,tapi mengingatkan dia untuk hal yang baik dan diajarkan dalam agama saya pikir tidak salah.Nyatanya setelah dia menikah,tampak dia bahagia hidup dengan suami yang telah lama ia pacari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang menikah, erat kaitannya dengan jodoh.Banyak kawan dan sahabat yang belum menikah dengan alasan belum ketemu jodoh yang cocok.Ini dikemukakan sejumlah kawan yang sebelumnya kesulitan mencari jodoh,namun akhirnya menikah *moga saja karena tips yang saya berikan kepada mereka*.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya,sejumlah kawan yang telat menikah rata-rata di atas usia 25 tahun,sebelum menikah mengaku sulit dapat jodoh yang cocok.Cocok ? cocok dengan selera dan khayalan ? ya ialah sulit bertemu karena pada umumnya mereka menginginkan jodoh yang GANTENG,MUDA DAN MAPAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut saya tiga hal yang diinginkan mereka itu bisa dikatakan keinginan yang SEMPURNA.Tentu semua wanita menginginkan jodoh seperti itu.Tapi,bermimpi tentu harus tahu diri ! ya sedikit "kasar" memang kalimat itu.Tapi ini sebuah kenyataan yang harus kita akui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lupa melihat diri sendiri namun bermimpi setinggi bintang di langit dalam mencari jodoh.Misalkan saja saya yang bertubuh imut dan wajah yang tiga angka di bawah luna maya,memimpikan bisa duduk di pelaminan dengan ariel peterpan.Kan tidak mungkin bangets..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya,ketika mengatakan bahwa sosok pria yang berusaha mendekati kita untuk menjalin hubungan serius tidak cocok dengan kita,lihat dulu diri kita.Kalau kita itu memang tidak sempurna,ya,cobalah menerima kekurangan pria itu.Jangan hanya karena pria itu tidak ganteng,tidak muda dan tidak mapan lantas kita mengatakan tidak cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal di atas selalu saya sampaikan kepada sejumlah kawan yang AKHIRNYA MENIKAH,setelah sebelumnya mengaku sulit mendapatkan jodoh.Memang apa adanya dan kadang terasa menyakitkan pada awalnya,tapi nyatanya berguna bagi mereka.tidak cuma satu dan dua orang yang telah melaksanakan tips tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kawan saya yang pernah curhat karena dia ragu dengan seorang pria yang sedang mendekatinya.Ia mengaku tertarik,tapi ketika melihat pendidikan dan pekerjaan pria itu yang menurutnya tidak sesuai yang ia impikan,kawan itu pun ragu untuk menjalin hubungan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun meminta dia untuk mengoreksi diri sendiri,apakah ia sendiri SEMPURNA ?.nyatanya ia pun berterimakasih ketika akhirnya ia bisa duduk di pelaminan dan sekarang menikmati masa bahagia bersama buah hati tercinta.Bahkan dalam pandangan saya,ia sangat takut kehilangan pria yang dulu ia ragukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap mereka yang belum menikah hanya alasan belum dapat pria idaman yang sesuai kriteria,apalagi kriteria sempurna,berusaha mengkoreksi diri.Semoga dengan mengukur diri,keihklasan dan niat tulus,jodoh itu pun datang.Sehingga pernikahan yang diidamkan bisa terlaksana.Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-3897017577819513638?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/3897017577819513638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=3897017577819513638' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3897017577819513638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3897017577819513638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/01/turunkan-standar-dan-jodohpun-datang.html' title='Turunkan standar dan jodohpun datang'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0C2STXrI_I/AAAAAAAAAbA/xW2czNA2_2Y/s72-c/Fat-Woman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-8830035978775804689</id><published>2010-01-03T06:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T06:56:13.685-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan dalam sepotong puisi'/><title type='text'>ketika ku tahu tuk bersikap</title><content type='html'>Kupikir mereka seperti diriku&lt;br /&gt;Tulus dalam menjalin hubungan&lt;br /&gt;Peduli pada sebuah persoalan&lt;br /&gt;Ikhlas dalam memberi bantuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata&lt;br /&gt;Mereka seolah menutup mata&lt;br /&gt;Seakan orang lain yang tidak tahu apa-apa&lt;br /&gt;Terasa jauh dan tak rela&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Inikah yang kudapatkan ?&lt;br /&gt;Inikah yang kuterima ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus tak ikhlas ?&lt;br /&gt;Mengapa harus tak rela ?&lt;br /&gt;Mengapa harus menghalangi ?&lt;br /&gt;Mengapa seakan tak punya hati ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditelikung&lt;br /&gt;Ditusuk dari belakang&lt;br /&gt;Sangat menyakitkan&lt;br /&gt;Ternyata....semua itu hanya pura-pura&lt;br /&gt;Dan...aku pun harus membuka mata&lt;br /&gt;Melihat semua itu selamanya cuma semu&lt;br /&gt;Ternyata selama ini ada terselip rasa dengki dan iri&lt;br /&gt;Bodohnya aku tak menyadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,terimakasih telah kau tunjukan semuanya&lt;br /&gt;Aku pun bisa bertindak bijak&lt;br /&gt;dan mengambil sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-8830035978775804689?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/8830035978775804689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=8830035978775804689' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8830035978775804689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8830035978775804689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/01/ketika-ku-tahu-tuk-bersikap.html' title='ketika ku tahu tuk bersikap'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7270704971930029529</id><published>2010-01-03T06:13:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T06:39:59.965-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Pencapaian di 2009 dan resolusi 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0CsHlDo-7I/AAAAAAAAAaw/pGy1AMH3uvY/s1600-h/IMG00741.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0CsHlDo-7I/AAAAAAAAAaw/pGy1AMH3uvY/s320/IMG00741.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422523197560519602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009 telah berlalu,sekarang tahun 2010 sudah 3 hari kita jalani.Sejenak saya merenung aoa yang telah saya capai di tahun 2009.Apakah sesuai dengan resolusi saya yang pernah saya buat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sedikit yang tercapai.Seperti niat untuk bisa mendapatkan momongan pada tahun 2009 yang ternyata belum diijabah oleh Allah.Kemudian menerbitkan buku ke tiga,juga tidak tercapai.Serta berusaha menjadi wanita muslimah seutuhnya,alias memakai pakaian muslim seutuhnya juga belum sepenuhnya tercapai.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yang tercapai pada tahun 2009 baru keinginan untuk mempercantik rumah mungil kami dengan hiasan batu alam,ya itu memang sudah tercapai.Kemudian keinginan untuk pulang kampung ke padang juga tercapai pas lebaran.Serta memberi ibu saya modal kecil-kecilan untuk berjualan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya impian memang tidak selalu dapat terwujud seperti yang kita impikan.Kita boleh berencana,tapi tuhan juga yang memutuskan.Tapi,di tahun 2010 ini saya tidak akan berhenti untuk berharap apa yang saya ingin capai di 2010 bisa terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi saya di 2010 adalah :&lt;br /&gt;1.Ingin punya momongan,karena kami sudah menikah lima tahun .Jadi harus perlu kerja keras dan keseriusan untuk mendapatkan momongan&lt;br /&gt;2.Menulis buku lagi&lt;br /&gt;3.Memulai usaha sampingan lain,seperti berwirausaha yang lebih serius.&lt;br /&gt;Tahun 2009 lalu berwirausaha tidak ada dalam resolusi saya.tapi saya menjalaninya dengan memulai kecil-kecilan.jadi di tahun 2010 saya berusaha lebih serius&lt;br /&gt;4.merenovasi rumah kedua..alias rumah investasi&lt;br /&gt;Sama juga dengan berwirausaha yang tidak saya rencana di 2009,membeli rumah kedua untuk investasi saya lakukan di akhir 2009.Memang melalui kredit KPR..&lt;br /&gt;tahun 2010 rencananya akan akad kredit tapi saya berusaha agar bisa membeli tunai ke penggembang,mengingat bunga KPR yang flat saat ini.&lt;br /&gt;5.Membantu orang tua untuk merenovasi rumah yang terkena gempa di padang.Memang sih ada bantuan pemerintah nantinya,tapi tentu tidak bisa sepenuhnya.jadi sebagai anak pertama tentu saya yant harus turun tangan.&lt;br /&gt;6.membeli polis asuransi...&lt;br /&gt;sebenarnya saya sudah punya tabungan rencana yang dilindungi asuransi,tapi tidak salahnya punya asuransi untuk jaminan kesehatan dan hari tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga apa yang saya harapkan di 2010 bisa terwujud&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7270704971930029529?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7270704971930029529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7270704971930029529' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7270704971930029529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7270704971930029529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/01/pencapaian-di-2009-dan-resolusi-2010.html' title='Pencapaian di 2009 dan resolusi 2010'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0CsHlDo-7I/AAAAAAAAAaw/pGy1AMH3uvY/s72-c/IMG00741.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-602256731809188666</id><published>2010-01-03T05:55:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T06:44:12.282-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>blogku sayang,maafkan diriku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0CtL4-ELHI/AAAAAAAAAa4/wYGDWBSFlbM/s1600-h/island.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0CtL4-ELHI/AAAAAAAAAa4/wYGDWBSFlbM/s320/island.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422524371136949362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin untuk kedua kalinya saya minta maaf pada blogku tercinta.Ya,sejak ada facebook alias FB,perhatian saya lebih tercurah pada jejaring sosial tersebut.Jadi,blog yang dulunya rutin saya posting minimal tiga kali seminggu,sekarang,sebulan aja tidak hik hik hik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak hanya saya saja yang seperti itu.saya percaya banyak juga teman-teman lain yang dulu rajin posting,tapi mulai melupakan blog.Jadi blog mereka tinggal kenangana.Janga-jangan mereka juga lupa cara membukanya hehehe&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ya..FB telah menyita waktu banyak orang.apalagi sejak FB bisa diakses melalui handphone.So,aktifitas mengupdate status dan memberi komentar pada status kawan tidak terhalang ruang dan waktu.Intinya,bisa dmana saja dan kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,FB juga makin memanjakan penggunanya dengan berbagai game permainan yang memang makin membuat pantat kita betah berjam-jam duduk di depan laptop.Seperti saya yang sejak mengenal game cafe world dan island paradise,makin suka berlama-lama di FB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah magnet apa yang membuat saya betah di FB,tapi yang jelas permainan yang online tidak membosankan,malah menghibur dan membuat kita bisa nyaman.Setidaknya itu yang saya rasakan dan pasti juga teman-teman lain yang menggemari game di facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kembali ke masalah blog,akhirnya blog yang awalnya saya bela-bela untuk belajar membuat dan mempercantik,nyaris tinggal kenangan.padahal blog saya ternyata masih ada dikunjungi teman-teman.Duh,kasihannya mereka yang hanya meliat postingan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini kembali saya menyadari kesalahan saya.Saya kembali mengucapkan maaf pada blog,yang dari segi kreatifitas menulis lebih berguna daripada FB.Semoga saja permintaan maaf saya bisa saya pegang dan tepati.Sehingga blog saya akan senantiasa menguadara...eh senantiasa update...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-602256731809188666?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/602256731809188666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=602256731809188666' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/602256731809188666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/602256731809188666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2010/01/blogku-sayangmaafkan-diriku.html' title='blogku sayang,maafkan diriku'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0CtL4-ELHI/AAAAAAAAAa4/wYGDWBSFlbM/s72-c/island.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-2340648195880687399</id><published>2009-10-15T21:24:00.001-07:00</published><updated>2010-03-14T09:20:56.163-07:00</updated><title type='text'>Tuhan,Ternyata Aku Juga Wanita Biasa</title><content type='html'>Tuhan&lt;br /&gt;Ternyata aku juga wanita biasa&lt;br /&gt;Yang punya rasa sedih dan kecewa&lt;br /&gt;Yang punya air mata&lt;br /&gt;Yang juga bisa berputus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan&lt;br /&gt;Saat bencana gempa itu melanda&lt;br /&gt;Tak ada air mata&lt;br /&gt;Tak ada kecewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikhlas atas cobaanmu&lt;br /&gt;Kuberusaha tegar&lt;br /&gt;Ku tak ingin menunjukan duka di depan mereka&lt;br /&gt;Ibuku,Ayahku,adik-adikku&lt;br /&gt;dan keluarga besarku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Tuhan&lt;br /&gt;Sekarang aku jujur pada Mu&lt;br /&gt;ternyata aku wanita biasa&lt;br /&gt;yang membohongi diri sendiri&lt;br /&gt;ternyata aku bisa mengeluarkan air mata&lt;br /&gt;saat sedih dan kecewa menerpa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-2340648195880687399?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/2340648195880687399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=2340648195880687399' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2340648195880687399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/2340648195880687399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/10/tuhanternyata-aku-juga-wanita-biasa.html' title='Tuhan,Ternyata Aku Juga Wanita Biasa'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-1340186195752447819</id><published>2009-10-14T22:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T18:54:47.740-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fakta'/><title type='text'>ketika nyawa sudah sampai di leher</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/Stf0MoNt68I/AAAAAAAAAZ8/abkv1gyqshQ/s1600-h/IMG00497.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/Stf0MoNt68I/AAAAAAAAAZ8/abkv1gyqshQ/s320/IMG00497.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/Stf0vmpQHII/AAAAAAAAAaE/Y0Hejv65Qfo/s1600-h/IMG00555.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/Stf0vmpQHII/AAAAAAAAAaE/Y0Hejv65Qfo/s320/IMG00555.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sore itu,rabu 30 september sekitar pukul 5 sore cuaca di kampungku,pauh sicincin sedang mendung.Aku dan empat orang adikku sedang berkumpul di ruang tengah menonton acara tv.Saat itu juga ada dua orang adik sepupuku dan etak beserta dua orang anaknya yang main ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca mendung membuat perutku lapar.Kuminta,adikku yang ketiga,Revi untuk memasak mie instant.Ia segera memenuhi permintaanku.Entah mengapa hari itu ia tidak banyak cerewet kalau dimintai tolong."Mungkin karena besok aku sudah kembali ke tanjungpinang,jadi dia mau dimintai tolong tanpa embel-embel apapun," pikirku senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya,sejak tanggal 19 september aku memang sudah di kampung dalam rangka mudik lebaran.Tanggal 1 oktober rencananya aku akan kembali ke tanjungpinang melalui jalan jalan darat ke pekanbaru dan dilanjutkan dengan pesawat RAL ke tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama,pamanku yang biasa kupanggil Ajo datang membawa oleh-oleh kerupuk mentah.Aku sangat senang.Pada saat itu aku masih sempat membuat status di FB tentang rasa senang atas oleh-oleh dari beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu mie masak,aku menggoda anak etek yang bernama Putri.Aku pura-pura akan membawa adiknya,Syifa yang masih berumur 5 bulan ke Tanjungpinang.Sang kakak,putri,tampak cemas dengan godaanku.Kubawa syifa sampai ke pintu depan dan terus menggoda putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kasihan melihat putri yang baru berumur 3 tahun,aku pun kembali meletakan syifa di pangkuan ibunya.Kini giliranku menggoda syifa yang berpipi tembem.Saat itulah rumah bergetar kuat dan aku tersadar itu adalah gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan aku keluar rumah sambil meneriakan gempa dan diikuti oleh semua orang yang ada di dalam rumah.Saat itu aku berpikir gempa itu hanya sebentar dan akan berhenti saat aku sampai di halaman rumah.Ternyata gempa makin kuat dan membuat aku meneriakan Allahu Akbar berulang kali sambil menutup telinga karena tidak tahan mendengar suara getarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat tembok bagian rumah yang roboh,diikuti rengkahan di bagian atas dan sisi kanan kamar mak.Gempa masih berlangsung,aku berteriak meminta ampun pada Allah."Allahu Akbar,Allahu Akbar,ampun ya Allah,ampun ya Allah !" teriakku keras menandingi suara getaran gempa yang semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku berpikir mungkin inilah dunia kiamat.Saat itu aku merasakan kematian sudah sangat dekat.Nafasku terasa sudah sampai di leher dan akan keluar meninggalkan tubuhku.Kuingat dosa-dosaku,kuingat segala kesalahanku,Kuingat ibadahku yang masih kurang baik.Masih sempat kuingat suamiku yang berada di Tanjungpinang dan aku pasrah jika memang kami terpisah karena bencana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pasrah sambil mengucapkan kalimat syahadat dalam hati."Jika aku mati,aku masih dalam keadaan mengingat Allah," pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi yang mencekam itu,aku masih melihat ke sekelilingku.Kulihat pamanku hilir mudik tak tentu.Adik sepupuku menangis histeris memeluk uminya.Kulihat adik bungsuku widodo,berpegangan pada pondok tempat adik ibuku berjualan sambil melafazkan azan.Sedangkan ayah yang baru pulang dari pasar,hanya termenung seperti orang linglung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah kuingat ibu yang sedang ke pasar dan adiikku Isan yang masih di sekolah sore itu.Aku berdoa dalam hati semoga mereka dalam keadaan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan gempa pun berhenti.Suasana hening dalam beberapa saat dan kemudian kami mengucapkan rasa syukur tak terhingga.Kami semua berkumpul di halaman dan tak berani masuk rumah karena takut gempa susulan,sementara rumah sudah dalam keadaan rusak parah meski masih berdiri tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak datang dengan mata merah.Ia menanyakan sejumlah barang berhargaku,seperti handphone,laptop dan perhiasan.Aku bilang tak usah memikirkan itu semua,karena yang penting nyawa kita semua selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak seperti mau menangis,tapi aku cegah dan mengatakan kerusakan rumah kita tidak seberapa dibanding tetangga yang rumahnya jebol di bagian depan,kiri dan kanang,meski atapnya masih berdiri.&lt;br /&gt;Pamanku teringat dengan nenek dan kakekku,ia segera pergi dengan motornya untuk mengetahui keadaan kakek dan nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak seakan penasaran dengan keadaan rumah,ia tetap masuk dan memeriksa setiap sudut rumah.Ternyata rumah bagian dalam tak kalah rusaknya.Rengkahan besar di setiap sudut dan siap jatuh setiap saat.Wajahnya murung dan seakan mau menangis.Tapi aku kembali mengingatkan harus tetap bersyukur,meski rusak parah,rumah masih berdiri dan barang-barang di dalamnya masih bisa terlindung hujan dan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku teringat dengan mie yang dimasak revi.Ternyata kompor masih menyala.Aku bersyukur kompor itu tidak jatuh dan meledak.Segera apinya dimatikan dan miennya sudah mengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Umi,adik ibuku di sebelah hanya mengalami retakan sedikit.Sedangkan rumah etek juga rengkah di bagian dalam meski sepintar terlihat masih bagus.Yang cukup baik hanya rumah ante,mungkni karena rumah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian kami dapat kabar,rumah nenek hancur,jebol di bagian depan,ruang tengah dan dapur meski juga tetap masih berdiri.Kemudian terdengar lagi jika rumah warga lainnya banyak yang rata dengan tanah dan ada yang tewas ketimpa reruntuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja menjelang,listrikpun padam,sinyal HP tak ada Gerimispun turun.Kami kebingungan untuk memberi kabar ke suamiku di Tanajungpinang.Mak juga teringat adikku rika yang kerja di kota padang.Tempat kerjanya adalah ruko lantai tiga.Ia terus bergumam mendoakan adikku selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung dapur kami cuma retak sedikit.MAlam itu kami tidur di dapur.Makan nasi berlauk mie yang dimasak revi.Sedikit tapi dibagi-bagi.Keluarga yang lain juga ada yang tidur di rumah ante yang tidak rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang malam aku tidak bisa tidur,memikirkan bagaimana cara memberi kabar ke suamiku.Aku yakin berita gempa pasti sudah sampai di sana.Sedangkan aku tak bisa dihubungi,karena sinyal HP tidak ada.Batreku juga sudah sekarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya aku mencoba mencari telepon rumah.Kata orang telepon rumah tetap berfungsi.Alhamdulillah,dekat mesjid ada orang yang punya telpon rumah dan mau meminjamkannya.Ternyata tidak mudah menguhubungi suamiku.Tapi aku tetap berusaha terus sampai akhirnya tersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar nada senang yang tak terhingga dari suamiku.Ia mengaku sangat khawatir karena tidak bisa menghubungiku.Bahkan katanya ia sedang mencari tiket pesawat ke padang untuk mencariku.Meski cuma berbicara sebentar,aku juga bersyukur, senang dan lega sudah bisa menghubunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan,terima kasih  atas umur panjang dan kesempatan terus memperbaiki diri," ucapku dalam hati.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-1340186195752447819?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/1340186195752447819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=1340186195752447819' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1340186195752447819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1340186195752447819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/10/ketika-nyawa-sudah-sampai-di-leher.html' title='ketika nyawa sudah sampai di leher'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/Stf0MoNt68I/AAAAAAAAAZ8/abkv1gyqshQ/s72-c/IMG00497.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-5040206464440477914</id><published>2009-09-14T07:06:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T07:06:37.062-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Sensasi Mudik</title><content type='html'>Mengapa sih harus mudik ? kenapa sih kalau tidak mudik ? apa harus mudik ? begitu sejumlah pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya dan mungkin anda yang merantau di kota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda ditanya pertanyaan seperti itu ? apa jawaban anda ? Kalau saya akan memberikan jawaban,mudik itu banyak sensansinya hehehe...dan yang tidak pernah merasakan mudik adalah orang yang rugi,karena tak punya pengalaman lahir dan batin merasakan perjalanan yang penuh berbagai rasa.Pokoknya nano nano deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri,sensasi mudik dimulai dari memburu tiket untuk mudik.Tanya ke agen travel sini,tanya sana,telepon sini dan telepon sana.Survei harga dan bandingkan harga.Pokoknya meski melelahkan,tapi menyenangkan meski akhirnya kadang kehabisan tiket karena kelamaan survei.Tapi masih banyak untuk mudik.Kalau tak dapat yang udara,ya lewat laut juga boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sensasi ,mempersiapkan oleh-oleh untuk keluarga di kampung.Khususnya oleh-oleh untuk ortu dan adik-adik.Berburu oleh-oleh,seperti pakaian di mall khususnya yang lagi diskon hehehe adalah pengalaman yang mengasyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian persiapan pengepakan barang yang harus ekstra mengeluarkan jurus selip sana selip sini,karena koper dan tas sudah ga muat.Soalnya,demi membahagiakan keluarga,semuanya mau dibawa hehehe..&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sensasi lainnya adalah ketika berebut naik kapal (klu mudik naik kapal ya),soalnya penumpang kapal itu ga setertib pake pesawat.Jadi meski berdesakan,tetap enjoy karena dalam dada ada harapan besar bertemu keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasi yang tak kalahnya selama dalam perjalanan.Seperti saya yang naik kapal dari Tanjungpinang menuju Dumai,biasanya akan menghabiskan waktu kurang lebih 6-8 jam.Pegel,capek,bosan bercampur jadi satu.Apalagi klu hiburan di kapal juga membosankan hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,lagi-lagi semua itu dinikmati dengan sebuah rasa yang tak bisa dilukiskan dan tidak membuat patah arang untuk kembali mudik tahun depan.Proses menunggu barang turun dari bagasi kapal saat sudah sampai di pelabuhan juga melahirkan sensasi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan was-was koper tertukar,hilang atau rusak adalah pengalaman tak terlupakan.Kemudian dilanjutkan dengan kekuatan ekstra yang entah datang darimana tiba-tiba kuat mendorong koper sambil menenteng tas oleh-oleh,kardus serta tas selempang.Padahal kalau hari biasa,kondisi itu mustahil dilakukan.Tapi,semangat mudik memberi kekuatan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan belum usai,seperti saya dari Dumai harus menyambung dengan angkutan travel.Di luar pelabuhan sudah banyak orang yang mencari penumpang travel.Kondisi ini melahirkan sensasi tersendiri.Ada yang sok tahu jurusan kita dan kemudian malu hati ketika calon penumpang yang "paksa" naik ke travelnya ternyata bukan ke jurusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perjalanan dari Dumai ke Padang juga punya sensasi lain.Mobil yang kadang melaju kencang,melahirkan perasaan khawatir namun berharap cepat sampai di rumah.Kantuk yang kadang tertahan karena gerah dan posisi duduk yang tidak nyaman juga adalah pengalaman yang tak terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin dekat menuju kampung halaman,rasa debat,senang,gembira menjadi satu.Tak sabar rasanya sampai di depan pintu rumah dan disambut hangat keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasinya belum berakhir ketika koper,tas,kardus dibuka oleh keluarga dan berebut melihat oleh-oleh yang kita bawa,adalah sebuah kebahagian tersendiri.Meskipun oleh-oleh itu tidak mahal,tapi rasa senang dari wajah keluarga menghilangkan semua "perjuangan"mudik tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm...sensasi apalagi ya ? masih banyak sih tentang pengalaman bertemu sanak saudara yang sudah lama tak bertemu,kawan-kawan lama waktu sekolah juga memberikan sensasi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya mudik adalah ritual yang penuh rasa sensasi alias nano-nano.Beruntunglah anda yang masih diberi kesempatan merasakan mudik meski tidak tiap tahun.Selamat mudik,semoga lancar dan selamat sampai di tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-5040206464440477914?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/5040206464440477914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=5040206464440477914' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/5040206464440477914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/5040206464440477914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/09/sensasi-mudik.html' title='Sensasi Mudik'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7384113131046996651</id><published>2009-09-08T08:02:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T08:02:37.151-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Tawaran Itu</title><content type='html'>Ya Allah,jantung saya rasanya mau copot ketika membaca pesan itu.Saya nyaris tak percaya dengan apa yang saya lihat.Sebuah pesan singkat di FB,tapi begitu dalam maknanya.Hmmm...saya rasanya sudah tak sabar untuk berbagi di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,saya juga harus menahan diri.Karena saya masih ingin menunggu semua itu menjadi nyata.Karena saya bukan tipe orang yang suka berkoar-koar dan kemudian malu hati ketika semua itu tidak terwujud.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas,pesan itu berisikan sebua peluang kepada saya.Peluang dan tawaran yang diajukan langsung oleh seseorang yang punya kekuasaan untuk memutuskan sesuatu.Hmm...apakah ini hadiah ulang tahun terindah yang saya terima ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahuallam...kalau memang menjadi nyata,ya mungkin inilah hadiah terindah yang pernah saya terima.Sebuah penghargaan yang tidak bisa saya nilai dan sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pembaca sudah penasaran dengan apa sih maksud saya dalam tulisan ini ? ya...saya memang ingin berbagi sebuah kebahagiaan,tapi masih baru sedikit.Karena kalau sudah 100 persen baru saya akan tumpahkan di sini hehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon doanya saja supaya apa yang ditawarkan kepada saya itu bisa terwujud.Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7384113131046996651?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7384113131046996651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7384113131046996651' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7384113131046996651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7384113131046996651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/09/tawaran-itu.html' title='Tawaran Itu'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-8113586908787449227</id><published>2009-09-06T21:36:00.000-07:00</published><updated>2009-09-06T21:36:46.291-07:00</updated><title type='text'>Ucapan dan Do'a Ultah Saya</title><content type='html'>Muhammad Sutiyadi  met milad ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niko Bintang  Selamat Ultah Na.Semoga panjang umur,sukses lahir batin.amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denita Diana Dewi  HaPPY birtHDaY ya.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izka Iskandar  Happy b'day.. Moga sukses selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiana Gustini  selamat ultah ya bu.. sukses..[budiana+buyung]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan Restiawan  met ultah ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yosi Astri  Selamat Ultah ya dek... semoga selalu dilimpahi karunia oleh Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elvirta Revianti  Selamat Ulang Tahun ya Jeng....Moga Panjang Umur, Murah Rezeki, dan segera dikarunia Allah momongan. Tetap berusaha dan Tetap Semangat !!!&lt;br /&gt;Gw kan pengen punya ponakan juga he....he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uwi Yulikah  happy birth day mbak....&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhiena Manis  met ulang tahun ya jeng,,, moga makin sukses trus..karna mau lebaran ditunggu THRnya heng,... kkwkwkwkwk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitria Yenni  slmt ulang tahun y na...mga akn jdi lbh baek kdpn...ga ush skrg dech traktiran ny pas pulkam aj..lbran plg kan dtnggu...xiiix..x..xxii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herry Fria  Met ultah ya ni..smoga panjang umur, sehat slalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desi A. Sari  happy happy bday. all the best ya! hv a blessed life &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva Yanti  Selamat ulang tahun Ana.semoga selalu dberi kesehatan yg membuat dpt menghasilkan karya2 yg membanggakan dan berguna utk bgsa qta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andri Yusmar Karibatuah  Selamat Ulang Tahun ya Uni....semoga selalu dlm lindungan Allah SWT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji Resseque Alta Rahlita  Heppi Besdeyy..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mellyta Siregar  Hai cantik,ternyata kita beda sehari aja ya...hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Met ultah ya non,mkn cantik,sukses sllu n Gbu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mike Widya  UNI INA............SALAMAIK ULTAH YO UNI....PANJANG UMUAH SEHAT SELALU BANYAK REZEKI.....TAMBAH DISAYANG SUAMI.....POKOKNYO SADOALAH NYO SE LAH......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Anggraini  Ehm...&lt;br /&gt;Met Ultah K'ina..&lt;br /&gt;Moga Pnjg Umur,Murah Rezeki,apa yg diinginkan trkabul n sukses sllu...AmIN..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsul 'Q' Itu Aku  met oeLtah,.. do'aku semoga do'a2 dari temen yang lain bisa di ijabah'i.. amiiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doli Boniara  Assalamualaikum Uni Ruzzi, Selamat Ulang Tahun Yo :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Syaifullah Blueis  Happy Milad na, semoga semuanya tercapai di tahun2 berikutnya.. amin.. ditunggu deal acaranya sebelum di serang KJPS hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanifah Nur  Sebelum lupa, selamat ulang tahun duluan ah... Semoga ina makin sukses dan dilimpahi rezeki yang buanyak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakhri Yansyah&lt;br /&gt;kak ana....slmt ultah ya kak....smg kk semakin sukses, cpt dpt momongan, panjang umur, murah rezeki, semakin gemilang saja dlm berprestasi.....dan tetap menjadi sumber inspirasi bagi para wanita.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salimah memasak bubur&lt;br /&gt;Utk juadah buka puasa&lt;br /&gt;Slmt ulta...h smga pnjg umur&lt;br /&gt;Sntiasa dlm lindungan yg maha kuasa....amin....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari : Fakhri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ika Maya Susanti  Met milad ya Na' besok... moga makin menjadi wanita yang inspiring deh! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oyong Liza Piliang  Hepi bisde.. Uzi :) smga sukses selalu..GBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah Purwaningsih  happy b`day my sister... sukses slalu cpat2 jd ibu pjabat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onne Padli  hut rri ke 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Boey  Sahur...met ultah ya moga panjang umur dan sukses slalu...dan di sayangi oleh keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Odoy  selamat hari lahir lah, semoga panjang umur mba! kapan buka bersama lagi hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-8113586908787449227?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/8113586908787449227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=8113586908787449227' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8113586908787449227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8113586908787449227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/09/ucapan-dan-doa-ultah-saya.html' title='Ucapan dan Do&apos;a Ultah Saya'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-8054794974344872820</id><published>2009-09-06T08:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-06T21:19:49.816-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ternyata Umurku Sudah 29 Tahun</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SqPcFrJoJII/AAAAAAAAAZU/lq0dvgxaDoM/s1600-h/ultah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SqPcFrJoJII/AAAAAAAAAZU/lq0dvgxaDoM/s320/ultah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah Ya Allah,ternyata usiaku sudah mencapai 29 tahun.Begitu kalimat yang terucap saat saya menyadari dan tahu kalau umur saya sudah 29 tahun pada 7 September 2009 ini.Jujur saja sih,kadang saya baru menyadari kalau tanggal itu sudah lewat beberapa hari hehehe..maklum saya bukan pemuja hari lahir,seperti wajib dirayakan,berharap kado dari keluarga,kawan atau pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya biasanya hanya menikmati sendiri ultah dalam hati dan bersyukur atas usia yang masih diberikan oleh Tuhan.Segelintir ucapan dan tanpa suprise apalagi hadiah dari orang-orang terdekat. Saya akui pada tahun ini ada suasana lain dan istimewa pada usia saya yang ke 29 ini.Banyak yang teman yang ngucapin selamat dan memberikan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sejak dua hari sebelum hari H,mereka sudah mengucapkan selamat ultah dan doa.Terkejut dan terharu juga sih atas perhatian mereka.Ga nyangka,meski hanya kenal wajah dan berkomunikasi lewat situs jejaring sosial facebook,mereka ternyata punya perhatian pada saya."Terimakasih banyak ya kawan-kawanku atas ucapan dan doanya,"&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ya.FB memang punya andil dalam memberitahukan kepada banyak orang tentang tanggal lahir saya.Jadi,jika semula selama ini cenderung adem ayem saja suasana jelang ultah,sekarang ini lebih semarak dengan ucapan selamat dan doa dari kawan-kawan."Thank very much to FB..I Love u Full," hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada usia saya yang sudah 29 tahun,sungguh saya baru menyadari jika usia itu sudah termasuk usia yang matang dan dewasa.Jujur saja,kadang saya merasa masih berusia 20 tahun hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya sok muda dan imut,tapi mungkin perasaan seperti itu dipicu dengan lingkungan kerja dan kawan-kawan yang membuat saya merasa happy dan enjoy menikmati hidup.Sehingga saya merasa tidak pernah merasa usia saya sudah mendekati kepala 3...wow...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,meskipun sudah menikah namun saya belum dikarunai momongan.Mungkin juga hal itu yang membuat saya masih merasa belum "tua".Biasanya status sebagai seorang istri dan ibu,membuat wanita lebih cepat tua dari usia sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa saya lihat dari tetangga dan sejumlah teman yang usianya jauh di bawah saya,namun kelihatan lebih tua dari saya.Bukan narsis dan memuji diri sendiri,tapi memang begitu opini yang diberikan banyak orang.Bahkan ada orang yang baru kenal menyangka saya masih lajang hahahaha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia yang sudah matang ini,saya berharap terus diberi kesehatan,umur panjang,kemudahan rezeki,kelanggengan perkawinan dan yang sangat utama cepat diberi momongan oleh Allah.Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kado spesial dari suami tercinta....hmmm..seperti biasa saya tak pernah berharap dan dia juga memang tak pernah memberi hik hik hik...&lt;br /&gt;Bukannya dia pelit atau tidak perhatian,tapi saya tahu persis,suami saya bukan tipe lelaki sok romantis atau berusaha meromantis romantiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diamnya dia sangat perhatian kepada saya.Dia sering memberikan kejutan yang tidak saya sangka.Jangan mengira kejutan itu seikat kembang,coklat atau lingerie seksi, tapi adalah tindakan dia yang tidak saya duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah saat istirahat siang di kamar,iseng-iseng saya bilang kalau kamar tidur dicat ungu seperti lebih hangat suasananya.Seperti biasa dia hanya diam dan saya juga tak berharap dia akan memenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh taunya keesokan harinya,saat saya pulang kerja saya kaget bukan main.Kamar tidur saya sudah dicat warna ungu.Oh..suamiku..dalam diammu ternyata sangat perhatian pada diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu saja,dia juga membuat saya makin terkaget-kaget ketika sebulan setelah saya mengkhayal untuk mempercantik rumah kami dengan hiasan batu alam,dia memwujudkan impian saya itu.Padahal waktu itu dia tak berjanji apalagi menanggapi khayalan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak tindakan suami saya yang menurut saya lebih romantis dari ucapan dan janji manis banyak kaum pria lakukan pada pasangannya.Semua itu makin membuat saya yakin,dia memang sangat sayang dan perhatian pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,di usia 29 tahun ini kado yang saya harapkan dari suami tercinta hanyalah kesetiannya,rasa sayang dan cinta yang makin besar dan perhatiannya yang tidak berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua kawan-kawanku yang sudah mengucapkan selamat dan memberi doa,sekali lagi terimakasih banyak ya.Semoga apa yang kalian ucapkan diijabah oleh Allah dan dapat balasan yang lebih baik dari-Nya.Semoga persahabatan kita makin erat meski kita ada yang hanya bertemu di dunia maya.Amin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-8054794974344872820?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/8054794974344872820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=8054794974344872820' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8054794974344872820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8054794974344872820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/09/ternyata-umurku-sudah-29-tahun.html' title='Ternyata Umurku Sudah 29 Tahun'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SqPcFrJoJII/AAAAAAAAAZU/lq0dvgxaDoM/s72-c/ultah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-3326091707318120697</id><published>2009-08-30T07:27:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T07:52:27.114-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Rencana Mudik</title><content type='html'>Alhamdulillah,bulan puasa datang lagi dan lebaran dalam hitungan minggu akan datang.Sebuah ritual yang rutin dilakukan banyak orang khususnya perantau adalah mudik.Begitu juga dengan diriku yang sudah 5 tahun tak mudik pas lebaran.Biasa saya mudik setelah lebaran atau sebelum puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tahun 2009 ini saya benar-benar ingin mudik ke Padang.Tapi,sayangnya keinginan muncul sehari menjelang puasa.Cek harga tiket pesawat sudah melambung 2 kali lipat.Sungguh fantastis.Harga biasa yang cuma Rp 600 ribu sekarang naik jadi Rp 1,2 jt.Bahkan beberapa hari kemudian naik menjadi Rp 1,8 juta.Wow...gilaa&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Harga selangit itu tidak menyurutkan saya,masih ada alternatif seperti lewat jalan laut.Akhirnya setelah survei dan perbandingan harga saya memutuskan lewat jalan laut.&lt;br /&gt;Lewat jalan laut relatif murah,karena ongkos kapal cuma Rp 300 ribu dari Tanjungpinang ke Dumai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dumai akan dilanjutkan dengan mobil travel ke padang melalui jalan darat,dengan ongkos Rp 130 ribu.Total biaya untuk mudik sekitar Rp 500 ribu.Jauh lebih murah dari ongkos pesawat.Cuma "kekurangannya" agak capek karena memerlukan waktu seharian,yakni dari subuh hingga malam sampe di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya saya akan mudik bareng famili.Karena suami tak bisa mudik.Semula ia tak membolehkan saya mudik lewat jalur laut,tapi karena tiket pesawat yang melambung dan sulit dan sudah habis pada tanggal saya mudik,akhirnya ia izin saya mudik lewat laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk balik ke Tanjungpinang,saya rencana akan menggunakan pesawat.Tapi lewat pekanbaru dahulu.Dari padang naik mobil travel ke pekanbaru terus naik pesawat ke tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ongkosnya travel 130 ribu dan tiket pesawat Rp 400 ribu.Lumayan terjangkau dan murah meriah.Intinya mudik saya tidak banyak menghabiskan ongkos.Sehingga uangnya bisa digunakan untuk keperluan adik-adik dan sanak keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya ingin mudik pas lebaran adalah teman-teman sekolah dulu.Karena mereka saat ini sudah pada menikah dan ada yang sudah punya baby.Tentu acara kumpul kaum istri dan suami itu akan lebih seru.Soalnya pas saya mudik tahun lalu,mereka tak pada ketemu,karena sibuk kerja.Kalau lebaran pasti ketemu karena cuti bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik obrolan juga akan lebih menarik,karena pasti membahas soal keluarga hehhehehe...Membayangkan serunya aja saya udah senyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya saya tidak sabar lagi untuk mudik,bertemu keluarga,sanak saudara dan teman-teman.Doakan saja semoga perjalanan mudiknya lancar dan saya kembali ke Tanjungpinang selamat dan sehat.Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-3326091707318120697?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/3326091707318120697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=3326091707318120697' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3326091707318120697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/3326091707318120697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/08/rencana-mudik.html' title='Rencana Mudik'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7097686915996596385</id><published>2009-08-30T06:59:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T07:26:40.443-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah dan renungan'/><title type='text'>Manfaat Sedekah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SpqLn1NmAzI/AAAAAAAAAZM/Y_ENADH7mPg/s1600-h/uang+receh.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 97px; height: 124px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SpqLn1NmAzI/AAAAAAAAAZM/Y_ENADH7mPg/s320/uang+receh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375762621635363634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi sore menjelang buka saya menyaksikan acara tentang keajiban sedekah di sebuah stasiun tv swasta.Intinya acara itu memberikan inspirasi dan motivasi kepada kita untuk bersedekah dan ikut memetik manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pada masa kecil di usia yang baru memasuki sekolah taman kanak kanak dan SD.Setiap lebaran usai sholat di surau milik keluarga besar,biasanya kami anak-anak mendapatkan uang receh dari para orang tua,paman,etek dan famili lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang koin dan uang kertas berwarna merah itu pun terkumpul di kantong kami.Dengan senang hati kami akan pergi ke pasar untuk menaiki boayan kaliang atau komidi putar manual.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari surau biasa melewati sebuah jalan,yang mana di sana ada seorang bapak tua dan buta menengadahkan tangannya.Sebagai seorang anak kecil yang belum tahu apa manfaat sedekah,saya selalu memberi bapak tua itu orang receh.Waktu itu saya memberi dengan alasan kasihan saja dan senang melihat raut gembira di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kelas lima atau enam SD ritual saya memberi sedekah kepada bapak tua itu terhenti,karena beliau meninggal dunia.Kalaupun memberi sedekah saya biasanya memberi kepada fakir miskin di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pada setiap jumat,saya atas suruhan ibu memberi setengah gelas atau segelas beras kepada anak-anak pengajian yang datang ke setiap rumah meminta sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada manfaat sedekah tadi yang ternyata sangat besar,tadi saya mencoba merenung.Mungkin apa yang saya dapatkan hari ini adalah bahagian dari manfaat sedekah yang dulu sering saya lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan yang lebih baik dan cita-cita yang tercapai,patut saya syukuri.Setidaknya apa yang telah saya dapat dari Allah telah saya berikan lagi ke Allah sebahagian untuk mendapatkan rezeki yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini,sedekah masih saya berikan.Saya cenderung memberikan sedekah kepada para tukang sol sepatu yang suka keliling komplek.Dengan alasan kasian,saya memilih mereka,karena saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana capeknya bekerja seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan puasa dua tahun lalu,saya masih ingat ketika saya sedang ada masalah dengan pekerjaan.Sambil membawa motor saya terus berpikir bagaimana urusan itu kelar.Saat itu melintar seorang tukang sol sepatu.Langsung saya memberi sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,bapak itu dengan mengucapkan terimakasih menaruh uang itu di atas keningnya dan mengucapkan syukur.Dia mengaku seharian tak dapat order mengsol sepatu.Saya hanya meminta doa,supaya masalah saya selesai dan ia mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah,masalah yang membuat saya tidak nyaman itu akhirnya selesai dan tidak merepotkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf tulisan itu bukan bermaksud ria,tapi setidaknya makin menguatkan saya tentang manfaat sedekah yang sangat dahsyat.Harapannya,bagi mereka yang selama ini masih enggan mengeluarkan sedikit rezeki dari Allah,bisa berubah dan ikut memetik manfaatnya.Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7097686915996596385?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7097686915996596385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7097686915996596385' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7097686915996596385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7097686915996596385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/08/manfaat-sedekah.html' title='Manfaat Sedekah'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SpqLn1NmAzI/AAAAAAAAAZM/Y_ENADH7mPg/s72-c/uang+receh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-8975600951653445164</id><published>2009-08-30T05:53:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T07:53:27.878-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tak Ada Yang Istimewa Dari Blackberry</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/Spp8jfYsNDI/AAAAAAAAAZE/Q-6mFg5F44k/s1600-h/BB.jpg"&gt;&lt;img style="float:centre; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 182px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/Spp8jfYsNDI/AAAAAAAAAZE/Q-6mFg5F44k/s320/BB.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375746054382433330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;BB ku &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmm...lagi demam blackberry....semua orang sibuk sebut-sebut nama pogram HP tersebut.Bahkan nama program itu pun jadi nama merek HP dengan berbagai type.Yang tidak ngerti apa itu blackberry atau selanjutnya disebut BB,mati-matian beli hanya untuk sekedar mejeng.Sedangkan dia ga gunakan programnya hahahaha...bahkan ada yang gagap internet bergaya dengan BB.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai netter sejati saya juga tertarik dengan BB.Tapi seperti kebiasaan saya selalu mensurvey berbagai hal,khususnya layanan aktifasi BB.Ternyata seperti yang sudah saya tulis dalam tulisan "pemikiran sebelum aktivasi BB",saya merasa ga terlalu penting beli BB dan aktifkannya.Karena biaya perbulan termasuk mahal antara Rp 150 ribu -180 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya untuk koneksi internet juga pakai modem cdma mobile dengan kartu yang murah.Sedangkan untuk urusan facebook,juga bisa pakai kartu dari sebuah provider dengan biaya yang murah meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So..BB ga penting banget bagi saya.Biarlah orang-orang yang bergaya saya mejeng dengan BB hehehehe.Sedangkan untuk menggunakannya saja mereka masih kebingungan hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,di luar rencana.Kawan lama suami saya memberi dia HP BB 8320.Warnanya merah dan hitam.Keren sih.Karena suami saya kurang bisa menggunakan dan dia merasa ga butuh,HP itu pun dengan lancar berpindah tangan ke saya.Senang sih,karena gratis tis tis..hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertarik sih aktifkan program BB nya ke operator seluler.Tapi,kembali lagi masalah biaya yang cuma menguntungkan provider saya urung aktifkan.Mengapa ? soalnya pas lagi nunggu giliran antri di costumer service,ada mengeluhkan layanan BB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya,si CS seorang cewek cantik dengan jujur mengatakan kalau layanan BB memang banyak lambatnya.Haaaaa.....masa seh...&lt;br /&gt;Senang sih dengan kejujurannya,tapi keinginan saya yang setengah-tengah akhirnya urung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So...HP BB itu kini hanya jadi telepon biasa.Kalaupun digunakan untuk akses internet klu pas nongkrong dekat kafe yang ada wifi.Sedangkan jika di tempat lain saya gunakan hp yang satu lagi untuk akses facebook dimana saja dan kapan saja.Dengan pulsa yang murah meriah,saya bisa online dimanapun.Untung 1000 persen dari pada aktifkan BB yang kemahalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk di rumah..kan ada modem cdma tadi.So..mohon maaf saya merasa ga ada istimewa dari HP dan program BB...hehehe..&lt;br /&gt;"Istimewanya" paling dengar koment orang-orang yang bilang "wah hpnya BB," hehehe...&lt;br /&gt;tapi biasa aja kale...hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-8975600951653445164?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/8975600951653445164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=8975600951653445164' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8975600951653445164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8975600951653445164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/08/tak-ada-yang-istimewa-dari-blackberry.html' title='Tak Ada Yang Istimewa Dari Blackberry'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/Spp8jfYsNDI/AAAAAAAAAZE/Q-6mFg5F44k/s72-c/BB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-7092018437803339470</id><published>2009-08-20T02:31:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T03:28:21.159-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Dalam Beberapa Bulan Hidupku Berubah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0jZ2I-flI/AAAAAAAAAYs/NcBbFfNeWkw/s1600-h/juara+karya+jurnalistik.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0jZ2I-flI/AAAAAAAAAYs/NcBbFfNeWkw/s320/juara+karya+jurnalistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371988857459736146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa saya menyadari,ternyata dalam beberapa bulan terakhir terjadi perubahan yang cukup besar pada diri saya.Bukan masalah ukuran tubuh ya hehehe...tapi dalam segi lain,khususnya aktualisasi diri.Memang sih,sebagai seorang kuli tinta,saya sudah dikenal oleh banyak orang.Tapi,dibalik semua itu,mungkin tidak mengenal lebih dalam siapa saya selain tentang profesi yang saya lakoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tahu tentang apa saja yang telah membuat hidup saya berubah ? ok,dont worry saya akan jelaskan di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1.April 2009,saya menjadi juara pertama sayembara karya tulis jurnalistik.&lt;br /&gt;Penghargaan yang diserahkan di depan banyak narasumber,sedikit banyak meningkatkan kepercayaan diri saya jika saya tidak akan lagi "dipandang sebelah mata" oleh mereka yang selama ini kadang masih melihat nama media,daripada kwalitas wartawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. April 2009 juga,saya dipercaya menjadi sekretaris umum Gabungan Organisasi Wanita Kota Tanjungpinang.Sebuah organisasi besar yang memwadahi semua organisasi wanita di kota ini.Jabatan yang selama ini tidak pernah saya pikiran,harus saya emban.&lt;br /&gt;Ada rasa kurang percaya diri karena saya belum lama bergabung dalam organisasi yang jelimet.Tapi,keinginan untuk mencoba dan belajar,membuat saya yakin jika saya bisa mnemgemban tugas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0hO8Cr3qI/AAAAAAAAAYc/M1LjFzmLFtw/s1600-h/g1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0hO8Cr3qI/AAAAAAAAAYc/M1LjFzmLFtw/s320/g1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371986471042145954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. Juni 2009 2009,bersama teman-teman yang tergabung dalam Kelompok Jurnalis Pecinta Satra (KJPS),untuk pertamakalinya saya menjadi MC sebuah acara yang ditonton oleh banyak orang,khususnya pejabat.&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu juga saya mendapat peran sebagai pembaca berita tv,yang ditampilkan online pada pementasan itu.Sebuah peran yang saya syukuri,karena setidaknya saya bisa memerankan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0h5UOhT5I/AAAAAAAAAYk/Uz9iYXIsI3Q/s1600-h/tv.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0h5UOhT5I/AAAAAAAAAYk/Uz9iYXIsI3Q/s320/tv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371987199088742290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4.Juli 2009.Untuk pertamakalinya saya dipercaya sebagai ketua panitia pelaksana peresmian kantor PWI Kepri.Sebuah tantangan yang harus saya terima,untuk membuktikan jika saya mau belajar,berusaha dan bisa melakukan apa yang ditawarkan orang.&lt;br /&gt;ALhamdulillah,meski agak dilanda stres,tapi saya bersyukur undangan ramai datang,dan gubernur kepri langsung hadir.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0fMS0Nn8I/AAAAAAAAAYM/DhlK5gkMihU/s1600-h/ina+pwi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0fMS0Nn8I/AAAAAAAAAYM/DhlK5gkMihU/s320/ina+pwi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371984226592595906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertamakali juga saya berpidato di depan para pejabat,unsur muspida serta undangan dari berbagai elemen.&lt;br /&gt;Ternyata,ada yang kagum dengan saya.Salah seorang humas BUMN menelpon saya dan menyatakan salut dan tidak mengira jika saya mampu jadi ketua panitia diantara banyak pria.Ada rasa bangga terselip menerima ucapan selamat tersebut.Tapi,saya tidak boleh ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Agustus 2009.Buku kedua saya diluncurkan dan mendapat sambutan hangat dari segmen pembaca khususnya anak-anak.Profil singkat saya pun muncul di media dan banyak pembaca yang memberikan respon positif.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0eKLN01EI/AAAAAAAAAYE/_hIyudoyg64/s1600-h/buku+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0eKLN01EI/AAAAAAAAAYE/_hIyudoyg64/s320/buku+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371983090681173058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Agustus 2009.Kembali bersama KJPS saya tampil dalam pertunjukan dramatisasi puisi.Peran sebagai ibu-ibu penjual gorengan mendapatkan applaus dari banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0kba5AMKI/AAAAAAAAAY0/WeKyjQu5OJ4/s1600-h/jualan.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0kba5AMKI/AAAAAAAAAY0/WeKyjQu5OJ4/s320/jualan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371989984016347298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Agustus 2009.Untuk pertamakalinya saya tampil sepanggung dengan penyair terkenal dan artis Rieke Dyah Pitaloka di pelataran Ocean Corner Tanjungpinang.Ternyata hanya saya satu-satunya penyair yunior yang tampil pada waktu itu.Ada Rida K Liamsi,Teja Alhab,Suryatati A Manan,Abdul Muin HS.Sebuah pengalaman yang makin membuat saya tertantang untuk tampil kembali membaca puisi di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah,semua pengalaman itu adalah semangat bagi saya untuk terus mengaktualisasi diri sesuai kemampuan dan bakat yang saya miliki.&lt;br /&gt;Banyak dukungan dan dorongan dari kawan dan kolega,tapi tak sedikit pula yang punya rasa kurang senang.Tapi itu bukan penghalang,tapi menjadi cemeti untuk terus maju dan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0lK-U39rI/AAAAAAAAAY8/BwMEAilaXCU/s1600-h/bareng2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 236px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0lK-U39rI/AAAAAAAAAY8/BwMEAilaXCU/s320/bareng2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371990800982341298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-7092018437803339470?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/7092018437803339470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=7092018437803339470' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7092018437803339470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/7092018437803339470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/08/dalam-beberapa-bulan-hidupku-berubah.html' title='Dalam Beberapa Bulan Hidupku Berubah'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/So0jZ2I-flI/AAAAAAAAAYs/NcBbFfNeWkw/s72-c/juara+karya+jurnalistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-1649739044927308934</id><published>2009-06-29T04:21:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T06:08:20.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Dapat Tantangan,Siapa Takut</title><content type='html'>Kali ini saya benar-benar merasa tertantang.Saya diberi kepercayaan menjadi ketua panitia peresmian sekretariat.Hmmm...sebuah tantangan yang belum pernah saya dapati sebelumnya.Selama ini saya hanya diberi kepercayaan menjadi anggota seksi,sekretaris panitia atau bendahara.Tapi kali ini saya diminta menjadi ketua atau pemimpin sebuah kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula sempat menolak,namun kawan-kawan memberikan kepercayaan penuh dan akhirnya saya menerima dengan catatan,mohon didukung sepenuhnya karena saya tidak akan bisa bekerja tanpa didukung kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya teori memang mudah diucapkan ternyata dalam praktekny memang banyak yang menyimpang.Malah ada teman yang fungsi utama untuk kesekretariatan,malah kerjanya dirangkap oleh saya dengan alasan belum bisa.Padahal kan bisa belajar,tapi karena waktu pelaksanaan kegiatan sudah dekat,akhirnya saya yang memrangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianya disuruh melakukan tugas mengantar atau mengambil sesuatu, ternyata juga tidak becus.Seakan tidak ada rasa tanggungjawab dan konsisten dengan apa ia ucapkan.Lagi-lagi saya yang harus rela "mengambil' alih tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama dalam tim memang membutuhkan komitmen,tanggungjawab,kejujuran,ketegasan dan yang terpenting jiwa solidaritas tinggi.Saat ini dalam tim saya memang ada satu dua orang yang hanya bisa mengucapkan di mulut tapi tak ada pelaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada,kita harus "sakit gigi" menahan rasa geram dan gondok melihat kinerjanya yang seakan meremkan agenda yang akan dilaksanakan.Diminta untuk memasukan surat pagi hari, malah diantar siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diminta mengambil surat secepatnya malah berjanji hingga tiga jam dan baru memberikan pada saya sore hari.Sabar,sabar dan sabar&lt;br /&gt;Bekerja dengan sedikit orang yang bisa bekerjasama sebagai sebuah tim rasanya lebih baik,daripada bekerjasama dengan banyak orang tapi tak bisa bekerjasama dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat tugas sebagai ketua pelaksana,sedikit banyak saya belajar tentang kepemimpinan,koordinasi,cara melobi dan negosiasi dan berpikir cepat dan tepat dalam situasi yang sempit dan perlu segera mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja agenda yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi akan bisa berjalan sukses dan lancar.Amin.Selain itu setidaknya tantangan yang diberikan kepada saya bisa saya laksanakan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-1649739044927308934?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/1649739044927308934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=1649739044927308934' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1649739044927308934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/1649739044927308934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/06/dapat-tantangan.html' title='Dapat Tantangan,Siapa Takut'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-8495679472481702728</id><published>2009-06-26T09:02:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T09:27:24.939-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ketika Musim Durian Tiba</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SkT22bxDoWI/AAAAAAAAAX8/36lFaarjurA/s1600-h/duren.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 141px; height: 106px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SkT22bxDoWI/AAAAAAAAAX8/36lFaarjurA/s200/duren.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351673672249876834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim durian,musim yang selalu dinantikan.Karena musim durian bersamaan dengan musim liburan sekolah yakni bulan Juni.Liburan sekolah dan musim durian,sebuah masa yang sangat saya tunggu 15 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa,karena liburan kenaikan kelas tentu tidak belajar dan diisi dengan acara menunggu pohon durian.Kebetulan keluarga besar kami punya kebun durian.Jaraknya ada tiga kilo dari rumah.Setiap hari dengan berjalan kaki ramai-ramai,kami menuju kebun durian dan tak lupa membawa bekal makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu persis berapa luas kebun durian itu,yang jelas jangan bayangkan seperti kebun singkong yang mana durennya ditanam berdekatan,tapi agak terpisah hingga puluhan meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah batang pohon durian juga saya sudah lupa,tapi setidaknya saya masih ingat namanya.Ada durian pusaro atau pusara,karena letaknya di tengah pemakaman keluarga.Istimewanya pohon durian di pemakaman ini, boleh diambil siapa saja selain keluarga besar kami.Jadi,kalau ada orang lain kebetulan lewat disana dan durian ada yang jatuh,dia berhak untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada durian si sirah atau merah.Sesuai namanya, durian ini warna dagingnya merah.Letaknya di belakang pondok di kebun kami.Kemudian durian si semut,karena durinya kecil-kecil dan kalau kena kulit perihnya seperti digigit semut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus ada durian si gampo atau gempa.Durian ini diberi nama seperti itu karena ukurannya yang sangat besar,bisa dua kali ukuran kepala orang dewasa.Setiap jatuh,juga menimbulkan bunyi yang lumayan keras.Sayangnya durian ini setiap jatuh selalu retak bahkan pecah,karena lokasi pohonnya dekat tanah terbuka atau tidak ada rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada durian sawah,karena letaknya di pinggir sawah.Mencari durian yang satu ini yang cukup sulit.Karena selain letaknya di lereng bukit,juga sering masuk dalam sawah.Kalau musim tanam tiba,durian sering hilang dalam lumpur.Jadi kami harus mencari sampe ke lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi durian kulum-kulum.Diberi nama seperti itu karena ukuran bijinya yang sangat kecil,sehingga bisa dikulum dalam mulut.Satu lagi ada durian si sudut,karena letaknya di sudut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami keluarga besar,jadwal menunggu durian dibagi oleh nenek sepupu yang punya tanggungjawab menjaga kebun tersebut.Biasanya satu keluarga diberi kesempatan satu hari satu malam menunggui seluruh isi kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,rezeki tergantung keberuntungan jumlah durian yang jatuh pada saat itu.Aturannya,anggota keluarga lain dilarang mengambil jatah keluarga yang sedang dapat giliran menunggui durian,kecuali durian pusaro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang beruntung satu malam bisa dapat banyak durian dan kemudian menjualnya.Yang pecah dibuat asam durian atau tempoyak dan juga dijual.Uangnya untuk biaya keperluan sekolah tahun ajaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah giliran semua keluarga dapat,biasanya ada giliran semua keluarga boleh menunggu durian.Tergantung dari kejelian dan kecepatan mengejar durian yang jatuh.Inilah yang paling asyik,karena tak jarang kami saling sikut,dorong dan perang mulut.Tapi,semua itu berakhir damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya durian,bisa mengalahkan rasa takut.Pemakaman yang identik dengan keangkeran,menjadi tempat biasa bagi anak-anak seusia saya saat itu.Siang bolong atau malam,kuburan menjadi tempat menunggu durian pavorit.Kadang,sekarang jika saya mikir,betapa beraninya kadang sendiri di kuburan hanya demi menunggu durian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa durian pusaro menjadi pavorit, ya karena buahnya cepat jatuh dan lokasi pusara yang datar.Jadi kalau durian jatuh,tak susah mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu duren tak lagi saya lakukan ketika sudah duduk di bangku SMP.Selain,masalah rebutan batang duren antar keluarga membuat saya malas untuk menunggu durian.Bahkan,setelah itu keluarga saya tidak pernah mendapat giliran menunggu durian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,tak jarang durian yang baru setengah matang sudah dijual ke tengkulak.Sehingga kami anak cucu tak dapat apa-apa selain sisa-sisa.Masa-masa indah waktu SD tak ada lagi.Semua itu cuma kenangan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini,15 tahun setelah itu ketika saya berada di rantau.Setiap musim durian tiba selalu membuka lembaran memori saat menunggu durian.Diantara rindu bercampur sedih dan miris karena kenangan itu entah kapan terulang kembali.Soalnya,setahun lalu waktu balik kampung,saya malah harus membeli durian ke orang.Padahal keluarga besar punya kebun durian meski sudah banyak yang tinggal nama saja.Ah..biarlah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/476239969533378758-8495679472481702728?l=catatan-ina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-ina.blogspot.com/feeds/8495679472481702728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=476239969533378758&amp;postID=8495679472481702728' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8495679472481702728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/476239969533378758/posts/default/8495679472481702728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-ina.blogspot.com/2009/06/ketika-musim-durian-tiba.html' title='Ketika Musim Durian Tiba'/><author><name>Ruziana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01338501473912764319</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/S0ChSVj2nZI/AAAAAAAAAaQ/o-CYmETepwE/S220/Snapshot_20091228_3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YCoUHFuSbjo/SkT22bxDoWI/AAAAAAAAAX8/36lFaarjurA/s72-c/duren.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-476239969533378758.post-1120684098305760449</id><published>2009-06-21T10:31:00.001-07:00</published><updated>2009-06-21T10:33:08.922-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan dalam sepotong puisi'/><title type='text'>Puisi Jelang 4 Tahun Pernikahan</title><content type='html'>Sayank&lt;br /&gt;Malam sudah semakin larut&lt;br /&gt;Kau sudah tertidur di ruang tengah&lt;br /&gt;Di depan tivi beralaskan kasur tipis&lt;br /&gt;Kebiasaan muda dari lajang&lt;br /&gt;Itu katamu dan sulit diubah&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sayank&lt;br /&gt;Malam ini istrimu masih di depan laptop&lt;br /&gt;Bekerja sambil sesekali buka facebook&lt;br /&gt;Kebiasaan dari lajang&lt;br /&gt;Bekerja di tengah malam penuh ketenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayank&lt;br /&gt;Sesekali kucuri pandang padamu&lt;br /&gt;Kulihat gurat wajahmu&lt;br /&gt;Letih,penat dan lelapnya
